
"Aku harus bagaimana, Irma?" tanya Eliana seolah sedang bertanya pada diri sendiri.
Irma terdiam. Dia sendiri tak mengerti apa yang terjadi tadi. Semua terjadi begitu cepat.
Kerumunan orang - orang yang menonton 'adegan Toni' mulai kembali ke kesibukan mereka semula, Eliana memutar ulang video yang tadi ditunjukkan oleh Irma. Para pria itu mengejar Toni dari beberapa arah, hingga Toni berhenti di dekat mobil. Mereka tampak berdebat, tapi hanya sesaat. Dan, setelah itu Toni masuk mobil dengan sukarela.
Eliana menghela napas dan mengembalikan video itu ke Irma.
"Menurutmu apa mereka jahat?" tanya Irma.
"Aku tak tahu." jawab Eliana jujur.
"Apa sebaiknya kita ke kantor polisi?"
Eliana menggeleng. "Aku pulang saja, aku tunggu dia di rumah." jawabnya sambil melangkah gontai.
Tenaga dan semangatnya sudah menghilang sejak tadi, bersamaan dengan mobil yang membawa Toni menghilang.
Lagipula, Eliana bingung. Apa yang akan dilaporkannya soal Toni? Nama dan asalnya saja dirinya tak tahu. Teman bukan, saudara juga tidak. Mereka hanya dua orang asing yang tak sengaja bertemu, kemudian saling jatuh cinta.
Ibu Rebecca sudah tak nampak di dekat unit yang dihuninya. Penghuni apartment lain yang ditemui pun tak berbicara apa - apa padanya.
Saat Eliana masuk ke dalam unitnya, ruangan terasa lebih kosong dari biasanya. Suasana terlalu hening dan sepi bagi Eliana.
Eliana menutup pintu, tempat dimana Toni selalu masuk dan menyapanya setiap kali pulang sambil tersenyum. Kemudian wanita itu berjalan menuju dapur tempat dimana pria itu sering memasak untuknya, matanya melirik kearah meja makan dimana mereka sering menghabiskan waktu dengan bercerita hingga mengantuk.
Akhirnya Eliana sampai juga di kamar mandi, dia bersiap membersihkan diri sebelum tidur malam ini. Masih ada barang - barang Toni disitu menemani peralatan milik Eliana. Gelas couple dan handuk kembar bertuliskan Toni dan Eliana, yang mereka beli di pasar malam.
Selesai membersihkan diri, Eliana melongok masuk ke kamar Toni dan melihat lemari kecil milik Toni. Pakaian dan barang - barangnya masih ada disitu semua, Toni juga tidak berkata apa pun. Hati kecil Eliana berkata kalau mereka belum berakhir.
Menyadari kalau ini bukan pertama kali dirinya overthinking, Eliana memutuskan untuk berganti baju tidur dan menunggu Toni.
•
•
"Eliana, ayo bangun. Ada roti bakar, telor rebus dan secangkir kopi untuk sarapanmu." Nada suara Toni yang ramah menyapanya sama persis seperti yang selalu didengarnya setiap pagi.
Nah! Benar kan? Toni sudah pulang, dia tak pergi kemana pun. Eliana merasa batu berat yang menindih hatinya terangkat seketika. Langkahnya ringan mengikuti Toni menuju meja makan.
__ADS_1
"Toni, semalam aku menunggumu. Hanya sebentar tak melihatmu, ternyata membuatku rindu." ucap Eliana sambil terkekeh.
Toni berbalik dan tersenyum sambil menatap Eliana dengan tatapannya yang dalam, sampai - sampai Eliana salah tingkah.
"Uhm... apa ada yang salah dengan diriku?" tanya Eliana.
Kali ini Toni menghampirinya wanita di hadapannya, menunduk ke arah Eliana dan berbisik. "Take care yourself, Eliana."
PUFF!!
Eliana mengerjapkan kaget, merasakan ada cahaya masuk ke dalam matanya. Refleks, tangannya terangkat untuk melindungi indera penglihatannya. Wanita itu memandang berkeliling dengan tercengang. Tak ada siapa pun di dekatnya. Rupanya dia tertidur di kamar Toni dengan jendela yang terbuka semalaman.
Sekarang cahaya matahari sudah masuk dari jendela yang terbuka, dan itu artinya... Toni tidak pulang.
'Kemana aku harus mencarimu, Toni? Kamu tak bilang padaku mau pergi kemana dan kapan pulang.'
Eliana beranjak ke dapur untuk memanaskan air. Dia bermaksud menyeduh kopi bagi dirinya sendiri. Sambil menunggu air mendidih, Eliana masuk ke kamarnya sendiri, untuk mengambil beberapa barang. Matanya menatap meja rias hasil kreatifitas Toni.
'Aku ingin bertemu Toni sekarang.' Matanya menatap pilu meja rias di sudut kamarnya.
Entah sudah berapa kali Eliana menghembuskan napasnya hari ini, baru sebentar saja Toni pergi terasa ada yang hilang dari hidupnya.
Glek!
YUCK!!
Astaga! Rasanya kopinya benar - benar tak enak. Eliana menjulurkan lidahnya, hampir saja tadi dia menyemburkan kopinya yang terlalu pahit dan kental. Untung dia berhasil memaksa tenggorokannya untuk menelan kopi pahit. Dia tak tahu takaran kopi yang biasa diminumnya karena setiap kali Toni yang membuatnya.
"Telan saja kopimu, Eliana. Lama - lama lidahmu akan terbiasa dengan rasa tak enak itu." kata Eliana pada dirinya sendiri sambil menyesali ketergantungannya pada Toni.
Hari - hari berikutnya, ternyata Toni tetap tidak pulang. Eliana menjalani hari - harinya dengan mode otomatis.
Bangun, mandi, masak, berbelanja keperluan sehari - hari dengan sisa tabungannya. Setiap kali dia keluar, dia akan menoleh ke kanan dan ke kiri dengan seksama, memperhatikan wajah dan model rambut setiao laki - laki yang berpapasan dengannya. Berharap salah satu dari mereka adalah Toni. Dan malam hari, dia tidur dengan harapan besok Toni pulang.
Hingga hampir akhir bulan, tetap tak ada kabar apa pun dari Toni. Kamar yang disewa untuk berdua terlalu sepi untuk dipakai hidup sendiri. Apalagi, Eliana tak mempunyai pekerjaan saat ini.
Eliana membuka jendela kamarnya, dibawah sana nampak anak - anak ceria berlarian. Membuat Eliana semakin merasa terasing di kamarnya sendiri.
'Aku ingin Toni. Aku tak mau sendirian.'
__ADS_1
Air mata mulai meleleh di pipi Eliana.
TOK! TOK! TOK!
Siapa yang bertamu ke rumahnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir ada tamu datang di apartment-nya. Mungkin terakhir kali saat gerombolan tetangga memberitahu soal Toni dan gerombolannya.
Eliana mengusap pipinya dan buru - buru membukakan pintu. "Ya?"
Eliana tertegun.
Seorang laki - laki berperawakan tinggi, besar dan memakai setelan kantor sedang berdiri di depan pintu unit apartmentnya. Dia tak merasa mengenal bahkan melihat pria ini sebelumnya.
"Selamat siang, Nona." Pria itu membungkuk sopan.
"Apa saya mengenal anda?" tanya Eliana bingung.
"Perkenalkan saya, John. Orang suruhan Tuan Peterson."
"Tuan Peterson?"
"Beliau sakit keras dan meminta anda datang untuk menemuinya."
Ya ampun! Eliana benar - benar melupakan Tuan Peterson sejak Toni menghilang, pikirannya terlalu fokus pada Toni.
"Saya akan ke St. Paul segera." Eliana segera berbalik arah, hendak mengambil tas dan langsung pergi menengok Tuan Peterson.
"Maaf, Nona. Tuan sudah tidak ada di Lakewood. Dia minta kembali ke Rocktown dan dirawat disana saja. Dia memerintah saya untuk menjemput Nona." buru - buru John menjelaskan maksud kedatangannya.
"Menjemputku ke Rocktown?"
Eliana mengerutkan kening, bagaimana dia bisa percaya pada pria di hadapannya?
Melihat keraguan di wajah Eliana, pria tadi berkata, "Nona bisa menghubungi Dokter Nathan kalau tidak percaya. Saya mendapatkan alamat ini juga dari beliau."
Bersambung ya....
Dear readers,
Sabar ya, Toni sementara menghilang dulu. Step by step kita mencari tahu kemana si Toni pergi.
__ADS_1
Thank you for reading.