
"Please, Eliana. Please... " pinta Toni memelas.
Dia benar - benar terlihat kacau. Eliana tak tahan lagi. Sejak pertama melihat Toni di kamar nomer nol, hatinya sudah terpaut pada laki - laki di hadapannya. Sampai kapan pun, dia tak akan pernah tega melihat Toni yang begini.
"Toni... " akhirnya Eliana berhasil mengeluarkan suaranya.
Toni mendongak, memandang Eliana seperti memandang sebuah keajaiban. Terharu. Hanya dengan mendengar wanita itu memanggilnya Toni, rasa lega langsung menyeruak di dada.
"Kamu belum makan kan? Lebih baik kamu makan dulu. Mau aku temani?" tanya Eliana. Telapak tangannya menangkup pipi Toni. Ibu jarinya mengusap pipi Toni yang sembab.
Ah, Eliana mengalihkan topik pembicaraan. Toni tahu kalau Eliana tak mau merespons kata - kata tadi.
"Yuk." Eliana sudah kembali tersenyum, dia menggamit lengan Toni untuk bangkit dan berdiri.
"Kamu kan sudah makan sama Grandpa?"
"Aku bisa makan buah." ujar Eliana berusaha seceria mungkin. Wajah lelah dan kusut Toni sudah cukup menunjukkan bagaimana kondisinya beberapa hari ini.
Toni menurut. Perutnya sebenarnya sudah keroncongan dari tadi sore, tapi Alex dan pertemuannya dengan Eliana yang dramatis, membuat rasa lapar itu hilang.
Dia sudah berusaha mempercepat semua urusannya, tapi ada sebuah pembicaraan penting di conference call yang tak bisa ditunda.
"Hmm... , cuma ada apel, cheese cake dan su--su di lemari es-ku. Aku rasa sebaiknya kita turun ke dapur." Keluh Eliana.
Di kamarnya memang ada mini bar dan lemari es untuk menyimpan camilannya. Jarak antara kamar tidur dan dapur lumayan jauh, sehingga Tuan Peterson menyuruhnya meletakkan beberapa makanan disana.
"Itu saja cukup." jawab Toni kalem. Dia menarik tangan Eliana ke dalam genggamannya. Melingkupi tangan mungil Eliana dengan kedua tangannya yang besar. Dia mengecup punggung tangan Eliana dengan penuh perasaan.
Eliana menunduk malu, buru - buru menarik tangannya. "Aku potongkan dulu apel dan cake-nya." Tangannya menepuk kursi tinggi di mini bar, memberi kode Toni untuk duduk.
Toni meletakkan pantatnya diatas kursi. Rasanya seperti memutar ulang adegan di apartment. Dimana mereka makan bersama, mengobrol hingga larut malam, atau menonton film dan biasanya Eliana akan tertidur di sofa lalu Toni dengan senang hati akan memindahkannya masuk ke kamar Eliana.
__ADS_1
"Silahkan, Toni." Eliana menyodorkan apel lebih dahulu untuk membantu supaya lambung Toni yang kosong terisi dengan kandungan gula dari buah. Selain itu serat pada buah-buahan yang dimakan lebih dahulu akan membantu mengenyangkan, sehingga bisa mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi malam - malam begini.
Toni tersenyum bahagia. "Terima kasih, Eliana."
Eliana membalasnya dengan tatapan penuh kasih. Menemani dan ditemani Toni makan malam terasa menyenangkan. Seandainya saja dia bisa melakukan seterusnya, menemani Toni sarapan sebelum berangkat kerja dan menunggunya pulang untuk makan malam bersama.
"Apa saja yang berhasil kamu ingat, Toni?" tanya Eliana setelah Toni selesai makan.
Toni membereskan sisa - sisa makanan dan mencuci piringnya di wastafel. Eliana mengeringkan piring lalu meletakkan piring yang sudah kering kembali ke laci.
"Banyak, Eliana." Toni menggenggam tangan Eliana dan mengajaknya duduk di sofa. Dia menjelaskan secara rinci peristiwa demi peristiwa yang dialaminya sejak dia pergi dari apartment hingga hari ini.
Mereka duduk bersebelahan, bercerita sambil tangan mereka bertautan. Wajah Eliana yang cantik alami tanpa make up serta sorot matanya yang teduh, membuat Toni betah memandangi wajah cantik di hadapannya. Lelahnya berangsur - angsur hilang, perasaannya jauh lebih relax. Bersama Eliana serasa mengisi ulang lagi energinya yang sudah habis.
Hingga mereka tertidur di sofa kamar Eliana. Ketika Toni membuka matanya, hari masih gelap.
Eliana masih tertidur lelap. Toni bergerak sepelan mungkin, menyelusupkan tangannya ke bawah leher Eliana dan menggendongnya, lalu pelan - pelan meletakkannya ke atas tempat tidur.
Toni jatuh cinta kepada Eliana untuk kesekian kalinya. Dia tak mampu dan tak mau meninggalkan Eliana. Saat bangun nanti, orang pertama yang ingin dilihatnya adalah Eliana.
Dilihatnya wajah tidur Eliana, merekam dan menyimpan baik - baik memory tentang wanita di hadapannya ke dalam folder bernama Eliana di otaknya.
Toni mengecup kepala Eliana, bergerak sepelan mungkin dan merebahkan dirinya di samping tempat tidur queen size milik Eliana.
Dia merentangkan tangannya dan perlahan menarik Eliana agar tidur di atas lengannya. Kemudian memeluknya di bawah selimut.
Toni menghembuskan napasnya sambil memejamkan mata, menikmati rasa nyaman yang menyelusup di hatinya. Asalkan bersama orang yang kamu sayang, hanya tidur berpelukan begini pun rasanya benar - benar nyaman dan in-tim. Dia bisa merasakan hangatnya Eliana dan napasnya yang beraturan.
Mungkin besok Eliana akan terkejut atau marah padanya karena mereka tidur berdua di atas kasur yang sama. Tapi sekarang Toni hanya butuh rasa nyaman dan tenang, dan itu cuma bisa di dapatkan saat bersama Eliana.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak dirinya kembali ke identitasnya, akhirnya Toni bisa tidur tenang dan tidak gelisah. Tidur sambil memeluk Eliana.
__ADS_1
*
Pagi - pagi sebelum matahari terbit dan sebelum Eliana bangun, Toni langsung kembali ke mansion dan membersihkan diri. Setelahnya dia langsung pergi ke dapur rumah utama.
"Oh, selamat pagi Tuan muda." Chef menyapanya. Matahari sudah mulai bersinar, para pelayan dan pekerja pun sibuk dengan rutinitas pagi mereka.
Toni mengangguk sambil mengamati tumpukan sayur yang ada di konter dapur. Bahan - bahan makanan yang masih segar ada disana. Selada, tomat, ikan dan udang yang baru ditangkap.
"Keju dan smoke beef ada chef?" tanya Toni.
Mengenali kebiasaan Toni yang suka memasak, Chef dengan sigap mengeluarkan barang - barang. yang ditanyakan oleh Toni. "Mau bikin sandwich, Tuan?"
"Boleh tuh, sandwich dan salad sayur untuk breakfast."
Chef mengangguk, dia langsung memotong roti homemade hasil karyanya sendiri. Bentuk dan rasanya berbeda dengan yang dibeli di toko. Toni mengincip selembar roti dari talenan, dia mengunyahnya sejenak. "Good. Ini lebih enak dari sebelumnya."
Chef tersenyum bangga, "Itu tidak memakai fermipan, Tuan. Tapi pakai pengembang roti asli."
Toni mengangguk - angguk, menyiapkan sarapan sambil mendengarkan cerita chef tentang proses pembuatan rotinya.
Done!
Toni menata sandwich isi keju, smoke beef dan sayur, serta semangkuk salad ke atas sebuah nampan. Dia menambahkan satu botol selai marmalade warna kuning keemasan kesukaannya untuk diberikan kepada Eliana. Rasanya manis dan sedikit pahit pasti segar untuk dimakan saat pagi hari.
"Saya bantu bawa, Tuan." Chef menawarkan diri.
"Tidak perlu, Chef. Suruh pelayan memanggil Nona Eliana ke ruang makan. Katakan padanya, saya menunggunya disana." perintah Toni.
"Siap, Tuan."
"Honey... "
__ADS_1
Bersambung ya....