My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 58 -- Chandelier Club


__ADS_3

"Kamu pergi sendiri? Apa perlu aku temani?"


Toni menggeleng. "John sudah menuju kesana. Apa kamu bisa menunggu disini bersama Dokter Livia? Kasih waktu aku satu jam."


Eliana mengangguk lega, yang terpenting adalah Toni tidak pergi sendirian. "Okay."


Toni membelai pipi Eliana lembut, sebenarnya dia tak ingin meninggalkan Eliana. "Maafkan aku. Tapi aku harus tahu, mereka ketemuan untuk apa."


"Aku mengerti, Toni. Jangan khawatir, banyak orang disini. Aku akan aman."


"Thank you, Eliana. See you soon." Toni menarik wajah Eliana dan mengecupnya singkat di bibir, tanpa sungkan kepada Dokter Livia maupun Emma yang pura - pura tak melihat kemesraan mereka.


"Bye. Please, be careful. I'm waiting." Bisik Eliana pelan, sambil mengusap bahu Toni dengan penuh kasih sayang.


"What's up?" tanya Dokter Livia sambil mengulum senyum.


Dari cara Eliana memandang punggung Toni menjauh, dokter cantik itu tahu kalau sebenarnya Eliana merasa berat berpisah dengan Toni, tapi dia mencoba memahami situasinya.


Eliana menoleh dan tersenyum, dia meraih gelas tequila yang disodorkan oleh pelayan. "A man has his own business." Dia langsung meminum tequila di tangannya dalam sekali teguk, lupa kalau dirinya tak biasa minum.


Dokter Livia tertawa. "Siapa sangka Anthony bisa seromantis itu."


"Anthony is as hot as he used to be." Sahut Emma, sambil mengerlingkan matanya genit.


(Toni masih sama hot-nya seperti dulu.)


"Thanks Emma. But the hot man is mine." Ucap Eliana bangga. Dia mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa, menirukan gaya wanita - wanita di hadapannya. Ada rasa bangga terselip di hatinya saat dia bisa mengatakan kalau Toni adalah miliknya.


Mereka semua kembali berpesta, Dokter Livia dan Emma mengajak Eliana untuk turun dan berbaur dengan teman - teman mereka yang baru datang. Serombongan orang berjumlah dua puluhan mengaku teman datang, Oscar menyambutnya dan melanjutkan dengan minum bersama mereka.


"Hey, girl." Sapa seorang lelaki datang menghampiri Eliana yang baru mulai terbiasa bergoyang mengikuti musik. Eliana menoleh, laki - laki itu terlihat lebih muda dari Toni dan Alex. Berambut pirang dan tampan.


"I'm Frans."

__ADS_1


"I'm Eliana." Jawab Eliana berusaha ramah, dia pasti teman Oscar dan sudah tentu dirinya harus bersikap baik.


"Kamu cantik sekali. Kenapa kamu memakai dress seperti ini?" tanyanya sambil menatap Eliana dari bawah hingga keatas dengan sorot mata penuh minat.


Eliana jadi canggung. Dia memang tampak berbeda dengan perempuan - perempuan lainnya disana. Hanya dia yang mengenakan gaun rapi dan terkesan formal, sedangkan yang lain terlihat memakai pakaian casual dan santai. Tank top, hotpants, mini skirt, crop, low rise jeans, mini dress, atau baju tanpa lengan yang s-e-x-y.


"Ehm, today is my wedding." jawab Eliana jujur.


"Wow! Congratulations. I like your dress." pujinya, dengan pandangan mata tak lepas dari tubuh Eliana.


Eliana mencoba positif thinking kalau Frans hanya mencoba berbasa basi dengan memuji penampilannya. Ingin menghindari Frans, Eliana hanya menjawab pendek. "Thanks." Kepalanya mulai terasa ringan, sepertinya efek tequila yang tadi diminumnya mulai bekerja.


Dokter Livia dan Emma terlihat semakin hanyut dengan musik dan suasana. Eliana memutuskan kembali ke cabana seorang diri dan menunggu Toni kembali. Mendadak saja tubuhnya terasa panas. Dan sekarang, dia haus.


Untunglah, Frans datang menghampiri dengan membawa segelas tequila. "Here you go, Babe!" serunya ceria.


"Thank you." dengan senang hati Eliana menerima minuman yang dia pikir bisa membantu mengurangi rasa hausnya. Tanpa pikir panjang, Eliana langsung menyesapnya. Rasanya manis.


Frans duduk di sebelahnya dan mulai mengajaknya ngobrol. "Aku meminta mereka untuk menambahkan anggur vermouth manis untuk membuatnya lebih manis. Do you like it?"


"Hey, Frans!"


Eliana dan Frans menoleh ke asal suara yang memanggil nama Frans keras - keras. Tiga orang laki - laki yang hanya mengenakan celana selutut masuk ke dalam cabana dan menyapa Frans dengan hangat. Mereka ber-high five khas para lelaki.


"Siapa si cantik ini?" tanya seorang laki - laki berbadan besar dengan tato harimau di lengan kanan. Dia duduk di sebelah Eliana dengan tatapan lapar. "I'm Harry."


"Harry? All right... " Sahut Eliana sambil tertawa. Al-kohol benar - benar sudah bercampur dengan darahnya dan efeknya semakin terasa. Dia tertawa tanpa sebab yang jelas.


Frans dan teman - temannya tertawa keras - keras.


"Yeah, my name is Harry. What's your name, sweetheart?"


"Eliana." jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Beautiful name, huh!" seru Harry. "They're friends of mine. Andy and Nick."


Tiga orang lelaki menyapa Eliana dengan hangat, mereka duduk mengelilingi wanita yang merasa tubuhnya seperti melayang.


"Ehm, Eliana... jadi kamu teman Dokter Livia? Aku melihatmu bersamanya tadi." ujar Harry sambil mengambil gelas minumannya.


Eliana menggeleng. "Aku baru mengenalnya saat aku tiba di Rock Town. Suamiku terapi dengannya."


Diam - diam mata Eliana mencari - cari Dokter Livia yang belum juga kembali. Tubuhnya terasa semakin tak karuan, dia ingin pulang tapi Toni belum datang dan Dokter Livia serta Emma pun menghilang. Semakin malam, musik semakin kencang dan suasana makin meriah.


Frans dan kawan - kawannya jelas tahu benar bagaimana caranya bersenang - senang di Chandelier club. Mereka terus saja mengajak Eliana bicara layaknya kawan lama dan memaksa wanita itu minum tanpa kentara.


Eliana pikir, tak ada salahnya menunggu Toni dengan orang - orang ini. Toh mereka mengenal Dokter Livia dan Oscar.


Jadi, orang - orang di hadapannya tak mungkin membahayakan dirinya kan?


O'ya?


Is it right?


Bersambung ya....


Note :



High five \= tos


Be careful \= hati - hati


I'm waiting \= aku menunggumu


Is it right? \= Apa benar?

__ADS_1



__ADS_2