
"Eli, bolehkah aku batal ikut barbeque?" tanya Alex pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Dia berdiri merapat kepada Eliana. Matanya menyipit, melihat sosok wanita yang berjalan bersama John dan Dokter Livia.
Sial, sial, sial!
Percuma, Tiffany sudah ada beberapa meter di hadapannya. Tepatnya di belakang Toni. Lagipula, Grandpa pasti tak mengijinkannya kabur. Jadi... , yang perlu dilakukannya adalah menjaga jarak aman dari Tiffany. And everything's gonna be okay.
Ups! Tapi bagaimana dengan Toni? Reflex Alex menatap Toni penuh makna. Tak menyadari kedatangan Tiffany, Toni membalas tatapannya dan bertanya tanpa suara 'what?''
"Tadi kamu bilang apa?" tanya Eliana. Sepertinya tadi Alex berbicara padanya, tapi dia tak dapat mendengarnya dengan jelas karena Tuan Peterson juga sedang bercerita tentang permainan caturnya.
Alex menggerakkan dagunya kearah perempuan yang mendekat kepada Toni dan langsung merangkul pinggangnya. Eliana mengikuti arah dagu Alex.
"Kenapa tidak bilang2 kepadaku kalau mau ada acara malam ini? Untung saja aku merindukanmu dan sengaja mampir sebentar. Jadi aku kan bisa membantu kalian." Tanya Tiffany manja dan langsung memeluk Toni dari belakang.
"S-H-I-T!" maki Toni spontan.
Tidak bisakah dia melewati fase ini? Toni mengeluh dalam hati. Bukankah tadi pagi dia sudah terang - terangan berkata kalau dia sudah tak menyukai Tiffany.
Tiffany terbelalak, pelukannya lepas dan dia memandang Toni dengan tatapan patah hati. "Kamu mengumpatku, honey?"
"Mr. Anthony. Call me Mr. Anthony." Ucapnya tegas. Tangannya melambai, memanggil chef untuk melanjutkan memasak. "Dan satu lagi, jangan sentuh aku. Aku tak mau disentuh oleh sembarang orang." ketusnya lagi. Toni mundur selangkah, menjaga jarak. Dia menatap tajam sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada, otot - ototnya terlihat jelas dari polo shirt yang di pakainya.
Tak jadi marah, Tiffany malah terpesona. Pikirannya melayang pada hal - hal kotor. Bagaimana performa Toni di ranjang kelak. Tak sengaja matanya menatap Toni intens. Kelemahan Tiffany adalah cowok tampan dan berBody se-ksi.
Meski hampir menikah, Toni belum pernah menyentuhnya kecuali di bibir. Salah satu penyebab kenapa Tiffany bermain - main dengan pria lain. Dia lebih suka cowok nakal.
Eliana tertegun melihat pemandangan hadapannya, antara tak tega melihat perlakuan Toni pada Tiffany. Tapi ada rasa tak suka saat melihat Tiffany memeluk Toni.
__ADS_1
Tuan Peterson menghela napas, dia memijit pangkal hidungnya, pening. John dan Dokter Livia saling bertukar pandang.
"Hallo, Tiff. Let's eat with this old man." Suara Tuan Peterson memecah suasana canggung. Beliau mencoba menyelamatkan situasi. Tangannya menunjuk bangku kayu yang ada di dekatnya.
Syukurlah, sapaan Tuan Peterson berhasil mengalihkan pikiran kotor Tiffany. Dia kembali mengulas senyum lembutnya dan berperilaku manis. "Dengan senang hati, GrandPa."
Toni menyipitkan matanya, nalurinya semakin kuat berbicara. Ada yang tidak beres dengan Tiffany.
***
Tuan Peterson, Tiffany, Dokter Livia, dan John duduk mengelilingi meja sambil menikmati masakan chef. Eliana hanya mondar mandir dan sesekali mengambilkan piring dan bahan makanan, lalu memberikannya pada chef.
Toni mengambil beberapa potong makanan dan memasaknya sesuai versinya sendiri. Dia tak mau bergabung, sementara Alex dengan terpaksa merelakan diri menjadi pesuruh Toni. Lebih baik berkutat dengan sea food dan grill dari pada duduk berdekatan dengan Tiff. Toh disini, dirinya juga bisa puas mencomot makanan apa pun yang diinginkannya. Cukup fair kan?
"Jadi bener Tuan Wilson invest banyak di perumahan yang dibangun oleh Tuan Peterson?" tanya Dokter Livia kagum.
Toni menoleh demi mendengar pulau dan namanya disebut - sebut. Dia ingat kalau pernah membaca rencana yang diberikan oleh John padanya. Tentang sebuah pulau kecil, yang hanya terdapat sedikit hotel. Namun pulau itu bisa menjadi pulau terbaik untuk snorkelling dan diving. Selain itu disana, kita juga bisa melihat terumbu karang yang dilindungi dan langka. Pasir putihnya juga terbentang luas.
Oh'ya kenapa dia bisa lupa kalau Tiffany juga berinvest disitu. Argh! Menjengkelkan sekali. Dia sudah berputar - putar dan lari menjauh tapi kenapa selalu saja Berhubungan dengan wanita itu.
"Kenapa invest disitu? Pulaunya kecil dan jauh dari mana - mana?" Tuan Peterson ikut nimbrung. John manggut - manggut mendengarkan.
"Ooh, aku tidak sembarangan investasi lho. Aku lihat dulu potensinya." jawab Tiffany mantap."
"Why?" John jadi ikut tertarik. Bagaimana pun pulau ini milik Tuan mudanya, ide - ide, kritik atau masukan harus segera dicatat.
"Karena Smart Island Plan. Orang - orang butuh tempat untuk pergi sejenak dari rutinitas yang membosankan. Gunung? It's a common thing." Tiffany mengangkat bahu, dia meneguk segelas sparkling water dan melanjutkan.
__ADS_1
"Laut? Many people did. Kenapa sekarang jadi banyak orang suka travelling?" tanya Tiffany kepada John, berharap asisten 'calon suaminya' secerdas dia.
"Karena mereka bosan."
"Nah, itu tau... " Tiffany menjentikkan jarinya. "Mereka ingin kembali ke alam, tapi tak bisa lepas dari tekhnologi. Mereka butuh tempat terpencil yang bersentuhan dengan alam tapi akses internet is the top of all."
"Oh, yeah. Medsos era." sahut Dokter Livia sambil tertawa renyah. Tuan Peterson ikut terkekeh, dia suka anak - anak muda yang pintar dan kritis.
"Saking smart-nya pulau ini, kita bakal ambil tekhnologi toiletnya dari Jepang." tambah John, yang di Amini oleh Tuan Peterson.
Sementara orang - orang pintar itu asyik ngobrol, makanan sudah selesai dimasak semua. Sembari bekerja, telinganya terus mengikuti pembicaraan mereka. Semakin dia mendengar, semakin dia menyadari kalau dirinya out of their league.
Eliana melirik Tiffany yang bersemangat membicarakan proyek Toni, sementara Tuan Peterson dan John menatap dengan pandangan takjub. Dokter Livia juga tak mau kalah, dia beberapa kali melontarkan pujian atas pola pikir Tiffany.
Saat kepercayaan dirinya semakin luntur, sebuah tangan hangat menggenggamnya. Eliana menoleh, Toni membawa sepiring makanan untuknya. Senyumnya seolah tahu kalau Eliana sedang galau. Dan genggaman itu seperti mengatakan kalau Toni akan berada disini, bersamanya.
"Yuk, makan." ajak Toni tanpa melepas genggamannya, mengajak Eliana menuju meja kosong lainnya. Toni tak mau bergabung dengan meja Grandpa karena ada Tiffany. Lebih baik bergabung dengan Alex yang misuh - misuh karena merasa menjadi obat nyamuk antara Toni dan Eliana.
Walaupun kelihatannya Tiffany sedang asyik berbicara tentang prospek kerja samanya, namun sebenarnya dia memperhatikan setiap gerak gerik Toni dan Eliana. Dari ujung matanya, dia bisa melihat Toni menggenggam dan menggandeng Eliana menuju meja makan yang tak jauh dari mejanya.
Bersambung ya....
Note:
1. Common thing \= hal yang lumrah
2. Many people did \= banyak orang sudah melakukannya
__ADS_1
3. out of their league \= sebuah ekspresi yang menunjukkan seseorang yang levelnya jauh diatas kita.