My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 62 -- Fail To Protect Her


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Alex cemas.


Tubuh Toni bergetar karena emosi, rahangnya mengeras dan menjawab. "Mereka... mencoba... memper-kosa... " Toni tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia merengkuh Eliana dan memeluknya erat - erat. Gelombang rasa bersalah melingkupinya, dadanya terasa sesak.


"I shouldn't have left her"


(Aku seharusnya tak meninggalkannya.)


Alex segera keluar cabana dan berteriak.


"Please call 911!" Tak lama dia kembali kepada Toni dan mengamati sekelilingnya.


"Aku rasa seseorang mencampur sesuatu pada minumannya."


Toni menoleh kaget, dia melihat berbagai macam gelas berserakan di atas meja. Ada gelas tequila yang bernoda lipstik di pinggir gelasnya. Toni semakin erat memeluk Eliana yang masih tak sadarkan diri. "I'm sorry. I'm so sorry... "


"Toni... " Suara Eliana terdengar lemah. Bulu matanya bergerak - gerak. "A... ir."


"Alex, air!"


"Wait!" Alex bergegas keluar. Terdengar suaranya marah - marah dan memaki. "WHERE'S THE HELL YOUR D-A-M-N MANAGER?!"


(Mana manager sialanmu?")


"Ugghh... " Salah satu laki - laki yang dihajar Toni bergerak di dekat kaki Toni.


Secepat kilat, dia meraih gelas dan melemparnya ke arah penjahat itu.


PRAAANG!


Darah mengalir dari dahinya, Toni tetap saja tidak puas. Dia ingin membunuh semua orang yang ada disana.


Alex datang bersama dua orang pelayan.


"Ini adalah TKP. Tidak ada seorang pun yang boleh meninggalkan tempat ini sampai polisi datang!" ucap Toni dengan mata nanar, menatap mereka satu per satu. Saat itu juga, semua orang yang ada disitu menyadari, jangan sampai mereka berurusan dengan orang ini.


***


Raungan sirene terdengar, tiga buah mobil polisi melaju keras beriringan diikuti oleh sebuah ambulance.


Toni duduk sambil menggenggam tangan Eliana, kesadaran istrinya timbul tenggelam akibat sesuatu yang tadi dikonsumsinya. Seorang petugas paramedis berkali - kali memanggil nama Eliana untuk memastikan kesadaran wanita itu.


Tapi, Eliana hanya sanggup bergumam tidak jelas. Matanya tak bisa fokus, tubuhnya lemas dan tak berdaya.


"Dia keracunan alk-ohol." ujar paramedis perempuan itu. "Sampai di rumah sakit, kita akan ambil sampel cairan di perutnya untuk mengetahui jenis racunnya."


"Apa dia akan baik - baik saja?" tanya Toni khawatir.


"Semoga dia baik - baik saja. Kita perlu memompa perutnya."

__ADS_1


Toni menelan ludah dengan susah payah, tangannya terkepal, menahan diri supaya tak meledak. Sekarang Eliana harus menjadi prioritas-nya lebih dahulu.


"Apa anda walinya?" tanya paramedis yang bernama Josephine.


Toni mengangguk. "Saya suaminya."


"Maafkan saya, Tuan. Tapi dia akan baik - baik saja." kata Josephine.


Toni mengerti kalau yang dimaksud oleh Josephine adalah kondisi fisik Eliana, tapi ada hal yang lebih memberatkan pikiran Toni.


Dia sudah meninggalkan Eliana sehingga istrinya itu mengalami pelecehan s-e-k-s-u-a-l. Dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan mengumpati dirinya sendiri. Suami macam apa yang membiarkan istrinya dalam bahaya.


Sementara itu, ambulance terus melaju menuju rumah sakit terdekat.


*


Toni marah besar!


John dan Alex bergerak cepat, mereka ke kantor polisi dan mendapat info bahwa para penjahat itu telah memasukkan obat perang-sang ke dalam minuman Eliana atas perintah seseorang.


"Seseorang?" tanya Toni sambil memandang Alex dan John yang baru saja tiba di rumah sakit. Eliana sudah selesai ditangani, namun dia belum juga sadar dan harus dalam pengawasan intensif.


Toni belum boleh menemuinya.


John dan Alex berpandangan dengan sorot mata prihatin, kemudian menghembuskan napas bersamaan.


"Siapa?" sergah Toni tak sabar. Ekspresi wajahnya tegang dengan mata melotot, hingga urat syarafnya terlihat jelas. Frustasi dan kalut bercampur jadi satu.


Toni beralih kepada John. "Katakan padaku, siapa orangnya!" perintah Toni geram.


John berdehem. "Kalau menurut gambaran mereka, otak dari semua ini adalah Bryan dan -- "


"Tiffany." lanjut Alex.


" Tiffany?" Toni tercengang.


Sama halnya dengan Alex, dia tak percaya kalau Tiffany sanggup berbuat sekeji itu. Otaknya terasa penuh sesak, semua berjubelan menjadi satu dan meminta untuk dipikirkan.


"Maafkan saya, Tuan karena berhasil dikelabui oleh mereka." John menunduk tak berani menatap Toni, siap menerima konsekuensi atas kebodohannya.


"Yes, Toni. Maafkan aku yang terpancing untuk menemui Bryan. Dia memanfaatkanku supaya kamu terpancing dan keluar dari club." Alex mengacak - acak rambutnya sendiri, kesal. "Kemudian dia menyuruh salah satu pelayan untuk mengantarkan minuman yang berisi obat kepada Eliana."


Toni memejamkan matanya, merasa dirinya adalah orang paling bodoh di dunia. Dia terhuyung, seperti ditampar oleh kenyataan. Kenapa dirinya meninggalkan Eliana tanpa pengawalan sama sekali?


Suara langkah kaki terburu - buru terdengar di koridor, ketiga pria itu menoleh kepada seseorang yang berjalan menghampiri mereka.


"Tuan Anthony, bagaimana Eliana...?" Dokter Livia sudah sadar dari mabuknya. Wajahnya terlihat begitu cemas dan khawatir.


Alex mendekat ke Dokter Livia. "Kamu itu kenapa malah ikutan mabuk? Bukannya kamu itu seorang Dokter?"

__ADS_1


Air mata mengalir di pipi Dokter Livia, dia malu dengan kelakuannya sendiri. "Maafkan saya Tuan Anthony, Tuan Alex dan Tuan John."


Toni melengos, tak mau menatap Dokter Livia. Dia menitipkan istrinya kepada orang yang salah. "Dokter macam apa kamu ini? Sama sekali tidak menjadi teladan." tegur Toni dingin.


Kalimat Toni menampar Dokter Livia telak, rasa malu menderanya begitu hebat. Gara - gara kecerobohannya, hampir saja terjadi sesuatu yang buruk pada Eliana.


Kesalahannya benar - benar fatal.


"Maafkan aku, Tuan Anthony."


"Pergilah, Dokter. Aku tak ingin melihatmu lagi. Lebih baik Eliana tak mempunyai teman. Dan keuargaku tak akan lagi memanggilmu. Kamu beruntung aku tak menutup tempat praktekmu." usir Toni. Tatapannya sinis dan dingin. Tak ada sedikit pun belas kasihan di matanya saat Dokter Livia menangis penuh penyesalan.


Alex diam - diam memperhatikan Toni dengan khawatir. This is the real Toni, dia telah menunjukkan sisi ganasnya.


Setelah itu Toni langsung berbalik dan kembali ke emergency room dan bertemu dengan suster jaga.


"Tuan Peterson, anda sebaiknya beristirahat. Wajah anda nampak pucat."


Tanpa sengaja, suster tadi melihat bagaimana gelisahnya Toni dari pertama dia datang membawa seorang wanita yang keracunan alk-ohol dan menjadi korban pelecehan.


"Kami akan menjaga istrimu. Jangan khawatir, dia akan baik - baik saja."


Sayangnya, Toni terlanjur tak bisa percaya begitu saja kepada siapa pun. Bukan karena dia meragukan kemampuan para suster dan dokter di rumah sakit ini. Tapi, dia sedang tak percaya kepada dirinya sendiri. Rasanya dirinya akan sangat bersalah kalau beristirahat, sementara sang Eliana, istrinya, sedang berjuang untuk hidup.


Toni melirik name tag yang ada di dada suster paruh baya yang nampak keibuan itu.


"Suster Brown, apa saya bisa meminta bantuan anda?"


"Kalau bisa, saya pasti akan membantu tuan."


"Tolong beritahu dia saat dia sadar nanti. Aku ada diluar, aku tak mau dia merasa ditinggalkan dan sendiri."


Sorot mata suster yang baik hati itu melembut, dia terenyuh melihat bagaimana Toni mencintai Eliana. "Anda pasti sangat mencintainya, Tuan."


"I do love her." ucap Toni getir.


Toni sangat mencintai Eliana, tapi tak bisa melindunginya. Dia merasa gagal untuk menjaganya.


Bersambung ya....


Note:



Tuan Peterson : Toni juga dipanggil Peterson.


Ada kebudayaan di beberapa negara yang memanggil nama belakang seseorang untuk menghormati.


I do love her \= kata do digunakan untuk menunjukkan kesungguhan hati dari pada sekedar I love you.

__ADS_1


.



__ADS_2