
Alex memilih Swan Valley sebagai tempat wisatanya bersama Livia. Dia mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih belum terlalu siang untuk menghabiskan waktu di kawasan ladang dan pabrik anggur tertua. Jika belum terlambat, mungkin mereka bisa menikmati tur keliling ladang anggur.
Dia berusaha menjaga privasi Toni dan Eliana dengan pergi keluar seharian. Setelah meletakkan barang - barang Livia di hotel dekat daerah situ, mereka langsung meluncur ke Swan Valley, mendengarkan sejarah tentang suku aborigin.
Livia penasaran dengan rasa wine lokal, dia tak tahan untuk mencicipinya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Alex penasaran, dia memperhatikan Livia menyesap anggur beral-koh-ol itu. Cara Livia menikmati anggur itu membuat Alex semakin tertarik padanya. Dia tak malu - malu menunjukkan sisi lain dirinya diluar profesinya sebagai psikolog ternama.
Livia tertawa renyah. "Kenapa kamu tak mencobanya sendiri?" godanya sambil mengerlingkan mata dan menggoyangkan gelasnya di depan wajah Alex.
"Siapa yang akan menjagamu kalau kita berdua sama - sama mabuk." dengus Alex. Dia masih ingat kejadian Chandelier yang tak terlupakan, dan setelah itu, dirinya benar - benar bertekad tak akan ceroboh lagi.
"Hey, satu gelas tidak akan membuatmu mabuk. Kalau hanya satu gelas justu bagus untuk kesehatan mental, bisa mengatasi depresi dan kecemasan. Dan sepertinya hari ini kamu membutuhkannya."
Livia menuangkan anggur perlahan - lahan ke dalam gelas untuk menjaga cita raaanya, kemudian menyodorkan segelas wine kepada Alex. Dari caranya menuangkan dan menikmati, terlihat jelas kalau Livia sudah terbiasa dengan minuman ini.
"Kenapa kamu tidak berterus terang saja pada Anthony, apa alasan Grandpa menyuruhmu kesini?" tanya Livia. Dia jadi ikut - ikut memanggil Tuan Peterson dengan sebutan Grandpa karena selalu mendengar Alex dan Toni menyebut Grandpa.
Alex memutar bola matanya, bagaimana mau bercerita, belum - belum Toni sudah tidak ramah padanya. Memang sih kakaknya itu tetap menyiapkan kebutuhannya seperti makanan dan tempat tinggal.
Melihat reaksi Alex, Dokter Livia kembali tertawa. Alex sangat berbeda dengan Toni yang lebih tertutup. Pria ini seperti buku yang terbuka, kalau sudah dibaca bisa membuat orang tertarik dan tidak berhenti membacanya hingga selesai. Lagipula, ekspresi Alex jelas terlihat.
"Kamu bodoh!" ejek Livia.
"Apa?" protes Alex tak terima. Wajahnya terlihat kesal luar biasa karena ditertawakan oleh Livia.
__ADS_1
"Yeah, you're stupid." ucap Livia lagi sambil mengulum senyum. "Jelas saja kakakmu marah. Ini honeymoon mereka, hey. Dan kamu tahu - tahu datang di pagi hari tanpa permisi? Tidak dilempar keluar pagar saja, kamu sudah beruntung." Livia kembali tertawa lepas. Entahlah dia tertawa karena efek wine atau memang geli mendengar cerita Alex.
Menyadari kesalahannya, dia membuang muka. Tapi sebenarnya kan ini semua karena perintah Grandpa, dalam hati dia berusaha membenarkan dirinya sendiri. "Itu sebabnya aku menyuruhmu menemaniku disini."
"Yes, I want to. Jangan lupa mengganti uang saku perjalanan dan kerugianku karena menutup tempat praktek. Akan aku kirim perinciannya ke email-mu."
"Cih... perhitungan sekali." dengus Alex, pura - pura tersinggung. Biaya pesawat dan akomodasi Livia sudah di tanggung semua oleh dirinya, dan dia juga cukup tahu diri untuk membayar semua pengeluaran mereka. Tapi Dokter satu ini dengan tidak tahu malunya menagih.
"Aku bukan crazy rich seperti kalian, Sayang." Livia menggoyangkan gelas wine dan mengedipkan sebelah matanya. Cantik dan menggemaskan.
Hati Alex berdesir demi mendengar kata sayang yang terucap dari mulut Livia. Dia tahu Livia sering kali menyebut pasiennya dengan panggilan sayang untuk menciptakan bonding pasien dan dokter. Tapi tetap saja, satu kata itu mampu menggetarkan hati Alex.
Alex melengos, berusaha mengalihkan perhatiannya dari Livia. Sembari menikmati tetes demi tetes anggur yang terasa nikmat itu, dia mendengarkan seorang pemandu bercerita.
"Swan Valley merupakan kawasan ladang dan pabrik anggur tertua di Australia Barat sejak 1829. Ada sekitar 40 kilang anggur berukuran kecil dan dikelola oleh keluarga imigran. Mereka merupakan cucu dari imigran Kroasia dan Italia yang mengembangkan wilayah Swan Valley sejak 1920. Selain itu, adapula ladang anggur di Margaret River hingga Barossa Valley."
Begitu alkohol mengalir dalam darahnya, Livia semakin ceria. Pipi dan bibirnya memerah, menambah kecantikan alaminya. Matanya bersinar saat dia tersenyum dan berbicara. Duduk diam berdua seperti ini saja sudah membuat Alex merasa nyaman.
Alex memutuskan untuk memesan seratus botol untuk dikirim ke Lakewood. Dia memberi kartu nama pada pemilik anggur yang mereka kunjungi sambil berpesan kalau asisten mereka akan menghubungi dan mengatur semuanya.
"I would like to give the best wine for my collegues and business partner." ucap Alex, sekaligus memberi pujian kepada owner kebun anggur.
(Saya akan memberi wine terbaik kepada kolega dan partner bisnis.)
Livia diam - diam memperhatikan interaksi Alex dan pemilik kebun anggur. Terkesan luwes dan profesional, berbeda sekali dengan kesehariannya yang terlihat santai dan masa bodoh. Tiba - tiba saja Livia membayangkan, Alex yang sedang duduk di meja kerja dengan laptop dan tumpukan dokumen di hadapannya. Wow! Pasti tampan sekali, bahkan Anthony pun bisa kalah.
__ADS_1
"Alex, besok kita jalan berdua ke laut. Bagaimana?" seru Livia spontan. Tangannya langsung menggandeng lengan Alex. Mungkin saja ini efek wine atau minuman yang telah di minumnya, tapi Livia tak perduli. Just enjoy this moment for a while. Tidak perlu berpikir terlalu jauh.
(Nikmati moment ini sementara waktu.)
Jelas saja Alex tak menolak, lebih baik dia menghabiskan waktunya bersama Livia dari pada bersama Eliana dan Toni.
"Sure. We can go to The Great Barrier Reef tomorrow." jawabnya sambil tersenyum lebar.
(Tentu. Kita akan pergi ke The Great Barrier Reef besok.)
Di samping toko anggur Olive Farm Wines ada juga restoran The Cheese Barrel yang memiliki menu utama berupa keju. Alex mengajak Livia mampir kesana untuk mengisi perut, sebelum wanita itu kembali ke penginapan dan beristirahat. Alex belum berani mengajak Livia mampir ke rumah Toni, takut semakin menambah runyam masalah.
"Mungkin sebaiknya aku menginap di hotel yang sama denganmu, Liv." ucap Alex, nada suaranya mengambang. Tidak jelas apakah dia sudah memutuskan untuk menginap atau menanyakan pendapat.
"Bagaimana kalau Eliana mencarimu?" tanya Livia. Dia tahu betul bagaimana sifat Eliana, pasti dia mengkhawatirkan Alex yang pergi seharian dan tidak pulang - pulang. "Kamu tidak memberitahunya?"
"Dia sudah tahu kalau aku sedang bersamamu." jawab Alex. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah makan yang terlihat ramai karena hari sudah sore. Kemudian melihat jam tangannya, masih terlalu sore untuk pulang ke rumah tapi juga tak cukup waktu untuk pergi ke kebun binatang di dekat situ. Serba salah.
Setidaknya butuh tiga jam bagi mereka untuk puas berkeliling melihat satwa di sana. Sedangkan beberapa menit lagi, tempat itu akan tutup.
Bersambung ya....
Note :
Owner : pemilik.
__ADS_1
Sorry, kalau ada salah - salah akan direvisi menyusul ya... 🙏