
Tekanan darah sudah Eliana normal dan efek racunnya pun sudah berhasil di netralkan, dia diperbolehkan untuk pulang setelah hasil tesnya keluar.
"Toni, dimana Alex?" Tanya Eliana yang mendadak saja ingat kepada adik iparnya. Biasanya Alex selalu ada di sekitarnya dan mengusili Eliana.
"Oh, dia sedang sibuk." jawab Toni sambil membantu Eliana memakai cardigan dan menyisir rambutnya. Mereka bersiap akan meninggalkan rumah sakit.
Eliana mengerutkan keningnya, rasanya tak mungkin Alex tak menengoknya saat sakit begini. Eliana tahu kalau Alex selalu memperhatikan dirinya. Dan bagaimana dengan Grandpa, apa beliau tak mencarinya? Mereka sudah tak bertemu lebih dari 24 jam. Bahkan telepon dari mereka pun tidak ada.
"Apa Grandpa dan Alex tahu kalau aku disini?"
"Ya. Mereka mengirimkan salam untukmu."
"Salam?" Tanya Eliana lagi.
Dia merasa ada yang aneh saat ini. "Dimana ponselku?"
"Hilang."
"Tasku?"
"Aku tak menemukannya."
"Tas dan ponselku tak ada semuanya?"
"Siapa yang ingat ponsel dan tas di saat - saat genting seperti itu?" jawab Toni, nada suaranya lebih mirip sebuah keluhan.
Merasakan getaran ponsel di sakunya, Toni mengambil dan melihay nama yang tertera di layar.
Eliana menghembuskan napas, ekspresinya tak bisa menyembunyikan rasa heran sekaligus penyesalan. Kenapa dirinya sampai harus mabuk dan mengacaukan semuanya. Benar - benar menyusahkan.
"Jangan khawatir. Kamu akan mendapatkan yang baru." kata Toni. Lelaki itu memandang Eliana dan menyentuh lengannya sekilas, lalu berkata. "Aku harus menjawab panggilan ini sebentar."
Eliana mengangguk, namun pandangan itu mengikuti punggung laki - laki yang sudah menjadi suaminya itu dengan rasa curiga yang kian besar. Bukan hanya masalah ponsel dan tas yang hilang, tapi semenjak dia siuman dan bertemu Toni, tingkah Toni terlihat aneh. Body language-nya sungguh mencurigakan. Apa yang disembunyikan oleh Toni darinya?
*
Nyonya Wilson adalah tipe orang tua yang selalu melakukan apa pun untuk anaknya. Begitu mendengar dari pengacara kalau Tiffany terlibat masalah, dia langsung meluncur ke kantor polisi. Dia tak mau reputasi keluarga dan anaknya hancur karena kasus yang dianggapnya sepele. Selama ini Tiffany dikenal sebagai businesswoman dengan image yang baik, berita ini bisa menjadi skandal bagi keluarga mereka.
"Mr. Calleb, bagaimana ini? Kenapa anak saya sampai ditahan?" Tanyanya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Begini Nyonya, saya sudah berusaha semampu saya untuk mengeluarkan Nona Tiffany. Tapi yang menjadi masalah adalah orang yang melaporkan Nona Tiffany adalah Tuan Anthony Peterson.
Mulut Nyonya Wilson ternganga begitu mendengar penjelasan dari Mr. Calleb mengenai kronologis kejadian dan apa yang dituduhkan kepada anak perempuan kesayangannya. Berdirinya sedikit goyah, Nyonya Wilson tahu konsekuensi apa yang akan segera dihadapi Tiffany dari Papanya dan juga Toni, tunangannya.
Melihat ekspresi Nyonya Wilson pucat pasi, Mr. Calleb menyodorkan air mineral kepadanya. "Maaf Nyonya, apa anda baik - baik saja?" tanyanya.
Nyonya Wilson menarik napasnya dalam - dalam, wanita itu berusaha terlihat tetap tenang dan anggun di hadapan siapa pun. Ya. Dia harus terus seperti itu, tak peduli apa yang berkecamuk di pikirannya.
Penampilan sudah sangat sempurna dengan rambut tertata sempurna dan wajah full make up. Dengan percaya diri, tangannya merogoh Gadino bag senilai US$ 38 ribu, tas berbahan kulit buaya asli dengan taburan berlian, rancangan khusus designer terkenal asal Norwegia bernama Hide Palladino. Kemudian dia mengeluarkan diamond crypto smartphone miliknya dan jari - jarinya dengan lincah menari diatas layar dan menghubungi seseorang.
"Aunty ingin bertemu denganmu, Sayang." suara Nyonya Wilson mengalun anggun dan lembut.
....
"Ya. Secepatnya."
....
"Baik. See you soon."
Kemudian wanita yang masih terlihat muda itu menoleh ke Mr. Calleb. "Bisa bawa saya menemui Tiffany?"
*
"Maaf membuatmu menunggu. Sudah siap?" tanya Toni begitu kembali dari mengangkat telepon.
Eliana mengangguk. Dia sudah rapi dan duduk manis di atas tempat tidur, menunggu Toni datang.
"Yuk." Toni merangkul bahu Eliana dan membimbingnya keluar dari pintu rumah sakit.
Di koridor, mereka bertemu dengan suster Brown yang terlihat senang melihat pasangan ini. "Hello, sweet couple!" sapanya ceria. Kemudian dia menghampiri Eliana dan bertanya, "How's your feelings?"
Eliana tersenyum. "Terima kasih sudah merawatku, Suster."
"Tak masalah, itu sudah kewajiban kami. Suamimu sudah mengurus semuanya untukmu. Jangan lupa minum obatnya yang teratur dan jangan segan untuk kembali kesini andaikata ada keluhan, seperti sakit kepala atau sakit perut yang tidak tertahankan."
Toni dan Eliana berpamitan, di lobby rumah sakit John sudah menunggu mereka.
"Hai, John. Apa kabar?" Sapa Eliana saat laki - laki itu membukakan pintu untuk mereka.
__ADS_1
Sikap Eliana yang begitu baik dan manis membuat dada John di penuhi dengan emosi dan rasa bersalah. Suaranya sedikit tersendat saat menjawab "Ffi... fine, Nona... ehm, Nyonya. Bagaimana kabar Nyonya?"
"Aku sudah sehat, John." jawab Eliana sambil tersenyum, disusul oleh Toni yang hanya melirik sekilas ke arah John. Toni masih marah kepada John atas keteledorannya. "Kamu belum menerima konsekuensimu, John." Bisik Toni saat melewati John.
"Ya, Tuan." John menunduk hormat. Dia tahu kalau ada konsekuensi atas setiap perbuatan. Apalagi kali ini, hampir saja istri tuan mudanya celaka. Dia begitu terburu - buru menyampaikan info.
Mobil melaju kearah yang berlawanan dengan cottage yang mereka sewa untuk beberapa hari. Menyadari hal itu, Eliana bertanya. "Kita mau kemana? Ini bukan arah ke cottage."
"Kita pulang ke rumah dulu saja. Aku rasa disana lebih aman untukmu beristirahat." jawab Toni. Dia menarik kepala Eliana supaya rebah di bahunya dan mengecup rambutnya dengan sayang.
"Grandpa?" Tanya Eliana. Dia tak bisa tidak memikirkan Tuan Peterson.
"Sudah ada dirumah, Sayang."
"Oh, Oke."
Eliana yang manis dan selalu patuh itu tak banyak protes. Dia menurut saja apa pun yang dikatakan oleh suaminya.
Toni berdehem, menyembunyikan sesuatu dan menghindar terus menerus seperti ini membuatnya merasa serba salah.
"Nanti kalau kamu sudah sehat, kita akan berpergian. Ya?" ucap Toni lagi.
Eliana menarik napas panjang. "Aku menyesal Toni, karena kesalahanku terpaksa kita harus menunda banyak hal." lirih Eliana sedih.
Seharusnya kemarin malam adalah malam pertama mereka, saat dimana dirinya bisa memberikan bukti cinta kepada suaminya. Bukan malah di rumah sakit dan membuat suaminya cemas setengah mati. Eliana mengutuki dirinya sendiri yang mabuk.
Ucapan Eliana yang lembut dan penuh penyesalan menusuk - nusuk nurani Toni hingga dia ingin menangis. Sementara dia harus menahan semuanya, menjadi manusia munafik. Baru saja dia bersumpah dihadapan Tuhan untuk menjaga Eliana, tapi belum juga dua puluh empat jam janji itu terucap, dia sudah melanggarnya.
Dan sekarang dia masih juga melanggar janji setia mereka untuk saling berbagi karena dirinya harus berbohong untuk menutupi fakta sebenarnya demi kebaikan Eliana sendiri.
Bersambung ya....
Note
Fishy \= Suspicious \= Mencurigakan
Body language \= bahasa tubuh
__ADS_1