
"Namamu Toni. Mulai sekarang, Toni dan Eliana berteman. Ayo pulang bersamaku." ucap wanita itu sambil tersenyum lembut padanya. Hati Toni terasa penuh saat bertemu Eliana, dunianya kembali.
"Ayo, Eliana." jawab Toni sambil tersenyum.
Eh? Tapi suaranya tak bisa keluar dan perawat cantik itu sudah berjalan menjauh meninggalkannya.
"ELIANA! TUNGGU." Panggil Toni lebih kencang, tenggorokannya sakit saat Toni berteriak tapi suaranya tetap tak bisa keluar. "Aku ikut bersamamu, Eliana."
"Kenapa kamu lama? Please, come." Eliana menoleh, tangannya terulur, bersiap menyambut telapak tangan Toni.
Bergegas Toni meraih tangan Eliana.
Ups, tak sampai. Tangan Toni tak bisa meraih tangan Eliana.
"Come, Toni. Aku menunggumu."
"Kenapa jalanmu cepat sekali Eliana?" keluh Toni, berusaha mengejar Eliana.
Puff!
Toni mengerjap kaget, dia memandang sekelilingnya dengan tercengang. Dia sedang berada di danau dengan pohon - pohon yang rindang.
"Toni!" suaranya familiar dan terasa begitu dekat di hati. Toni mulai bergegas. Dia melangkah, tapi sejauh apa pun dia melangkah dia tetap berada di tempat yang sama. Dia celingukan diantara pohon - pohon yang teduh.
OH! Toni ingat sekarang, danau ini adalah tempatnya berkencan dengan Eliana. Tapi dimana Eliana? Kenapa dia tak nampak? Hanya suaranya saja yang muncul?
Toni tak sabar, rasa rindu menyeruak begitu saja tanpa bisa dibendung. Dia mau bersama Eliana dan waktunya adalah sekarang. Iya, sekarang. Toni tak mau lagi menunggu, dia sudah ingat apa yang membuat hatinya mendadak terasa kosong.
"ELIANA!!!"
Jantung Toni berakselerasi dengan cepat. Tiba - tiba saja, bernapas terasa sulit.
"Tuan muda."
John menarik napas dalam - dalam sambil menepuk bahu Toni pelan. Berusaha menyadarkan Toni dari mimpi buruk. Saat lewat kamar Toni tadi, dia mendengar suara - suara dengan nada panik dari dalam. Begitu masuk, dilihatnya sang Tuan muda sedang tidur dengan gelisah. Mulutnya meracau.
Sekarang mereka sedang berada di luar kota untuk mengurus pekerjaan. Merasa baik - baik saja dengan kondisi tubuhnya, Toni menolak usulan untuk pergi ke villa. Dia lebih memilih untuk bekerja secara mobile seperti yang sering dilakukannya dulu, mengunjungi proyek - proyek, dan melakukan meeting via zoom.
Toni tergeragap bangun, sesaat matanya kosong karena shock. Pandangannya lurus ke depan, bajunya lepek oleh keringat.
"Tuan, apa anda baik - baik saja?" John menyodorkan segelas air putih, tangan satunya menepuk bahu Toni. Matanya menatap prihatin kearah Tuan Mudanya.
__ADS_1
"Mana ponselku?" jawab Toni tiba - tiba, entah kepada siapa. Dia berdiri dan celingukan.
Oh, itu dia. Ponselnya ada diatas nakas. Bergegas Toni menyambar benda pipih itu lalu jarinya dengan lincah mendial nomer tertentu yang ingin dihubunginya.
John bertanya - tanya dalam hati, dia masih belum mengerti apa yang terjadi dengan Toni saat ini. Pria bertubuh tegap itu mengamati Tuannya yang mulai bergerak kian kemari. Bahu dan kepalanya menjepit ponsel, sementara tangannya mengeluarkan baju - baju dari lemari. Semuanya dilakukan dengan gerakan terburu - buru, seperti dikejar setan.
"Hallo? Ya, saya Anthony Peterson... ya, hari ini, sekarang. Jam?... I told you right now! I can't wait any longer. Yeah... oke. Good. Thanks!"
Helikopter done!
Sialan, sialan, sialaaaan!
Kenapa bisa dia melupakan sesuatu yang penting. Tangan Toni sibuk membereskan barang - barangnya, membereskannya masuk ke dalam duffle bag.
Pantas saja ada sesuatu yang kosong di dalam hatinya. Seperti ada moment yang hilang dan ada sedikit rasa sepi yang muncul saat dia tak melakukan apa - apa.
Sialan, pasti Eliana berpikir yang tidak - tidak tentang dirinya yang mendadak hilang. Entahlah, sudah berapa lama dia tak bertemu Eliana dan memberi kabar pada wanita itu.
Ah, ya ampun. Toni tak bisa membayangkan bagaimana cemasnya Eliana menunggu dirinya pulang.
"Maaf, Tuan. Ada apa? Tuan mau pergi kemana?" John tak bisa lagi menutupi keheranannya melihat Toni yang seperti bersiap - siap untuk meninggalkan rumah singgah mereka.
"Aku harus ke Lake Wood. Sekarang!" Toni memberi penekanan pada kata terakhir. Rahangnya mengeras, tak ingin dibantah. Barang - barangnya sudah beres.
"Eliana pasti menungguku, aku pergi tanpa pamit kepadanya."
"Ha? Lalu bagaimana dengan schedule hari ini dan besok?"
"Cancel everything. Aku tidak bisa bekerja kalau belum bertemu dengan Eliana. Aku mau kembali kepadanya dan minta maaf."
"Maaf, Tuan. Tapi Tuan tidak bisa pergi begitu saja, pagi ini ada meeting penting."
"Kenapa Grandpa dan kamu tak memberitahuku kalau aku melupakan Eliana?" tanya Toni dengan nada kecewa.
John hanya menunduk, teringat percakapannya dengan Tuan Peterson.
"Kalau dia melupakan Eliana, mungkin ini waktu terbaik baginya untuk kembali ke Tiffany. Papanya menjengukku dan sudah bertanya tentang kelanjutan pernikahan mereka."
"Tapi Tuan Anthony ingat tentang Nona Eliana, Tuan. Hanya lupa namanya, Dokter bilang sebentar lagi dia akan ingat kembali. Berbeda dengan kasus Nona Tiffany, yang memang seperti ingin dilupakannya." John ikut bimbang.
"Biarkan begini dulu. Kalau dia memang bisa mengingat Eliana, turuti saja apa maunya. I trust his gut feeling." jawab Tuan Peterson, merasa serba salah. Di satu sisi dia memegang prinsip bahwa janji seorang pria tak boleh di ingkari, namun di sisi lain dirinya tak mau Toni tertekan.
__ADS_1
Dan sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah mengikuti kemana takdir itu berjalan, sambil mempersiapkan kemungkinan terburuk hubungannya dan Wilson. Hati kecilnya sudah bisa merasakan kemana hati Toni lebih condong.
Toni mencangklong duffel bag di bahunya. Dia benar - benar marah pada semua orang yang tak memberitahunya soal Eliana. Rasanya seperti dicurangi.
O'iya!
Benar sekali kalau dirinya sempat melupakan Eliana sesaat karena ingatannya pulih dan semua informasi tumpang tindih. Toni tak menyalahkan siapa pun soal itu.
Tapi tak ada seorang pun yang menyebut nama Eliana saat dia mengatakan mengingat wajah seorang wanita. Itu sangat menjengkelkan.
"Tuan, bagaimana dengan meeting bersama anggota parlemen?" tanya John ketar ketir.
"Kamu saja yang menggantikan aku untuk menghadiri meeting." jawab Toni dingin. Dia sudah melangkah keluar dari rumah singgah, bersiap menuju atap gedung tempat dimana helikopternya akan mendarat.
John terkesiap, inilah yang dikhawatirkannya tentang Toni. Begitu dia marah, seolah tak peduli apa pun.
"Tapi Tuan, mereka datang untuk bertemu dengan anda bukan saya. Wakil sekaligus pengganti Tuan Peterson."
"This is your fault. Aku pergi tanpa penjelasan apa pun padanya. Dan hari itu Eliana sedang salah paham denganku." sahut Toni tak mau tahu. John terus mengekor Toni, mencoba membujuknya untuk tetap tinggal.
"Maaf, Tuan. Percayalah, Tuan besar sedang mengatur semuanya demi kelangsungan Peterson. Dengan atau tanpa Wilson, perusahaan harus tetap berjalan. Tolong selesaikan meeting dengan mereka dulu. Jangan mengacaukan rencana Grandpa anda." John memohon kepada Toni.
"Bulls-hit!"
Wajah John memucat, posisinya terjepit antara pekerjaan dan perasaan Toni. Otaknya berpikir cepat, bisa habis karirnya kalau Toni membatalkan scedule hari ini.
Bersambung ya....
Note :
Duffle bag, atau dikenal dengan gym bag, merupakan tas dengan kapasitas yang lebih besar daripada tas pada umumnya. Tas ini dapat Anda gunakan untuk olahraga sekaligus travelling.
This is your fault : ini salahmu
__ADS_1