
"Hey, jangan menatapku seperti itu. Atau kita dalam bahaya." celetuk Alex tiba - tiba.
"Ha? Apa maksudmu?"
"Karena tatapanmu membuat hatiku bergetar."
Eliana tak bisa menjawab, speechless dengan kelakuan Tuan Muda yang satu ini. Kemudian Eliana menggelengkan kepala perlahan dengan pandangan memaklumi. Seperti seorang ibu menatap keisengan anaknya yang masih kecil.
"Baiklah, aku sudah terlalu lama disini. Aku khawatir Tuan besar mencariku." ucap Eliana ringan, seolah tak mendengar kata - kata Alex. Dia berpamitan dan melangkah tanpa menunggu respon dari Alex.
Heh?!
Sekarang giliran Alex yang melongo, menatap punggung Eliana yang berjalan menjauh. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada wanita yang imun terhadap pesona diri seorang Alex.
***
DEG!
'Toni sudah mempunyai calon istri?'
Jantung Eliana berdentum kencang, mendengar kalimat Tuan Peterson. Dia tak tahu harus senang atau sedih. Rasanya senang sekali mendengar Toni akan pulang hari ini.
Hhh... tapi kemungkinan besar kepulangan Toni adalah untuk menemui calon istrinya.
"Sorry to say, Eliana." ucap Tuan Peterson pelan.
Hati pria tua itu terasa pilu melihat perawat kesayangannya nampak shock. Diam tak bergerak di tepi danau tempat mereka menghabiskan sore ini. Ekspresinya tak terbaca, menatap langit yang mulai semburat warna jingga.
Tuan Peterson benar - benar menyesali diri sendiri.
Dia yang sudah tau Toni mempunyai calon istri, tapi dia juga yang membawa Eliana ke rumah ini. Rasa hutang budi dan terima kasih pada Eliana, membuat dirinya bertindak impulsive dan percaya begitu saja pada gut feeling yang dirasakan oleh Toni.
"Dimana Eliana?" tanya Tuan Peterson pada Suster Julie yang bertugas menggantikan Eliana hari itu.
"Dia kena skorsing, Tuan."
"Kenapa?"
"Dia berbuat asusila, Tuan." jawab Suster Julie dengan senyum puas di wajah.
"Jangan ngomong sembarangan!" dengus Tuan Peterson, benar - benar tak suka melihat raut wajah perawat itu.
__ADS_1
"Lho itu kenyataannya kok, Tuan. Suster Eliana tinggal bersama buronan amnesia. Semua rumah sakit menolaknya, dia dipindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Dan hari ini terbukti dia menengok laki - laki itu di rumah sakit. Banyak mata yang melihatnya, alamat yang tertulis di data rumah sakit juga sama dengan Eliana. Dia bahkan berbohong dan mengatakan kalau laki - laki itu adalah kakaknya." kata Suster Julie berapi - api.
"Dasar Bodoh! Dungu!"
Entah makian dan sumpah serapah apa lagi yang terlontar dari mulut Tuan Peterson kepada Eliana. Beliau benar - benar menyesali tindakan wanita itu.
Yang dimaki hanya tersenyum dan berkata, "Maafkan saya, Tuan. Saat ini Toni tak mempunyai siapa pun selain saya. I decided to stand for him."
(Saya sudah memutuskan untuk selalu mendukungnya.)
"Bahkan sampai dipecat dari pekerjaan?"
Eliana mengangguk.
"Silly you, Eliana." desis Tuan Peterson kesal sekaligus penasaran siapa pria amnesia yang bisa membuat perawat pintar di hadapannya menjadi sangat bodoh. Dan hari itu juga, dia menyuruh John untuk menyelidiki siapa pria amnesia yang tinggal bersama Eliana.
"Tuan, Tuan. Apa kita masuk sekarang?" panggilan Eliana menyentak Tuan Peterson kembali ke dunia nyata. Perawat itu memandangnya lembut dengan senyum tersungging di bibirnya, "Sudah hampir makan malam, Tuan. Ayo masuk."
Oh, hati Tuan Peterson semakin merasa tersentuh. Perawat cantik itu masih saja tersenyum lembut meski hatinya sedang sedih.
Ah, dia paham sekarang kenapa Toni menyukai Eliana. Senyumnya masih saja terulas di bibir meski tengah merasa sedih. Mengingatkannya pada Laura, Mommy Toni dan Alex. Lembut dan sabar.
Orang tua itu mendadak merasa mendapatkan kembali anak perempuannya yang telah lama pergi. Rasa sayang menyeruak, perasaan yang belum pernah dia rasakan, bahkan terhadap calon istri Toni sekali pun.
Eliana menggelengkan kepalanya. "Tidak apa - apa, Tuan. Aku seorang perawat, seharusnya aku yang paling tahu apa yang tidak boleh dan apa yang boleh dilakukan terhadap pasien."
'Termasuk jatuh cinta pada pasien amnesia.'
Kemudian Eliana berjalan ke belakang kursi roda Tuan Peterson, mendorongnya masuk ke dalam. Jangan sampai orang tua yang disayanginya ini melihat air matanya menetes.
"Kita masuk ya Tuan?" suaranya sedikit tercekat di tenggorokan.
"ELI!"
Dieng!
Spontan Eliana melotot pada Alex, dia tak mau Tuan besarnya berpikir yang tidak - tidak. Kemarin - kemarin dengan Toni, lalu sekarang dengan Alex. Eliana berjanji pada dirinya sendiri, tak akan banyak bicara dengan adik laki - laki Toni.
"ELI! Grandpa." Sapa Alex sekali lagi.
CK! Apa - apaan si Alex, berani sekali memanggil dirinya dengan panggilan Eli di depan Tuan Peterson. Eliana jadi sebal.
__ADS_1
"Grandpa, let's have dinner. Makanan sudah siap." Alex menghampiri mereka, sambil membawa sebuah pot berisi setangkai yang sedang kuncup.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Tuan Peterson.
"Oh'ya. This is special for Susternya Grandpa." ucapnya sambil mengangkat pot di tangannya.
"Namanya mawar Juliet, dia hanya mekar di tengah malam satu tahun sekali. Salah satu mawar paling langka di dunia. Kelopaknya berwarna peach dan seperti apricot. Kalau beruntung, kamu bisa melihatnya mekar. Saat mekar penuh, semua kelopaknya terbuka dan terlihat berlapis-lapis dengan rapi."
Sama seperti sebelumnya, Alex selalu bersemangat menceritakan soal mawar - mawarnya.
"Wow! Aku tak sabar ingin melihatnya mekar. Pasti cantik sekali." celetuk Eliana, dia lupa akan janjinya sendiri untuk tak merespons Alex.
"Kamu mengambilnya dari kebun Laura, huh?"
Tuan Peterson yang dari tadi mendengarkan tiba - tiba saja menyela. Matanya melirik kearah mawar yang harganya paling mahal di dunia. Konon harganya bisa mencapai sekian juta poundsterling karena butuh waktu lima belas tahun untuk menumbuhkan bunga ini. Tak biasanya Alex rela memberi tanaman milik Mommy-nya kepada orang lain.
Alex tersenyum, "Iya, Grandpa. Bulan ini bunga - bunganya sedang mekar semuanya." Dia mengambil alih tugas Eliana, dia mendorong kursi roda Grandpa-nya masuk ke dalam.
"Letakkan bunga itu di dekat jendela kamarmu, Eliana."
"I know, supaya terkena cahaya matahari kan?"
"Haha... supaya setiap hari kamu bisa melihatnya, dan setiap hari pula kamu mengingatku." ucap Alex dengan santainya. Mereka kini sudah memasuki rumah utama, dan langsung meja makan.
"EHEM... "
Mendengar gombalan Alex, mendadak saja tenggorokan Tuan Peterson gatal. "Apa yang kamu katakan Alex? Jangan bersikap tak sopan terhadap Eliana?"
"Kenapa? Aku menyukainya, Grandpa." ucap Alex ringan. Dia berjalan memutar, menuju ke depan kursi roda Grandpa-nya. Tanpa permisi meraih tangan Eliana dan menggenggamnya erat hingga wanita itu kesulitan menarik tangannya.
Astaga! Alex memang gila, Eliana mengumpat dalam hati. Dia benar - benar angkat tangan terhadap Alex. Wanita itu menatap kearah Tuan Peterson lalu ke tangannya, bersamaan dengan suara yang menggelegar.
"LEPASKAN DIA, ALEX!"
DEG!
Eliana terpaku di tempatnya.
Bersambung ya....
__ADS_1
Somehow, I imagine this is how Toni looks like (waktu kesel sama si John) 😂😂😂