
Toni ternyata bukan orang yang sabar untuk menunggu. Apalagi untuk sesuatu yang diinginkan, dan dia tak ingin kehilangan. Dia tipe laki - laki yang akan terus mengejar hingga mendapatkan apa yang dia inginkan. Whatever it takes.
Patuh pada peringatan dari Tuan Peterson, Eliana selalu mengunci balkon dan pintu kamarnya. Tapi jangan sebut namanya Toni, kalau tidak bisa membuka pintu kamar Eliana. Dia sudah punya semua kunci duplikat ruangan - ruangan di rumah utama. Maka, masuk kamar Eliana bukanlah masalah besar baginya.
Saat Toni masuk, Eliana sedang tidur menghadap satu sisi, tangannya berada di bawah pipi. Terlihat nyenyak dan lelap. Toni menyentuh pipinya, menyingkirkan helaian rambut yang jatuh di atas alisnya.
Sebenarnya dia tak mau terburu - buru, tapi sepertinya tak ada jalan lain, ini adalah satu - satunya cara untuk membuat Eliana tidak ragu - ragu lagi untuk tetap tinggal bersamanya.
"Eliana... "
Toni menunduk dan mencium pipi Eliana, bau harum shampoo Eliana masuk ke indera penciuman Toni. Harumnya membuat Toni ketagihan. Dia menyusup ke dalam selimut Eliana, memeluknya dan menciumi rambut Eliana.
"Hah? Toni?"
Eliana menarik tubuhnya dan bergeser menjauh. Secara otomatis matanya melihat ke dalam selimut, untuk memeriksa pakaiannya.
Aman!
Lalu apa yang dilakukan Toni saat dia tertidur tadi? Apa Toni juga tidur di sini? Di kamarnya! Eliana tak menyadari, kalau setiap malam Toni selalu menyelinap masuk disaat dia tidur dan pergi sebelum dirinya bangun.
Eliana tercengang saat tiba - tiba Toni menariknya, duduk berhadapan.
"Bagaimana kalau kita menikah hari ini?"
Heh?
Eliana menoleh ke arah Toni, berharap dirinya salah dengar. Baru saja matanya terbuka, tahu - tahu Tini menodongnya dengan pertanyaan random seperti ini.
"Sorry, kamu bilang apa?"
Toni membalas tatapan Eliana, dan balas bertanya. "Kenapa? Apa kamu tak mau menikah denganku?"
Eliana menghela napas, tak habis pikir dengan pola pikir Toni. Dia menyibakkan selimut dan bangkit berdiri, hendak ke kamar mandi dan membersihkan diri.
"Eitss, mau kemana?" Tangan Toni terulur, meraih tangan Eliana.
"Aku harus bersiap untuk mengurus Grandpa, dan sebaiknya kamu kembali ke kamarmu supaya kita tidak jadi bahan pergunjingan orang."
__ADS_1
Eliana mencoba mengusir Toni, mendadak saja kepalanya pusing. Beberapa hari lalu, mereka baru saja berbicara dengan John soal perusahaan, saham dan hubungannya dengan pernikahan Toni. Sekarang Tuan muda yang satu ini sudah muncul dengan permintaan konyol.
Toni mengulum senyum, dia menyadari kalau Eliana ingin menghindar. "Tidak perlu, ini masih tengah malam."
Tengah malam? Eliana membelalakkan matanya. Astaga!
Tanpa aba - aba, Toni menarik Eliana hingga wanita cantik itu jatuh terduduk di pangkuannya. Kemudian Toni memeluk Eliana dan menempelkan dagunya di atas bahu Eliana.
"Supaya tidak ada yang bergunjing, yang terbaik adalah kita menikah." bisik Toni, tak mau menyerah.
"Kata John, kita harus bersabar. Setidaknya dua minggu lagi. Dia butuh waktu... "
"Aku akan bersabar hingga waktunya tiba untuk mengumumkan pernikahan kita. Tapi aku tak mau sabar menunggu pernikahan kita." ucap Toni lagi. Nadanya begitu serius dan tersirat tekad yang bulat di dalamnya.
Eliana memijat kepalanya yang mendadak pusing. Toni berubah menjadi seorang yang tak mudah dibantah. Eliana mencintai Toni, tapi untuk menikah? Sama sekali belum terbersit sedikit pun di benaknya. Masalah Tiffany saja belum selesai.
"Menikah itu butuh banyak persiapan, Toni." Eliana mencoba berargument, meski sudah menduga kalau Toni akan membantahnya.
"Apa yang kamu butuhkan? Sebutkan saja! Aku akan menyiapkannya dalam waktu kurang dari 24 jam."
Toni melepaskan pelukannya, "Excuse me." Lalu dia bergerak dan menarik laci nakas Eliana.
Dia mengerutkan keningnya saat Toni mengeluarkan kotak itu dari sana. "Apa itu? Sejak kapan ada disitu?"
Toni tersenyum, "Mulai detik ini kita resmi bertunangan."
Hah?
Mata Eliana membulat dengan mulut terbuka. "A-apaaa?" Eliana tergagap.
Logikanya berkata untuk menolak permintaan Toni, tapi kenyataannya dia tak berdaya saat Toni memasangkan cincin itu ke jarinya. Tanpa sadar cincin itu sudah melingkar manis di jarinya.
"Perfectly fits on you." bisiknya saat memandang jari Eliana yang kini berhiaskan berlian dan batu saphire. Dia membawa tangan Eliana dan mengecup setiap buku - buku jarinya dan berakhir dengan mencium punggung tangan Eliana yang halus.
Eliana mengerjapkan matanya antara sadar dan tidak sadar. Tak bisa dipungkiri hatinya senang mendapatkan kejutan semanis ini. Eliana semakin tercengang dengan kejutan berikutnya, Toni menyodorkan amplop berisi berkas - berkas untuk persiapan pernikahannya.
"Kalau ini sih bukannya kamu propose aku tapi maksa aku buat nikah sama kamu." keluh Eliana. Kalau dilihat dari cincin dan surat - surat, sepertinya persiapan Toni sudah hampir matang.
__ADS_1
Toni terkekeh. "Memangnya kalau tidak dipaksa kamu mau langsung nikah?" tanya Toni. Dia tahu apa saja ya menjadi beban pikiran Eliana. Yes. Dan dia akan mengangkat beban itu satu persatu.
"Aku bukannya tidak mau menikah denganmu, tapi kan tidak harus hari ini."
"Trus kapan?"
O'ya, kapan? Eliana jadi termenung mendengar pertanyaan Toni. Saat urusan Toni dan Tiffany sudah selesai? Ah, bukankah itu sama saja dia menyuruh sepasang kekasih untuk berpisah? No, dirinya tak setega itu. Kembalinya ke itu lagi, itu lagi. Mereka adalah sesama wanita. Apa Eliana tega menghancurkan hati wanita lain demi kebahagiaannya sendiri.
"Come!" Toni menepuk bantal. "Sekarang kamu tidur dulu, besok pagi bakal ada orang datang buat dandanin kamu. Sekalian bawa pakaian pengantin buat kamu."
Toni berhenti sejenak, dia menarik napas untuk meredakan perasaan excited yang mendadak bergejolak di dada saat membayangkan Eliana mengenakan gaun putihnya. "Aku sudah pilihkan beberapa model. Besok kamu tinggal tentukan mau pakai yang mana."
What? Benar - benar deh si Toni. Rasanya otak Eliana mau meledak dengan kejutan bertubi - tubi dari Toni. Dia tak bisa berkata- kata, duduk termangu, bersandar pada headboard. Tak tahu harus berekspresi bagaimana.
"Eliana." Toni mengangkat dagu Eliana dengan jarinya. "Apa kamu bersedia menjadi istriku? Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya, pelindungmu dan suamimu."
Setetes air mata mengalir dari sudut mata Eliana saat dia mengangguk dan menjawab lirih. "Ya." Seharusnya Eliana bahagia, tapi ada sesuatu yang menggelanyut di hatinya. Membuatnya berat untuk tersenyum lepas.
"Masalah Tiffany, already done." Ucap Toni, berusaha untuk menghapus keraguan terakhir di dalam benak Eliana.
"O'ya?"
Toni mengangguk mantap. "Ya."
Dia berpindah tempat duduk ke sebelah Eliana, menyelipkan lengannya ke bahu Eliana dan merangkulnya.
Eliana melongo. "Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"
Bersambung ya....
Note :
Whatever it takes \= apapun yang diperlukan
Perfectly fits on you \= Sangat cocok untukmu
__ADS_1