My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 72 -- Deserve To Be Loved


__ADS_3

Berhak Untuk Dicintai


Eliana menyalakan lampu dan matanya berkeliling memandang ke kamar Toni yang luas. Dia masuk ke walk in closet mencoba mencari sesuatu untuk memberikan penampilan terbaiknya kepada Toni, tapi dia hanya menemukan pakaian - pakaian Toni di sana.


Apa yang harus dia pakai untuk malam istimewa ini? Eliana menatap deretan pakaian Toni yang tergantung rapi di dalam wardrobe.


AHA!


Tiba - tiba saja Eliana mendapat ide cemerlang. Dia mengambil selembar baju milik Toni dan memakainya dengan gaya sedikit berantakan. Lengan kemeja di gulung hingga siku dan dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka. Panjang kemeja itu hanya sampai di paha Eliana, menampakkan kulit Eliana yang putih dan mulus.


Eliana mematut bayangannya di depan cermin. Apa yang kurang? Ah, ya... parfum. Dia sudah bersih dan sekarang harus wangi. Oke. Ada sebotol parfum dan sepertinya milik Toni. Eliana meraihnya dan menyemprotkan parfum di titik -titik nadi. Di kedua pergelangan tangan, di antara belahan da-danya, dan juga di leher.


Seketika harum parfum milik Toni melingkupinya, Eliana tersenyum dan memeriksa penampilannya sekali lagi kemudian keluar dari kamar. Matanya menatap pintu kamar yang tertutup di sebelah kamar utama, jantung Eliana berdegup kencang. Gugup.


'Shhh... udah tidak usah dipikirkan lagi soal itu. Lupakan!'


Fokusnya sekarang adalah suaminya, Toni. Dia harus fokus.


FOKUS!!!!!


Eliana menarik napas panjang kemudian pelan pelan mendorong pintu kamar tempat Toni tidur, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.


"Toni... " panggilnya.


Tapi Toni tidak merespons, dia tidur memunggungi pintu kamar. Perlahan Eliana berjalan mendekat, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh punggung Toni yang polos.


"Toni... "


"Hm... "


Suaminya tergeragap kaget, Eliana jadi sedikit kaget dan mulai gugup. Detak jantungnya terasa makin cepat. Rasa takut dan gentar kembali melingkupinya.


Oh!


Toni berdiri. Dia hendak menyalakan lampu kamar. Bagaimana ini?


"Jangan, aku malu." Eliana menahan tangan Toni dan suaranya terdengar seperti memohon.


Ya, Tuhan!


Eliana tak dapat melihat jelas ada apa di balik sorot mata Toni, tapi dia tahu Toni sedang bingung dan khawatir. Lelakinya berdiri diam di tempatnya. Dia tak boleh membiarkan Toni terus dalam kebingungan.

__ADS_1


Yes. This is it! It's now or never.


(Ini dia. Sekarang atau tidak sama sekali.)


Cup!


Sebelum niatnya menguap dan sebelum keberaniannya lenyap, Eliana langsung menempelkan bibirnya ke bibir Toni. Menciumnya lembut dengan segenap hati dan perasaan.


Toni memejamkan matanya, mendadak perasaan canggung kembali muncul. Dia malu. Cepat - cepat dilepaskannya bibirnya dari bibir Toni, dan berdiri di tepi tempat tidur. Tanpa sadar tangannya merem-as ujung kemeja yang dipakainya.


Hampir saja Eliana mengurungkan niatnya, tapi tatapan yang diterimanya dari Toni membuat kepercayaan dirinya naik. Tatapan Toni padanya tidak berubah, tatapan penuh cinta.


"Kamu pakai bajuku?" tanya Toni sambil membelai pipi Eliana begitu lembut.


Eliana memejamkan matanya, kehangatan dan kelembutan tangan Toni melenyapkan ketakutannya. She is his. He is hers. Apa lagi yang ditunggu? Tak perlu lagi takut, apalagi ragu.


"Aku pinjam bajumu karena belum mempersiapkan apa pun untuk malam ini." bisik Eliana, dadanya semakin berdebar - debar. Tapi dia tak bisa mundur lagi. Here we go!


Toni merengkuh Eliana dan menciumnya lembut, melepaskan segenap perasaan yang ditahannya sejak tadi. Penampilan Eliana yang hanya memakai kemeja putih kedodoran tanpa apa pun di dalamnya sudah berhasil membuat Toni terpana. Apalagi ditambah aroma parfum miliknya yang merasuk begitu saja ke indera penciumannya.


She belongs to him.


"Gorgeous... "bisik Toni saat dia melepaskan bibir mereka untuk menarik napas. Dia menangkup wajah Eliana dan memandangnya penuh perasaan. Dia tersenyum dan berlama - lama mengecup kening Eliana, menikmati moment berdua mereka. " You're perfect."


"I'm yours. You can have me." bisik Eliana, memberi excuse.


Wow!


Bulu Toni meremang mendengar suara lembut Eliana terdengar serak dan dipenuhi emosi. Toni merengkuh pinggang Eliana dan kembali menciumnya, kali ini dengan lebih lembut.


Namun ciuman lembut itu tak bertahan lama, dan berubah menjadi ciuman panas. Ciuman Toni membuat Eliana lupa pada kejadian nahas yang menimpanya, kesakitan, kemarahan dan rasa jijiknya melebur dalam ciuman Toni yang dahsyat.


Bibir Toni seakan menyerap semua keputus asaan, menyedot keraguan dan menggantinya dengan rasa percaya diri. Kembali yakin bahwa dirinya layak untuk dicintai.


De-sah-an meluncur dari mulut Eliana, membuat Toni semakin merasa dibutuhkan. Tangannya menyelusup ke dalam kemeja Eliana dan merem-as apa pun yang ada di dalam sana. Toni bisa merasakan tubuh Eliana menghangat. Sentuhan demi sentuhan bagaikan sengatan listrik, meletup - letup dan membakar gai-rah.


Perlahan tapi pasti, kancing demi kancing terbuka. Selapis kain yang melekat di tubuh Eliana terhempas ke lantai. Menyusul box-er yang dipakai Toni pun ikut terjatuh di dekat kemeja Eliana. Sekarang mereka berdiri berhadapan. Polos. Tanpa penghalang satu pun.


Toni merebahkan Eliana diatas bantal, matanya tak berkedip menatap kagum pada keindahan makhluk ciptaan Tuhan di hadapannya.


How can she be so beautiful?

__ADS_1


(Bagaimana bisa dia sedemikian cantik?)


Wajah Eliana merona, dia menutup dadanya, terlihat canggung. Lalu dia menunduk, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Toni menarik dagu Eliana dengan jarinya hingga melihat ke arahnya. Bibir Eliana sedikit terbuka, merah merekah. Mengundang Toni untuk kembali mencicipi.


"Tidak usah malu. Kamu cantik sekali, Istriku. Kiss me, hug me... "


'Istri?'


Iya. Toni benar, dirinya sekarang adalah istri Toni, dan dia berhak atas setiap inchi tubuh Toni. Sama halnya dengan Toni yang juga memiliki hak atas dirinya.


Eliana mengangkat wajahnya, untuk bisa memenuhi permintaan Toni. Bibit mereka kembali bertemu, secara alamiah jari Toni menelusuri tubuh Eliana. Sentuhan Toni menimbulkan suara yang sen-sual dari bibir mungil Eliana.


Toni semakin tak sabar ingin menjelajahi bagian - bagian indah lainnya. Bibirnya berjalan, tak mau lepas dari kulit Eliana. Turun ke leher, dada dan kini hidungnya tepat berada di tubuh bagian bawah Eliana.


Toni menghirup dalam - dalam aromanya.


The smells of a vir-gins. It excites him.


Toni bisa merasakan bagaimana Eliana gemetar di pelukannya, mungkinkah trauma Eliana kembali muncul?


"Relax, Sayang." ucap Toni, memberi jeda beberapa detik kepada Eliana untuk sedikit mengendorkan ketegangan.


"Hm." gumam Eliana.


Tangannya meremas rambut Toni yang yang tebal sambil memejamkan mata, antara malu, takut namun dia juga menikmati perlakuan penuh cinta Toni kepadanya.


Toni membetulkan posisinya, lalu mencium kening Eliana. "I wanna do bad things with you..."


Bersambung ya...


Note



Yours : milikmu


have me : memiliki aku


excuse : ijin


__ADS_1


__ADS_2