My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 42 -- A Terrible Morning


__ADS_3

"Get out of me." desis Toni tak suka. Dia refleks menyentakkan lilitan lengan Tiffany di pinggangnya.


Tiffany memandangnya dengan tatapan terluka dan penuh air mata. Toni melengos, dia melangkahkan kakinya lebar - lebar menuju pintu ruang makan, meninggalkan makanan diatas nampan yang sudah disiapkannya. Biar pelayan yang mengaturnya nanti, yang jelas dia harus meninggalkan ruangan ini segera.mood


"TUNGGU!" Tiffany menyambar lengan Toni.


Toni menoleh dan berusaha menarik lengannya, tapi Tiffany lebih cepat. Lagi - lagi dia memeluk Toni sambil menangis pilu.


Bertepatan dengan bunyi pintu kaca bergeser.


"Ups, sorry John. Kamu berhenti mendadak, aku tak sengaja menabrakmu."


'Eliana?'


Toni menoleh ke pintu. John tampak terkejut, dia berbalik dan menghalangi pintu masuk.


"Nona, biar saya yang mengantar Tuan besar untuk makan pagi. Bisakah anda membantu mengambilkan walking frame ---"


Tak ingin Eliana melihat Tiffany memeluknya, Toni langsung mendorong Tiffany. Bergegas dia menyambut Grandpa.


"Hey, suruh saja pelayan ambil. Kenapa harus Eliana?" potong Tuan Peterson.


"Grandpa." Sapa Toni.


Grandpa-nya muncul diikuti Eliana yang tersenyum lembut kepada Toni. Hati Toni seperti ditusuk. Di belakangnya Tiffany menangis, sedangkan di hadapannya Eliana tersenyum. Dan mungkin saja senyum Eliana akan segera memudar setelah melihat Tiffany.


"Morning, Grandpa." sapa Tiffany, muncul dari belakang Toni. Dia mendekati Tuan Peterson dengan gerakan anggun.

__ADS_1


Secara keseluruhan penampilan Tiffany bisa dibilang sempurna. Wajah cantik dengan rambut cokelat tebal dengan bentuk tubuh yang proporsional. Dress model bodycon off shoulder kombinasi stiletto Christian Louboutin, melekat pas di kaki dan tubuh Tiffany. Menambah kesan berkelas dan mahal. Eliana yakin siapa pun yang melihatnya akah berdecak kagum.


Namun tidak berlaku bagi Toni. Dia memejamkan mata, tangannya mengepal erat. Antara tak ingin melihat Tiffany dan juga tak tega melihat reaksi Eliana.


"Grandpa mau breakfast? Tiff temani ya.... Sudah lama Tiff tak bertemu Grandpa. Jadi kangen." ucapnya menggemaskan. Gaya bicaranya sudah seperti seorang cucu yang dekat sekali dengan kakeknya. Toni heran kemana tangisan Tiffany tadi.


Tuan Peterson menarik napas perlahan, canggung dan bingung. Dia melihat sekilas ekspresi Toni yang tak nyaman. Sementara itu raut wajah Eliana juga hampir sama dengam Toni. Mulut Eliana tersenyum tapi matanya sendu, nampak jelas kalau dia tertekan.


"Morning, Tiff. Kamu sudah sarapan? Let's join." Mau tak mau Tuan Peterson menawari Tiff untuk makan pagi bersama.


Arrrgh... Toni semakin kesal. Kalau saja dia tak tahu tata krama, ingin sekali dia menendang wanita yang kelihatannya baik hati itu. Entahlah, Toni merasakan Tiff tak sebaik penampakan luarnya.


"Oh, hai.... Permisi, ehm, Nona... " Tiffany mengangkat satu alisnya.


"Eliana, Nona. Nama saya Eliana."


"Kamu disini sebagai?"


"I see. Kali ini biar aku saja yang menemani Grandpa makan. Kamu bisa sedikit bersantai dan makan bersama pelayan di rumah belakang." perintah Tiffany lembut pada Eliana.


Dia langsung membawa Tuan Peterson ke meja makan, dimana makanan sudah tersedia tak lama setelah Tuan Peterson masuk ke ruang makan tadi.


Hati Toni dan Eliana seperti direm-as. Dari caranya memerintah membuat mereka menyadari fakta bahwa wanita anggun di hadapan mereka adalah calon Nyonya Muda Peterson.


"Eliana biasa makan bersama Grandpa, Nona Tiffany." sahut Toni tak terima. Tangannya terulur, berniat menggenggam tangan Eliana, yang dengan cepat menarik tangannya yang hendak dipegang oleh Toni.


Toni sedikit kecewa dengan sikap Eliana.

__ADS_1


"Oh, maaf. Aku tak tahu kebiasaan baru Grandpa. Let's join, Suster Eliana." Dia tersenyum manis, menatap sekaligus menilai Eliana. Toni memanggil perawat itu tanpa embel - embel apa pun, sedangkan memanggil calon istri dengan sebutan Nona? Tiffany merasa tersinggung.


Melihat senyuman Tiffany yang nampak tulus, Eliana jadi merasa bersalah. Bisa - bisanya dia berlaku tak adil pada orang sebaik Tiffany.


Sayangnya, keramahan Tiffany ternyata tak menolong sedikit pun. Atmosphere di ruangan terasa mencekam, seakan suhu udara drop. Atau, apa memang suhu udara pagi ini berubah menjadi dingin?


Mereka semua, kecuali Eliana, duduk mengelilingi meja makan besar tanpa bicara. Eliana masih berdiri, menimbang - nimbang apa yang terbaik yang harus dilakukannya. Duduk bersama mereka? Atau bagaimana?


"Permisi, Tuan. Apa Tuan masih membutuhkan bantuan saya lagi?"


Ya. ini yang terbaik. Sekarang yang harus dilakukan menanyakan kebutuhan Tuannya terlebih dahulu. Dan kalau semua beres, dia bisa minta ijin untuk keluar ruangan. Tidak seharusnya dia ada disini, hanya akan merusak suasana.


Lagipula, makanan Tuan Peterson juga sudah tersedia dan Tiffany juga benar - benar calon istri yang baik. Dia cepat tanggap melayani Tuan Peterson dan juga Toni. Lalu untuk apa dia disini?


Memahami perasaan Eliana, Tuan Peterson mengangguk. "Pergilah kemana pun, asalkan kamu nyaman. Aku akan memanggilmu kalau diperlukan." katanya lembut. Tangan keriputnya menepuk - nepuk lengan Eliana, seakan memberinya semangat. Tatapannya hangat dan penuh kasih sayang.


"Tunggu, Eliana." Toni dengan cepat meletakkan sandwich, salad dan secangkir teh herbal buatannya ke atas nampan. "Habiskan semuanya. Pagi tadi aku sudah susah payah menyiapkannya untukmu."


Tak beda jauh dengan Tuan Peterson, Toni juga menatap Eliana penuh cinta. Dia mengantar Eliana sampai pintu kaca dan membukakannya.


Tiffany mengerutkan keningnya. Dua pria di keluarga Peterson memperlakukan seorang perawat dengan begitu istimewa. Apa hebatnya wanita yang bernama Eliana ini? Apa yang telah dilakukannya terhadap pria - pria Peterson? Siapa perawat ini?


Dirinya saja yang sudah hampir menikah dengan cucu tertua Peterson, tak pernah sekali pun merasakan masakan calon suaminya. Sedangkan Tuan Peterson yang terkenal keras dan sulit di dekati pun terkesan menyayangi perawat itu. Apa ada sesuatu yang dirinya lewatkan?


"Terima kasih, Mr. Anthony." jawab Eliana sopan. Eliana memutar bola matanya sambil dagunya menunjuk ke arah Tiffany, seolah - olah mengulang perkataannya semalam. 'Please, respect your fiancee.'


Lagi? Eliana memanggilnya Mr. Anthony!

__ADS_1


Hhh... Toni benar - benar tak menyukainya. Dia berdecak, dia melengos. Lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi, kesal luar biasa. Moodnya hancur lebur.


Bersambung ya....


__ADS_2