My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 69 -- Pain


__ADS_3

Setelah Alex dan Dokter Livia pergi, Toni menghampiri Eliana yang terlihat sedang shock. "Eliana." panggil Toni lembut. Tangannya terulur hendak mengusap lengan Eliana.


Tapi suara Eliana membuat tangan Toni berhenti di udara. "Jangan sentuh, Toni." Wanita itu bergeser, menjauh.


"Hah? Kenapa?" Toni sedikit mundur karena terkejut. Sikap Eliana terasa berubah drastis.


"Aku kotor. Biar aku bersihkan tubuhku dulu. Aku mau mandi." Eliana bangkit dari duduknya dan berjalan pergi. Terlihat jelas dia kebingungan. Kakinya bergerak tak tentu arah.


"Sayang... Eliana... " Toni menyusulnya.


Eliana terus menghindari Toni, dia berjalan hingga menuju sebuah koridor. Ini pertama kalinya dia berada di mansion Toni. Dia sama sekali tak tahu dimana letak kamar mandinya.


"Eliana... " panggil Toni lagi. Dia mengikuti kemana pun Eliana melangkah. "Kamu mau kemana? Cari apa?"


Eliana mondar mandir di sepanjang koridor, kemudian keluar masuk ruangan demi ruangan dengan wajah linglung. Wajahnya putih seperti tak ada darah yang mengalir disana. Tangannya mulai gemetar sambil terus mencari - cari sesuatu. Bayangan saat dirinya berada dibawah pengaruh al-ko-hol dan obat per-ang-sang membuatnya semakin panik.


"ELIANA!" Toni menghadang langkah Eliana dengan berdiri di hadapannya, kedua tangannya memegang bahu Eliana.


Eliana mendongak, air mata membanjiri wajahnya. Bibirnya bergetar hebat saat dia bicara hingga suaranya tersendat - sendat. "A-ak-uuu... hampir di... " tangisnya kian meledak. "di... per-ko-sa... Ttoo... Ton..ni... "


Rahang Toni mengeras, dia menarik tubuh Eliana ke dalam pelukannya. "Sayang---"


"JANGAN!" Eliana mendorong tubuh Toni sekeras yang dia bisa. "Jangan dekat - dekat aku!"


"Eliana... " suara Toni tercekat. Tenggorokannya sakit menahan tangis, dadanya sesak oleh penyesalan yang kian meluap. Bahu Toni luruh saat melihat luka di mata Eliana. Istrinya itu sudah ingat apa yang telah terjadi padanya di malam lak-nat itu. "Kenapa?" tanya Toni dengan perasaan hancur.


"Aku kotor."


Eliana mundur, mengawasi Toni dengan sikap waspada. Dia tak mau disentuh oleh Toni, sudah ada banyak tangan yang menj-amah dirinya.

__ADS_1


"Tidak, Sayang. You're still virgin. Mereka tidak memper-ko-sa dirimu." Toni menggigit bibirnya dan mengepalkan tangan saat bicara. "Dokter sudah memeriksa, kamu memang keracunan al-ko-hol dan obat tapi selebihnya semua baik - baik saja. Utuh."


Sudut mata Eliana bergetar, wajahnya berkerut dan bulir air mata lolos dari matanya. "Kenapa kamu lama sekali Toni? Aku menunggumu, tapi kamu tak juga datang."


Toni mengerjap.


"Aku mencarimu tapi disana penuh sesak. Aku tak bisa melihat apa pun, aku ketakutan tapi kamu tak ada."


Toni memejamkan matanya. Ya. Eliana benar, dia meninggalkan istrinya sendiri ditengah keramaian tanpa penjagaan. Kalimat Eliana semakin menambah rasa bersalahnya.


"Maafkan aku karena meninggalkanmu sendiri di sana. Aku sangat menyesal."


Pinggang Eliana menabrak tembok saat akhirnya dia sudah tak bisa lagi mundur dan menghindar dari Toni.


"I'm so sorry. Aku mohon maaf, ampuni kesalahanku." Toni menunduk dalam - dalam, rasa bersalah kian menggerogoti perasaannya. "Aku begitu bodoh masuk dalam jebakan Tiffany dan Bryan. Demi Tuhan, aku hanya ingin adikku tak terlibat lagi dengan pengusaha kotor seperti Bryan. Tapi aku malah membiarkanmu menjadi sasaran mereka. Aku menyesal. Maafkan aku."


Eliana memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat wajah Toni yang penuh penyesalan.


Dia berusaha mengendalikan emosinya yang kembali meluap, ingin menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya. "Mereka semua termasuk Bryan dan Tiffany sudah berada di kantor polisi, mereka di tahan." Dia tak jadi melanjutkan kalimatnya, takut kalau - kalau Eliana akan semakin tersakiti.


Eliana menggigit bibirnya kuat - kuat, terasa asin. Darah merembes dari luka di bibirnya.


"Maafkan aku, Eliana. Baru saja aku mengucap janji untuk melindungi dan menjagamu, tapi di hari yang sama aku sudah mengingkari sumpahku."


"Toni." Eliana tak ingin menyalahkan Toni atas apa pun yang terjadi pada dirinya. Dia tahu Toni tak mungkin menjerumuskannya. Hanya saja, hatinya tak sanggup berdekatan dengan Toni dan tubuhnya menolak disentuh oleh suaminya.


"Aku ingin mandi. Can I?"


Toni mengerjap. Seketika dia paham, Eliana tak ingin disentuh, dia merasa kotor. Wanitanya ingin membersihkan diri dari bekas - bekas tangan kotor yang telah mengge-raya-ngi dirinya. "Ehm... , pergilah ke kamar utama di lantai dua. Pakailah kamar mandi disana." Toni mengarahkan Eliana untuk ke kamar mereka.

__ADS_1


Eliana mengangguk, tanpa bicara apa pun dia naik ke lantai dua. Langkah kakinya terdengar kian menjauh dan kemudian terdengar suara pintu ditutup.


Kamar utama sudah sangat lengkap fasilitasnya, termasuk sabun dan shampoo yang biasa dipakai oleh Eliana sudah tersedia disana. Toni sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.


Eliana menutup pintu perlahan dengan punggungnya. Dia memandang bayangan dirinya yang ada di cermin. Disana ada seorang wanita muda yang berwajah pucat dan tanpa ekspresi, rambutnya tak lagi bersinar dan pipinya tak lagi merona.


Betapa bodohnya dia, bisa dengan mudah dikelabui oleh orang - orang itu.


Apakah dia berhak untuk dicintai?


Apakah dia berhak atas kehidupan yang baik?


Apakah dirinya cukup pantas untuk suaminya?


Air mata merembes di pipinya, tangisnya semakin kencang. Dia mulai menyalakan keran, mencuci tangan dan menggosoknya dengan sabun keras - keras seolah ingin membersihkan sesuatu yang menempel kuat di kulitnya.


Ah, tapi tak bisa. Rasa kotor itu terus menempel di setiap inchi kulitnya. Bukan hanya tangan, tapi seluruh tubuhnya. Rasanya begitu menjijikkan.


Ouch! Sekarang perut Eliana mual, ada yang menggelegak dari dalam perutnya. Dia berlari ke kloset dan mengeluarkan isi perutnya, suaranya terdengar keras hingga keluar.


Hingga Toni yang diam - diam menyusulnya bisa mendengar suara - suara dari dalam.


Toni berdiri diam di depan pintu kamar mandi yang tertutup, merasa tak berdaya. Matanya menatap pintu kamar mandi yang menghalanginya untuk mendekat kepada Eliana.


Suara muntahan itu teredam oleh deru air yang mengalir, dia menarik tuas kloset untuk menyiram kotorannya. Kemudian dia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, memeluk lututnya erat - erat. Bahunya kembali terguncang dan air mata tak berhenti mengalir.


Isakan itu berubah menjadi tangisan histeris. Ingatan akan malam itu tak bisa lenyap, membuat tangisannya kian kencang.


Menyayat hati. Membuat siapa pun yang mendengar ikut merasakan kepedihannya. Eliana memegang dadanya, mencoba menahan rasa sakit itu. Tapi, sia - sia.

__ADS_1


Hatinya sudah hancur, tangisannya pun makin kencang.


Bersambung ya...


__ADS_2