My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 89


__ADS_3

"Kenapa Grandpa menyuruhmu kesini?"


Akhirnya pertanyaan yang sempat tertunda itu, terlontar juga dari mulut Toni. Dia penasaran apa alasan utama Grandpa sampai tega - teganya 'mengganggu' honeymoon-nya dan Eliana.


Alex menarik napasnya dalam - dalam dan memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan yang membuat Toni membelalakkan matanya. "Kamu tau kalau Tiffany kabur ke Australia?"


"Hah?"


Alex mengangguk. "Kabarnya, dia kabur ke Australia." Alex menunjukkan jarinya ke lantai "Kesini, Man!" ucapnya menggebu - gebu.


"Jadi begitu tau dia kabur kesini, Grandpa langsung mengirimmu?"


"Exactly!" Alex mengacungkan jempolnya.


(Tepat sekali!)


"S-H-I-T!" maki Toni. Dia menegakkan tubuhnya, dan menautkan kedua tangannya di depan wajah, menatap Alex dengan intense. Pertanda dia sedang serius berpikir.


"Kok bisa dia keluar dari tahanan?"


"Money and privilege." sahut Alex sinis. "Kamu tahu sendiri bagaimana pengaruh Mamanya di parlemen. Permohonan penangguhannya tahanan langsung disetujui." Alex berhenti sejenak dan mengangkat bahunya. "Tuntutanmu? Lewaaaat!" lanjutnya kemudian.


"Alasannya?"


"Sakit. Dia harus berobat rutin ke Livia, kalau tidak bisa membahayakan nyawa dia sendiri atau orang lain."


"Berarti Livia juga terlibat atas kaburnya Tiffany?"


"No, Man... Tiffany kabur sebelum jadwal konsultasi dia bersama Livia."


'I see.'


Toni manggut - manggut, wajahnya nampak serius berpikir. "Lalu kenapa dia kabur kesini?"


Alex mengangguk."Yeah, karena Bryan memerasnya."


"WHAT?"


Alex mengangguk lagi, dari awal dia tahu kalau Toni tak mungkin mengetahui berita ini. Bahkan kepolisian pun tidak berani mem-blow up kabar ini karena sudah pasti mencoreng nama baik kepolisian.


Kabar ini pun dia dapat dari kenalan lamanya, bahkan Grandpa pun mendapatkan info dari Alex. Dan kini dia ingin memberikan berita itu sebagai simbol perdamaian antara Toni dan dirinya.


"Setelah kedok Bryan dibuka oleh John, reputasinya hancur. Dia coba minta tolong ke Tiff. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana Tiffany? Dia tak akan mau, kalau tak mendapatkan keuntungan apa pun dari Bryan."


"Hanya karena Tiffany, semua jadi serumit ini." keluh Toni.

__ADS_1


"Ya. Dan Bryan secara tak sengaja mendapat info dari Oscar kalau dia mau merayakan pernikahan sahabat lama dia. Siapa lagi orangnya kalau bukan Mr. Anthony Peterson."


"F-u-c-k! Kenapa John tidak memberitahuku soal ini?"


"Karena polisi juga tidak berhasil mendapatkan informasi ini. But, my friend did."


"Temanmu?"


Alex tersenyum canggung. "Ya. Temenku yang dulu pernah kamu hajar karena bisnis kotor bareng aku. Dia punya intelijen... yeah, illegal sih. Tapi aku berhasil mendapat informasi ini darinya."


Toni memijat pelipisnya, mumet. Tak tahu harus bangga atau kesal mengetahui dari mana informasi yang di dapat oleh Alex. Selama ini dirinya berusaha keras untuk mengeluarkan Alex dari bisnis-nya yang kotor. Selain takut merusak reputasi Peterson, juga tak baik untuk masa depan Alex.


Kedua alis Toni berkerut, dia menatap Alex tajam dan penuh selidik. Alex mengkeret. "Aku sudah tidak berhubungan dengan bisnis mereka, Toni. Tapi aku butuh informasinya saja." ucapnya sungguh - sungguh. Dia tak mau hubungannya dengan Toni kembali runyam.


Toni tak merespons.


"Beneran. Semua ini aku lakukan sebagai bentuk penyesalanku. Aku benar - benar minta maaf karena terus menyusahkanmu. Seharusnya malam itu, Eliana dan kamu menjadi pasangan yang berbahagia. Tapi karena kecerobohanku, malah terjadi insiden sialan itu. Livia dan aku benar - benar menyesal atas semuanya. Kami akan menebusnya."


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Toni. Dia masih pusing dengan kabar soal Tiffany, tapi mendengar nama Livia membuatnya teringat akan cerita Eliana tentang Alex dan Livia.


"Hubungan kami? Tidak. Tak ada. Kami hanya teman hang out. Itu pun kalau dia tidak sibuk, sepertinya dia lebih mencintai pekerjaannya dari pada pria."


Toni mendengus. "Dari nada bicaramu, sepertinya kamu tertarik padanya."


"Aku tak tahu. Semua mengalir begitu saja. Lagipula, wanita seperti dia mandiri dan tidak ingin terikat oleh kehidupan rumah tangga."


Alex meresponnya dengan hembusan napas berat.


Toni tertawa mengejek.


Anehnya, Alex justru senang mendengar tawa Toni. Sesuatu yang beku diantara mereka mulai mencair.


"Let's enjoy the sea tomorrow. Setelah itu baru kita pikirkan masalah Tiffany. Yang penting jangan jauh - jauh dari Eliana. Kita tak tahu apa Tiffany sudah insaf atau malah semakin gila." sahut Alex.


Yup!


This is the world, sometimes it can be unfair for some people. Diatas kekuasaan, ada lagi kekuasaan.


(Inilah dunia, kadang kala tidak adil bagi beberapa orang.)


*


Saat Toni dan Eliana asyik dengan honeymoon mereka di Australia. Kehidupan Tiffany berubah menjadi gelap.


Setelah keluar dari penjara dan menjadi tahanan kota, Tiffany tak pernah keluar rumah. Papanya tak pernah mau tahu keinginannya, dia hanya mau Tiffany untuk selalu tampil sempurna tanpa cacat cela, dan mamanya juga tak berdaya menghadapi anak perempuannya.

__ADS_1


Apalagi ditambah dengan teror dari Bryan yang terus mendesaknya untuk membantu. Di sisi lain, Tiffany gagal menikah dengan Toni, bayang - bayang akan kehilangan jabatan dan sahamnya di Wilson semakin membayanginya.


Tiffany terjebak stress antara kepentingan diri, harga diri orang tua dan nama baik perusahaan. Bahkan menolong dirinya sendiri saja, dia hampir tak mampu. Untuk mengenyahkan stressnya, tak ada hari dimana dia tak meminum alkohol. Sesekali dia menghisap rokok, tapi kebanyakan dia akan minum hingga mabuk dan tertidur. Lupa akan segala permasalahan yang dihadapinya. Melarikan diri dari kenyataan.


"Ya ampuuuuun, Tiffany... !" seru Nyonya Wilson, yang akhirnya sempat mengunjungi Tiffany setelah keluar dari tahanan. Kesibukannya sebagai Nyonya besar Wilson, membuatnya tak sempat menengok Tiffany.


Dia berjalan menyeberangi apartment Tiffany dengan hati - hati agar tidak menginjak botol - botol dan kaleng - kaleng bekas bir yang berserakan diatas lantai. Kakinya dengan lincah melangkahi sampah - sampah itu, berjalan menuju sofa besar tempat dimana Tiffany berbaring dengan rambut acak - acakan. Tubuhnya terbungkus selimut.


Ups! Hampir saja dia terpeleset oleh genangan cairan entah apa itu.


"Arrrgh!! Ini kenapa ruangan berantakan semua seperti ini? Kemana pembantumu? Apa saja yang dikerjakannya?" geram Nyonya Wilson. Suaranya melengking tinggi, menembus gendang telinga Tiffany. Rasanya seperti hampir tuli.


Dia berguling ke samping, tangannya meraba - raba dan meraih bantal sofa, kemudian menutup telinganya dengan bantal. Suara mamanya yang melengking membuat kepalanya semakin pening, seolah ada palu besar memukul otaknya.


"Berisiiiiiik....!" erang Tiffany kesal.


"Heh! Apa kamu bilang? Kamu tahu kita sedang menghadapi masalah besar karena ulahmu kan?" suara Nyonya Wilson justru semakin meninggi. Keanggunannya mendadak hilang.


"Are you crazy? Sudah berapa hari kamu begini?" seru Nyonya Wilson sambil menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya.


Oh! Tidak bisa! Tiffany malah bergelung di dalamnya. Nyonya Wilson gemas, sekuat tenaga dia menyentak selimut supaya Tiffany bangun.


Selimut terlepas.


Astaga!


Nyonya Wilson membelalakkan mata, jantungnya serasa berhenti berdenyut. Tiffany hanya mengenakan pakaian dalam. "YA TUHAAAANNNN! TIFFANYYY!!!" teriak Nyonya Wilson histeris.


"BANGUN! MANDI! KAMU BAU BANGET!" perintah Mamanya, suaranya membuat kehebohan di apartment Tiffany.


Tiffany terpaksa bangun karena ditarik oleh mamanya. Dipaksa untuk duduk. Kepalanya berputar hebat, pandangannya kabur.


"Hoeeeeeek!" Tifany muntah dengan sukses diatas sofa.


"Astaga!" Nyonya Wilson meloncat, tergopoh menghindar dari muntahan anaknya sendiri.


"ANNAAaaa...! Cepat kesini!" Nyonya Wilson menelpon Anna yang ada di lantai bawah.


"Iya, Nyonya?" tanya Anna yang kebetulan baru selesai membereskan pakaian - pakaian Tiffany di ruang laundry.


"Itu Nona muntah. Cepat bereskan!" perintahnya sambil menahan mual. Dia tak pernah bisa menyaksikan orang muntah, bisa - bisa dirinya ikut - ikut muntah.


Buru - buru Anna naik ke atas dan menghampiri Tiffany yang kembali terkapar tanpa sempat membersihkan diri.


Nyonya Wilson bergegas pergi ke ruangan yang lain, dia memanggil pembantu satunya untuk menyeduh teh mint untuk menenangkan dirinya sendiri. Sementara Anna sibuk menyadarkan Tiffany dan membersihkan ruangan.

__ADS_1


Note :


Privilege : suatu kelebihan atau keistimewaan yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu.


__ADS_2