My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 82 -- Who Is Coming?


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Ah, siapa yang datang sepagi ini? Toni berguling ke samping, melepaskan pelukannya di pinggang Eliana dan bangun dari tidurnya.


Dia duduk dan menghela napas. Ujung matanya melirik ke arah jam tangannya yang tergeletak di atas nakas. Pukul lima pagi! Siapa pula yang datang bertamu sepagi ini? Mereka sedang tidak menunggu siapa pun dan tidak ada janji apa pun dengan seseorang.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan itu terdengar lagi. Dengan gusar, Toni bangkit. Dia meraih celana bo-xernya dan jubah kamar, kemudian memakainya sambil keluar dari kamar dan turun melalui tangga menuju pintu utama di lantai satu.


Di tempat ini, Toni sengaja tidak memakai pembantu full time. Dia hanya menyewa dua orang untuk membersihkan rumah, memasak dan mencuci baju. Dan seringkali, Toni dan Eliana lebih sering mengerjakannya sendiri.


Kehidupan seperti ini terasa cocok bagi Eliana dan Toni yang sudah biasa hidup mandiri tanpa pembantu.


Bunyi ketukan masih terus terdengar, membuat Toni merasa harus terburu - buru membukakan pintu untuk tamu yang datang tanpa diundang.


Tok! Tok! Tok!


"WHAT?!" seru Toni sambil menarik pintu hingga terbuka.


"Ha... hallo... "


Alis Toni terangkat melihat siapa yang datang menjadi tamunya sepagi ini.


"Kamu?" dengus Toni pada orang yang mengganggu tidurnya pagi ini.


Alex tersenyum canggung, dia merasa tak enak hati. "Hehehe... iya, Toni. Maafkan aku terlalu pagi karena pesawat... "


"Masuklah." Toni membuka pintu lebar - lebar, mempersilahkan Alex, adik satu - satunya itu untuk masuk.


Alex bernapas lega, dia pikir akan diusir atau paling sedikit dirinya akan terkena makian dari Toni. Setidaknya Toni mengijinkannya untuk masuk, udara di dalam terasa lebih hangat dari pada diluar.


Toni mengajak Alex masuk ke dalam ruang tamu dan memberi kesempatan pada adiknya untuk mengatur barang - barang yang dibawanya disana. Tak banyak hanya satu buah trolley dan satu backpack.

__ADS_1


"Aaah.... " Alex meregangkan otot - ototnya yang pegal selama perjalanan beberapa jam di pesawat. Lalu dia melepas jaket yang dipakai dan meletakkannya diatas sofa.


"Lepaskan sepatumu." perintah Toni, melirik pada sepatu Alex yang sedikit kotor karena tanah.


"Oh, sorry." sahut Alex cepat - cepat.


Tak ingin memancing kemarahan Toni, dia buru - buru melepas sepatunya dan meletakkanya di dekat pintu masuk. Saking gugupnya mau menemui Toni, tadi dia lupa tidak membersihkan sepatunya diluar sebelum masuk.


Toni berjalan ke sebuah lemari dan mengeluarkan sepasang sandal kamar dari bulu, empuk dan hangat, lalu dia melemparkannya ke dekat kaki Alex. "Pakai itu. Aku tak mau rumahku kotor."


Alex tersenyum. "Thanks." Kakaknya ini tipe orang yang terlihat dingin padahal sebenarnya perhatian.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Toni, dia tak tahan lagi untuk tidak bertanya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jubah kamarnya dan matanya menatap tak ramah kepada Alex. Penampilan Alex terlihat santai, hanya mengenakan jeans dan kaos.


"Grandpa. Beliau yang menyuruhku mampir kesini." jawab Alex apa adanya.


Mampir katanya? Yang benar saja! Ini Australia dan bukan daerah atau pun kota di dekat tempat tinggal mereka. Hhh... tahu begini, dia tak memberi tahu Grandpa dimana mereka tinggal selama di Australia.


"Dimana Eli?" tanya Alex sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Belum bangun." jawab Toni. Dia diam sejenak, kemudian bertanya. "Kamu sudah tahu kan kalau kami sedang vacation? Honeymoon?"


Alex mengangkat bahu dan memasang ekspresi acuh tak acuh. "Yup." jawabnya singkat dan tidak jelas.


Apa - apaan ini?


Toni mengerutkan keningnya, tak pernah menyangka respon Alex hanya seperti itu. Dia sadar betul kalau Alex pernah punya perasaan lebih terhadap Eliana sebelum ini, kenapa dia terlihat biasa - biasa saja saat ini? Mungkinkah Alex sudah membuang jauh - jauh perasaannya pada Eliana.


"Aku lapar." ucap Alex tanpa dosa.


Astaga! Ingin rasanya Toni merem-as - rem-as Alex yang tak tahu diri ini. Sudah membangunkannya pagi hari, kini malah minta makan. Toni mendengus dan tanpa kata dia berjalan ke dapur lalu memasak untuk adiknya yang menyebalkan.


Begitu makanan siap, tanpa banyak gaya Alex langsung makan dengan lahap. Dua buah telor mata sapi, lima potong sosis dan satu cream soup yang sudah dihangatkan di microwave.

__ADS_1


Diam - diam Alex kagum melihat seorang CEO Peterson yang serba bisa itu memasak dengan cekatan di dapur. Andaikata posisi mereka dibalik, belum tentu dirinya bisa menyiapkan makanan untuk Toni.


Toni berdiri di dekat counter dapur, tangannya menyeduh secangkir teh hijau untuk Alex dan satu poci teh chamommile untuk Eliana dan dirinya. Kemudian dia memandang Alex dengan penuh rasa penasaran. "Apa Eliana tahu kamu akan datang kemari?"


Alex menggeleng dengan mulut penuh makanan, dia mengunyah cepat - cepat dan menelan makanannya. "Grandpa yang menyiapkan keberangkatanku kemari. Dia mengurus semuanya, dan langsung menyuruhku terbang kesini untuk mengecek kondisi kalian." Alex meraih cangkir berisi teh dan meneguknya. "Grandpa menyuruhku membantumu menjaga Eliana."


"Menjaga?"


"Jangan salah paham, Toni." Alex menusuk sosis terakhir di piringnya. "Aku tahu kalau Eliana itu istrimu, tidak mungkin aku merebut istri orang."


Sialan! Kalimat Alex terasa menyinggung harga diri Toni, dia tak suka cara Alex yang mencoba menenangkan perasaannya.


"Memangnya ada apa kok sampai Grandpa menyuruhmu kemari?" tanya Toni, mencoba menyingkirkan perasaan sebal karena kedatangan Alex yang tiba - tiba dan mengganggunya.


"Sebenarnya ada yang harus aku ceritakan padamu." Alex mengusap bibirnya dengan tissue, menghabiskan teh di cangkirnya dan bersendawa. "By the way, thank you sarapannya."


"ALLLEEEEX!" Jeritan nyaring suara Eliana memekakkan telinga di pagi yang cerah.


"Wow! Eliana! Kamu cantik seperti biasa." balas Alex. Ramah dan hangat, perlakuannya pada Eliana tidak berubah, sama seperti yang sudah - sudah. Dan Eliana pun merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk memeluk Alex.


Alex menyambutnya dan memeluk Eliana.


Toni mengulum senyum melihat interaksi antara adik dan istrinya itu. Ada hangat yang menyelusup merasakan kedekatan antara Eliana dan Alex. Biar bagaimana pun mereka bersaudara sekarang. Adik ipar dan kakak ipar.


"Sudah cukup acara temu kangennya." Toni menarik Eliana dari pelukan Alex dan merangkulnya posesif. Eliana tersenyum dan mencium pipi Toni. "Good morning, My Toni."


Toni membalasnya dengan mengecup kening Eliana, kemudian dia kembali berkata pada Alex. "Jadi maksudmu kamu akan mengganggu kami dengan tinggal disini?"


Alex nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe... kalau kamu mengijinkannya."


Toni menghembuskan napasnya, bagaimana mungkin dia tidak mengijinkannya kalau manusianya sudah ada di hadapannya. Lagipula, di rumah ini juga masih ada beberapa kamar kosong. "Bereskan piringmu dan cuci semua peralatan makanmu. Setelah itu kamu boleh pakai kamar tamu untuk beristirahat." perintah Toni pada Alex.


Senyum Alex merekah. "Thanks, Toni."

__ADS_1


__ADS_2