
"Of course, man. Irma yang cerita, dia kasihan melihat wajah Eliana yang bingung waktu tahu kalau kamu sudah resign dari sini."
'What?! Eliana tahu kalau dia resign semalam?'
For the sake of heaven. Is this the answer?
Sialan, pasti karena itu Eliana sedikit berbeda semalam. Kenapa dirinya bisa seceroboh ini,Toni menyesali dirinya sendiri.
Kini topik Rick sudah berganti, dia membahas barista baru pengganti Toni. Sementara Toni mulai tak bisa berpikir jernih. Bagaimana Eliana masih bisa tersenyum padanya di padahal dia tahu kalau sudah dibohongi.
Sesaat Toni memejamkan matanya, hatinya seperti dicubit. He feels so bad. Ah, tidak bisa. Dia tak mau begini terus. Toni mengambil dompet dari saku belakang, dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lalu meletakkannya di atas meja. "Aku pulang dulu, Rick! Ambil saja semuanya."
"Hah? Banyak sekali Toni!"
Yang dipanggil sudah melesat keluar dari cofffee shop, meninggalkan secangkir cappucino yang masih sisa separoh.
"Woi... Toni!"
Tapi, Toni tak bisa menunggu lagi sementara perasaannya terus tak enak. Dia harus segera menemui Eliana, menceritakan semuanya. No more run! Setengah berlari, Toni kembali ke apartmentnya.
D-A-M-N IT!
Para bodyguard suruhan John malah ikut berlari di belakangnya. Toni tak pernah menyangka kalau mereka mengejarnya untuk menyampaikan kabar mengenai Tuan Peterson yang sedang unfall di rumah sakit.
Orang - orang yang berpapasan menoleh, melihat sebuah adegan seorang laki - laki tampan berlari diikuti segerombolan pria berbadan besar dan berpakaian hitam.
Ah, masa bodoh dengan mereka! Toni harus menemui Eliana sekarang. Kepalanya terasa berputar, tapi dia tak boleh berhenti atau mereka akan menangkapnya.
Ha? Menangkapnya?
Dejavu?!
Rasanya ini bukan pertama kalinya mereka berkejaran. Tapi kapan? Dan karena apa? Mendadak Toni kehilangan orientasi waktu, namun dari dalam otaknya muncul perintah untuk terus berlari. Belum waktunya untuk pulang, ada hal penting lain yang harus dikerjakannya saat ini.
Toni berlari semakin kencang. Orang - orang yang mengejarnya mulai panik. Mereka bisa celaka kalau sekali lagi Tuan mudanya menghilang. Sudah cukup mereka dihukum karena Tuannya lolos dan berakhir dengan hilang ingatan. Hari itu Toni berhasil mengecoh orang suruhan Grandpa.
"TUAN MUDA!" Teriak salah seorang dari mereka.
Jangankan berhenti, menoleh pun Toni tak mau. Pikirannya terfokus pada sebuah tujuan yaitu Eliana.
Orang - orang menoleh, mereka berpandangan dan saling bertanya apa yang terjadi.
"Apa ada shooting film?"
"Hey, apa dia itu male lead-nya? Tampan sekali." tanya salah seorang gadis sambil menunjuk ke arah Toni.
__ADS_1
"Bukan, dia itu barista coffee shop di ujung jalan. Aku pernah melihatnya disana."
"Wow! He's so manly." jawab seorang gadis. Matanya mengedip genit sambil menjilat bibir bawahnya.
Beda tempat, beda respon pula. Toni sudah mencapai gedung apartmentnya.
"Hah? Apa mereka polisi berpakaian safari?"
"Kenapa mereka mengejarnya?"
"Hey, itu Toni."
"Hu-um. He is."
"Nah benar kan apa ku bilang? Toni berurusan sama orang nggak bener?" ucap beberapa orang sambil menunjuk gerombolan yang mengejar Toni.
"Mereka gank mafia?"
"Apa yang dilakukan oleh mereka?"
"Wah, iya. Itu Toni."
"Ternyata gossip itu benar."
Suara orang - orang terdengar seperti dengungan lebah di telinga Toni begitu kakinya menginjak lobby. Pandangan aneh dan menghina kembali tertuju padanya. Go to the hell, these people.
Ah, kepalanya mulai berdenyut, sekelilingnya seperti diputar. Toni merasa seperti tersedot masuk ke sebuah dimensi yang tak dikenalnya.
"Tuan muda, pulanglah. Tuan besar --" suara kepala bodyguard yang cukup keras, sekarang terdengar sayup - sayup di telinga Toni.
Astaga! Apa yang sedang terjadi saat ini? Dimana dirinya sekarang?
"Tuan Anthony."
"Tuan."
Suara itu kini terdengar lebih jelas dan dekat.
Toni terkesiap, kabut gelap di kepalanya seperti terangkat. Hal pertama dilihatnya adalah orang - orang suruhan Grandpa yang menyebalkan, yang selalu merecoki hidupnya selama ini.
Dia kembali kepada kenyataan, dan mode tuan muda kembali ON. "Lancang sekali kalian! Get away from me!" geramnya.
Para bodyguard tak beranjak. Tapi mereka juga tak berani menyela tuan mudanya yang nampak gusar. Serba salah. John sudah memerintahkan mereka untuk membawa Toni kembali ke Rock Town. Haruskah mereka membawa tuannya dengan paksa?
Beberapa penghuni apartment mulai berkerumun, berbisik dan saling berpandangan, membuat Toni merasa tak nyaman.
__ADS_1
Tak ingin memancing perhatian, Toni keluar dari apartment dengan langkah lebar - lebar dan cepat. Serentak gerombolan berjas hitam langsung mengejarnya. Mereka tak boleh kehilangan jejak lagi. Toni kembali berlari, dan berhenti di tempat parkir di lapangan belakang apartment.
"Kalian mau mati? Sudah kubilang, aku tak suka diikuti."
"Maaf Tuan. Kami hanya menjalankan perintah Tuan besar."
"Menyebarlah dan jangan terlalu mencolok. Aku tak mau menjadi bahan pembicaraan!" perintah Toni tegas, tatapannya tajam. Dia sudah lupa tujuan utamanya kembali ke apartment tadi.
"Maaf, Tuan." jawab kepala bodyguard, dia buru - buru menyela sebelum Tuan Mudanya kabur lagi.
"Tuan John memerintahkan kami untuk membawa Tuan muda sekarang juga ke Rock Town untu--"
Ha? Rock Town?
O'ya, Toni ingat sekarang. Saat ini dia ada di Lake Wood dan mau menemui Eliana. Sial! Fokusnya terpecah berulang kali karena sakit kepalanya yang kambuh.
"Hey! Tidak bisakah kalian menunggu dengan tenang? Give me some more time to see her." sergah Toni tak sabar.
"Tak ada waktu, Tuan muda. Tuan Peterson unfall, Tuan John meminta anda untuk kembali sekrang juga."
Heh? What a hell. Apalagi ini?
Hectic!
Pikirannya ruwet, mumet! Toni merasakan tekanan luar biasa di kepalanya. Informasi baru dan lama, peristiwa dulu dan sekarang, kini semuanya bercampur menjadi satu di otaknya.
Toni terpaku di tempatnya.
Ugh! Telinganya berdenging, perutnya terasa mual. Wajah Toni mulai berkerut, dan keringat dingin bercucuran. Tangannya mengepal erat, menahan sakit.
Melihat kondisi Toni, dengan sigap para pria berjas hitam berdiri mengelilingi Toni. Salah satu dari mereka merangkul Toni dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sebagian menghalau orang - orang kepo yang berdatangan, melarang mereka untuk merekam kejadian.
BRRRMMM....
Mobil hitam itu langsung melesat kencang, meninggalkan segala asumsi dan pikiran negatif manusia - manusia kepo yang hanya melihat sesuatu dari permukaan saja.
Bersambung ya....
Note :
Male lead \= pemeran pria utama.
__ADS_1