
Pertanyaan Yang Sama
"Apa rencanamu setelah pulang dari sini?"
Toni yang sedang meneguk be-er dingin menoleh ke Alex. Tahu dengan jelas kemana arah pertanyaan adiknya itu, Toni tersenyum dan mengalihkan pandangan ke laut lepas yang mengelilingi mereka. Biru kehijauan dengan latar belakang biru, bersih tanpa awan. Di atas mereka, sesekali burung berterbangan. Angin berhembus menerbangkan bendera Australia yang terpasang di tiang.
"Pertama - tama go public." jawab Toni dengan percaya diri.
"Secepat itu? Belum satu bulan Nyonya Wilson mengumumkan kalau hubunganmu dan Tiff berakhir karena tidak ada kecocokan. Dan kamu langsung mengumumkan pernikahanmu?" komentarnya sambil ikut menyesap be-er dari kalengnya.
"Cepat atau lambat, toh tetap akan menjadi bulan - bulanan media." Toni berhenti sejenak, dia menunjuk matanya dan mata Alex bergantian dengan jarinya. "Face it!" ucapnya penuh penekanan.
(Hadapi itu!)
Ya. Buat apa takut? Toni tidak melakukan kesalahan apa pun. Sepanjang pernikahannya baik - baik saja dan bisnisnya masih berjalan lancar, biarkan orang bicara. Hoax boleh bertebaran, Toni dan Eliana akan terus melaju.
"You're crazy." celetuk Alex spontan.
"Bagaimana kamu dan Livia?" tanya Toni untuk mengalihkan perhatian Alex dari masalahnya. "Apa kamu yakin kalau benar - benar menyukainya?"
Alex terdiam. "Aku rasa aku menyukainya, tapi... "
"Tapi?" Tanya Toni, keningnya berkerut.
"Dia menolakku."
"Heh?"
Alex tergelak. "Dia hanya mau berteman saja. Aku tak bisa memahami pola pikir cewek - cewek jaman sekarang. Apa yang kurang dari diriku ini? Look at me!" serunya sambil menunjuk dirinya sendiri dari atas ke bawah. Tak lupa memasang gaya narsis nan tengil.
"Aku kaya! Tampan! Bertanggung jawab! Bukankah jaman sekarang cewek - cewek mencari yang seperti itu?"
"Yeah, kamu benar. Sayangnya, ciri - ciri pria yang kamu sebut itu ada padaku." goda Toni sambil terkekeh.
__ADS_1
Alex melotot. "Enak saja!" Dia diam sejenak, lalu berkata, "Jangan - jangan Livia itu sudah punya pacar?"
Toni mengangkat bahu acuh tak acuh. "Tanya saja ke orangnya, mana aku tahu soal dia."
Terdengar hembusan napas keras dari dada Alex.
"Anyway." kata Toni lagi kepada adiknya yang mendadak gusar. "Apa yang membuatmu secepat itu suka sama dia?"
Alex menoleh dan balas bertanya. "Bagaimana kalau aku nanya hal yang sama ke kamu? Kenapa kamu langsung menyukainya saat pertama bertemu? Waktu sama Tiff saja, kalau tidak dijodohkan, kamu tak akan menyukainya."
Toni terdiam.
Pertanyaan macam apa ini?
*
Kapten William membawa mereka Townsville, yang merupakan gerbang utama menuju kawasan Great Barrier Reef, hutan tropis basah dan pedalaman Queensland. Di sana mereka bisa memancing dan melakukan olahraga kayaking dan kru kapal pun segera menyiapkan barang - barang yang dibutuhkan.
Toni tertawa melihat bagaimana paniknya Eliana, sebenarnya dia lebih senang menghabiskan waktu berdua dengan Eliana di tempat tidur dari pada berpanas - panas main kayaking. Tapi melihat antusiasme Alex dan Livia terhadap tour singkat mereka, Toni jadi tak tega mengecewakan. Dia merasa harus menyenangkan mereka.
"Kamu bisa melihat kami dari sini kalau tidak mau ikut, atau kamu boleh kuliner di Palmer Street, atau bisa juga memancing sama Colin." ucap Toni, memberi alternatif kegiatan kepada Eliana.
Colin adalah pemandu wisata yang sudah berpengalaman. Dia tersenyum ramah, penampilannya santai dan rambut atasnya sudah menipis mirip Prince William. Saat berbicara, suaranya bagus dan lembut. Mengalun seperti sedang mendongeng kepada anak - anak. Mungkin saja kalau jadi penyanyi, dia akan terkenal.
Setelah berdiskusi, akhirnya Toni dan Alex akan berolahraga kayaking, sedangkan Eliana dan Livia akan tetap di perahu mereka dengan beberapa bodyguard yang tinggal untuk menjaga mereka. Ditemani oleh Colin, mereka memancing entah ikan apa yang nanti akan mereka dapat. Let the men with their business!
(Biarkan kaum pria dengan urusannya.)
"Aku tak pernah tahu apa sih asyiknya memancing? Kenapa para pria suka memancing" keluh Livia sambil memandangi pancingnya yang dari tadi tak di dekati oleh seekor ikan pun. Livia yang biasa aktif dengan pekerjaannya, sudah setengah jam duduk disana. Menanti ikan khilaf yang dengan sukarela memakan umpan mereka.
Sembari menunggu, mata Livia yang tertutup kacamata hitam tanpa sadar bergerak mengikuti setiap gerakan Alex. Diam - diam bola matanya mengejar kemana pun kayak yang dikendarai oleh Alex.
Berbeda dengan Eliana yang penyabar, dia tertawa pelan mendengarkan keluhan Livia. Matanya tetap fokus pada pancingnya meski pun sama - sama belum mendapatkan hasil. Lebih baik dia fokus pada pancingnya daripada melihat tubuh top-less Toni yang benar - benar menggoda. Air liurnya bisa - bisa menetes kalau memandangi dada telanjang Toni yang berotot dan mengkilap karena keringat.
__ADS_1
Astaga! Mendadak otaknya terasa panas. Eliana buru - buru mengalihkan pandangannya dari para pria yang sedang mengeluarkan pesonanya.
Melihat Eliana dan Livia yang nampak bosan menunggu, Colin berniat bercerita sedikit tentang Great Barrier Reef.
"Great Barrier Reef adalah sebuah terumbu karang raksasa ditemukan di ujung utara. Sesuai namanya yaitu Great Barrier Reef (karang penghalang besar) ukurannya sangatlah besar. Ketinggiannya mencapai 500 meter dan ternyata terumbu karang itu lebih tinggi dari Empire State Building di New York dan Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia."
Livia dan Eliana tercengang saat mendengarkan fakta menarik tentang objek wisata yang akan mereka kunjungi besok.
"Karang hidup yang membentuk Great Barrier Reef berada di atas struktur karang tua yang mati, dengan perkiraan usia mencapai 20 juta tahun! Dan tempat ini adalah rumah bagi keaneka ragaman species yang luar biasa."
"Wow! Hebat sekali!" celetuk Eliana.
Melihat Eliana yang nampak tertarik, Colinmelanjutkan ceritanya. "Yeah, ada 30 spesies ikan paus dan lumba-lumba, 6 spesies kura-kura dan 17 spesies ular laut serta lebih dari 1.500 spesies ikan. Diperkirakan 10% dari spesies ikan di dunia menghuni Great Barrier Reef." kata Colin lagi. Matanya sendu menatap jauh lautan di hadapannya, seolah dia memiliki ikatan emosional dengan terumbu karang yang indah itu.
"Aku jadi tidak sabar, ingin cepat - cepat berenang bersama paus minke." ucap Eliana dengan mata berbinar - binar.
Colin tertawa, "Dan hebatnya lagi, meski pun musim dingin suhu air di dalam sana tetap menyenangkan dan nyaman." sahutnya cepat. Dari nada suaranya tersirat rasa bangga saat menceritakan tentang salah satu keajaiban alam dari negara asalnya.
"Eh, lihat! Sepertinya pancingmu mendapatkan sesuatu!" seru Colins tiba - tiba
"WAAAH!" Eliana dan Livia berteriak kegirangan begitu melihat pancing Eliana bergerak - gerak. Mereka langsung berebut meraih pancing itu.
"Wow! Wow!"
"Awas nanti lepas!"
"Cepat ambil!"
"Sini! Biar aku saja!"
Seketika suasana di yacht menjadi riuh karena dua orang wanita muda yang berhasil mendapatkan seekor ikan.
"Hey! Hey! Sabar nona - nona!"
__ADS_1