My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 79 -- Australia


__ADS_3

Australia sangat dikenal sebagai negeri impian. Negara yang berupa benua terkecil di dunia ini, menjadikan Australia sebagai negara yang luas dan memiliki keindahan alam yang spektakuler.


Negara ini memiliki imajinasi dengan musim panas yang panjang dan memiliki penduduk yang terkenal sangat ramah. Dan hari ini mereka mengawali vacation dengan piknik, liburan typical Toni.


"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya Eliana sambil menikmati sarapan paginya.


"Piknik." jawab Toni sambil tersenyum senang. Tangannya mengangkat keranjang piknik berisi makanan yang sudah disiapkan olehnya.


"Piknik?" tanya Eliana, sambil mengulum senyum.


"Kenapa?"


Eliana tertawa kecil. "Tiba - tiba saja aku ingat mobilmu yang keren, dan yang tidak akan aku lupakan adalah bunyinya yang membuat sakit telinga."


Toni ikut tertawa mengingat tingkah konyolnya saat itu. "Tapi hari ini kita akan ke Sydney Harbour Bridge. Tempatnya lebih bagus daripada danau yang kita kunjungi waktu itu."


"O'ya?" Eliana terlihat antusias.


Toni mengangguk. "Yah, tempat ini memang hanya sekedar tempat untuk jalan tapi pemandangannya tak akan kamu lupakan."


Petualangan mereka di awali dari Sydney Harbour Bridge. Tempat dimana kamu bisa mendengarkan sejarah dan berhenti untuk foto - foto sejenak. Pemandangan gedung opera house dengan latar belakang langit yang biru benar - benar cantik.


Dari sana mereka bisa langsung menuju ke Royal Botanical Garden, taman kota terbesar dan gratis di dunia. Alih - alih menggunakan taxi, mereka memilih berjalan kaki sambil menikmati pemandangan dan berfoto.


"Kamu mau foto disana?" tanya Toni sambil menunjuk Sidney Harbour Bridge yang bisa dilihat dari sudut yang lain.


Eliana mengangguk, dia melepaskan tangannya dari genggaman Toni dan segera berpose.


"Seperti ini?" tanya Eliana, dia tak terbiasa berfoto.


"Apa pun posenya, kamu tetap cantik." gombal Toni sambil tersenyum.


Eliana mencebik dan Toni terbahak. Lalu dia mengacungkan jempol. "Ready?" Selama beberapa saat dia menjadi insta boyfriend. Siapa sangka Eliana selalu cantik dengan angle yang bagaimana pun. Wajahnya yang kalem terlihat kontras dengan pemandangan disana.


"Tapi aku kepengen foto berdua denganmu." keluh Eliana. Dan ini akan menjadi foto pertama mereka setelah foto pernikahan.


Toni meninggalkan keranjang pikniknya, dia mendekat ke Eliana dan mengarahkan kameranya. Sementara beberapa bodyguard menyebar dan berbaur dengan orang - orang disana. Berjaga tanpa kentara.


"Hey, apa kalian butuh bantuan?" Seorang laki - laki yang sedang bersepeda berhenti dan menawarkan bantuan.


"Oh, yes. Thank you." Toni menyodorkan ponselnya.


"All right. Let's say PEEEEEEERTH instead of Chizzzz... "


(Baiklah. Ayo bilang Peeeerth jangan Chizzzz.)


Wow! Ide yang bagus. Spontan Toni dan Eliana saling berpandangan dan terbahak.

__ADS_1


"Peeeeertttth." suara mereka terdengar kompak.


"You look good together." Lelaki berperawakan tegap dengan tato di lengan kanan itu mengembalikan kamera milik Toni.


"Thanks, Man." balas Toni. Mereka berjabat tangan khas lelaki.


"Honeymoon, huh?"


"We are." jawab Toni dengan senyum mengembang. Sikap pria itu cukup ramah dan terlihat tulus, Toni tak ragu sedikit berbincang dengannya.


"Sudah pernah lihat Quokka?" tanya pria itu kepada mereka.


"Quokka? Kanguru?" sela Eliana yang dari tadi hanya diam mendengarkan perbincangan Toni dan pria itu tentang tempat - tempat di Australia.


"Quokka masih kerabat sama kanguru. Kamu bisa melihatnya di Rottnest Island. Aku bisa mengantar kalian kalau mau." Pria itu mengeluarkan kartu nama, ternyata dia salah satu owner tour terkenal disana.


Toni menerima kartunya dan tertawa. "Thanks, ini sangat membantu. Kami akan menghubungimu saat ingin kesana."


Kemudian mereka berpisah seperti kawan lama. Pria itu melambaikan tangan pada pasangan itu dengan ramah.


Toni dan Eliana mencari spot terbaik untuk mereka menggelar karpet. Keduanya sepakat untuk duduk di rumput taman agak jauh dari orang - orang lainnya. Udara dan matahari yang tidak terlalu terik menjadikan suasana terasa menyenangkan.


Eliana mengeluarkan isi keranjang piknik yang dibawa oleh Toni. "Wah, salad." serunya senang. Rasanya segar makan salad di udara yang cerah seperti ini.


"Limun!"


"Scotched eggs!"


Eliana berseru setiap kali mengeluarkan sesuatu, seolah telah menemukan harta karun.


"Wah, minuman dingin!" Eliana menempelkan botol juice ke pipinya.


Toni tertawa melihat tingkah Eliana yang kekanak - kanakan, dia teringat sebuah quote yang mengatakan kalau wanita akan bersikap kekanak - kanakan di hadapan pria yang dicintainya.


"Kapan kamu siapkan semua ini, Toni?" tanya Eliana, matanya berbinar - binar.


"Waktu kamu tidur karena kelelahan." sahut Toni dengan mata bersinar jahil.


Eliana melengos, dia mengalihkan perhatian kembali ke keranjang.


"Apa ini? Kenapa ada papan catur?" Eliana menarik sebuah benda dari kayu dari dalam keranjang. "Pantas saja keranjangnya berat." dengus Eliana kesal. Dari tadi dia menebak - nebak, apa saja isi keranjang Toni kenapa terasa berat di tangan.


"Hmmm... tapi bagus juga kamu membawa benda ini, Toni. Ayo kita main catur!" tantang Eliana. Dia menyilangkan kaki di atas karpet. "Sekarang aku jago main catur. Grandpa saja kalah sama aku!"


Toni mencebikkan bibirnya mendengar kata - kata Eliana. "Sombongnyaaaa... kesayangan Grandpa. Ayo tanding, siapa takut?" tantang Toni.


"Boleh." sahut Eliana bersemangat.

__ADS_1


"Yang kalah traktir dinner sesuai permintaan yang menang."


"Deal!"


Satu jam kemudian,


"Checkmate."


"Argghh!" teriak Eliana. Dia mengacak - acak rambutnya sendiri, frustasi. "Kenapa kamu bisa menang? Apa sih yang kamu tidak bisa?"


Toni tak menjawab. Dia melipat tangannya di depan dada, memasang tampang puas namun menyebalkan. Dia menaik turunkan alisnya. "Traktir dinner... traktir dinner.... " ucapnya berirama.


Eliana cemberut. "Iya deh... , tapi jangan yang mahal - mahal ya. Aku kan sudah tidak bekerja sekarang. Masa aku bayar pakai kartu milikmu?" Eliana terlihat berpikir.


"Enak aja! Minta Grandpa dong. Siapa suruh kamu nemenin dia terus?" Toni pura - pura cemburu.


"Eh Grandpa sudah kasih aku kartu juga, tapi kan aku tidak bisa pakai sembarangan." Eliana memutar bola matanya.


Toni kembali terbahak. "Kasihan banget sih kamu... "


Eliana melengos, dia melipat tangannya dan terlihat berpikir. "Apa sebaiknya aku kerja lagi ya? Tapi bagaimana dengan Grandpa? Apa John bisa menemaninya selagi aku bekerja?"


Wah! Kenapa malah jadi serius begini? Toni menyesal sudah menggoda Eliana. Toni menghembuskan napas. "Hey, kamu sudah jadi istriku. Kenapa harus bekerja?"


Eliana ikut - ikut menghembuskan napas. "Kamu tau? Wanita bekerja itu terkesan innovative dan creative. Kayak Tiffany dan Dokter Livia, mereka kalau lagi ngobrol sama Grandpa dan John kaya punya wawasan luas gitu... " Eliana berhenti sejenak, dia mengerucutkan bibirnya sejenak seperti sedang berpikir. Tak lama, dia kembali membuka mulut. "Pokoknya mereka itu keren. Cantik, cerdas, modis, mandiri... "


Hm... , Toni paham benar maksud Eliana. Dia memandang Eliana yang duduk di hadapannya. Di belakang punggungnya matahari mulai turun ke batas cakrawala. Senja mulai naik. Sinar oranye menimpa pipi Eliana yang putih seperti pualam, memberikan efek aesthetic di wajahnya.


Di mata Toni, Eliana nampak seperti seorang malaikat yang cantik. Eliana sedang dalam masa transisi, dulu hidupnya selalu diisi dengan bekerja dan bekerja. Dan dalam sekejap, Eliana harus dirumahkan karena dirinya.


"Apa kamu mau belajar bisnis? Kalau kamu mau, aku akan mengajarimu dan membantumu mencari peluang. Tak perlu menjadi business woman sukses, aku lebih membutuhkanmu sebagai istri dan ibu untuk anak - anakku." Toni mengusap kepala Eliana. "Tapi kamu bisa bekerja sebagai hobby."


"Terima kasih, Toni." ucap Eliana senang.


Toni mengusap kepala Eliana yang sedang membereskan bidak - bidak catur mereka. Dia sangat senang. Baginya, ini adalah win win solution. Asalkan keluarga tetap menjadi prioritasnya, Toni tidak akan protes.


"Oke. Simpan dulu gagasan mengenai kamu bekerja. Sekarang kita nikmati dulu liburan ini. Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"


Eliana diam sejenak, kemudian dia berkata. "Quokka."


"Ya?"


Eliana mendekat ke Toni dan mengecup pipi lelaki itu. "Aku mau lihat Quokka."


Tentu saja Eliana akan mendapatkan keinginannya, apa pun keinginan wanita kesayangannya, selagi dirinya mampu, pasti akan segera terlaksana.


"Oke, besok kita ke Rottnest Island."

__ADS_1


Note.


Sydney Harbour Bridge : Jembatan pelabuhan di Sidney


__ADS_2