My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 53 -- Be Mine!


__ADS_3

Mata Eliana berkaca - kaca mendengar cerita Toni, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Sayang... " Toni menangkupkan kedua tangannya yang besar dan hangat di kedua pipi Eliana. Dan dengan lembut, dia bertanya, "Ada apa?"


Setetes air mata mengalir dari sudut mata Eliana. "Kasihan kamu, Toni... " Tangannya memegang tangan Toni yang menangkup wajahnya.


Hatinya terasa pedih membayangkan bagaimana sakitnya hati Toni saat mengetahui calon istrinya tidak setia. Pantas saja otaknya tidak mau bekerja sama untuk mengingat soal Tiffany. Dia ingin mengubur masa lalunya.


"Aku tak habis pikir, bagaimana bisa mereka begitu tega mencelakai kamu?" Alih - alih menyebut nama Tiffany, Eliana mengalihkannya ke topik lain.


"Tapi itu murni kecelakaan, Sayang. Aku terlalu marah sehingga memacu mobilku ugal - ugalan hingga ke perbatasan Green field. Dan mereka mengetahui lebih cepat dari Grandpa. Lalu orang - orang pintar itu memanfaatkannya untuk melenyapkan jejakku."


"Siapa saja mereka?"


"Alex, dia sengaja menghapus bukti - bukti dan menghilangkan jejakku supaya dia bisa menjadi the next CEO. Sementara Bryan, dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya karena telah aku hajar." Toni tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. "Motif mereka kekanak - kanakan bukan?"


Air mata Eliana mengalir semakin deras, membayangkan bagaimana kalau seandainya Toni malah meninggal karena tak ada rumah sakit yang mau menampungnya.


"Hey, seharusnya kamu berbahagia, kalau tak ada kejadian itu mungkin kita tidak akan hari ini." Toni tersenyum haru, dia bisa merasakan betapa baiknya Eliana. Dari awal mereka bertemu hingga hari ini, tak ada yang berubah.


Tangan Toni terentang, Eliana pun menghambur ke pelukannya. Tangannya mengelus punggung Toni yang lebar. "Sekarang semuanya sudah baik - baik, Toni. Lupakan saja hal buruk yang terjadi di masa lalu." Hibur Eliana.


Diam - diam Toni merasa geli. Tidak tahukah Eliana kalau dirinya justru bahagia, bisa dibilang sangat bahagia saat mengetahui fakta ini. Bahkan rasa bencinya pada Tiffany menguap entah kemana.


"Ada satu cara terbaik untuk melupakan kejadian buruk itu, Eliana -- " kata Toni pelan, tanpa melepaskan pelukannya pada Eliana.


Berpelukan, merasakan hangatnya Eliana dan mencium harumnya wanita itu benar - benar membuatnya nyaman. Baginya, begini saja sudah cukup. Bersama Eliana, hatinya terasa tenang dan tidak terombang ambing.


"Apa itu?" tanya Eliana.


"Be mine, forever. Jadi fix hari ini kita nikah."


Eliana melepaskan pelukannya dan menatap Toni, "Kenapa harus hari ini?"

__ADS_1


"Karena begitu aku mengumumkan pernikahanku dengan Tiffany batal, pasti semua orang akan mencari penyebabnya. Dan Tiffany juga tak akan tinggal diam. Aku tak mau gosip - gosip membuatmu kembali berpikir ulang dan semakin menundanya. Kita bisa merayakannya kapan saja, tapi today, we are officially husband and wife." Suara Toni terdengar stabil dan yakin pada keputusannya.


Benar sekali. Apa yang dikatakan oleh Toni sangat masuk akal. Sekarang saja, dirinya masih banyak pertimbangan. Eliana menunduk menatap kedua tangan mereka yang saling bertumpu. Deretan berlian yang berkilau mengelilingi batu saphire di cincinnya, mengingatkan kata - kata Toni kalau mereka sudah bertunangan.


"Kesetiaan dan kejujuran." Ucap Toni sambil mengelus cincin di jari Eliana.


"Ya?"


"Yeah, cincin ini adalah simbol doa dan harapanku. Batu ini namanya saphire, artinya kesetiaan dan kejujuran."


Wow! Ternyata Toni benar - benar mempersiapkan pernikahan mereka, kalau sudah begini apa mungkin Eliana tega menolak?


"Bagaimana Grandpa? Apa dia sudah tahu rencanamu?" tanya Eliana.


"Of course, he did."


"Oh... "


Toni jelas - jelas sudah menunjukkan niat baiknya kepada Eliana, lalu kenapa dirinya masih ragu juga? Eliana mengalihkan pandangannya dari cincin tunangan kepada orang yang memberinya.


***


"Alex?" ucap Eliana.


Dia tak menyangka, Alex datang ke ruang tengah yang dipenuhi dengan gaun - gaun pengantin berbagai model. Saat ini Eliana sedang memilih gaun pengantin yang dibawa oleh sebuah rumah mode ke rumah keluarga Peterson.


Dari sekian banyak gaun yang dibawa, ada tiga model yang menjadi favorite Eliana. Yang pertama adalah gaun pengantin model couture dengan warna putih tulang, lalu sebuah gaun dengan korset v-neck yang diberi detail sedikit lebih rumit dan terlihat mewah. Gaun terakhir gaun dengan bahan sutra yang dihiasi beberapa renda di setiap detailnya, mengingatkannya pada gaun Kate Middleton saat menikah dengan Prince William.


"By the way, thanks Eli. Karenamu aku masih bisa berada disini. Grandpa tak jadi mengusirku."


"Aku tak melakukan apa pun, semuanya tergantung Grandpa dan sikapmu sendiri." Jawab Eliana sambil tersenyum. Tangannya mengelus kain dari gaun yang berbahan sutra. Sangat halus.

__ADS_1


"Kamu tidak marah padaku, Eli?" keluh Alex. Dia jadi tak enak hati melihat Eliana tak terlalu merespon kedatangannya.


Eliana menggelengkan kepala. "Toni saja memaafkanmu, kenapa aku harus marah? Benar kata Toni, kalau tidak ada kejadian itu maka kami tidak akan menikah hari ini." Sahut Eliana santai. Dia menunjuk gaun dengan bahan sutera. "Apa menurutmu ini cocok untukku?"


"Apa pun yang kamu pakai, kamu tetap cantik, Eli." jawab Alex sedikit lega. Dia tak menyangka kalau mereka semua akan memaafkannya dengan mudah. Dirinya benar - benar malu telah berbuat jahat pada Toni.


"Aku menyesali semuanya, Eli. Aku berhutang maaf pada kalian semua." Eliana tertawa kecil.


"Tidak ada kaitannya denganku, Alex. Grandpa dan Toni sudah memaafkanmu. Case closed. Tak perlu dibahas lagi."


Alex tampak salah tingkah dengan jawaban Eliana. "Aku hanya tak mau kamu menjauhiku, Eli. Kamu sudah seperti saudaraku sendiri, kakak perempuanku dan juga perlakuanmu padaku mirip Mommy. Bagiku kamu bukan orang lain, Eli. Aku menyayangimu."


"Posisimu selalu sama Alex. Akan selalu ada disini -- " Eliana menunjuk ke dadanya sendiri. "You're my family, now and forever."


"O'ya?"


Eliana mengangguk mantap. "Aku yakin kalau sebenarnya kamu menyayangi Toni. Kalau kamu benar - benar orang jahat, seharusnya kamu bisa melenyapkannya selamanya. Tapi kamu tidak melakukannya kan?"


"Yeah. Jujur, aku merasa lega saat Toni kembali. Dan rasa bersalah itu terus menghantuiku."


"Kita akan terus berteman, Al. Apalagi aku menikah dengan kakakmu, jadi kita hari ini resmi bersaudara. Kamu boleh bercerita apa pun padaku, semua kesulitanmu bahkan kekecewaanmu. Aku rasa Toni tak akan keberatan, dia tahu aku juga menyayangimu dan Grandpa. Jangan pernah lupa kalau Toni juga menyayangimu, Al. Hanya saja dia tak pernah mengatakannya."


Setelah itu mereka berbicara beberapa saat, seperti layaknya kakak perempuan dan adik laki - lakinya.


"Apa kamu mau datang ke pernikahanku dengan penampilan begini saja atau ingin tampil tampan dengan tuxedo-mu?" Eliana menyudahi percakapan mereka karena MUA sudah datang. Dan akhirnya dia memilih gaun sutra yang mirip dengan model yang dipakai oleh Kate Middleton.


"Akan kubuktikan kalau aku bisa jadi most handsome groomsmen ever, Eliana." Alex terkekeh dan melambaikan tangan. Dia juga harus bersiap.


Bersambung ya....


Note

__ADS_1


Groomsmen \= pendamping pengantin pria (pernikahan ala barat)


Bridesmaids \= pendamping pengantin wanita (pernikahan ala barat)


__ADS_2