My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 25 -- Back To The Past


__ADS_3

"Siapa Tiffany?" Toni bertanya sekali lagi untuk memastikan pendengarannya tak salah menangkap informasi. Tadi John bertanya pada Toni, apakah perlu memberitahu keluarga Tiffany tentang kabar ini? Nama yang benar - benar asing di telinga dan ingatannya.


"Tiffany Wilson adalah tunangan anda dan kalian hampir menikah beberapa bulan sebelum anda menghilang, Tuan Muda."


'HAH?!'


Toni terguncang.


Dia berdiri mematung di dekat mobil hitam mewah yang dibawa John untuk menemui Tuan Mudanya. Kedua tangan Toni mengepal erat, masih tak percaya dengan apa yang didengarnya


Toni berharap semua yang di dengarnya, hanyalah kelebatan - kelebatan peristiwa yang akhir - akhir ini sering muncul di dalam ingatannya. Ah, amnesia sialan ini sungguh memporak porandakan segalanya.


Hampir menikah? Toni tak bisa mempercayainya, mau dibuang kemana perasaannya terhadap Eliana saat ini?


"Anda mau masuk ke mobil sekarang Tuan? Kita akan menemui Tuan Peterson."


John bertanya tapi tak menunggu persetujuan Toni. Tangannya langsung membuka pintu mobil dan mempersilahkan Toni untuk masuk.


Perlahan Toni melangkah masuk ke dalam mobil. Dia terduduk disana, tangannya gemetar, masih merasakan shock atas informasi yang di terimanya dari John. Orang yang mengaku asisten pribadinya.


Ya Tuhan! Inilah yang ditakutkannya selama ini, kalau ingatannya kembali. Akan ada fakta - fakta yang membuatnya tak ingin kembali ke masa lalu. And, finally the nightmare came to him.


(Akhirnya mimpi buruk itu telah datang padanya.)


Di dalam mobil, John menyuruh sopir berangkat menuju kediaman Tuan Peterson. Beliau minta kembali ke Rocktown dan dirawat disana karena cucu kesayangannya sudah ditemukan.


John menyodorkan ipad-nya, dia membuka file foto pre-wedding Toni dan Tiffany. Dia juga menunjukkan satu folder khusus berisi foto Toni dengan seorang wanita cantik, dan terlihat berkelas.


Toni hanya memandangi foto - foto itu satu demi satu dengan wajah tanpa ekspresi. Otaknya berusaha keras untuk mengingat - ingat perasaan apa yang dirasakannya saat bersama Tifanny. Dia mencoba menyusun potongan puzzle yang pernah muncul di ingatannya.


"Kamu yakin foto ini asli, John?" tanya Toni masih tak percaya.


John mengangguk. "Iya, Tuan."


Benar - benar aneh! Toni tak merasakan apa pun saat melihat foto itu. Hatinya kosong. Perasaannya hampa, tak ada rindu, atau getaran apa pun saat melihat wajah wanita bernama Tiffany.

__ADS_1


Toni menggelengkan kepalanya sambil memandang foto - foto itu. "Aku sama sekali tak mengingatnya. Padahal aku langsung mengingat namamu saat bertemu dan aku juga merasa familiar dengan nama Peterson." ucap Toni kepada John.


John tak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa memandang prihatin Tuan Mudanya yang nampak kebingungan. Sementara itu mobil terus melaju menuju ke rumah kediaman Peterson.


Toni memijat pangkal hidungnya, pusing. Hanya dengan sebuah kabar kalau dirinya memiliki calon istri, dunianya langsung terasa berhenti.


'Wait for a moment. Please, give me some more times to think.'


(Tunggu sebentar. Beri aku waktu beberapa saat untuk berpikir.)


Kepala dan hati Toni berdenyut, bukan karena serangan yang akhir - akhir ini sering dialaminya. Tapi lebih karena dia tertekan. Bayangan kalau Eliana tahu dirinya sudah mempunyai calon istri, membuat Toni merasa takut. Dia tak mau Eliana menjauh dan meninggalkannya.


"Apakah aku dulu mencintai Tiffany, John?" tanya Toni setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Anda berencana menikahinya, Tuan. Saya rasa anda mencintainya, Tuan."


"Bagaimana caraku memperlakukan dia?" Tangan Toni bergerak di layar ipad, memperbesar ukuran gambar yang terpampang disana. Dia ingin mengamati ekspresi apa yang muncul di wajahnya saat bersama Tifanny. Bukankah perasaan seseorang biasanya terpancar dari mata?


"Anda selalu menuruti apa pun keinginan Nona Tiffany, Tuan."


***


Di Ruang Kerja Tuan Peterson,


"Go to hell with your feeling, Anthony! Kamu harus bisa mengendalikan dirimu sendiri. Betapa marahnya orang tua Tiffany kalau kamu langsung membatalkan pernikahan dengan alasan yang tak jelas. Lagipula, orang tua Tiffany adalah orang yang berpengaruh di kota ini. Bisa - bisa Peterson Corp terkena imbasnya. Jangan bertindak sembarangan. Kamu punya tanggung jawab atas kehidupan puluhan ribu karyawan."


Toni berdiri dengan sikap sempurna, masih dengan sebuah pertanyaan besar di kepalanya. Kenapa dia harus kembali ke Peterson?


"Aku bukan satu - satunya CEO di Peterson Corp. Lagipula aku sudah melupakan banyak hal."


PLETAK!


Sebuah tutup pulpen yang terbuat dari stainless steel mendarat mulus di dahi Toni, beradu dengan tempurung kepalanya yang keras.


"Don't call yourself a businessman. Kamu harus bisa mengendalikan dirimu. Kalau kamu masih egois. Sudah cukup kamu kabur dari tanggung jawabmu! Secara fisik kamu sudah pulih. Mengenai ingatanmu, kita bisa melakukan terapi kognitif. Kita bisa menggunakan sisa ingatan yang ada dan melatih beberapa skill yang sebenarnya sudah kamu miliki."

__ADS_1


Toni menunduk dalam - dalam, entah kenapa dia begitu takluk kepada pria tua di hadapannya. Begitu bertemu, rasa hormat menyeruak begitu saja dari dalam hati, membuatnya merasa harus patuh. Namun sisi hatinya yang lain begitu kesal pada situasi ini. Dia marah, tapi entahlah kepada siapa.


"Kenapa?" Lirih Toni.


'Ha?'


"Kenapa aku tak boleh bersama Eliana? Sudah jelas Eliana yang bersamaku di saat aku susah. Kalau Tiffany adalah calon istriku, kenapa dia tak mencariku? Kenapa dia tak ada bersamaku disaat aku dibuang dan dihina oleh orang banyak?" Toni mengangkat kepalanya, akhirnya tak tahan untuk tidak mengungkapkan isi hatinya.


Tuan Peterson mendengus kesal, dia menggerakkan simulator kursi rodanya supaya bisa mendekat ke tempat Toni berdiri.


"Kamu pikir semudah itu? Jangan terlalu menuruti perasaanmu, pakailah --- " Tangan Tuan Peterson menunjuk kepalanya sendiri, kemudian melanjutkan kata - katanya, "Apa kamu pernah berada di posisi keluarga mereka? Bagaimana perasaan Tiffany? Saat persiapan pernikahan sudah matang, tiba - tiba calon pengantin pria menghilang? Dan kamu berharap mereka mencarimu?"


Tuan Peterson berhenti sejenak, wajahnya merah padam karena kesal. "Lalu sekarang kamu tiba - tiba muncul dan berkata sudah menyukai wanita lain. What a hell, Anthony!" geram Tuan Peterson.


Toni tertegun, raut wajahnya terlihat tak berdaya.


Grandpa-nya benar. Semua ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tidak hanya perasaan seorang wanita bernama Tiffany yang tersakiti tapi juga nama baik keluarga Wilson yang tercoreng.


Tuan Peterson menghela napas sambil mengamati cucu pertamanya dan yang menjadi harapan setelah anaknya pergi. Ada bekas kemerahan di dahi Toni, bekas lemparan tutup pulpen yang terbuat dari bahan yang keras.


"Yakinkan dulu dirimu sendiri. Aku tak mau kalau perasaanmu pada Eliana hanyalah perasaan sesaat. Untuk Tiffany, sebaiknya kamu tanya dulu apa maunya dia setelah kejadian ini. Aku tak peduli siapa pun yang kamu pilih. Bagiku, yang paling penting adalah kamu tidak dicopot dari posisimu. Aku hanya mau kamu yang memegang Peterson Corp. Mengerti?!"


Sebuah ultimatum yang memaksa Toni untuk reset program kerja otak dan tubuhnya.


Dia memulai terapinya. Mempelajari ulang pekerjaan kantor. Membaca buku - buku. Mendengarkan berita bisnis. Mengikuti fluktuasi saham. Berangkat pagi, pulang malam. Pulang pergi dari Lakewood ke Rocktown.


Bersambung ya....


NOTE:



Reset : mengatur ulang


Fluktuasi : perubahan / naik turunnya

__ADS_1



__ADS_2