
"Honey... "
Merasa panggilan itu bukan untuknya, Toni tak ambil pusing dan terus berjalan ke meja makan.
'Ups! A cup of herbal tea will be good for Grandpa and Eliana.' kata Toni dalam hati.
(Secangkir teh herbal akan bagus untuk Grandpa dan Eliana.)
Tiba - tiba saja dia ingat kalau Eliana pasti menjemput Grandpa terlebih dahulu dan turun kesini bersama orang tua itu. Toni berubah arah, dia membawa nampannya menuju pantry di ujung ruang makan, dan meletakkannya di counter dapur. Dia bermaksud membuat teh herbal untuk Grandpa-nya dan Eliana.
"Honey."
Suara ketukan stiletto yang mendekat dan suara wanita itu tak sedikit pun mengusik ketenangan Toni. Dia fokus dan serius untuk menyiapkan satu poci teh herbal.
Sambil merebus jahe, dia memotong lemon yang sudah dicuci. Kemudian mengeluarkan madu dari tempat penyimpanan. Madu dengan kualitas terbaik yang langsung di dapat dari petani lebah.
"Honey."
Kali ini suara halus nan merdu itu dibarengi dengan sentuhan di lengan Toni.
Hah?
Toni melompat ke belakang satu langkah. Dia terkejut seperti baru saja tersiram air panas.
"Hai."
Seketika Toni tertegun di tempat. Wanita cantik di hadapannya tersenyum manis, dari bahasa tubuhnya dia seperti bersiap menghambur ke arah Toni.
Toni mundur selangkah lagi. Dia memandang perempuan yang kedatangannya tak diinginkan.
"Kamu siapa?" Tanya Toni dingin. Tangannya sedikit gemetar mendadak saja emosi melingkupinya.
"Jadi benar kata Papa kalau kamu tak mengingatku? Hilang ingatan?" Tiffany melangkah dengan anggun ke arah Toni. Wajahnya terlihat kecewa, langkahnya melambat untuk menunjukkan kesedihannya karena Toni melupakannya.
Semakin dekat langkah Tiffany, dada Toni bergemuruh, seperti mau meledak oleh amarah yang penyebabnya tak diketahui. Toni heran sendiri, padahal wanita ini tak melakukan apa pun. Nada suaranya saat berbicara pun terdengar khawatir dan manis.
Tapi, tetap saja terasa memuakkan bagi Toni.
Thanks God, aroma jahe menguar di ruangan pertanda air jahenya sudah siap.
Tanpa menjawab pertanyaan Tiffany, dia langsung menuang air jahe ke dalam poci. Kemudian dengan cekatan memeras lemon dan menambahkannya ke dalam air jahe. Terakhir dia menyiapkan toples berisi madu dan meletakkannya di atas nampan, bersebelahan dengan poci teh. Madu itu akan dituangnya nanti setelah air jahe lemonnya sudah tak terlalu panas.
"Tolong kirim satu orang pelayan ke pantry untuk membantuku membawa minuman ke ruang makan." perintah Toni dari intercom. Dia berbicara membelakangi Tiffany, seolah tak ada seorang pun disini.
__ADS_1
Hegh! Sebuah lengan memeluknya kuat dari belakang dibarengi suara isak tangis yang menyayat hati.
"Ada apa denganmu, Honey? Ada apa? Kamu kemana saja? Kamu sakit apa?" ucap Tiffany di sela - sela tangisnya.
Toni memejamkan matanya, tubuhnya bergidik. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Tiffany. Tapi pelukan Tiffany terlalu kuat dan tiba - tiba, membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak dan membalikkan tubuh.
"Get out of me." desis Toni tak suka.
***
Eliana membuka matanya tepat saat matahari muncul dari ufuk timur, perlahan kamarnya dibanjiri cahaya karena gorden sudah dibuka oleh Toni tadi.
HOAH!
Ya ampun, langit diluar sudah terang. Eliana membelalakkan mata, panik. Apa - apaan ini? Belum pernah dia bangun siang seperti ini, apalagi tinggal di rumah orang lain. Haduh, apa kata Tuan Peterson nanti? Jangan sampai dia bangun duluan sebelum perawatnya bangun.
Bahaya... , bahaya....
Eliana membuang selimutnya dan langsung berlari ke kamar mandi. Gosok gigi, cuci muka, mandi serta berganti pakaian, semua dilakukan secara kilat dan terburu - buru.
Setengah berlari, Eliana menuju ke kamar besar di ujung lorong.
"Permisi, Tuan. Maafkan saya... --"
Tuan besarnya sudah berpakaian rapi dan duduk manis di kursi rodanya dengan John yang berdiri tegap di belakangnya.
"Cepat bawa aku turun, aku sudah lapar!" Tuan Peterson mengibaskan tangannya. Dia memberi kode pada John untuk menyingkir. Seperti biasa, kalau sudah ada Eliana, keberadaan John langsung tersingkir. Tuan Peterson lebih suka bersama Eliana, sama seperti cucu - cucunya.
"Ehm... , maaf saya kesiangan Tuan." ucap Eliana sambil meringis, benar - benar merasa tak enak.
"Lain kali tutup pintu balkonmu baik - baik supaya tak ada penyusup yang masuk. Jadi kamu tidak kesiangan." dengus Tuan Peterson.
Dieng!
Ada gong berdentam di jantung Eliana, sepertinya Tuan Peterson sudah mendapat laporan tentang 'penyusup' di kamarnya semalam. Matanya melirik curiga ke John yang berdiri tegak di samping Tuan Peterson, yang dilirik bergeming. Tersangka pelaku pelaporan itu hanya berdiri tegak tanpa ekspresi apa pun.
Melihat Eliana yang tak bergerak, Tuan Peterson kembali bersuara. "Jangan mentang - mentang ada yang lebih muda dan tampan dariku, kamu langsung menelantarkan orang tua ini, hah?!" Nada suara Tuan Peterson terdengar gusar, tapi matanya tak terlihat marah.
Eliana lega, tuannya tak marah.
"Saya tak berani, Tuan. Anda tetap nomer satu." Celetuk Eliana sambil mengulum senyum. Mereka masuk ke lift dan turun ke lantai satu.
"Aku butuh bukti bukan janji, Eliana." balas Tuan Peterson, dia berpura - pura ngambek.
__ADS_1
"Baiklah. Setelah breakfast kita akan date time, Tuan. Kemana pun yang Tuan inginkan, saya akan siap menemani." Senyum Eliana makin lebar. John juga tersenyum, dia ikut berbahagia. Sejak ada Eliana, Tuan besarnya tampak lebih relax dan hampir tak pernah marah.
"Dan kau, John. Dengarkan aku!" Suara Tuan Peterson terdengar serius.
"Siap, Tuan."
TING!
Bunyi nyaring lift menandakan mereka sudah sampai di lantai satu. Eliana mendorong kursi roda Tuan Peterson menuju dapur.
"Aku perintahkan kau fokus menjagaku saat kami berkencan. Pak tua ini tak akan mampu melawan dua orang anak muda yang cemburu buta. Hahaha... "
Tawa Tuan Peterson membahana, moodnya pagi ini begitu baik. John tak bisa tidak ikut tertawa. Tak ingin dianggap tak sopan, dia berjalan mendahului Eliana dan Tuan Peterson menuju dapur. Bermaksud membukakan pintu kaca pembatas ruang makan dan ruang serba guna.
SRET!
DUK!
"Ups, sorry John. Kamu berhenti mendadak, aku tak sengaja menabrakmu." keluh Eliana, wajahnya menampakkan penyesalan karena menabrak John dengan kursi roda.
John menoleh, ekspresinya canggung. Pemandangan di dalam sungguh tak ingin di perlihatkan pada Eliana. Dia tak ingin Eliana sakit hati, biar bagaimana pun suasana rumah ini hidup kembali karena wanita itu. Otaknya berputar cepat.
AHA!
"Nona, biar saya yang mengantar Tuan besar untuk makan pagi. Bisakah anda membantu mengambilkan walking frame ---"
"Hey, suruh saja pelayan ambil. Kenapa harus Eliana?" protes Tuan Peterson. Dia langsung menekan tuas navigasi, dengan tak sabar menerobos John yang menghalanginya.
OH! Wow!
Tuan Peterson menelan salivanya, berusaha secepat kilat menggerakkan jarinya memencet tuas navigasi, berniat memutar posisinya supaya menghadap Eliana. Ah, tangannya justru bergetar tak menentu. Usia membuat motoriknya melemah.
"Grandpa."
Bersambung ya...
NOTE :
1. Walking Frame \= alat bantu jalan yang memiliki dua gagang sebagai pegangan serta empat kaki sebagai penumpu.
2. Pantry \= kalau di Indo namanya dapur bersih untuk menyiapkan makanan/minuman tanpa harus masak besar. Kalau di Inggris biasanya untuk menyimpan bahan makanan atau minuman atau pun perlengkapan masak yang simple.
3. Stiletto \= jenis sepatu high heel, biasanya terkenal dengan tinggi yang ekstra dibandingkan sepatu hak tinggi lainnya. Dasar dari hak sepatu biasanya terbuat dari besi atau campuran besi sedangkan batang dari hak sepatu terbuat dari besi atau karet.
__ADS_1