
Pertengkaran Pertama
"Kami bertemu sebentar saat aku akan berangkat kesini, Eli. Kami sudah beberapa kali bertemu dan berbincang sejak kejadian itu. Dan ternyata dia lawan bicara yang menyenangkan."
"Jelas saja menyenangkan, kamu tahu sendiri apa profesinya kan?" jawab Eliana sambil mengulum senyum. Dia sedang menerka - nerka sedekat apa Alex dan Dokter Livia saat ini.
Alex terkekeh. "Aku sampai rela menunggunya hanya untuk berpamitan sebelum berangkat kesini."
"Kamu menunggunya di tempat praktek?" tanya Eliana heran.
Alex berbeda dengan Toni yang selalu sabar menunggunya. Alex memang tipe pria romantis tapi bukan tipe penyabar yang mau berlama - lama menunggu hanya untuk berpamitan. Dia tipe spontan dan langsung bergerak. Seharusnya bisa saja Alex mengirimkan pesan atau sekedar menelponnya.
"Hm-hm. Entah kenapa aku senang melihat wajahnya yang sedang serius bekerja. Terlihat lebih cantik."
"Wow! Wow! Aku melihat ada yang bersemi disini." goda Eliana sambil tertawa ceria.
Dia senang Alex mulai dekat dengan Dokter Livia. Terlepas dari kasus di Chandelier, Dokter Livia adalah wanita yang baik dan pengertian.
"Sayangnya dia itu teman Toni." keluh Alex.
"Kenapa kalau teman Toni?"
"Berarti umurnya lebih tua dariku satu tahun."
"Halaah... apa artinya satu tahun kan? Just go on, Al. Aku rasa kamu lebih cocok mendapatkan wanita yang lebih dewasa darimu, Al." support Eliana pada Alex.
Dia tahu bagaimana Alex diam - diam mendamba kasih sayang seorang ibu. Di sekelilingnya hanya ada para pria, dan dia hampir tak pernah merasakan kelembutan kasih seorang wanita.
Alex kembali tertawa, malu sekaligus senang bisa mencurahkan isi hatinya kepada Eliana. Dia merasa mendapatkan seorang kakak perempuan dan ibu di dalam sosok Eliana.
Tapi terkadang apa yang terlihat di mata, tidak seperti apa yang terjadi sebenarnya.
Kedatangan Alex sedikit mengganggu hubungan Toni dan Eliana. Toni jadi tidak bisa mengendalikan perasaan cemburunya, setiap kali melihat Eliana dan Alex bercakap - cakap.
Apalagi saat dia melihat Alex dan Eliana sedang bersantai di teras dan mengobrol santai. Toni kebetulan keluar dari ruang tamu hendak mengambil minuman di dapur dan tidak sengaja mencuri dengar percakapan mereka.
Dia mengintip dari jendela dapur, bunga di taman bermekaran, angin sepoi - sepoi dan matahari pun terkesan bersahabat. Suasana di luar terlihat indah dengan sepasang pria dan wanita duduk di bangku taman. Ada sepiring camilan dan dua cangkir teh di atas meja kecil. Mereka terlihat begitu nyaman satu sama lain.
Toni hanya bisa menghembuskan napasnya saat dia melihat semua itu. Dia tahu Eliana tak mungkin memiliki perasaan apa pun pada Alex tapi tetap saja ada perasaan tersingkirkan setiap kali melihat mereka berdua sedang mengobrol santai.
Padahal tadi dia memutuskan untuk tidak kemana pun karena tak ingin merusak suasana dengan mengajak Alex jalan bersama mereka. Tapi ternyata, di rumah suasana hatinya justru semakin memburuk.
Apalagi saat ini dia sedang sibuk mengatur pekerjaannya, berusaha semua berjalan baik. Pekerjaan mau pun vacation mereka, tanpa mengganggu kenyamanan istrinya. Tapi, istrinya malah ngobrol kesana kemari bersama pria lain.
Tawa Eliana yang renyah diselingi suara berat Alex yang terkekeh membuat hati Toni bergetar oleh rasa cemburu. Bagaimana caranya menyingkirkan tamu tak di undang ini dari sini? Dia benar - benar tidak tahan, padahal baru sehari Alex disini.
Tak ingin melihat pemandangan 'romantis' lebih lama, Toni buru - buru kembali ke ruang tamu dan membereskan barang - barangnya yang berserakan di ruang tamu. Kemudian dia masuk ke ruang kerjanya dan disana dia langsung menelepon Grandpa.
__ADS_1
"Kenapa Grandpa menyuruh Alex datang kemari?" protes Toni begitu mendengar suara Grandpa menyapa. Dia bahkan lupa mengucapkan salam karena terlalu emosi.
"Hai, bagaimana vacation kalian?" Grandpa malah balik bertanya.
"Buruk!" jawab Toni ketus.
"O'ya?" Kalau saja bisa, Tuan Peterson sudah ingin langsung terbang menyusul cucu - cucunya. Tapi umur dan tenaga yang sudah terbatas, membuatnya lebih memilih untuk bekerja saja dari pada melakukan perjalanan jauh yang riskan untuk kesehatannya.
Lagipula, perusahaan masih membutuhkan dirinya untuk memantau hal - hal crucial dan menjadi penasehat untuk Toni dan Alex.
"Sorry, Toni. Grandpa tidak sempat mendiskusikannya denganmu lebih dulu. Tapi tidak usah khawatir, Alex sudah seperti adik untuk Eliana."
Okay... adik dan kakak! Jadi tidak perlu khawatir karena hubungan Alex dan Eliana hanyalah sebatas kakak beradik?
Hellooo, apa kabar dirinya dan Eliana? Dulu Eliana menyebut dia sebagai kakaknya dan mereka bertekad hidup bersama sebagai saudara, kakak beradik. Kenyataanya? Mereka sekarang adalah suami istri. Sepertinya Grandpa lupa pada kenyataan itu.
Toni berusaha keras menyembunyikan kegelisahannya. Tak mau berdebat panjang lebar, Toni mengucapkan terima kasih atas perhatian Grandpa dan menutup teleponnya. Dia sampai lupa menanyakan alasan utama Alex dikirim ke tempat ini.
Sialan! Bukannya tenang setelah menelepon Grandpa, pikirannya malah semakin kacau.
Ketukan di pintu membuat Toni kembali ke realita, membuang suara - suara yang berkecamuk di pikirannya. Dia menoleh dan berseru. "Come in!"
Perlahan pintu terbuka, kepala Eliana muncul dengan senyum lebar terukir di wajahnya. "Sedang sibuk, Toni?" tanya Eliana lembut.
Setelah telepon dari Grandpa, Eliana semakin berusaha untuk memahami kehidupan Toni sebagai CEO. Di masa mendatang pun, mungkin perhatian Toni akan tercurah di pekerjaan dan bukan hanya kepada dirinya.
Merasakan nada suara Toni yang berbeda, alis Eliana terangkat.
Sementara Toni melengos, tak ingin Eliana bisa membaca perasaannya yang sedang uring - uringan.
Merasakan perubahan suasana hati Toni, Eliana menutup pintu dan masuk ke dalam ruangan. Sementara lupakan sejenak niatnya untuk bercerita soal Dokter Livia dan Alex.
"Ada apa, Toni?" tanya Eliana. Tangannya terulur hendak mengelus lengan Toni. Tapi suaminya itu menghindar.
"Toni?"
"Tidak ada apa - apa. Aku sibuk."
Eliana tertegun, suara Toni terdengar tidak ramah. Tadi ditanya, dia bilang tidak sibuk. Belum ada satu menit, sudah bilang dia sibuk.
Eliana menghela napas. "Maafkan, aku sudah mengganggumu." ucap Eliana dan langsung berbalik badan dan hendak keluar.
"Tidak usah kemana - mana! Stay here with me!" perintah Toni tegas.
Ha?
Eliana memandangi wajah Toni yang terlihat tegang. "Toni --"
__ADS_1
"Biarkan saja Alex mau melakukan apa pun disini. Aku tak peduli. Yang penting kamu harus terus berada di sampingku!" sergah Toni, sebelum Eliana sempat berkata - kata.
Kening Eliana berkerut - kerut, dia bingung.
Eliana bisa merasakan kemarahan Toni, hanya saja dia sedang mengira - ngira apa penyebabnya. Tadi Toni menyambutnya dengan ketus, dan bilang kalau dia sedang sibuk. Dan sekarang malah menyuruh Eliana untuk tetap tinggal di ruangan itu.
"Maaf. Tadi aku pikir, kamu terganggu kalau aku disini." ucap Eliana lembut. Lagi - lagi dia memilih untuk mengalah, tak mau membuat Toni semakin emosi.
Kalimat Eliana justru membuat Toni semakin meradang. "Sejak kapan aku keberatan dengan kehadiranmu? Atau jangan - jangan kamu lebih suka ngobrol sama Alex dari pada menemaniku?" tuduh Toni kepada Eliana.
Eliana terkejut. "Astaga... Toni... "
"Eliana... " Toni menatap Eliana dalam - dalam, wajahnya gelap seperti hampir hujan.
Eliana langsung menutup mulutnya begitu melihat ekspresi Toni.
"Kalau bukan karena perintah Grandpa, sudah aku usir dia dari sini." seru Toni dengan telunjuk teracung keatas. "Setidaknya aku menghargai Grandpa yang khawatir kepadamu. Walau pun dia adikku, tapi dia juga laki - laki. Dan dia pernah menyukaimu. Aku tak suka ada pria lain tinggal dirumahku."
Sesaat Eliana diam, membiarkan Toni meluapkan semua kekesalannya. Biasanya seseorang lebih mudah diajak bicara saat sudah tak ada lagi emosi yang melingkupinya.
Tak lama Eliana mulai bergerak menghampiri Toni. Mencoba meredakan kemarahan bercampur rasa cemburu yang berkecamuk di hati suaminya.
"Toni, maksud Grandpa itu baik. Aku paham tujuan beliau... "
"Aku masih sanggup menyewa dua puluh atau lima puluh bodyguard untukmu, Eliana. Asal bukan laki - laki yang pernah menyukai kamu!"
"Apa kamu cemburu Toni?" tanya Eliana sambil mengulum senyum. Tangan satunya melingkar di lengan Toni, sedang tangan satunya mengusap dada Toni.
Alih - alih marah, Eliana justru ingin tertawa. Toni selalu begini setiap kali sedang cemburu padanya. Dia akan marah - marah tak jelas.
'Apa? Cemburu?'
Seketika Toni terdiam, tersadar akan tingkahnya yang kekanak - kanakan. Dia berdehem. "Aku tidak cemburu, hanya memastikan segala sesuatu berjalan pada di jalurnya."
Eliana hampir tak bisa menahan tawa, Toni gengsi untuk mengakui kalau dia cemburu. "Iya, Sayang. Kamu tidak cemburu, tapi insecure." ucap Eliana dengan tenang.
Heh?
'Insecure?'
Toni tercengang.
Sebelum Toni sempat merespon, Eliana dengan tenang melanjutkan kata - katanya. "Kamu hanya merasa tidak tenang saat aku bersama Alex. Dan kamu juga khawatir kalau aku merasa lebih nyaman saat bersama Alex, yang juga memperlakukan aku dengan baik."
"A-apa?"
Bersambung ya....
__ADS_1