My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana


__ADS_3

Suara pintu menjeblak terbuka, seolah di dorong dengan kekuatan besar dan paksa, bersama bunyi ketukan heels berirama cepat dan tergesa, terdengar dari ruang utama menuju kamar apartment Bryan. Namun sang empunya apartment masih malas bergerak, dia malah menarIk selimutnya dan bermaksud melanjutkan tidur.


"BRYAN!" panggilnya saat mencapai pintu kamar laki - laki itu. Di ambang pintu, wajah Tiffany merah padam, tangan dilipat di depan dada dan ekspresi wajahnya murka.


Bryan tergeragap kaget, dia terbangun dan langsung duduk di atas tempat tidurnya. Tubuh bagian atasnya masih polos, rambutnya berantakan khas bangun tidur. "Ada apa?" Tanyanya dengan suara parau.


Wajah Bryan yang bingung dan tak tahu apa - apa semakin membuat Tiffany panas dingin saking kesalnya. Dia mendekat dan melemparkan secarik kertas diatas tempat tidur Bryan. "Lihat itu!"


Bryan meraih kertas yang melayang ke atas selimut yang menutup sebagian tubuhnya. Sebuah kertas tanda terima uang deposit untuk pembelian gaun pengantin dengan logo sebuah butik ternama di negara ini. Yang menarik adalah nama customer yang tertera di sana. Mrs. Anthony Peterson.


"Wow! Gonna married soon, huh? Congratulation!" Ucapnya santai, seolah Tiffany menikah dengan siapa pun bukan masalah besar baginya. Dan, memang sebenarnya tak masalah apakah Tiffany akan menikah atau tidak. Selama ini, they f-u-c-k-e-d not make love. Tak ada perasaan apa pun saat dia melakukannya bersama Tiffany.


Jari Tiff bergetar menunjuk kertas yang dipegang oleh Bryan. "Tapi itu bukan aku!" dengusnya kesal.


Alis Bryan bertautan. "Kalau bukan kamu, lalu siapa Mrs. Anthony Peterson?" tanyanya membetulkan posisi duduknya.


Tiffany mengangkat bahunya. "Kamu tahu kan kalau aku member VVIP di butik itu? Salah seorang pegawainya bertanya kepadaku kenapa tidak memberitahunya kalau aku akan menikah hari ini."


Tiffany tak menjawab pertanyaan Bryan, dia berjalan mondar mandir dan mengoceh tak tentu arah. Bryan mendengarkan luapan kekesalan Tiffany, kebanyakan tentang bagaimana perlakuan Anthony padanya akhir - akhir ini. Dan sebuah nama baru, Suster Eliana.


"Pertama! Aku jadi tahu kalau mereka diam - diam akan menikah hari ini! " Tiffany menggertakkan giginya kesal.


Wow! What happened? Bryan mulai tertarik dengan cerita soal pernikahan Toni. Dia memajukan tubuhnya dan sudah sepenuhnya sadar dari tidur, siap masuk ke dalam pembicaraan.


"Mereka? Anthony Peterson dengan siapa?" tanya Bryan.


"Siapa lagi kalau bukan dengan perawat murahan itu!" geram Tiffany. Dia membanting pan-tatnya ke tempat tidur Bryan.


"Yeah, katamu dia yang merawat Anthony waktu sakit dan sekarang jadi perawatnya Tuan Peterson. Pernikahan balas budi mungkin?" sahut Bryan asal. Dia masih tetap di posisinya, duduk. dengan nyaman dengan punggung menempel di headboard. Sementara Tiffany duduk di ujung kasur dengan emosi yang tak karuan.


Bryan benar. Memang ada banyak alasan orang untuk menikah, seperti balas budi, perjodohan, saling mencintai, atau mungkin ada alasan tersendir seperti pernikahan bisnis yang direncanakan oleh Tiffany dan keluarganya.


Tiffany menarik napas dalam - dalam. Hidungnya kembang kempis menahan kekesalan, "Memangnya kenapa kalau dia yang merawat Anthony? Apa itu bisa jadi alasan buat mengambil Anthony dari aku? Dia... , perawat itu melakukan manipulasi. Dia brainwash otak Anthony." Dia berhenti sejenak, "Lagipula, aku kan juga masih 'berobat' waktu itu."


"Tapi nyatanya kamu belum sembuh tuh, malah makin kecanduan. And I like it." sahut Bryan seenaknya. Dia menaik turunkan alisnya dengan wajah menggoda.


Tiffany memutar bola matanya.

__ADS_1


Ah, Bryan memang bukan lawan diskusi yang baik. Dia tak pernah membantu dalam menemukan solusi. He is only good in bed.


"Kedua! Security Peterson tidak memberiku akses masuk ke rumah mereka mulai pagi ini."


"What?"


"YA! Mereka bilang tidak ada yang bisa masuk tanpa ijin Anthony." Suara Tiffany meninggi dan menggebu - gebu. Dia melempar tatapan tajam ke Bryan, seolah laki - laki itu yang bersalah atas semua ini. "Sialnya, aku tidak punya nomer Anthony sejak dia kecelakaan." keluh Tiffany, kali ini tersirat nada kesal bercampur putus asa.


"By the way, bukannya kamu dulu happy waktu dia menghilang? Dan kamu juga kayanya lega waktu tahu dia amnesia?" Bryan sedikit bingung dengan alur cerita Tiffany.


Dulu saat mereka ketahuan oleh Toni, Tiffany memang panik dan support semua yang dilakukan Bryan. Dan saat Toni menghilang, dia justru semakin liar dan tak terlihat peduli pada nasib calon suaminya. Seolah berharap, calon suaminya tak akan pernah kembali.


Tiffany melotot. "Papa mengancam akan mendepakku, saham - saham yang aku pegang bakal melayang. Dan aku masih butuh prestige supaya bisa terus hidup di kalangan kita."


"What a life." Komentar Bryan, diam - diam dia merasa kasihan pada Tiffany.


Dia paham bagaimana anak - anak orang kaya pun masih harus sikut menyikut untuk mempertahankan posisi mereka di keluarga. Terlebih lagi keluarga Wilson yang menganggap wanita sebagai manusia nomer dua. Apabila tidak membawa keuntungan, maka bersiaplah untuk diabaikan. Tipe keluarga yang menjadikan uang sebagai ikatan persaudaraan.


Salah satu dari beberapa faktor penyebab Tiffany memiliki kehidupan yang bebas. Dia memanfaatkan keindahan tubuh yang diberikan Tuhan untuk memanipulasi kaum pria dan mendapatkan apa yang diinginkannya.


"O'ya, satu lagi. Kalau aku tak mempunyai pengaruh, maka aku tak akan bisa membantumu dalam 'proyek bawah tanah'. bisik Tiffany. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Bryan.


"OKE!" Balas Bryan sambil mengangkat tanganya, sedikit banyak dia mulai bisa membaca apa tujuan wanita ini datang ke apartment-nya. "What should I do? Kamu mau suruh aku melakukan apa?"


"Pisahkan Eliana dengan Anthony!"


"What?


"Kamu punya orang - orang yang bisa melenyapkan jejak Anthony, dan sekarang aku mau kamu lenyapkan juga Eliana." Ucap Tiffany tanpa perasaan.


"Tadi bukannya kamu bilang pernikahan mereka hari ini?" Bryan melirik jam dinding berdesain minimalis warna abu - abu, mengkalkulasi waktu yang dibutuhkan menculik Eliana.


"Makanya aku suruh kamu bangun. Do it now!" perintah Tiffany.


"Cih... , kamu pikir mudah menembus keamanan Peterson? Ini bukan film thriller atau drama penculikan dengan cerita si ban-dit tahu - tahu menyerbu dan menculik seseorang."


"Aku tak peduli. Kamu biasa melakukan hal - hal seperti itu kan? It should be easy peasy for you. Bagiku, kalau aku tidak bisa mendapatkan Anthony maka perawat itu juga tidak."

__ADS_1


Bryan bergidik ngeri.


"Hey, kamu tahu sendiri kalau aku tak sehebat itu. Pengaruhku tak ada apa - apanya dibanding Peterson. Kenapa kamu tak minta bantuan pada Alex saja?" Bryan mencoba mendebat Tiffany, meski dirinya tahu kalau akan sia - sia.


Seorang Tiffany yang ambisius kalau sudah mempunyai keinginan, dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.


"Dia tak mengangkat teleponku dan tak membalas pesanku." dengus Tiffany. "Lagipula, sepertinya dia sudah akur dengan kakaknya." Tiffany mengingat - ingat bagaimana interaksi Tony dan Alex saat barbeque. Kemudian Tiffany menceritakan bagaimana acara barbeque, termasuk saat Toni menolaknya dan lebih membela Eliana.


Argh! Tiffany semakin kesal.


Bryan terbahak. "Dua orang tuan muda Peterson meninggalkanmu, huh?"


Ugh! Bryan menyenggol harga diri Tiffany.


"Oh, shut up Bryan!"


Tiffany bangkit lalu berdiri tegak di hadapan Bryan. "Aku masih bisa menggagalkan proyekmu kerja samamu dengan Wilson. Jangan lupa aku juga punya bukti skandal-mu dengan istri anggota parlemen." tegasnya sambil menggerakkan tangannya di depan leher, seperti gerakan memotong.


Sial!


"Baiklah! Ceritakan rencanamu padaku." jawab Bryan. Dia berdiri dan mengambil pakaiannya, bersiap mengatur rencana bersama Tiffany.


Note



F-u-c-k-e-d not make love \= sekedar melakukan hubungan tapi tak melibatkan perasaan.


(Sorry, ga bisa terjemahin dgn tepat. Kurang lebih begitu.)


What a life \= hidup yang luar biasa


Simbiosis mutualisme \= saling menguntungkan


Easy peasy \= mudah sekali


__ADS_1


__ADS_2