
"Aku tak peduli, John. Umumkan pembatalan pernikahan, bukan ditunda. Tapi, batal!" Toni memberi penekanan pada kata terakhir.
"Tuan, tolong dipikirkan kembali." kata John memelas. Semuanya demi kebaikan kalian berdua juga, supaya tak ada kesulitan di masa depan. Tuan Peterson sudah memerintah saya untuk mempersiapkan segalanya. Tapi prosesnya butuh waktu. Kita tunda dulu pernikahannya dengan alasan kesehatan."
"Jangan begitu, Toni. Berpikirlah lebih tenang." Seperti biasa, Eliana mencoba menenangkan Toni meski hatinya pun terasa pedih.
"Tolong beri saya waktu dua minggu. Bagaimana?" John kembali memohon. "Tuan coba pikirkan nasib ribuan karyawan dan nilai investasi yang akan di dapat. Saya berjanji, akan mencari jalan untuk membatalkan pernikahan kalian." Sorot mata John yang lelah dan pasrah, membuat Eliana semakin di dera rasa bersalah.
Mendengar kata karyawan, jiwa bussinesman Toni meronta. Dia tahu ada tanggung jawab besar di tangannya. Otaknya mendadak buntu. Mulutnya terkunci. Dan hanya bisa memaki dalam hati. Sialan. Sialan. Sialaaaaaaann!!! Why his love is so d-a-m-n hard!
(Kenapa cintanya sangat sulit.)
Eliana menarik napasnya, pelan dan dalam. Dia bangkit berdiri, memeluk kedua lengannya dengan tangan bergetar. Kakinya agak goyah saat berjalan menyeberangi ruangan, menuju jendela besar yang menghadap taman samping.
Dia mengalihkan pandangannya pada pohon - pohon. Diluar sana langit sudah gelap. Gerbang mawar kesukaannya tampak suram dari ruangan ini. Lampu taman yang terpasang pun tak berhasil membuatnya indah seperti biasanya.
Dua buah lengan merangkul bahunya, melingkupinya dengan kehangatan tubuh Toni. Eliana memegang lengan Toni yang melingkar di bahu dan lehernya.
"May I go?" tanya Eliana pelan. Bibirnya bergetar, matanya memanas. Sekuat tenaga Eliana menahan emosinya saat sebutir air mata lolos dari sudut matanya.
"Maafkan, aku." bisik Toni. Merasa tak berdaya. Dia punya uang dan kekuasaan tapi ada beban berat bersamanya.
Toni menyurukkan kepalanya di lekukan bahu Eliana, menghirup dalam - dalam aroma tubuh wanita yang dicintainya. It calm him down.
"You can't leave me alone."
(Membuatnya tenang. Kamu tak bisa meninggalkanku sendiri.)
John hanya bisa memandang Tuan mudanya yang terpaksa mengalah demi kepentingan perusahaan. Diam - diam John meninggalkan ruangan. Tangannya terkepal. Semoga dia bisa segera menemukan solusi untuk Tuan Mudanya.
***
__ADS_1
Tiffany tahu kalau kebanyakan orang - orang di sekelilingnya bukanlah orang baik. Mereka selalu mengambil keuntungan darinya. Atau setidaknya, hubungannya dengan mereka adalah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan.
Dia juga menyadari bahwa lingkungan memberi pengaruh pada dirinya, termasuk pola pikir dan kebiasaan. Namun sayangnya, Tiffany kesulitan untuk memilih lingkungan yang baik untuk dirinya sendiri. Sekali lagi dia membiarkan dirinya masuk ke pergaulan yang salah.
Sebuah pesta topeng yang diadakan oleh salah satu kenalannya di sebuah private club menjadi pilihannya untuk pelampiasan kemarahannya pada Toni. Hanya tamu undangan dan yang sudah konfirmasi datang, yang bisa masuk ke dalam dan menikmati pesta.
Tiffany tersenyum lebar, dia duduk di salah satu sofa yang berbentuk U dengan meja bundar di depannya. Di sebelah kanan ada sepasang kekasih berlogat asing. Tak jauh dari mejanya ada seorang wanita berambut kuning dan berpakaian se-xy. Sepertinya acara ini dihadiri berbagai kalangan atas dari dalam dan luar negeri.
Seorang pria berbadan tegap dan berambut hitam menyapanya. Tubuhnya tinggi seperti seorang model. Mungkin saja dia orang Asia, Tiffany tak bisa menebaknya karena semua mengenakan topeng.
"Hey." sapa laki - laki Asia itu. "Can I ask your name?"
GOT YOU!
Diam - diam Tiffany mengamati semua gerak gerik orang di sekitarnya. Acara pesta topeng ini membuat kesan misterius. Namun diantara kemisteriusan ini, Tiffany tahu kalau laki - laki yang menyapanya tadi sudah pasti tergoda oleh dirinya. Beberapa kali dia memergoki pria itu mencuri pandang, dan ketika terpergok maka dia akan tersenyum. Mencari perhatian.
Tiffany bisa melihat rahang kokoh yang dihiasi bulu halus, dibawah topeng yang hanya menutupi separuh wajah pria tersebut. Mendadak saja dirinya tergoda untuk melarikan bibirnya di sepanjang rahang kotak tersebut.
"Vania." jawab Tiffany, sambil memandang laki - laki itu lekat - lekat, menilai penampilannya. She is in the mood.
"What's your name?" tanya Tiffany. Dia mengulurkan tangan pada laki - laki tampan itu.
"Norman." balas laki - laki itu percaya diri, menempelkan mulutnya ke punggung tangan putih nan mulus milik Tiffany.
'See! Semudah itu memikat seorang laki - laki'
Kemudian laki - laki itu mengeluarkan kartu namanya. WOW! Dia salah satu konglomerat di Asia Tenggara.
"Sendiri, huh?" tanya Norman.
"Yeah, aku mendapat undangan dari temanku, Gerald."
__ADS_1
"Oh, he is one of my close friends. Aku kemari karena dia bilang banyak keindahan di negara ini, terutama wanitanya." ucapnya sambil mengerlingkan mata nakal.
(Dia salah satu teman dekatku.)
Tring.
Mereka berdua tertawa, diiringi dentingan gelas kaca. Setelah itu pembicaraan mengalir dengan lancar, mereka tak ragu untuk saling melempar rayuan. Tiff dengan senang hati menanggapinya. Dia mencari cinta, meski hanya satu malam saja.
Tiffany mengikuti aliran permainan teman barunya, dia menerima uluran tangan Norman dan mengikutinya menuju lantai dansa. Dirinya membiarkan Norman memandunya dalam sebuah slow dance yang in-tim. Tak ada jarak diantara mereka.
Dia bisa merasakan kerasnya otot - otot Norman dari balik setelan jas mahal yang nampaknya dipesan secara khusus untuk pria ini.
10 untuk Norman. Dia ganteng, konglomerat, teman yang asyik untuk mengobrol, selera fashionnya patut diacungi jempol, dan yang paling penting adalah... his body!
'Lupakan Anthony, let's go for fun!'
Musik mengalun selama kurang lebih lima menit, selama itu pula tubuh mereka saling menempel, bergesekan, saling menyentuh dan membangkitkan sesuatu melalui gerakan - gerakan dansa yang sen--sual.
"Why don't we move to somewhere private?" bisik Tiffany.
(Kenapa kita tidak pergi ke tempat yang private?)
"I know the place." balas Norman. Dia senang Tiffany bisa menangkap keinginannya yang terpendan dan menyambut dengan terbuka. Mereka satu frekuensi.
(Aku tahu tempatnya.)
"Oh, sure. Let'a go then." Tiffany menggigit bibir bawahnya, se-xy.
"Thank, God. I brought con---dom tonight." sahut Norman cepat, tak mau kalah.
(Saya membawa kon--dom malam ini.)
__ADS_1
Dia merengkuh pinggang Tiffany dan tanpa malu - malu menggandengnya keluar dari acara. Dia membawa Tiffany ke sebuah kamar mewah di sebuah bangunan hotel mahal di dekat situ.
Bersambung ya....