My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 47 -- Tiffany's Anger


__ADS_3

Walaupun kelihatannya Tiffany sedang asyik berbicara tentang prospek kerja samanya, namun sebenarnya dia memperhatikan setiap gerak gerik Toni dan Eliana. Dari sudut matanya, dia bisa melihat Toni menggenggam dan menggandeng Eliana menuju meja makan yang agak jauh dari mejanya.


Tak bisa tidak, perhatiannya teralih pada Eliana yang sedang makan dengan tenang bersebelahan dengan Toni. Sementara Alex duduk di seberang mereka. Toni duduk sedikit menyerong ke arah Eliana, matanya lekat menatap wanita yang duduk di sebelahnya.


Pandangan mata seorang laki - laki yang sedang jatuh cinta dan mengagumi perempuan yang disampingnya. Mendadak Tiffany cemburu. Mereka memang dekat selama ini, tapi Toni tak pernah menatapnya seperti dia menatap Eliana. She wanted it. Bahkan pria - pria yang menghabiskan malam bersamanya pun tak pernah ada yang memandangnya seperti itu.


Apa - apaan ini? Anthony tak sungkan - sungkan menunjukkan kekagumannya terhadap perawat itu. Dirinya jelas - jelas seorang feminis, business woman, smart.


Lalu siapa Eliana?


Dia hanya seorang perawat, tak ada kelebihan apa pun. Kenapa dia begitu istimewa di dalam keluarga Peterson ini? Bahkan Alex, tak bisa menyembunyikan perasaannya, berkali - kali matanya melirik pada Eliana.


Pertanyaan itu melayang di benak Tiffany. Membuatnya mempertanyakan ada hubungan apa antara Toni dan Eliana. Dan kenapa Grandpa terlihat tenang saat mengetahui kedua cucunya seperti tertarik pada wanita yang menurutnya bukan siapa - siapa?


*


"Toni, sebaiknya kamu gabung sama mereka." ucap Eliana. Ada perasaan tak enak saat tak sengaja matanya bertemu dengan mata Tiffany. Eliana maklum, siapa yang tak marah kalau laki - laki yang dicintainya malah dekat dengan wanita lain.


"Bergabung dengan mereka dan meninggalkanmu berdua dengannya?" Toni melirik sinis kearah Alex.


Alex mencebik. Dia mengalihkan perhatiannya dari Toni dan Eliana dengan mencium wangi chamomile tea di cangkirnya. Teh yang sering dikonsumsi orang karena aromanya yang menenangkan, dan bisa membantu tidur bahkan mengatasi masalah pencernaan.


"Jangan terlalu kasar pada wanita, Toni. Aku merasa kasihan pada Tiffany. I feel her." nasehat Eliana. Wajahnya sendu, menunjukkan simpatinya pada Tiffany.


Toni menghembuskan napas, mau dijelaskan bagaimana pun tak akan ada yang mengerti kenapa dia tiba - tiba membenci Tiffany karena dia sendiri pun tak mengerti.


Dia malah menggenggam tangan Eliana. "Kamu kok baik banget sih jadi orang?" Kalimat bermakna ganda, pujian sekaligus keluhan. Toni memandang tangan mereka yang bertautan diatas meja. Rasanya benar - benar pas.


Tak ingin menarik perhatian semua orang, terutama Tiffany, Eliana berusaha menarik tangannya. Tapi Toni tak mau melepasnya. Dia semakin erat menggenggam tangan Eliana. Melingkupi tangan kanan Eliana dengan tangannya yang besar, lalu mengecup punggung tangan wanitanya.


Eliana terbelalak ngeri. Dia dapat merasakan tatapan membunuh dari meja di seberang sana. Eliana memberi kode dengan matanya kepada Toni, tapi Toni tak peduli. Dia hanya melihat Eliana, seorang. Dikecupnya lagi jari - jari Eliana satu per satu. Jari - jarinya polos, tak ada satu pun cincin yang melingkar disana.


"Bisakah aku memasangkan cincin di jari manis ini?" celetuk Toni, menyuarakan pikirannya.


Alex menutup matanya, tobat. Kakak laki - lakinya ini benar - benar tak tahu diri dan tak tahu tempat serta tak peduli perasaan orang lain. Toni tak peduli ada dua hati yang patah karenanya. Dia dan Tiffany.

__ADS_1


BRAKKK!


Toni, Alex dan Eliana menoleh kaget.


Tapi, yang paling kaget adalah Eliana. Belum selesai shock karena ucapan spontan Toni soal cincin. Kini dia sudah dihadapkan dengan wajah seorang wanita yang ekspresinya lebih mirip dengan singa betina. Siap menerkam siapa pun yang mengganggu anak - anaknya. Dalam kasus ini kekasihnya.


Tiffany berdiri di ujung meja sambil berkacak pinggang. "STOP DOING THIS! Apa yang terjadi sebenarnya?" Pandangannya menghunus Eliana, tataja "Kamu bilang kamu adalah perawat Grandpa. Tapi yang aku lihat tidak begitu. Kamu merayu para pria di rumah ini. Tak cukup hanya Toni, sepertinya Alex juga tertarik padamu."


Tiffany berhenti sejenak untuk mengatur napasnya, dadanya naik turun karena emosi. "It's not only about a jealousy but territorial." geram Tiffany, meluapkan emosinya.


Eliana diam dan menunduk, tanpa sadar tangannya mere-mas ujung pakaiannya. Inilah resiko mencintai milik orang lain. Matanya terasa memanas, merasa diri hina dan tak berharga. Dia tak ada bedanya dengan pe-la-kor.


Toni berpindah tempat, berdiri di sebelah Eliana. Dia yang akan menanggung semuanya


"Saya minta maaf, Nona Tiffany." Lirih Eliana. Perasaan bersalah melingkupinya.


"Tak perlu minta maaf, Eliana. Kamu tidak bersalah." ucap Toni, matanya menatap tajam pada Tiffany.


"Tak perlu minta maaf, Eliana. Kamu tidak bersalah." ucap Toni. Dia berkata lembut pada Eliana tapi matanya menatap tajam pada Tiffany. Membuat dada Tiffany semakin bergemuruh.


'TONI!'


Panggilan itu membuat bara di dalam hati Tiffany semakin menyala. Hanya orang dekat yang diijinkan Anthony menggunakan panggilan itu. "Kalau dengan minta maaf saja masalah sudah selesai, apa gunanya kantor polisi?" dengus Tiffany kesal luar biasa.


Hampir saja tangannya terulur untuk menjambak Eliana, tapi sisa - sisa kesadarannya mengingatkan kalau ada Anthony di dekat Eliana. Usahanya untuk menyakiti Eliana pasti akan sia - sia karena Toni akan menghalanginya.


Tiffany menoleh kepada Toni. "Aku tunanganmu, Honey. Jadi kita akan menikah!"


"Tidak akan ada pernikahan. Aku sudah melupakanmu, tak ada lagi perasaan tersisa selain benci." tukas Toni. Dia berdiri sedikit di depan Eliana, bersiap menghadang badai. Jari - jarinya tak mau melepaskan tautannya di jari Eliana.


DEG!


Baik Eliana maupun Tiffany merasakan jantungnya dihantam sebuah palu raksasa. Sesaat Tiffany membuka mulutnya, tapi langsung ditutupnya kembali. Kata - katanya menguap begitu saja, pikirannya blank.


Dia tak patah hati, hanya saja merasa harga dirinya diinjak - injak. Tak ada pria yang tak menginginkannya, tapi Anthony membuangnya hanya demi seorang perawat.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan padanya Toni?" bisik Eliana sedih. Air mata mulai meleleh, dia tak tega melihat raut wajah Tifffany, yang menurutnya, terlihat sangat kecewa.


"Kalau kamu memang wanita baik - baik, Suster Eliana. Seharusnya kamu tak mendekati atau mengambil milik orang lain."


Sekali lagi sebuah palu menghantam dada Eliana. Tepat di ulu hatinya. Perasaannya hancur. Dia telah merusak impian indah seorang wanita. Air mata semakin membanjiri wajahnya.


"Oh, shut up your mouth." sergah Toni cepat pada Tiffany. Dia khawatir Eliana bertindak impulsive. Toni sadar betul kalau Eliana akan merelakan dirinya kembali kepada Tiffany.


"Jangan begitu, Toni. Dia benar, seharusnya kalian sudah menikah."


"Eliana, please!" Toni memohon.


"Maafkan aku, seharusnya aku tak disini."


"STOP! Aku tak mau mendengar apa pun!" cegah Toni frustasi. Dia tak mau Eliana mengucapkan sesuatu yang akan mereka sesali kemudian.


"Aku tak apa - apa. Kembalilah ke Nona ---"


"Hmph!"


Toni menutup mulut Eliana dengan mulutnya. Napas Eliana tercekat, Toni shut her up with a kiss.


Bersambung ya....


Note



Stop doing this : berhenti melakukan ini


That's what a man gotta do : Inilah yang akah dilakukan seorang pria.


It's not only about a jealousy but territorial : ini bukan hanya tentang cemburu tapi teritorial.


__ADS_1


__ADS_2