My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine


__ADS_3

Toni merasakan suasana di lingkungan apartment sedikit berbeda dari sebelumnya. Beberapa orang terlihat bergerombol dan berbisik - bisik saat bertemu dengannya di lobby apartment.


"Eh? Hehe... selamat malam, Toni." ucap salah seorang dari mereka saat Toni hendak berjalan melewati mereka. Nadanya gugup, sikut mereka saling menyenggol satu sama lain.


"Malam." jawab Toni sambil memperlambat langkahnya. Keningnya berkerut melihat yang tingkah mereka yang aneh. Toni bisa merasakan sorot mata yang tak biasa saat mereka melihat dirinya.


"Pssst... , ayo." bisik yang lainnya. Dia tersenyum canggung sambil menggamit lengan temannya.


"Kami permisi, Toni." sahut yang lain.


"Silahkan." Toni mengangguk sopan sambil tersenyum. Dan rombongan itu buru - buru pergi, sambil terlihat saling berbisik satu sama lain.


'What's wrong?'


Perasaan tak enak menyelusup di hati Toni. Pengalaman dioper dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain, ditolak dan dihina, membuat Toni sangat peka dengan sikap - sikap seperti ini.


Toni menghela napas. Apa boleh buat, dirinya toh tak tahu apa yang dibicarakan mereka. Dan mereka tak melakukan apa - apa padanya. Nothing to do with them.


Lagipula hari sudah malam, Eliana pasti sudah menunggunya. Setiap hari jarak sekian mill dari Rocktown ke Lake Wood ditempuh oleh Toni demi bisa melihat Eliana meski hanya sekejap. Setidaknya dia bisa melihat wanita yang dicintainya pagi hari sebelum pergi dan malam sebelum tidur.


Hmmm... suasana sunyi menyambutnya saat masuk ke apartment. Mungkin Eliana sudah tidur. Toni berusaha melakukan sesuatu tanpa bersuara, takut membangunkan Eliana.


KREK!


Ups! Suara paper bag terasa begitu nyaring ditengah kesunyian. Toni menoleh ke pintu kamar Eliana. Tak ada tanda - tanda Eliana akan keluar. Bahu Toni meluruh, ternyata Eliana benar - benar sudah tidur.


Baiklah, simpan saja kue ini di lemari es. Dan besok dia akan menyajikannya untuk sarapan Eliana. Baru saja Toni membalikkan badan.


"Sudah pulang Toni?"


Wow! Suara yang dirindukannya akhirnya terdengar. Hati Toni serasa melayang saat melihat senyum lembut Eliana.


"Hey, Sayang."


Toni tersenyum lebar, hatinya selalu lega dan bahagia bercampur menjadi satu setiap kali bertemu kembali dengan Eliana. Dia membatalkan niatnya untuk memasukkan paper bag ke dalam lemari es.


"Sit down, please." Toni menunjuk kursi makan dengan dagunya, dengan cekatan tangannya mengeluarkan sesuatu dari paper bag.


"Apa itu?" tanya Eliana.


"Boss memberiku cake enak. Dia bilang aku boleh membawanya pulang untukmu. Tunggu sebentar, aku potongkan untukmu. Kamu pasti menyukainya." ucap Toni bersemangat.


Harapannya Eliana akan menyukai makanan yang dibawanya. Sayangnya, kenyataan sering berbeda dengan apa yang diharapkan. Toni bisa melihat Eliana tertegun. Ada kilatan khawatir di manik mata wanitanya. Dan sepertinya, Eliana kurang bersemangat saat menghampirinya.

__ADS_1


Toni memiringkan wajahnya, mungkinkah Eliana sudah mengantuk? Dia melirik kearah jam dinding, baru jam delapan lewat. Hari ini dia menyelesaikan semuanya lebih awal karena Grandpa merasa lelah dan ingin segera beristirahat.


'Hmm... ada apa dengan Eliana?'


Sudahlah, toh Eliana sudah terlanjur keluar dari kamarnya dan sekarang berada di hadapan Toni. Tak mau overthinking, Toni membalikkan tubuhnya, bergegas memotong cheese cake lalu meletakkannya di atas piring kecil. Dia tak sabar ingin duduk dan berbincang dengan Eliana.


Jadwal terapi yang ketat dan target belajar yang diberikan John serta Grandpa sudah cukup membuatnya tertekan. Lebih baik sekarang dia bersantai bersama wanita kesayangannya.


"Silahkan, Eliana sayang."


CUP!


Toni mengecup kening Eliana sebagai ungkapan sayang dan rindunya pada wanita itu.


GOSH!


Hati Toni mencelos. Apa yang terjadi dengan Eliana? Harapan untuk melihat Eliana tersenyum sambil menikmati cheese cake seketika sirna.


Senyum di wajah Eliana memudar, berganti dengan raut wajah yang pias dan tangannya sedikit bergetar. Matanya terbelalak seolah melihat sesuatu yang mengerikan.


"Toni... " lirih wanita itu.


"Ya?"


"Toni... "


"Ya?"


'OH, s-h-i-t my watch!' umpat Toni dalam hati.


Saat itu juga, Toni menyadari kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Eliana. Meski mulutnya tersenyum, tapi mata Eliana tak bisa menyiratkan rasa khawatir. Dan wajah yang kuyu itu bukan karena mengantuk tapi ada sesuatu yang sedang dipikirkan.


Toni tidak bodoh, dia bisa membaca situasi. Siapa lagi yang menjadi beban pikiran Eliana? Sudah tentu, dirinya. Satu - satunya orang yang telah membuat dunia Eliana jungkir balik akhir - akhir ini. Tangan Toni mengepal dan rahangnya mengeras. Benci! Dia benci situasi yang tak menguntungkan ini.


"Toni.... "


Suara lirih Eliana menyentak Toni kembali ke dunia nyata, menggedor nuraninya dan sisi melankolisnya memberontak. Perasaan bersalah menyergap Toni, sesak.


"Kamu kenapa, Eliana?" tanya Toni akhirnya


Dia menyerah, come what may. Toni bertekad apa pun yang akan ditanyakan oleh Eliana, akan dijawabnya dengan jujur. Semua! Tak akan ada lagi yang ditutupinya.


Eliana menggeleng, dia nampak ingin berbicara tapi sepertinya sulit untuk memulai.

__ADS_1


Oh, ya Tuhan. Toni menghembuskan napasnya dengan berat, lalu menuang air ke dalam gelas.


"Minumlah dulu." ujar Toni.


Sekarang yang harus dilakukannya adalah membuat Eliana tenang dan nyaman terlebih dahulu. Let's talk then.


Tanpa bicara, berkali - kali Toni mengusap punggun Eliana lembut. Berhasil, wanita itu tampak lebih relax.


'Come on, Toni. It could be the right time to talk. You're not a coward, right?'


(Ayo Toni. Mungkin ini saatnya untuk berbicara. Kamu bukan pengecut kan?)


"Ada apa? Kamu tak suka kuenya?" tanya Toni. Dia memilih pertanyaan ringan untuk membuka percakapan sekaligus memancing Eliana untuk berbicara.


"Aku menunggumu dari tadi, tapi kamu tak datang - datang sampai aku kelaparan."


Hah? Nada suara Eliana terdengar manja, bibirnya mencebik. Lucu dan menggemaskan. Kemana menghilangnya ekspresi khawatir dan wajah pucat pasi tadi? Toni benar - benar heran.


Sreett!


Ups!


Piring cheese cake sudah berpindah dari meja ke atas telapak tangan Toni yang besar.


"Ayolah... aku mau makan bersamamu, Toni." kali ini Eliana berkata sambil menggoyang lengan Toni yang kekar. Gayanya seperti anak kecil yang sedang merengek, jarang - jarang Eliana bertingkah seperti ini.


Toni kembali berada di persimpangan, tekadnya untuk berkata jujur kembali memudar seiring dengan kembalinya sikap Eliana. Terlihat jelas kalau Eliana tak mau membahas apa yang terjadi dengan dirinya barusan.


'Setiap hari masa lalu yang tidak dapat kuingat itu membuatku khawatir akan kehilangan dirimu, Eliana. Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk jujur.' ~Toni~


Toni tersenyum. "Baiklah, apa kamu mau disuapi sekalian?"


Eliana menganggukkan kepalanya.


Dan malam ini, mereka berdua sama - sama memutuskan untuk bersikap seolah semua baik - baik saja. Biarlah semua seperti ini, meski pada akhirnya mungkin mereka akan sama - sama patah hati.


Bersambung ya....


Note:



Let's talk then \= Kemudian baru bicara.

__ADS_1


Come what may \= Apapun yang terjadi.



__ADS_2