
Ugh!
Toni mengerutkan wajahnya, rasa sakit itu muncul lagi. Beberapa hari ini, dirinya memang sering mengalami hal seperti ini.
Kepalanya terasa berat, wajah - wajah familiar muncul dengan cepat lalu menghilang. Potongan - potongan kejadian kembali berkelebatan membentuk rangkaian peristiwa. Lebih cepat dan semakin intense dari yang sudah - sudah.
Keringat mulai bermunculan di dahi Toni.
"Toni, Eliana datang dan dia--" Irma, terbelalak, tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Apa kamu baik - baik saja Toni?" tanyanya khawatir. Wajah barista andalan Pak Boss terlihat sedikit pucat.
Toni hanya memberi kode dengan mengacungkan jempolnya. Irma mendekat dan melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong tadi. "Eliana tadi kesini, dan berpesan kalau dia ada urusan jadi tak bisa menunggumu."
Toni mengangguk. "Thanks."
Ya ampun, serangan itu datang kembali. Kepala Toni mulai berdenyut, semakin lama semakin sakit. Lututnya terasa lemas. Tertatih - tatih Toni berusaha mencapai kursi terdekat. Dia harus segera duduk, atau collapse.
'Relax, Toni. Jangan berpikir terlalu berat, pelan - pelan saja.' Toni memutar ulang kata - kata Eliana di dalam otaknya sambil memejamkan mata. Mencoba mengikuti semua instruksi yang pernah diajarkan oleh Eliana.
Irma mengangkat alisnya. Wah, benar dugaannya Toni sepertinya sakit.
"Hey, tadi kamu bilang tak apa - apa. Bagaimana ini?" tanya Irma dengan nada suara lebih tinggi. Dia mulai panik melihat teman kerjanya yang biasa gagah nampak duduk tak berdaya. Beberapa rekan lainnya mulai melongokkan kepalanya.
"Toni mana pesanan meja nomer enam dan delapan?"
"Dia sakit lagi." sahut Irma.
"Bukankah tadi adiknya kesini? Kemana dia sekarang?"
"Owh." Irma seperti disadarkan akan sesuatu. "Tunggu! Aku akan mengejar dan menyuruh Eliana kembali kesini. Dia pasti belum jauh."
'Eliana?'
NO! Toni tak mau menyusahkan Eliana lagi, dirinya sudah terlalu banyak merepotkan Eliana.
Eh?
Merasakan ada sesuatu menahannya, Irma menoleh. Tangan Toni menarik lengan baju Irma. Gadis itu merasa Toni bukan sekedar menarik lengannya tapi lebih seperti mencengkeram. Mungkin saja karena menahan rasa sakitnya.
"Jangan! Sebentar lagi pasti hilang sakitnya." ucap Toni dengan suara lebih jelas.
__ADS_1
Untuk kali ini saja, Toni tak ingin membuat Eliana khawatir. Dirinya sudah terlalu banyak menyusahkan wanita baik itu, sakit sedikit saja pasti bisa ditahannya.
"Ha? Tapi, Eliana harus tahu."
"Tolong bilang ke Boss, aku ke ruang istirahat dan berbaring disana sebentar. Tolong jangan beritahu Eliana." ucap Toni lagi, dia memberi tekanan pada kalimat terakhirnya. Sorot matanya juga menunjukkan kalau yang dikatakannya adalah sebuah perintah. Bukan permintaan.
Irma tertegun. "Baiklah, Toni." jawabnya patuh.
Ugh! Sakit itu kembali menyerang. Toni meringis, seperti ada yang menarik syaraf - syaraf di kepalanya.
"Hey, kalian. Jangan bengong saja. Cepat bantu dia." perintah Irma pada teman - temannya.
Toni merasa seperti terseret arus tapi anehnya dia tak ada di laut atau sungai mana pun. Dia berada di suatu tempat yang terasa begitu familiar di ingatannya. Ada beberapa orang menghampirinya, tapi dirinya begitu ingin menjauh.
'Dimana Eliana? Kenapa dia tak ada disini?'
Toni gelisah, matanya dengan liar melihat ke segala arah. Tidak ada Eliana dimana pun.
Orang - orang itu kian mendekat. Tidak! Dia hanya mau Eliana. Toni berlari sekuat tenaga tapi tubuhnya tak bergerak. Stuck! Sekencang apa pun dia berlari, sekeras apa pun dia berusaha. Dia tak pergi kemana pun.
"Toni! Toni!" suara - suara itu memanggilnya. Nada mereka begitu mendesak dan panik.
Toni tak mau menoleh. Bukan, bukan mereka yang dia inginkan.
Hah!?
Toni tergeragap dan langsung duduk dengan sekali sentakan. Jantungnya berdegup kencang karena kaget dan shock. Setelah beberapa saat, dia baru menyadari kalau beberapa rekan kerjanya berdiri di dekat tempat tidurnya dengan wajah cemas.
'Oh, syukurlah. Aku masih mengingat siapa mereka.'
Toni menggelengkan kepala. "Aku baik - baik saja." jawabnya sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
Seseorang menyodorkan segelas air minum, dan Toni menerima tanpa melihat wajahnya. "Thanks." ucapnya, lalu meneguk cairan di dalam gelas itu dengan cepat. Tenggorokannya terasa kering, dan air ini sangat membantunya.
"Aku sudah bilang Boss, dan penggantimu akan datang lima menit lagi. Beristirahatlah disini dulu." kata temannya sambil menepuk bahu Toni. Kemudian mereka kembali ke pekerjaan masing - masing.
Toni mengangguk dan terduduk lesu di tempatnya. Rasanya dia telah tertidur lama sekali. Begitu sadar tadi, dia sempat merasa tak tahu berada dimana dan bersama siapa saat ini.
Dan perasaan pertama yang dirasakan adalah ... ehm, dia merindukan Eliana dengan senyum lembutnya. Perasaan itu menyeruak begitu saja, wajah cantik dengan tatapan penuh kasih Eliana terus menari - nari di hadapannya.
'Every little thing that you've said and done, feels like it's deep within me. I don't want us to be just a history. Can we make some more memories?' ~ Toni ~
__ADS_1
Setiap hal kecil yang kamu ucapkan dan lakukan, terasa mengalir masuk dan meresap ke dalam diriku. Aku tak ingin kita hanya menjadi sebuah sejarah. Bisakah kita membuat lebih banyak kenangan? ~ Toni ~
Ah, S--H--I--T!
'Bulan apa, tanggal berapa dan hari apa ini? Aku melupakan RUPS yang harus aku hadiri.'
(Rapat Umum Pemegang Saham.)
Hal kedua yang muncul dalam pikiran Toni adalah pertemuan dengan para pemegang saham. Pria itu mengepalkan kedua tangannya, menyadari kalau telah melewatkan beberapa hal penting yang harus dilakukannya.
•
Toni pulang disambut oleh pintu apartment yang sedikit terbuka, lampu ruangan yang belum menyala. Sudut matanya menangkap secercah sinar redup dari celah pintu kamar Eliana, yang juga tak tertutup rapat. Toni menyalakan seluruh lampu ruangan.
Antara rindu dan khawatir, perlahan Toni masuk ke kamar Eliana. Ternyata, orang yang dirindukannya sudah tidur.
Masih tak ingin jauh dari Eliana, Toni berlama - lama menatap wajah cantik yang tertidur itu.
Hmm, kelopak matanya yang terpejam itu sedikit bergerak. Meski redup, Toni tidak mungkin salah melihat dari jarak sedekat ini.
Toni berinisiatif menempelkan telapak tangannya ke Eliana, bulu mata Eliana juga ikut bergerak. Toni kembali mengamatinya. Ehm, iya. Kelopak matanya memang terpejam tapi ada sedikit getaran di kelopak matanya seperti sengaja memejamkan mata. Wanita itu tidak tidur.
"Kamu sakit?" tanya Toni.
Eliana menggeleng.
"Eliana, aku buatkan makan malam. Ya?"
Jawaban Eliana sama, dia menggelengkan kepala.
Toni memiringkan kepalanya, ada apa dengan Eliana hari ini. Wanita itu tak menunggunya di coffee shop seperti biasa, dia langsung tidur.
Eits! Ada setetes bening meluncur di pipi mulus wanita yang dicintainya.
"Kamu menangis?" Tanya Toni, berharap Eliana membagi sedikit beban kepadanya.
"Aku cuma lelah, mau tidur saja."
Toni menghela napas dan memandang sedih kepada Eliana. Biarlah besok saja dia menceritakan soal apa yang terjadi di coffee shop hari ini. Toni mengusap air mata Eliana dan menutupi tubuh wanita itu dengan selimut.
Masih ada besok untuknya berbicara dengan Eliana.
__ADS_1
"Have a nice dream."
Bersambung ya....