
Ucapan Eliana yang lembut dan penuh penyesalan justru semakin menusuk - nusuk nurani Toni hingga dia ingin menangis. Sementara dia harus menahan semuanya, menjadi manusia munafik. Baru saja dia bersumpah dihadapan Tuhan untuk menjaga Eliana, tapi belum juga dua puluh empat jam janji itu terucap, dia sudah melanggarnya.
Dan sekarang pun, dia harus tetap berbohong untuk menutupi fakta sebenarnya demi kebaikan Eliana sendiri. Diam - diam Eliana bisa merasakan tubuh Toni yang terasa tidak relax.
"Toni?" Eliana membetulkan posisi duduknya, dia tak lagi menyandar di bahu Toni. Dia merasa ada yang janggal pada diri lelakinya.
"Apa semua baik - baik saja?"
"Hm?" Toni menarik napas perlahan. "Of course, semua baik - baik saja. Hanya kamu saja yang tidak."
"Aku?" Eliana menunjuk dirinya sendiri.
Toni mengangguk dan tersenyum. "Kamu sakit, mana bisa aku baik - baik saja." Tangannya merapikan anak - anak rambut Eliana yang keluar dari jalurnya.
Gelombang rasa bersalah kembali menghantam Eliana, dia mengulum senyum. "Apakah kamu kecewa karena terpaksa menunda honeymoon kita?"
Oh, andai saja wanita ini tahu apa yang terjadi sebenarnya. Toni bukan kecewa karena honeymoon yang tertunda, tapi karena hal yang lain. Guilty feeling. Toni memaksakan diri untuk tersenyum. "Ehm, iya."
Senyum Eliana merekah, dia mendekatkan kepalanya ke pipi Toni dan menciumnya lembut. "Aku sudah sehat. Anytime you want me... " bisiknya pelan dengan pipi yang merona.
(Kapan pun kamu menginginkanku.)
Kecupan Eliana membuat mata Toni terasa menghangat, tanpa sadar tubuhnya menjadi kaku. Sekuat tenaga menahan perasaan bersalah yang terus menghantamnya. Honeymoon yang tertunda bukan apa - apa dibandingkan dengan rasa kecewa yang terus menghantuinya. Kecewa terhadap dirinya sendiri.
Eliana merasakan perubahan itu. Tidak salah lagi, ada yang disembunyikan oleh Toni. Dia sangat yakin dengan feeling-nya.
"Maafkan aku." Kata Toni tepat di saat Eliana membuka mulutnya untuk bertanya.
"Ya?"
"Aku turun disini saja karena harus menemui seseorang yang tadi meneleponku."
"Ha?"
__ADS_1
Apakah Toni sedang menghindarinya? Eliana termangu. Dan belum sempat Eliana mencerna apa yang sedang terjadi, Toni sudah memerintah John untuk menghentikan mobil dan meloncat turun.
"Antarkan Eliana ke mansion-ku, John! Biarkan dia beristirahat disana, tak perlu ke rumah utama dulu. Pastikan ada orang yang selalu menjaganya selama aku tidak ada di dekatnya!" perintah Toni kepada John. Kemudian Toni menoleh pada Eliana. "Aku akan kembali sekitar dua jam lagi."
"Tapi Toni.... --"
"See you soon, Sayang!" Tanpa menunggu jawaban, Toni melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan Eliana.
What?!
Eliana malah salah fokus. Ada bekas luka yang mulai kering di buku - buku tangan Toni. Dari tadi dia tak memperhatikan Toni dan baru nampak sekarang.
Hhhh... ada apa sebenarnya?
Sepanjang perjalanan Eliana terus berpikir. Dia mencoba bertanya pada John tapi mulut pria itu terus tertutup rapat seperti kerang. Mau tak mau, Eliana menyimpan segala rasa penasarannya di dalam hati hingga Toni pulang. Dalam hati Eliana bertekad untuk mendesak Toni supaya menceritakan apa yang sebenarnya dia sembunyikan.
Mobil berhenti tepat di depan mansion Toni. John membuka pintu mobil dan membantu Eliana keluar. Sebuah suara menyambutnya. "Eliana."
Eliana menoleh. "Dokter Livia."
Eliana membalas pelukan Dokter Livia dengan hangat, lalu bertanya. "Tahu dari mana aku pulang ke rumah hari ini?"
Dokter Livia melepaskan pelukannya dan menatap Eliana dengan mata berkaca - kaca. "Maafkan aku, tidak menjagamu."
Eliana mengernyitkan keningnya. Toni juga meminta maaf padanya saat pertama bertemu dengannya di rumah sakit. Bukankah dalam kasus ini dirinya yang harus disalahkan? Dia sudah minum terlalu banyak dan mabuk, hingga mengacaukan acara pernikahannya sendiri. Kenapa semua orang tampak bersimpati kepadanya?
Mata Eliana menyipit, dia mengamati wajah Dokter Livia baik - baik. "Apa kamu habis menangis, Dokter? Matamu terlihat bengkak."
Dia menoleh kepada Alex yang berdiri di belakang Dokter Livia. "Eli." sapa Alex, senyumnya nampak kaku.
Eliana memandangi wajah Alex dan Dokter Livia bergantian. Wajah Dokter Livia kusut seperti orang yang sedang mempunyai masalah dan matanya terlihat sembab karena bekas menangis.
Dan Alex?
__ADS_1
Ada memar di pipi kiri dan sedikit bengkak di pangkal hidungnya. Sikapnya terhadap Eliana juga canggung.
"Apa kamu berkelahi lagi dengan Toni?" tegur Eliana dengan halus. Dia mencoba menghubungkan luka di tangan Toni dan memar di wajah Alex.
Dia mendekati Alex, berjinjit lalu tangannya memeriksa pipi dan tulang hidung Alex. Nalurinya sebagai perawat tahu kalau luka - luka itu bekas pukulan, bukan karena terjatuh atau terantuk sesuatu.
Lalu menoleh ke arah Dokter Livia. "Ada apa sebenarnya? Apa yang kalian sembunyikan dariku?"
Dokter Livia mengerjapkan matanya dan menggeleng lemah. "Mari kita masuk, sebaiknya kamu beristirahatlah dulu. Setelah itu kita bisa bicara." Dia menggandeng tangan Eliana, mengajaknya masuk.
Eliana menarik tangannya dari genggaman Dokter Livia. Enough is enough. Rasa penasarannya sudah sampai di ubun - ubun. Dia yakin kalau mereka berdua tahu fakta apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Toni.
"Katakan padaku! Ada apa?" Eliana menatap Dokter Livia dan Alex dengan sorot mata tajam. Alex sampai bergidik, Eliana yang biasanya lembut berubah menjadi garang. Dia lupa, manusia di saat terdesak pasti akan mengeluarkan kemampuan defensif-nya. Dokter Livia membuang pandangannya ke sembarang arah, dia tak mau salah menjawab.
"Dimana Toni?" Alex bertanya untuk mengalihkan perhatian Eliana.
"Dia pergi untuk menemui seseorang di suatu tempat dan aku tak tahu dia bertemu dengan siapa dan pergi kemana." Eliana melipat kedua tangannya di depan dada, matanya menatap. lurus ke Alex.
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, Alex. Dan sekarang giliranmu untuk menjawab pertanyaanku dengan jujur. Ada apa? Apa yang terjadi denganku malam itu? Apa yang sudah aku lupakan?" Eliana memberondong Alex dengan setumpuk pertanyaan yang ada di otaknya.
Alex menunduk lesu. "Aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Tapi sebaiknya kita masuk dan bercerita di dalam."
Bersambung ya....
Note :
Sorry for making this part, my dearest readers. 🙏
It's a life ya, Guys.
Kenyataan sering kali tak sesuai dengan ekspektasi. Dimana CEO yang dianggap punya kuasa pun bisa melakukan kesalahan.
Difficulties make people stronger. 😊
__ADS_1
Thanks sudah setia membaca dan membantuku terus belajar menulis. 🙏🙏🙏