
"Beraninya kamu memukulku!" geram Alex, satu tangannya menarik kerah baju Toni dan satu tangan lainnya mengepal.
"Jangan sentuh wanitaku!" desis Toni tak mau kalah. Dia menepis tangan Alex dari pakaiannya dengan kasar. Matanya masih tak mau lepas dari Alex, seperti singa yang sedang mengintai mangsa.
Eliana langsung menoleh ke arah Tuan Peterson. Beliau memijat dahinya, mumet. Ini bukan pertama kalinya mereka seperti ini. Tapi Tuan Peterson sudah tak sekuat dulu lagi, tenaganya berkurang banyak. Kalau saja dia masih muda seperti dulu, sudah pasti dia akan menghajar kedua cucunya.
"Tuan tak apa - apa? Apa Tuan mau kita menyingkir?" tanya Eliana khawatir.
Tuan Peterson menggeleng lemah, bisa berbahaya kalau meninggalkan kedua cucunya begitu saja. Mereka seperti anjing dan kucing. Beliau menarik napas panjang dan mengeluarkan suaranya.
"Anthony, Alex! Hentikan dan kita bisa mulai makan malamnya."
Heh? Mereka bergeming.
"Wanitamu? Apa maksudmu? You already had one. And you want more? Eliana? Cih... She's mine." Alex masih tak terima karena dipukul oleh Toni. Lalu dengan seenaknya mengklaim Eliana sebagai miliknya.
(Kamu sudah punya satu. Dan kamu mau lagi?)
Napas Toni tertahan, dia tak suka mendengar Alex menyatakan kepemilikannya. Toni memejamkan matanya, dia tak boleh terpancing lagi. Tadi saja dia sudah menunjukkan sisi buruknya di depan Eliana. Wanita itu pasti terkejut.
"Kalau aku bilang aku menyukainya, apa kamu akan melarangku?" tantang Alex.
"How dare you are!"
BUK!
Eliana memekik terkejut. Tuan Peterson memejamkan matanya, sambil menepok jidatnya. Seketika darah tingginya kumat. Kepalanya sakit.
Pukulan Toni membuat Alex jatuh, namun tak membuat Toni berhenti. Dengan mata menyala - nyala dia menatap adiknya dan kembali menarik kerah bajunya.
BUK!
Sekali lagi.
"Beraninya kamu! Kenapa kamu lakukan ini padaku? Kamu selalu menginginkan milikku! Kamu bukan adikku!" Toni memukul wajah Alex berulang kali, Alex tidak sempat menghindar atau melindungi wajahnya dari serangan itu.
"You are a piece of s-h-i-t!"
BUK!
Alex balas menendang perut Toni keras. Toni terdorong ke belakang. Hampir jatuh. Alex menerjang Toni.
BUK!
Tendangan Toni mendarat di dada Alex.
"Eliana is mine!" ucap Toni tak mau kalah.
__ADS_1
Kepalan tangan Toni terayun.
Hup! Alex menahan tinju Toni.
"F-U-C-K--I-NG J-E-R-K!"
BUK!
Lutut Alex menghajar perut Toni.
"D-A-M-N IT, YOU!"
BUK!
Toni memutar tubuhnya dan menendang.
Mereka saling memaki, bertarung membabi buta, memukul dan menendang menggunakan semua martial arts yang pernah mereka pelajari waktu kecil. Taekwondo, karate, tinju...
"STOP! STOP!" teriak Eliana sekuat tenaga.
Tanpa pikir panjang Eliana meloncat ke arena pertarungan, tidak peduli Alex atau Toni yang sedang melayangkan pukulan dan tendangan. Eliana sudah tak melihat apa - apa lagi. Pertikaian ini harus dihentikan.
Tangan Toni terhenti di udara, saat merasakan seseorang menubruk punggungnya. Memeluk erat. Matanya seperti baru saja terbuka dan terang. Ketegangan tubuhnya perlahan mengendor.
BUK!
Eliana langsung bangkit, dengan sigap dia berdiri di depan Toni.
"Hentikan, Toni! Stop, Alex!" Eliana berteriak, setengah menangis. Merentangkan tangan, menjadi pembatas antara Toni dan Alex.
"Kalian berdua kakak beradik! Tidak bisakah bicara baik - baik? Lihat wajah kalian? Mau sehancur apa baru berhenti? Bagaimana perasaan Grandpa kalian melihat ini?"
Ruangan tiba - tiba sunyi.
Toni terdiam. Alex juga terdiam. Tuan Peterson menarik napas panjang dan menghembuskannya, menggelengkan kepalanya dengan tatapan pasrah. Tobat!
Eliana mende-sah lega.
Toni bangun dan duduk di kursi makan dengan wajah tanpa ekspresi, diikuti oleh Alex. Mereka duduk berhadapan tanpa mau memandang satu sama lain.
Tuan Peterson memandang kedua cucunya bergantian dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan. Eliana bergegas ke dapur, mengambil kantong - kantong es, air hangat dan washlap untuk merawat para laki - laki brutal tadi. Seorang pelayan membantunya membawa kotak P3K menuju ruang makan.
Eliana menempelkan kantong di pipi kiri Toni dan berkata pelan. "Aku kecewa kepadamu, Toni. Kamu seharusnya bisa bersikap lebih baik dari ini." Kemudian tangannya meraih tangan Toni, menyuruhnya memegang sendiri kantung es.
Toni menunduk, tak berani menatap Eliana. Tangannya memegang kantong es. "Maafkan aku, Eliana."
"Minta maaflah pada Grandpa karena sudah membuat kekacauan." ucap Eliana menahan marah. Setelah itu dia pergi ke tempat duduk Alex.
__ADS_1
Toni mengikuti setiap gerakan Eliana dengan matanya. Dia tak suka tapi mau bagaimana lagi, dirinya sedang berada di bawah pengawasan Grandpa. Sudah cukup kegaduhan hari ini. Niatnya ingin meluapkan rasa rindu terhadap Eliana terpaksa harus ditunda.
"Anthony memukulku lebih dahulu, Eli." protes Alex pelan, mengadu kepada Eliana sebelum wanita itu sempat menegurnya.
"Kalian berdua sama saja. Aku bukan barang yang bisa seenaknya di perebutkan." sahut Eliana cepat.
Eliana memeriksa luka Alex dengan seksama. Luka di wajah Alex lebih parah, darah keluar dari hidung dan sudut mulutnya. Eliana membersihkan darah dengan washlap lalu sedikit menekan - nekan luka di sudut bibir Alex untuk menghentikan darahnya. Kemudian memberinya salep.
"Apa kamu sudah selesai dengan dua orang perusuh itu, Eliana?" Suara Tuan Peterson menggelegar. Dari tadi beliau diam saja karena beliau tahu kalau berteriak pun percuma. Toni dan alex tak akan mendengar.
Sekarang saatnya orang tua itu menunjukkan powernya.
"O' iya, Tuan. Apa Tuan mau makan sekarang?" Eliana menepuk jidatnya, baru ingat kalau mereka sebenarnya hendak makan malam. Tergopoh Eliana mengambil piring dan bersiap untuk menyiapkan makanan yang mungkin sudah mulai dingin.
"Tidak. Tidak perlu. Aku mau makan di kamar saja hari ini. Tolong bawa makanannya ke kamar." sahut Tuan Peterson kesal.
"Dan kalian... " Tuan Peterson menunjuk wajah Toni dan Alex bergantian dengan telunjuknya. "Jangan berani datang ke sini kalau masih bermusuhan. Jangan temui Eliana lagi tanpa ijin dariku. Dia adalah perawatku, bekerja untukku dan kalian tak usah mengganggunya!"
Toni dan Alex terhenyak.
"Tapi Grandpa... " Alex mencoba bernegosiasi, sementara Toni hanya diam saja.
"Jangan membantah! Eliana is mine. Bukan milikmu atau pun kamu!" kata Tuan Peterson meniru gaya bicara kedua cucunya saat berkelahi tadi. Tangannya kembali menunjuk cucunya satu per satu.
Meski masih kesal, Eliana hampir tak bisa menahan tawa melihat gaya marah Tuan Peterson. Dia garang tapi tak bisa sungguh - sungguh marah pada cucu - cucunya.
"Mari, Tuan. Saya antarkan ke kamar."
Eliana mendorong kursi roda Tuan Peterson tanpa menoleh ke arah kedua laki - laki yang sedang gencatan senjata.
Oh, yeah... Right now Eliana is Tuan Petersons'.
Bersambung ya....
NOTE
Martial arts \= seni bela diri
You are a piece of s-h-i-t \= kata - kata umpatan
F-U-C-K--I-NG J-E-R-K \= kata - kata umpatan
Tuan Petersons' \= milik Tuan Peterson.
__ADS_1