My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 70 -- Let Me Help You


__ADS_3

Biarkan aku membantumu


Tangisan Eliana yang menyayat hati terdengar hingga menembus pintu kayu yang tebal, terdengar jelas dari tempat Toni berdiri.


Toni memejamkan mata dan sebutir air mata turun dari pipinya. Tangannya terkepal, sekuat tenaga menahan emosi, tapi dia tak mampu. Tangisan Eliana meruntuhkan pertahanannya. Perlahan, tubuh Toni merosot. Tulang punggungnya seperti kehilangan kekuatan, lemah. Kesedihan dan rasa tak berdaya menghempaskan dirinya ke dalam jurang putus asa. Toni menunduk dalam - dalam dan menangis tanpa suara.


Sementara di dalam kamar mandi, suara deru air memenuhi kamar mandi. Eliana berdiri dibawah shower, air deras membasahi kepalanya. Air mengalir dari kepala, turun ke bahu dan membasahi seluruh tubuhnya. Dia berkali - kali menggosok tubuhnya dengan shower puff. Tapi meski digosok hingga warna kulitnya kemerahan, tubuhnya tak juga bersih. Tetap terasa kotor dan menjijikkan.


Air matanya terus mengalir deras, bercampur dengan air dari shower. Emosi memenuhi dadanya, terasa sesak dan menyakitkan.


Dia ingin waktu kembali diputar ulang. Andai saja bisa, dia ingin kembali di saat belum terjadi apa - apa. Saat mereka pertama bertemu, bercanda dan bercerita. Ketika genggaman tangan Toni terasa nyaman atau saat dirinya merasa pantas untuk berpelukan dengan Toni.


Eliana bersimpuh di lantai kamar mandi, membiarkan guyuran air menimpa punggungnya yang melengkung saat dia memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangan.


'Please, please! Hapuskan ingatan ini. Tolong buat dirinya lupa selamanya. Sentuhan mereka, tawa mereka. Semua! Semuanya!'


Eliana benar - benar merasakan dirinya tak berdaya.


"AARGH!!!" Teriak Eliana melengking.


Toni bangkir dari duduknya. Dia menyentuh kenop pintu. Astaga! Ternyata tak dikunci. Mungkin saja Eliana lupa karena dia terlalu terbawa emosi hingga tak memperhatikan sekelilingnya.


"AARRGH!!! Please... , please."


Ya Tuhan!


Eliana kembali berteriak, Toni buru - buru membuka pintu. Dia menginjak genangan air, uap panas menerpa wajahnya. Toni mengibas - kibaskan tangannya untuk mengusir kabut, supaya penglihatannya lebih jelas.

__ADS_1


Oh! Eliana menyalakan semua keran air panas di kamar mandi supaya tangisannya tidak terdengar. Meski sebenarnya sia - sia. Toni masih bisa mendengar suara tangisannya.


'Seharusnya tidak begini. Wanita ini, Eliana, tidak seharusnya merasakan sakit seperti ini. Aku harus mengangkat rasa sakitnya, memungut satu per satu kesakitan itu dan membuangnya.'


Toni menutup pintu kamar mandi, dia melihat Eliana yang terduduk di lantai kamar mandi. Kulitnya yang putih bersih terlihat mengkilap terkena tetesan air. Dari belakang, terlihat punggungnya yang tak berdaya.


Perlahan Toni melepas pakaiannya sendiri supaya posisi mereka sama, polos. Kemudian dia mematikan air wastafel dan kran bathub. Bunyi gemuruh air berkurang, yang tersisa hanya bunyi gemericik air dari shower.


Batin Toni berperang hebat. Apa yang bisa dilakukannya untuk meringankan rasa sakit di hati Eliana? Apa yang terbaik yang bisa dilakukannya supaya air mata itu berhenti?


"Eliana... " panggilnya lembut, sambil melangkah mendekat dengan hati - hati supaya wanita itu tidak terkejut.


Eliana menoleh ke belakang dan terperanjat. Toni berdiri tanpa busana di belakangnya. Buru - buru Eliana memeluk dirinya sendiri, semakin erat. Berusaha menutupi tubuhnya yang polos.


Di hadapan Toni, dia merasa semakin tak berharga. Rasa jijik itu semakin menggerogotinya, tak bisa dienyahkan begitu saja.


Toni tak mau menuruti permintaan Eliana. Dia menutup keran air, dan shower pun berhenti mengucur. Suasana mendadak hening, sepi. Eliana menyilangkan kedua kaki dan tangannya di depan dada, mencoba melindungi dirinya sendiri.


"Let me help you." Toni berjongkok di belakang Eliana, meraih shower puff yang tergeletak begitu saja di lantai. "Biarkan aku membasuh rasa sakitmu dan menggantinya dengan cinta."


Eliana menunduk, air mata masih terus mengalir di pipinya. Tubuhnya mulai menggigil karena air panas tak lagi mengguyur tubuhnya.


Toni menuang sabun di atas shower puff dan mer-emas - re-masnya hingga berbusa. Kemudian dia mulai menggosok punggung Eliana dengan hati - hati. Mengusapnya dengan sangat lembut. Hati Toni tak berhenti berdoa, semoga setiap sentuhannya bisa menghapus kenangan buruk dari hati dan pikiran Eliana. Laki - laki itu bertekad akan mengganti rasa kotor itu dengan perasaan dicintai.


Merasakan tubuh Eliana gemetar, perlahan Tonj menarik tubuh Eliana supaya berdiri. Kedua kaki Eliana goyah, Toni menahan tubuh Eliana dan merangkulnya erat. Memeluknya dari belakang, menyalurkan rasa hangat dan juga untuk mengembalikan suhu tubuh Eliana. Berusaha menenangkan istrinya serta memberi rasa aman.


Eliana memejamkan matanya, tangannya memegang lengan Toni. Air mata kini menetes di atas kulit suaminya.

__ADS_1


Berpelukan seperti ini membuat perasaan mereka kian bergejolak, bercampur menjadi satu. Marah, sedih, penyesalan, tidak berdaya. Toni jadi ikut merasa terguncang, mereka menangis bersama.


Saat ini tak ada kata yang bisa diucapkan untuk memperbaiki perasaan yang remuk redam. Toni hanya bisa menyampaikan perasaannya lewat pelukan erat. Mengatakan kalau dirinya akan selalu bersama Eliana. No matter what happened.


(Tak peduli apa pun yang terjadi.)


Toni bisa merasakan setiap isak tangis Eliana, terasa perih menggores hatinya. Inilah mereka, menjadi satu dalam suka dan duka, di saat sehat mau pun sakit. Di waktu untung mau pun malang. Hingga maut memisahkan mereka.


Perlahan, tangis Eliana mereda. Toni memandikannya dengan cermat. Menggosok setiap inchi kulitnya, mencuci rambut Eliana dan membasuh wajah istrinya itu. Tak ada satu bagian pun yang terlewat.


Akhirnya, untuk pertama kalinya mereka berhadapan dalam kondisi polos. Toni menangkup wajah Eliana dengan kedua tangannya yang besar. Pandangan mereka bertemu. Air mata Eliana meleleh, dengan ujung jari Toni menghapusnya.


'Biarkan air mata ini mengalir. Membasuh luka dan menghapus pedih.' ~Toni~


"Kamu sudah bersih, Eliana." bisik Toni pelan. "Kamu baik - baik saja dan akan terus baik - baik saja."


Eliana menggigit bibir, matanya menatap Toni dengan ragu - ragu. "Benarkah?" Suaranya terdengar serak.


Toni mengangguk mantap. "Aku berjanji akan menggantinya dengan kebahagiaan seumur hidup. Aku akan menghapus rasa sakitmu."


Eliana hanya bisa mengangguk. Dia memejamkan matanya saat Toni menunduk dan mengecup bibirnya. Lembut dan penuh perasaan, memberikan rasa hangat di hati Eliana.


Bibir itu, tempat satu - satunya yang tidak disentuh oleh para b@jing@n itu. Ciuman Toni membuat Eliana tahu kalau dunianya tidak benar - benar hancur.


Sentuhan lembut Toni menggantikan rem-asan dan sentuhan - sentuhan kasar tangan - tangan tal bermoral itu. Usapan demi usapan Toni, menghilangkan rasa jijik dan kotor yang melekat di tubuhnya. Ya. Hanya Toni, suaminya, yang bisa menghapus semua jejak mereka di tubuhnya.


Eliana melingkatkan kedua tangannya di pinggang Toni dan menyandarkan kepalanya di dada laki - laki itu. Memeluknya dengan sepenuh hati dan segenap perasaan.

__ADS_1


Bersambung ya...


__ADS_2