My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.


__ADS_3

Siangnya, Toni sengaja mengajak Eliana untuk menikmati makan siang di ruang makan outdoor samping rumah utama. Toni sengaja meminta chef untuk menyiapkan lemon herb potatoes, chicken cordon bleu, spicy tuna roll dan beberapa menu dessert lainnya.


Dia yakin Eliana akan menyukai suasana makan yang sedikit berbeda, dimana mereka bisa menikmati hidangan sambil melihat pemandangan kolam dan air terjun buatan.


"Kamu pasti suka." ucap Toni sambil menyodorkan piring berisi makanan kepada Eliana.


"Sebenarnya kenapa disebut cordon bleu sih?" tanya Eliana sambil mengamati menu yang ada di piringnya. Seperti biasa, Toni sudah memotongnya supaya memudahkan Eliana untuk makan. Penampakan potongan beef dan keju meleleh benar - benar menggugah selera.


"Cordon bleu itu diambil dari bahasa Perancis, yang berarti pita biru. Awal mulanya makanan ini ditujukan untuk para pemilik pita biru."


"Pemilik pita biru itu maksudnya orang kaya kan? Kasta tertinggi di Perancis?"


Toni tertawa kecil "Yes. Kamu benar." Dia meraih tangan Eliana dari seberang meja dan mengusap - usapnya dengan sayang. "How's your feeling?"


Eliana yang sedang memasukkan suapan pertama cordon bleu ke mulutnya menoleh pada Toni. Wajah suaminya nampak khawatir. "Aku baik - baik saja, Toni. Beneran, tidak bohong."


Toni menghembuskan napasnya, "Maaf, aku tidak bisa menceritakan semuanya dengan detail waktu itu. Kondisi psikismu waktu itu tidak memungkinkan untuk mendengarkan sesuatu yang buruk."


"Soal apa? Tiffany?"


Toni membuang pandangannya ke tangan Eliana yang halus, mendadak saja tenggorokannya tercekat saat memutae ulang kisah traumatis mereka. Terharu pada Eliana yang begitu mudah melupakan kesalahannya.


"Demi hubungan baik antar keluarga di masa lalu, aku bernegosiasi dengan Tiffany. Aku akan menarik tuntutanku padanya dengan syarat - syarat yang aku tentukan."


"Tidak apa - apa. Aku mengerti, kamu sudah berusaha melakukan hal yang terbaik untukku. Namun ada perusahaan dan hubungan antar keluarga yang juga harus diperhatikan."


Toni mengerutkan keningnya. "Kamu semudah itu memaafkan seseorang yang membuat kesalahan besar?"


"Aku tak tahu, Toni. Saat ini aku tidak ingin memikirkan sesuatu yang berat, lebih baik aku menikmati hari - hari bersamamu sebelum kamu mulai bekerja." Eliana mengulurkan tangannya ke rahang Toni. "Let's move on, and grab the future."


Toni tersenyum, sentuhan Eliana selalu berhasil membuat perasaannya tenang. "By the way, soal pernikahan kita akan aku umumkan setelah perjalanan kita."


Eliana mengangguk. "Aku mempercayaimu, Toni."


Makan siang mereka berlangsung satu jam lamanya, mereka menghabiskan makanan itu sambil berbincang.


"Toni!"

__ADS_1


Toni dan Eliana yang baru saja hendak keluar dari ruang makan, menghentikan langkah mereka saat Alex memanggil Toni.


Melihat Alex berjalan menghampiri mereka, tangan Toni menggenggam Eliana lebih erat. Dia melengos dan tak mau memandang ke arah Alex. Eliana mengerutkan keningnya.


"Hai, Eli. Apa kabar?" Alex menyapa Eliana, dia berusaha untuk terlihat ceria.


Eliana tersenyum. "Baik. Apa kamu sudah makan, Al?"


"Ehm, belum." Alex menggeleng. "Kalian baru selesai makan, hm?"


"Sorry, kita mau pergi keluar." jawab Toni dingin.


Alis Alex terangkat demi mendengar jawaban Toni yang ketus, dia melirik Eliana berharap wanita itu bisa menyelamatkannya. Dia ingin menyelamatkan hubungan persaudaraannya dengan Toni. Kesalahannya adalah tidak memberi tahu kalau dia akan bertemu Bryan hingga Toni dan John terkecoh. Lalu dia juga menceritakan semuanya kepada Eliana tanpa perhitungan yang matang."


Bagi Alex, kesalahannya itu bisa dilakukan siapa saja yang sedang berada di posisinya. Tapi ternyata tidak begitu pola pikir Toni.


Alex berdehem dan berusaha tersenyum, kecut. Dia tahu kalau Toni tak ingin bicara kepadanya, entah sampai kapan. "Baiklah. Have a nice vacation."


Toni langsung menarik tangan Eliana untuk pergi tanpa basa basi terhadap Alex.


Alex melambai dengan tak bersemangat, lunglai. Sekali lagi dia sudah mengecewakan sahabatnya, entah kenapa dia tak pernah bersikap benar di mata Toni.


"Toni... " sapa Eliana saat mereka sudah duduk. manis di jok belakang mobil yang berkaca gelap. Mereka akan pergi ke kantor polisi karena Eliana sudah sehat dan bisa memberi keterangan. A last thing to do before vacation.


(Hal terakhir yang perlu dilakukan sebelum perjalanan.)


"Hm... " jawab Toni tanpa menoleh. Dia bisa merasakan apa yang akan dibahas oleh Eliana. Mau tidak merespona tapi Eliana yang bertanya. Hhhh...


"Kamu kenapa begitu sama Alex sih?" protes Eliana, tangannya mengusap lembut lengan Toni yang kekar.


Toni menghembuskan napasnya, ekspresinya terlihat sumpek. "Biar saja. Biar dia belajar. Aku benar - benar kesal sama dia. Selalu ceroboh."


"Kok gitu?" Eliana mengernyitkan keningnya. "Biar bagaimana pun dia itu adikmu. Brothers may fight but the bond still remain forever."


(Kakak adik boleh bertengkar tapi ikatan mereka akan tetap selamanya.)


"Ugh! Tapi dia sudah membuatku sangat kesal. Apalagi dia tak tahu situasi dan malah menyakitimu. Kenapa dia tak mau menunggu waktu yang tepat untuk menemuimu?"

__ADS_1


Oh, jadi itu alasannya. Toni hanya tak mau seorang pun menyakiti dirinya.


"Kesalahannya tidak sebanding dengan hubungan persaudaraan kalian, Toni." tegur Eliana lembut. Eliana mengalungkan lengannya ke lengan Toni. "Apa pun kesalahan Alex, kamu tidak seharusnya bersikap seperti ini. Kamu yang lebih dewasa, maka bersikaplah seperti orang dewasa."


Toni menoleh ke arah Eliana, kata - kata Eliana sedikit menyinggung harga dirinya. Dari kalimatnya, tersirat kalau Eliana mengatai dirinya kekanak - kanakan.


Wanita yang di sebelahnya tersenyum manis dan menatap Toni penuh kasih. "Hhhh... Okay! Okay!" Toni mengangkat satu tangan pertanda menyerah. "Aku akan memaafkan dia, tapi butuh waktu."


Diam - diam kekaguman Toni pada Eliana sekian level, wanita di sampingnya benar - benar dewasa. Dia sanggup memaafkan orang yang sudah menyakitinya. Bersama Eliana, emosi Toni pun bisa segera mereda.


"Kita sama kan? Aku juga memaafkan mereka. Bukaan demi mereka tapi demi diriku sendiri. Memaafkan adalah membebaskan dirimu dari penjara kepahitan, Toni."


Kenapa Eliana bisa dewasa sekaligus bijaksana seperti ini?


Toni menatap Eliana tak berkedip. Di matanya, Eliana tidak hanya terlihat cantik dan s-e-x-y. Pikirannya benar - benar terbuka. Dia jatuh cinta bukan hanya karena ketulusan Eliana tapi dia juga terperangkap dalam pesona seorang Eliana Gracia. Ralat Eliana Peterson, dia sudah mengubah nama belakang Eliana menjadi Peterson.


Nama itu akan terus ada di belakang nama Eliana, sampai kapan pun. Tak akan ada yang bisa mengubahnya.


"Hey, kamu tahu apa yang akan kita lakukan setelah urusan di kantor polisi selesai?" bisik Toni pada Eliana.


"Apa?"


"Kita akan sejenak melarikan diri dan kembali ke dunia penuh cinta." Toni mengedipkan sebelah matanya.


Heh?


Tanpa sadar Eliana menaikkan alisnya dan melotot. "Kenapa pikiranmu akhir - akhir ini pikiranmu selalu kotor?"


"Oh, itu tanggung jawabmi untuk membersihkan otakku dari hal - hal yang kotor." ucap Toni sambil mencium pipi Eliana yang sudah bersemu merah.


Bersambung ya...


Note :


1. Grab : meraih


2. Future : masa depan

__ADS_1


__ADS_2