My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 27 -- Menunda Kejujuran


__ADS_3

Toni menyetir mobil, menembus jalanan dari Rocktown ke Lakewood diiringi suara yang memekakkan telinga. Gayung bersambut, yang dirindukannya sedang ada diluar, tepatnya disamping apartment yang mereka huni.


TIN! TIN!


Toni memencet klakson tapi Eliana tak menengok. Toni heran bagaimana mungkin bunyi mobil seberisik ini, dan klakson yang begitu kencang tak didengar oleh Eliana.


TIIIIN!!


Sekali lagi Toni membunyikan klakson, bunyinya lebih lama dan panjang.


"Hey! Berisik sekali!"


Ya ampun! Eliana menoleh dan melotot sambil mengomel, lucu sekali wajahnya. Sungguh tak cocok wajah selembut itu berekspresi marah - marah. Sesaat Toni mengamati wajah Eliana dari balik kacamata hitamnya. Kemudian dia menjulurkan kepalanya keluar dari jendela.


"Hey, sayang. Kenapa marah - marah begitu?"


Owh! Mata Eliana terbelalak lebar saat melihat kearahnya. Benar - benar menggemaskan! Toni tak tahan lagi, dia segera keluar dari mobil. Senyum lebar tak bisa lepas dari bibirnya, beban di bahunya seperti terangkat seketika. Rasa lelah pun menguap. Dia berjalan dengan ringan.


"Silahkan masuk, Nona." ucap Toni. Berpura - pura sebagai sopir dan Nyonya besar.


"Tunggu, Toni. Mobil siapa ini?"


Pertanyaan yang sudah diduga oleh Toni sejak awal. Mau bagaimana lagi? Hari ini Toni ingin mengajak Eliana piknik di tempat yang agak jauh, sedangkan John hanya memberinya waktu sebentar saja. Dia harus mempelajari neraca keuangan bersama Grandpa sore ini.


"Diam - diam aku mempelajari saham bersama seorang pelanggan coffee shop. Dan ternyata dia memberiku pekerjaan sebagai konsultan saham. Kantornya ada di kota sebelah. Setiap hari aku harus stand by mulai pukul sembilan pagi dan selesai pukul empat sore."


Setidaknya lima puluh persen dari kata - katanya adalah benar. Setiap hari dia mempelajari fluktuasi saham perusahaan - perusahaan besar, termasuk mempelajari bagaimana caranya supaya saham Peterson selalu stabil. Kantornya juga ada di kota sebelah.


"Mungkin karena kasihan melihatku naik bis, dia meminjamiku mobil ini." Kali ini pun dia hanya sedikit berbohong. Mobil ini dipinjamnya dari John.


"Ooh... jadi itu sebabnya kamu berangkat subuh dan pulang malam?"


Toni mengangguk.


"Bagaimana kalau kita kencan satu jam saja?" tanya Toni cepat - cepat untuk mengalihkan pembicaraan. Dia masih ada sedikit waktu sebelum kembali ke Rocktown untuk menemui Grandpa.


Hmmm... Eliana tak terlihat antusias, dia justru nampak kesal, Toni memperhatikan kemana arah mata Eliana tertuju.


'Oh, I see... '


Oke! It's easy peasy. Toni segera meraih kantong sampah yang ada di tangan Eliana dan membuangnya. Problem solved! Let's go....

__ADS_1


(Hal yang mudah. Masalah selesai!)


BRRMMM... BRRMMM...BRRT... BRRT...


"Mobilnya hebat sekali." celetuk Eliana saat mesin mobil menyala. Wajahnya nampak khawatir, seakan - akan sedang menunggu bom meledak.


'Oh, shame on me! Awas kau John!'


(Memalukan aku!)


"Iya, aku tau sekarang kenapa mobil ini dipinjamkan ke aku. Berdoalah supaya kita bisa sampai di tujuan dengan selamat." sahut Toni asal sambil terkekeh untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Nih! Aku membeli ini untukmu." ucapnya. Dia harus segera mengganti topik pembicaraan. Buang jauh - jauh topik mengenai pekerjaan dan mobil butut ini.


"Wah, ini kan mahal?"


Astaga! John benar. Apa jadinya kalau dirinya membeli beberapa kotak sekaligus tadi. Bisa - bisa Eliana bertanya macam - macam.


"Aku hanya beli sedikit, karena uangnya habis buat beli bensin." Toni mencoba beralasan, dia berusaha berbicara sesantai mungkin.


.


"Anyway, thank you. Tak apa, kita berbagi saja." ucapnya sambil membuka kotak.


Wajah Eliana yang tersenyum tampak begitu bersinar dimata, sisi melankolis Toni tersentuh. Wanita cantik yang duduk disampingnya ini tak pernah peduli berapa banyak dan sebagus apa pemberiannya, semua selalu di terima dengan senang hati. Toni merasa dihargai.


"Eliana, bagaimana kalau kita terus berbagi? Kesedihanmu, kesedihanku. Kebahagiaanmu, kebahagiaanku. Bisakah kita berbagi segalanya?"


Kalimat pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Toni, dia lupa kalau ada sebuah masalah yang belum di selesaikan olehnya. Tiffany.


Sesaat Eliana tertegun, hatinya tersentuh oleh kata - kata Toni yang terasa begitu tulus. Tanpa sadar matanya berkaca - kaca, antara bahagia dan terharu.


Oh, my God.


Wajah Eliana yang seperti itu membuat rasa sayang Toni kian meluap.


"Aku ingin menciummu."


Duh! Jantung Toni berdegup kencang demi mendengar kata - katanya sendiri. Mulutnya benar - benar tak bisa dikontrol, semua berloncatan keluar tanpa difilter.


Untunglah Eliana melihat kearah jendela, setidaknya dia tak perlu melihat raut wajah nervous Toni. Dan Toni menutupi kegugupannya dengan tawa yang membahana.

__ADS_1


"Aku tak tahu ada tempat seperti ini di Lake Wood." Ucap Eliana saat mereka sampai di danau yang cantik.


Tempat itu agak jauh dari kota dan tempat tinggal penduduk sehingga udaranya masih bersih dan suasananya juga sangat tenang.


Saat Toni mengatakan kalau dia menyukai tempat ini, secara otomatis Eliana langsung beralih ke mode perawatnya. Dia mencoba menstimulus ingatan Toni dengan pertanyaan - pertanyaan ringan.


"Apa lagi yang kamu suka Toni?"


"Freedom!"


Satu kata yang mencerminkan banyak hal. Ya. Toni ingin kebebasannya. Bebas dari masalah Tiffany yang bisa muncul sewaktu - waktu. Bebas dari rutinitasnya yang menjemukan. Dan yang paling penting dia ingin bebas menjalani hidupnya yang sederhana bersama Eliana.


Toni bisa menangkap kilasan rasa terkejut bercampur khawatir di raut wajah Eliana. Tapi wanita itu terlalu baik untuk menunjukkan perasaannya. Alih - alih mengungkapkan isi hatinya, dia malah menggenggam tangan Toni dan berkata.


"Apa yang ada di dalam pikiranmu Toni?"


Toni bimbang. Hatinya terus mendesak untuk bercerita soal ingatannya yang telah pulih sebagian. Tentang Grandpa. Tentang pekerjaannya dan Rocktown. Dan terutama, tentang Tiffany. Toni tak tahu harus bagaimana. Apakah salah kalau dia lebih memilih Eliana dari pada Tiffany?


"Akhir - akhir ini aku sering melihat wajah - wajah asing di kepalaku. Aku tak tahu siapa, tapi aku tak menyukai mereka."


Toni mencoba menjelaskan dengan cerita yang sedikit berputar - putar. Dia tak sanggup melihat reaksi Eliana ketika mengetahui soal pertunangannya. Lebih tak sanggup lagi hatinya, yang mungkin menolak apabila Eliana menjauh.


"Kenapa?"


GOSH!


Toni bersumpah kalau hari ini dia benar - benar membenci kata kenapa. Kata - kata yang membuatnya merasa wajib untuk bercerita lebih panjang. Dokter Livia dan Eliana, mereka sama saja.


"Kalau aku mengingat kembali masa laluku, apa aku masih bisa bersamamu Eliana?"


Tak mau menjawab, Toni justru mengajukan pertanyaan pancingan. Diam - diam Toni memperhatikan setiap perubahan micro ekspresi di wajah Eliana.


Sama. Perasaan wanita itu sama dengannya. Dia pun takut kehilangan moment kebersamaan mereka. Toni bisa menangkap rasa sedih yang ditutupi dengan senyum manis.


"Aku tak tahu. Semua tergantung kondisi dan situasi yang kita hadapi nanti." jawab Eliana.


Itulah Eliana! Dia lebih memilih berkorban dari pada membuat Toni berada di posisi yang sulit.


Pedih. Hati Toni merasa seperti disayat. Dia membuang pandangannya jauh ke danau, bersamaan dengan lenyapnya keberanian untuk menceritakan tentang kondisi dirinya saat ini.


Bersambung ya....

__ADS_1


Note :


Sisi melankolis adalah sisi kepribadian yang memiliki perasaan untuk selalu memikirkan hal yang lebih mendalam. Lebih sensitif.


__ADS_2