My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 31 -- Blank


__ADS_3

"Apa yang anda rasakan Tuan?" tanya Dokter Livia pada Toni yang baru bangun dari tidurnya. Kepala Toni begitu sakit saat di perjalanan dari Lake Wood menuju Rock Town. Dia pingsan saat di perjalanan.


"Overlap." jawab Toni singkat.


(Tumpang tindih.)


"Bagaimana?"


"Mendadak aku mengingat banyak hal dan semuanya muncul begitu saja di kepalaku." Ucap Toni, matanya menerawang.


"Ceritakan tentang dirimu!"


Tuan Peterson menghela napas perlahan, dia yang seharusnya masih dalam perawatan, memaksakan diri untuk menengok Anthony. Mata tua itu menatap sendu menatap cucu kesayangan yang sedang melakukan beberapa tes dengan Dokter Livia.


"I'm Anthony Peterson, twenty seven years old. Pekerjaanku? Hmmm... Aku seorang CEO of Peterson Group. Dia adalah John, orang yang selalu membantu pekerjaanku." Ucap Toni sambil menunjuk John yang berdiri di belakang Dokter Livia.


"Dan... ehm, itu Grandpa, orang yang selalu mendorongku untuk bekerja keras dan menjadi CEO Peterson Group. Aku banyak menghabiskan masa kecilku bersama Grandpa dan... Alex." Toni berhenti sejenak, dia melempar pandangannya keluar jendela kamar rawat VVIP yang dihuninya.


Entah kenapa ada perasaan getir menyelusup di hati Toni saat mengucapkan nama Alex.


"Any other else?" pancing Dokter Livia lagi.


(Ada yang lain?)


Toni menarik napas dan menghembuskannya pelan, terlihat jelas dia enggan bercerita. Tapi dia menyadari Dokter sedang observasi terhadap dirinya dan juga ingatannya.


"Dan aku sudah mempunyai Tunangan, namanya Tiffany Wilson. Hubungan kami sangat baik selama ini, aku mencintainya hingga hari itu... " Toni terdiam, rasa sesak menyeruak di dada.


Dokter Livia, John dan Tuan Peterson menunggu dengan penuh harap. Ini adalah moment crucial bagi Toni, selama ini dia belum pernah berbicara sepanjang ini mengenai dirinya.


"Aku... melihatnya melakukan... "


Ugh! Toni meringis, memegang kepalanya. Kabut kembali menutupi ingatannya, ada sesuatu yang penting tapi tak bisa dia ungkapkan. Tubuhnya menolak, otaknya tak mau bekerja.


Wajah John dan Tuan Peterson menjadi tegang, mereka melihat kearah Dokter Livia yang dengan sigap menepuk bahu Toni.


"It's okay. It's okay. Pelan - pelan saja, Tuan. Tidak usah dipaksakan."

__ADS_1


Toni menoleh, "Hey, sepertinya aku familiar dengan kalimat ini. Apa ini yang dinamakan dejavu?" celetuknya.


Dokter Livia tersenyum. "Saat proses pemulihan, penderita amnesia memang sering mengalami overlap informasi di otaknya, Tuan. Yes, sedikit mirip dengan dejavu. Anda merasa pernah mengalami ini?"


'Pelan - pelan saja, Toni. Tidak usah dipaksakan.' suara seorang wanita terngiang di kepalanya. Suaranya lembut dan menenangkan. Toni memejamkan kepalanya, bayangan wanita itu muncul tapi dia tak dapat melihatnya dengan jelas.


"Ada seorang wanita yang selalu ada di dekatku, aku bisa merasakan kalau dia sangat menyayangiku. Dan aku rasa aku juga menyayanginya." Nada suara Toni mengambang, ada suatu informasi yang hilang dari ingatannya.


"Siapa namanya?"


O'ya. Siapa namanya? Toni melongo, memandangi satu per satu wajah - wajah di hadapannya.


BLANK!


Otaknya kosong, tak ada satu pun ide mengenai sosok wanita yang mendadak dirindukannya. Aneh!


"Aku tak ingat." desisnya putus asa.


Perasaan Toni menjadi kesal bercampur bingung. Kesal karena kalimat itu seakan sudah di ujung lidah tapi informasinya menguap entah kemana.


Dokter Livia mengangguk, dia paham bagaimana rasa melankolis pasien amnesia lebih mudah tersentuh. Biar bagaimana pun, mereka dalam posisi yang membingungkan.


Sshhh!


Ada apa dengan kepalanya. Kenapa selalu berdenyut setiap kali disuruh berpikir. Toni meringis. Penyakit sialan! Toni terus mengumpat dalam hati, menyesali dirinya sendiri.


Melihat Toni yang mulai tampak tertekan, Dokter Livia berkata, "Kemajuan anda sangat bagus, Tuan. Tapi kita sudahi dulu saja. Anda bisa beristirahat dan memanggil saya sewaktu - waktu anda ingin bercerita, Tuan."


Di Ruang Tamu kamar VVIP,


"Seperti yang sudah saya bilang tadi, Tuan Peterson. Progress-nya bagus, dia sudah mengingat banyak hal. Sayangnya, saya merasa kalau otaknya menolak untuk mengingat hari terakhir sebelum kejadian." ucap Dokter Livia dengan suara pelan.


Psikolog dan konselor Toni itu, tak mau pasiennya menjadi lebih sensitif kalau tahu mereka sedang membicarakan soal dirinya.


"Tapi dia mengingat calon istrinya." gumam Tuan Peterson.


"Dia ingat tapi tak pernah mau membicarakan soal Nona Tiffany." Dokter Livia membaca catatannya dan mencoba menganalisa.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Tuan Peterson.


Dokter Livia menggeleng, dahinya berkerut dan bibirnya mengerucut. Terlihat sedang berpikir keras.


"Saya tak tahu pasti, Tuan. Ada beberapa kemungkinan."


"Apa?"


"Mereka bertengkar atau Nona Tiffany melakukan sesuatu yang tidak disukai Tuan muda."


"Seingatku hubungan mereka baik - baik saja. Apakah ada yang membuatnya trauma?" Tuan Peterson melontarkan kecurigaannya.


Dokter Livia membetulkan kacamatanya, setelah itu dia mengangguk. "Kemungkinan yang paling besar adalah trauma. Sebaiknya jangan terlalu menekan dia dan berikan apa yang membuatnya nyaman. Saya yakin ingatannya akan segera pulih. Saat ini semuanya sedang tumpang tindih, beri waktu pada tubuhnya untuk memproses."


"Ya."


"Yang paling penting yaitu jauhkan Tuan Anthony dari stress."


Tuan Peterson diam sejenak, dia mengusap - usap dagunya.


"Bagaimana bisa menjauhkannya dari stress? Perusahaan menuntutnya untuk segera kembali." ucap Tuan Peterson seolah berbicara pada dirinya sendiri. Dia memutar - mutar cincin dream diamond di jari manisnya. Cincin itu sudah lebih longgar dibanding saat dia muda dulu, jarinya mengecil seiring dengan turunnya berat badan karena sakit.


"Bagaimana kalau Tuan Muda pergi berlibur dulu, Tuan? Mengenai perusahaan, anda bisa meminta Tuan Alex untuk kembali dan mengurusnya untuk sementara waktu." John yang dari tadi diam, akhirnya menawarkan sebuah solusi.


"Lalu kemana?"


John berpikir sejenak. "Bagaimana kalau ke villa di Greenfield? Setau saya, Tuan muda sangat menyukai tempat - tempat alami dan tenang. Dia bisa memancing di kolam, berjalan - jalan di perkebunan, berenang atau gym?" John menyebutkan satu per satu fasilitas yang ada di villa mereka.


Tuan Peterson manggut - manggut.


"Bagaimana menurut anda Dokter Livia?" Tuan Peterson tak menjawab pertanyaan John, dia malah bertanya pada konselor Toni.


"Iya, Tuan. Ajaklah dia pergi ke tempat - tempat yang sering dikunjunginya untuk menstimulus ingatannya. Ceritakan kembali apa - apa saja yang dulu sering dilakukannya disana. Kemudian biarkan dia dekat dengan orang yang membuatnya nyaman, Tuan." jawab Dokter Livia, sudut bibirnya melengkung ke atas.


"Siapa kira - kira yang bisa membuatnya nyaman? Aku tak tahu apakah dia akan senang saat bertemu kembali dengan Tiffany." ucap Tuan Peterson, matanya menyipit, mengingat - ingat penolakan Toni soal pernikahannya.


"Maaf, Tuan. Kalau dilihat dari reaksinya saat berbicara tentang Nona Tiffany, saya rasa Tuan Muda tak akan nyaman kalau berlibur bersamanya. Bukankah Tuan sudah tahu siapa yang membuat Tuan Muda merasa nyaman?"

__ADS_1


'Exactly, John! A nice shoot!


Bersambung ya....


__ADS_2