My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 50 -- Konseling


__ADS_3

Mata Tiffany terbuka, untuk sesaat dia kehilangan orientasi Waktu dan tempat, dia memandang langit - langit kamar yang asing, kemudian berguling dari pelukan seseorang hingga jatuh ke lantai.


Kepalanya pening luar biasa, perutnya bergejolak ingin mengeluarkan isi lambung. Tak sanggup berdiri, Tiffany merangkak mencari kamar mandi. Dia memerlukan pegangan untuk mencapai pintu dan masuk ke kamar mandi.


Begitu mencapai toilet, dia segera mengeluarkan isi perutnya hingga tenggorokannya terasa perih. Penampilannya seperti zombie. Sangat buruk! Rambutnya kusut, maskaranya berantakan dan tubuhnya bau al-ko-hol.


Tiffany bergegas menggosok gigi, menyisir rambut dan membersihkan wajahnya. Kemudian dia mandi di bawah pancuran sambil menunduk. Sementara air hangat mengguyur tubuhnya, dia berusaha mengingat - ingat apa yang terjadi semalam.


Dia ingat kemesraannya dengan Norman, pembicaraam tentang kon--dom, canda tawa mereka dan permainan putar botol mereka sambil bertaruh siapa yang kalah, dia harus melepas pakaiannya.


Ah, sial!


Dirinya terus menerus minum hingga tak sadarkan diri di atas sofa. Dan juga, bayangan laki - laki lain bergabung dengan mereka. Sentuhan - sentuhan hangat dan suara Norman yang tak henti - henti memujinya. Dia menyukainya, dia suka pria - pria memujanya.


Ugh! Tapi ada suara seorang lagi... , argh siapa sih dia? Tiffany mere-mas shower puff keras - keras, kalau begini terus cepat atau lambat pernikahannya dengan Anthony benar - benar akan gagal.


Sekoyong - koyong, bayangan kemarahan Toni muncul.


"YOU! STUPID B-I-T-CH!" seru Toni. Dia meraup pakaian Tiffany yang berserakan di lantai dan melemparkannya ke wajah calon istrinya. Kemudian dia segera memalingkan tubuhnya dari tubuh Tiffany yang polos.


BUK!


Belum sempat Bryan memakai pakaiannya, bogem sudah melayang ke hidungnya. Bryan terhuyung mundur, Toni merangsek. Dia menarik leher Bryan dan memasukkan kepalanya ke dalam bathub yang kebetulan masih penuh airnya.


Tiffany bergidik, dia segera menyelesaikan sesi mandinya dan keluar dari kamar mandi. Di tempat tidur, Norman terlihat masih terlelap. Berjingkat - jingkat, Tiffany memungut pakaiannya dan meninggalkan hotel.


***


Pengalaman traumatik masa kecil, seringkali membawa luka batin hingga seseorang dewasa dan kemudian akan membentuk kepribadian seseorang di masa dewasa. Jika tidak ditangani, maka pribadi - pribadi itu akan menjadi masalah bagi diri sendiri dan keluarga. Efek lebih besarnya, bisa jadi ke masyarakat.


Seperti itulah gambaran singkat yang selama ini dipegang oleh Dokter Livia setiap kali menganalisa seorang pasien.


Saat kemarin dia bertemu dengan Tiffany, kesan pertama yang terlintas adalah "Waah... wanita yang hebat."

__ADS_1


Dokter Livia mengagumi kecerdasan Tiffany dan rasa percaya dirinya yang tinggi. Namun saat melihatnya berseteru dengan Eliana dan Toni, yang dilihatnya adalah sebuah ambisi. Bukan jiwa yang patah hati.


Dan kini, wanita itu sedang duduk di hadapannya, dengan bahu terkulai, kedua tangan saling mengait dan merem-as - rem-as. Matanya bergerak liar dan kakinya tak mau diam, terus - terusan mengetuk lantai dengan heelnya yang se-xy.


Nyonya Wilson mengantar Tiffany ke ruang praktik Dokter Livia, Dokter terbaik di negeri ini. Dia membooking semua jadwal praktek klinik psikiatri hari ini. Tak ada seorang pasien pun di perkenankan datang. Kemudian menyuruh Dokter Livia tanda tangan di atas materai sebagai jaminan keamanan informasi pasien.


"Anda datang dan booking jadwal, seharusnya tak perlu seperti ini. Informasi pasien dijamin aman. Saya memegang teguh sumpah jabatan saya." ucap Dokter Livia sedikit tersinggung.


"Good." ucap Nyonya Wilson angkuh. Tatapanya memberi perintah supaya Dokter Livia segera menanda tangani kertas tersebut.


"Apa yang kamu rasa?" tanya Dokter Livia prihatin, dia mengira Tiffany hanya stress karena kejadian dengan Tuan Muda Peterson semalam.


Tiffany menarik napasnya dalam - dalam, mendongak memandang ke langit - langit dan menyipitkan mata.


"Aku merasa kalau akhir - akhir ini aku menggila."


"Maaf,... meng... gila?" tanya Dokter Livia hati - hati, tidak bermaksud menyinggung pasiennya. Namun dia juga tak paham apa maksud Tiffany. "Apa yang kamu maksud dengan menggila?"


"Aku benci mereka." Tangan Tiffany mengepal.


"Mereka?" Dokter Livia mengambil sebotol air mineral dan mendorongnya di atas meja ke arah Tiffany.


"Mereka cuma memanfaatkan wanita. Mereka anggap wanita itu the second grade of human. Kita harus nurut dan bisa diatur semau mereka. Tidak punya kehendak dan pikiran." Dia meraih botol mineral yang ada di meja dan meneguknya.


Dokter Livia berusaha memahami duduk permasalahannya, kalimat Tiffany tak mudah dimengerti. Dia seperti meracau.


"Hanya karena aku wanita, aku harus menikah dengan seseorang yang berpotensi supaya bisa mengaktifkan akses keuangan di perusahaan Papa."


Dokter Livia meletakkan pulpen, tak jadi menulis. Dia perlu memperhatikan setiap micro ekspresi, intonasi suara dan kata - kata termasuk umpatan - umpatan yang tak pantas dikeluarkan dari mulut seorang wanita.


Mendadak Tiffany menatap Dokter Livia, lekat - lekat dan tajam. "Kamu yakin, aku bisa pegang sumpah doktermu?" tanyanya dengan pandangan menyelidik.


Dokter Livia mengangguk mantap. "Anda boleh percaya saya."

__ADS_1


"Oke, aku akan cerita. Tapi jangan sekali pun judge aku."


Dokter Livia memegang buku catatan dan pulpen, bersiap mencatat setiap cerita yang keluar dari mulut Tiffany. Perasaan Dokter Livia mengatakan kalau apa yang akan dikatakan oleh Tiffany adalah hal yang mengejutkan.


Tiffany menarik napas dalam - dalam, kemudian dia mengucapkan sesuatu dengan cepat. "Aku, kami melakukan bertiga."


"Sorry?" Dokter Livia mengerutkan kening, Tiffany berkata terlalu cepat, dia tak menangkap kalimatnya.


"I. Had. Three. some." Tiffany mengeja kata demi kata.


Hah?


Ekspresi Dokter Livia blank. Kata - katanya menguap begitu saja. Siapa sangka anak keluarga terhormat, anggun, business woman yang sukses. Penampilan luarnya juga selalu anggun dan berkelas.


"Oh, s-h-i-t!" Tiffany mengerang kesal, frustasi dengan dokternya. Dia langsung berdiri, mengibaskan rambutnya ke belakang bahu, kemudian menunjuk Dokter Livia. "See! You judged me." Rasa percaya diri Tiffany mendadak pulih. Dia meraih tas dan berniat pergi. "Aku rasa aku datang ke orang yang salah."


"Tunggu, Nona." panggil Dokter Livia.


"Aku rasa, aku perlu mendengar pengalamanmu tentang... three...some."


"Apa kamu mau mendengar detailnya?" Tanya Tiffany dengan mata berbinar - binar, akhirnya senyumnya terbit. Dia kembali duduk dikursinya dan mencondongkan tubuhnya ke Dokter Livia. "Kamu akan terkejut kalau tahu dengan siapa saja aku berkencan." Ucapnya bangga.


"Bu... bukan dengan siapa kamu melakukannya. Tapi aku ingin tahu kenapa kamu melakukan itu." Saat itu juga Dokter Livia menjadwalkan session konseling berikutnya untuk mengetahui kelainan apa yang dimiliki oleh wanita muda dihadapannya.


Sesi konseling berlanjut dengan cerita Tiffany, mengenai pengalaman s-e-k-s dengan berbagai macam pria setiap kali dia stress atau tertekan. Satu kesimpulan awal yaitu Tiffany tahu bahwa gaya hidupnya tak bermoral. Tapi dia tak mampu melepaskan diri dari napsu.


Bersambung ya....


Note


1. Hangover : sakit kepala, tidak enak badan pusing, mengantuk, kebingungan, dan haus. Karena beberapa hal. Dalam kasus Tiffany karena alk-ohol


2. The second grade of human \= manusia kelas kedua. (maksudnya kelas satunya pria, wanita dibawahnya)

__ADS_1


__ADS_2