My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 48 -An Unexpected Moment


__ADS_3

"Eliana, please!" Toni memohon.


"Maafkan aku, seharusnya aku tak disini."


"STOP! Aku tak mau mendengar apa pun!" cegah Toni frustasi. Dia tak mau Eliana mengucapkan sesuatu yang akan mereka sesali.


"Kembalilah ke Nona ---"


"Hmph!"


Toni menutup mulut Eliana dengan mulutnya. Napas Eliana tercekat, matanya terbelalak kaget. Tangannya berusaha mendorong tubuh Toni. Tapi Toni tak mau ditolak, dia hanya mau Eliana tinggal.


He shut her up with a kiss. Lembut dan penuh perasaan.


Her legs turn into jelly. Lemas dan tak kuat menyangga tubuhnya.


(Kaki Eliana berubah seperti jelly.)


Toni menyudahi ciuman mereka, menempelkan dahinya ke dahi Eliana. "Maafkan aku. Aku hanya tak mau kamu berjanji untuk sesuatu yang tidak akan bisa kamu tepati." bisik Toni. Jempolnya mengusap lembut bibir Eliana. "I love you, Eliana."


Dead! She melted to him.


(Mati! Eliana meleleh karenanya.)


Sesaat kemudian, Toni berbalik menghadap wajah - wajah dengan beragam reaksi.


"Kamu lihat sendiri, Nona Tiffany. Bukan dia yang mengejarku, tapi aku. Aku yang mengejarnya." Toni meraih tangan Eliana, membawa tangan mungil itu ke dekat mulutnya dan kembali mengecup jarinya. "Andaikata pun dia tak menyukaiku, aku akan terus mengejarnya hingga dia jatuh cinta padaku." ucap Toni mantap. Lalu tersenyum pada Eliana, masih dengan sorot mata yang sama. Tatapan penuh cinta.


"OH! S-h-i-t my heart!" Maki alex kesal. An unexpected moment in a barbeque time.


Tiffany tak bisa berkata - kata, dadanya bergemuruh karena emosi dan merasa harga dirinya diinjak - injak.


'Chill, Tiff. The troop is in your hands.'

__ADS_1


(Kalem, Tiff. Pasukannya ada di tanganmu.)


Kepercayaan diri Tiffany mendadak pulih, dia menatap Toni dengan pandangan optimis. "Aku tak menganggap serius kata - katamu kali ini, honey. Berpikirlah ulang. Aku yakin kamu akan segera merubah pikiranmu setelah kamu sadar kalau aku yang terbaik untukmu."


Selanjutnya dia melangkah mendekati Toni dan Eliana, matanya memindai Eliana dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku punya sebuah kue tart yang indah dan lezat. Alangkah baiknya kalau aku membaginya sedikit pada seseorang yang kelaparan." Tiffany tersenyum miring dengan sorot mata menghina.


"Ciuman dari Anthony tadi adalah sedekah dariku untukmu, Suster Eliana. Kamu boleh mengincipnya sedikit. Tapi potongan terbesar tetap akan menjadi milikku." Kemudian Tiff mengambil tasnya di kursi dan segera pergi meninggalkan rumah keluarga Peterson.


Sementara Dokter Livia dan John bertukar pandang, di kursinya Granpa memejamkan mata, tangannya memijat - mijat pangkal hidungnya. "Badai akan datang setelah ini, John."


"Sepertinya badainya sudah menuju kemari, Tuan besar." ucap John sambil menunjukkan ponselnya tak berhenti menerima pesan dan telepon sejak dirinya mulai berbincang soal Neverland Island.


"O'ya?" tanya Grandpa.


Mata beliau menyipit, terlihat jelas dari raut wajahnya kalau beliau tengah memikirkan sesuatu. Walaupun sudah tua, ingatan Tuan Peterson masih cukup kuat. Ketajamannya berpikir pun masih bagus.


John mengangguk. Matanya masih saja mengarah pada layar ponselnya. Nama dan nomer yang tertera berganti - ganti. Dari yang dikenal sampai nomer asing. Sepertinya mereka orang yang gigih dan tidak gampang menyerah, saat sadar kalau John tidak mengangkat satu panggilan pun, maka mereka memberondong aplikasi pesannya. Ribuan chat masuk bersamaan menanyakan kepastian pernikahan Tiffany dan Toni.


***


"Kamu kenapa?" tanya Eliana cemas. Dia duduk di sebelah Toni.


"Tidak ada apa - apa." Toni tidak menoleh, dia masih memegangi kepalanya seakan kepalanya hampir meledak.


Eliana memiringkan kepalanya, heran. Jawaban Toni seharusnya aku tidak apa - apa, bukan tidak ada apa - apa. "Boleh aku tahu ada apa dengan Toni, John?" tanya Eliana pada satu - satunya orang yang tahu apa yang sedang terjadi.


John berada di persimpangan antara menjelaskan tapi khawatir pada reaksi spontan yang akan ditunjukkan oleh wanita muda ini.


Sesaat John menatap Tuan mudanya yang terlihat frustasi. "Ehm, begini Nona Eliana... " akhirnya John duduk di hadapan Eliana dan Toni, memutuskan lebih baik Eliana tahu sekarang dari pada nanti. "Seperti yang anda ketahui, skill dan kemampuan serta kesehatan Tuan Anthony sudah maju pesat. Boleh dikatakan sudah pulih. Tuan besar menyuruh saya untuk mempersiapkan Press Release soal penggantian kepemilikan Peterson Corp kepada Anthony Peterson."


Eliana mengangguk, dia sudah pernah mendengarnya dari Tuan Peterson mau pun Alex.


"Sore tadi mendadak saham kita meroket. Dan, maaf... " John menunduk. "Ternyata semua itu karena perngaruh kabar kalau Tuan Muda Peterson sudah kembali ke perusahaan dan akan segera melangsungkan pernikahan dengan Nona Tiffany."

__ADS_1


Terdengar hembusan napas dari Toni, dia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Toni memejamkan mata sejenak, jarinya memijit - mijit dahinya semakin keras.


"Siapa yang mulai menyebarkan berita ini?"


"Bukan masalah siapa yang menyebarkan, Tuan. Yang jelas, pemegang saham dan investor berharap banyak pada hubungan Tuan dan Nona Tiffany."


Eliana tertegun. "And, then?"


".... tim managemen, tim legal, analisis marketing, public relation dan jajaran komisaris sepakat kalau pembatalan pernikahan Nona Tiffany dan Tuan Anthony akan menghambat jalannya perusahaan."


Toni merem-as - rem-as rambutnya dengan jari - jari, dan kembali mendesah. Lelah.


"Eliana mengerutkan keningnya, dia yang buta akan masalah bisnis dan segala t3t3k bengeknya, mecoba memahami pola pikir mereka. "Apakah maksudnya kalau Toni membatalkan pernikahan akan berdampak pada saham perusahaan?"


John mengangguk. "Ya, Nona. Saat ini berkat kabar pernikahan yang di blow up, investor banyak datang dan memang kita membutuhkan banyak dana untuk mengerjakan beberapa proyek. Membatalkan pernikahan dengan gegabah, akan merugikan kalian dan perusahaan di masa depan."


"Oh... , aku mengerti dan paham... " suara Eliana tercekat.


"Bukan itu, Sayang.... " Toni berusaha menjelaskan sesuatu.


Tapi, sia - sia. Eliana menyadari bahwa dia akan menjadi masalah bagi masa depan Toni dan perusahaan. Sumber masalahnya adalah hubungannya dan Toni.


Eliana bisa melihat dengan jelas. Semua sudah dirancang dengan baik, mulai dari Toni sebagai penerus Tuan Peterson hingga pernikahan dua ahli waris Wilson dan Peterson. Tapi semuanya berantakan, karena dirinya masuk dalam kehidupan Toni.


Tanpa sadar Eliana sedikit menggeser posisi duduknya, menjauh dari Toni. Bahasa tubuhnya menunjukkan dia menarik diri. Hati Toni mencelos. Rasa takut akan kehilangan Eliana kembali menyergap. Dia menoleh pada John. "Aku tak peduli, John. Umumkan pembatalan pernikahan, bukan ditunda. Tapi, batal!" Toni memberi penekanan pada kata terakhir.


Bersambung ya....


Note



An Unexpected moment : moment yang tidak diharapkan

__ADS_1


Press Release : salah satu kegiatan Humas untuk mempublikasikan lembaga melalui media massa.



__ADS_2