My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 22 -- I Saw Toni


__ADS_3

"Waaah, besar sekali!" ucap Eliana spontan saat melihat rumah mewah dengan halaman super luas terbentang dihadapannya.


Penjaga membukakan gerbang untuk mereka, dan John mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah utama milik Tuan Peterson.


"Untung saja aku bersamamu, John. Kalau tidak, bisa - bisa aku tersesat." celetuk Eliana lagi sambil melihat pemandangan yang dilewatinya dengan sorot penuh kekaguman.


"Hebat sekali!" desis Eliana. Aku tak pernah menyangka Tuan Peterson ternyata sekaya ini. "Kalau berjalan kaki bisa - bisa kita sampai di rumah utama sore hari."


Eliana terus mengomentari apa saja yang dilihatnya. Dia sudah sering melihat rumah - rumah mewah seperti ini, tapi hanya di TV atau internet. Tapi, melihat langsung terasa berbeda dari pada hanya di video atau gambar.


"Tidak, Nona. Kalau berjalan kaki mungkin hanya sekitar sepuluh menit." sahut John dengan sopan. Kemudian kembali fokus menyetir.


"Waaah... hebatnya."


Lagi - lagi Eliana tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat memasuki area rumah utama yang megah bergaya eropa modern. Rumah berwarna putih tulang dengan pilar besar di kedua sisi dan air mancur besar di depan rumah.


"Silahkan, Nona." John membukakan pintu mobil untuk Eliana.


Eliana turun dari mobil, mulutnya tak bisa berhenti untuk berdecak kagum. Melihat sikap Eliana yang begitu apa adanya, John tersenyum tipis. Sekarang dia mengerti kenapa Tuannya menyukai wanita sederhana ini.


John mendahului Eliana untuk masuk ke dalam rumah. Eliana mengekor kemana pun John melangkah. Begitu masuk ke dalam rumah, wanita itu disambut oleh sebuah ruang tamu yang luas dengan sofa besar ditengah - tengah ruangan.


"Hey, John. Tunggu aku." panggil Eliana setengah berlari. Dia sedikit ketinggalan karena fokusnya terpecah antara John dan keindahan interior rumah Tuan Peterson. Beberapa pelayan yang berpapasan menundukkan badan dengan sopan saat mereka lewat, Eliana pun membalasnya dengan sedikit membungkuk. Kakinya terus melangkah masuk ke dalam.


Ups!


Sudut matanya menangkap sesosok laki - laki memakai setelan jas rapi sedang berdiri menghadap keluar jendela besar. Tak mungkin Eliana salah, rambut cokelat dan matanya saat dilihat dari samping. Itu milik Toni. Langkah Eliana terhenti, tak bisa tidak dia menoleh ke sosok yang mencuri perhatiannya.


"Toni?" katanya pelan.


Mendengar nama yang disebut oleh Eliana, John menghentikan langkahnya. Pria itu tertegun saat Eliana berbalik arah dan berjalan menuju ke arah dimana Toni berdiri.


"Nona." panggil John.


Eliana tak mendengar suara John, seluruh perhatian dan pikirannya bagaikan tersedot oleh pria yang ada si hadapannya. Langkahnya terus mendekat, dan semakin dekat.


Tanpa sadar Eliana menahan napas dan menggigit bibirnya.

__ADS_1


"Ouch!"


Sakit! Berarti dirinya tak bermimpi! Laki - laki yang sedang memandang danau buatan di balik jendela besar itu adalah Toni. Dari samping, Eliana bisa melihat pria itu menatap kosong pemandangan di hadapannya. Melamun!


"Toni!"


"ELIANA!"


Suara Eliana yang setengah berteriak, bertemu di udara dengan suara menggelegar milik Tuan Peterson.


Eliana melonjak.


Nampak Tuan Peterson duduk diatas kursi rodanya. Pria tua itu memandang Eliana dengan tatapan tajam dari ujung ruangan.


"Ii-iya, Tuan." jawab Eliana, tergopoh - gopoh menghampiri.


Reflex Eliana membungkukkan tubuhnya seperti kebiasaannya di rumah sakit setiap kali Tuan Peterson memanggil. "Ada yang perlu saya bantu Tuan?" tanyanya.


"Lamban sekali kamu, Eliana." dengus Tuan Peterson kesal. "Aku menunggumu sejak tadi di ruanganku, kenapa kamu tak juga datang?"


"Uhm.... maaf, Tuan."


"Ooh, jadi dia yang akan menjadi perawat baru grandpa?" Suara seorang pria terdengar dari balik punggung Eliana.


Ya Tuhan!


Lagi - lagi ternyata Eliana salah lihat, pria di depan jendela itu bukan Toni. Suaranya lebih berat dan dalam, berbeda sekali dengan suara Toni yang lembut. Eliana termangu menatap pria yang sudah berdiri di sebelah kursi roda Tuan Peterson.


"Eliana! Jaga pandanganmu!" tegur Tuan Peterson tanpa menanggapi pertanyaan dari pria yang memanggilnya dengan panggilan grandpa.


HAH?!


"Iya, Tuan." Eliana segera mengalihkan pandangannya dari laki - laki tampan itu ke Tuan Peterson. Wajahnya merah padam, malu.


Pria itu terbahak. "Namaku Alex. Siapa namamu, Cantik?"


Ya ampun, manis sekali mulut pria ini. Wajahnya sekilas memang mirip dengan Toni, tapi dia sedikit lebih tinggi dan warna rambutnya sedikit lebih terang dari Toni. Dia bukan Toni, cara bicaranya saja sudah berbeda.

__ADS_1


"Hey, jangan pandangi wajahku karena aku tak mau bertanggung jawab kalau kamu jatuh cinta padaku, Nona!"


Cih! Percaya diri sekali dia. Kalau saja wajahnya tidak mirip dengan Toni, tak akan mungkin Eliana memandanginya berlama - lama.


"Mau sampai kapan kamu disitu, Eliana? John atau kamu yang akan mendorong kursi rodaku?" sergah Tuan Peterson.


"Saya, Tuan." sahut Eliana cepat.


Eliana mengulum senyum, Tuan Peterson adalah tipe orang yang keras di mulut saja dan tak mudah mengungkapkan isi hati. Kursi rodanya adalah kursi roda tipe otomatis yang bisa berjalan tanpa bantuan orang lain. Beliau hanya tinggal memutar konsol navigasinya, tapi secara tak langsung tadi Tuan Peterson memintanya mendorong.


*


Di kamar Tuan Peterson,


"Kalau John tidak memberitahumu aku sakit keras, kamu tak akan datang untuk menjengukku kan?" tanya Tuan Peterson, suaranya terdengar begitu kesal.


Eliana meringis, merasa bersalah. Dulu dia yang berjanji akan menjenguk Tuan Peterson meskipun dia sudah tak bekerja di St. Paul. Tapi yang terjadi adalah dia benar - benar melupakan pria tua ini.


"Maaf, Tuan. Aku ada masalah, kakakku menghilang. Jadi aku... "


"Itulah kenapa aku selalu bilang kamu orang bodoh, Eliana. Kamu bahkan tak tahu siapa orang yang kamu sebut kakak, dan kamu kehilangan segalanya karena orang itu." potong Tuan Peterson cepat.


Tapi kali ini nada suara Tuan Peterson terdengar lebih halus dan tenang, seperti bapak yang berbicara pada anaknya. Dia diam sejenak, seorang pelayan masuk, mengantarkan snack dan minuman untuk mereka.


Eliana menunduk.


'Orang boleh mengatakannya gila atau buta. Mempertaruhkan semuanya dalam sekejap. Tapi aku tak bisa mengeluarkanmu dari kepalaku. Tak peduli siapa kamu, dari mana asalmu dan apa latar belakangmu.' ~ Eliana ~


Tuan Peterson menghembuskan napas, matanya yang keriput menyipit, mencoba memahami apa yang tengah berkecamuk di hati Eliana.


"Apa yang akan kamu lakukan kalau bertemu dengannya?"


Hmmm... , Eliana bingung harus menjawab apa.


"Saya tak tahu, Tuan." Eliana mengangkat wajahnya dan menatap sendu. "Saya hanya ingin memastikan dia baik - baik saja."


Hhhh...

__ADS_1


Tuan Peterson menghela napas, entah kenapa dia ikut pusing memikirkan kisah Eliana dan pria yang disebut 'kakak' itu.


Bersambung ya....


__ADS_2