My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 63


__ADS_3

"Anda pasti sangat mencintainya, Tuan." ucap Suster Brown.


"I do love her." jawab Toni getir.


Pandangannya menerawang saat dia mengatakan perasaannya kepada orang yang tak dikenalnya. Sementara itu perasaan kalah dan gagal terus menyeruak di dalam dadanya. Dia sudah gagal untuk menjaga orang yang sangat di cintainya.


Suster Brown tersenyum, berusaha memahami apa yang dirasakan oleh Toni sekarang. "Calm down, Tuan. Istrimu akan segera sadar. Sementara menunggu, tolong pastikan anda makan sesuatu. Aku tak ingin melihat anda pingsan nanti."


Toni hanya bisa mengangguk. "Oke. Thanks." Dia berbalik dan melangkah gontai keluar ruangan.


Suster Brown memandangi punggung Toni yang lebar. Lelaki itu terlihat berantakan. Buku - buku jarinya terlihat memar dan berdarah, tapi dia menolak untuk diobati. Rasa sakit di tangannya tidak ada apa - apanya kalau dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.


Sepertinya laki - laki ini juga membutuhkan pertolongan. Dia terlihat sangat terguncang. Suster Brown bergegas menyusul Toni.


"Sir." panggilnya.


Toni menoleh. "Ya?"


Suster Brown mengambil sesuatu dari kantongnya, dan menyelipkannya ke tangan Toni. "Makanlah. Kamu harus kuat demi istrimu." Dia menepuk hangt bahu Toni, seperti seorang ibu menepuk bahu anak lelakinya.


Toni terpaku di tempat, menatap Suster Brown berjalan yang kembali ke pos jaga. Dia menunduk untuk melihat apa yang diberikan kepada suster baik hati itu kepadanya.


Sebungkus protein bar.


Tangannya bergetar dan pandangannya kabur, emosi Toni membuncah. Selalu ada orang baik di setiap situasi sulit.


*


Toni.


Kata pertama yang muncul dalam pikiran Eliana saat dia sadar adalah Toni. Eliana membuka matanya dan berkata pelan. "Toni..."


Suster Brown yang kebetulan sedang mengecek keadaanya tersenyum, dia menghampiri Eliana dan menyapa ramah.


"Hello, Sayang. Saya Suster Brown. Apa kamu ingat siapa namamu?"


Bola mata Eliana bergerak ke arah suster Brown. "Namaku Eliana. Eliana Gracia ehm... Peterson. Eliana Peterson."


Suster Brown tersenyum lega. "Kamu tadi menyebut nama seseorang. Toni. Siapa dia?" tanyanya lagi, mencoba mengetes ingatan Eliana.


Siapa Toni? Dulu dirinya pernah memanggil Toni sebagai teman, saudara dan kakak. Mereka pernah tinggal bersama. Now, he's my man. My love. Dan mereka juga baru saja menikah.


"Husband. He is my husband." jawab Eliana.

__ADS_1


"Congratulation! Saya juga sudah mendengar kalau kamu adalah pengantin baru." Suara Suster Brown terdengar ceria dan ikut berbahagia.


Bibir Eliana melengkung keatas, menanggapi ucapan selamat suster Brown dengan sopan. "Kenapa aku disini?" tanya Eliana kemudian.


Ha?!


"Apa kamu ingat kenapa kamu dibawa kemari?" tanya Suster Brown sambil mengamati ekspresi Eliana baik - baik. Wanita muda di hadapannya, baru saja mengalami kejadian buruk, sangat wajar kalau dia melupakan kejadian yang baru saja diamatinya.


Suster Brown bergidik, membayangkan kalau Eliana bisa saja tidak selamat dari kasus pem-erko-saan.


Eliana menggeleng. "Kepalaku pusing."


"Apa ada keluhan lain?" Suster Brown mengambil clipboard dari meja di dekat Eliana, dan bersiap mencatat keluhan Eliana.


"Perutku sakit."


"Apa lagi? Ada yang lain?" tanya Suster Brown sambil mencatat hasil observasinya.


"Pegal. Lapar. Haus."


"Apa anda ingin makan?"


Eliana menggeleng.


"Toni." ucap Eliana pelan. "Aku ingin bertemu dengan suamiku."


Suster Brown tersenyum. "Baiklah, saya akan memberitahu suamimu. Tapi sebelumnya saya akan panggilkan dokter lebih dahulu untuk mengecek kondisimu."


***.


Police Station


"Katakan kenapa anda menyuruh orang untuk memasukkan obat bius dan obat perang-sang ke minuman Nona Eliana Gracia!"


Toni mendengarkan pertanyaan penylidik, dari balik kaca ruangan di kantor polisi Lakewood. Disana duduk Tiffany Wilson sebagai tersangka dan Detektif Shawn sedang menginterogasi dia.


Tiffany, yang menjadi salah satu tersangka atas peristiwa ini, duduk dengan ekspresi angkuh. Sejak awal dia menjawab pertanyaan dengan berbelit - belit. Berkali - kali dia menolak menjawab pertanyaan apa pun tanpa di dampingi pengacaranya.


"Saya tidak ada hubungannya dengan peristiwa itu, dan tidak tahu menahu soal obat apa pun itu." jawab Tiffany dengan tenang. Dia duduk sambil menyilangkan kaki, kancing blouse bagian atasnya sengaja dia buka dua buah hingga belahan da-danya terlihat jelas dan membuat para polisi salah fokus.


Untunglah detektif Shawn termasuk penyidik yang profesional dan memiliki integritas yang bagus. Dia tahu bagaimana sebagian kriminal wanita mencoba menawarkan 'sesuatu' untuk mengecoh dan perhatian polisi dan mengacaukan investigasi.


Detektif Shawn menyipitkan mata, memandang lurus kepada Tiffany berusaha mengin-timidasi gadis itu. "Anda terbukti ada di daerah sana saat kejadian dan anda telah mengundang orang - orang untuk party dan free, mereka tak perlu membayar apa pun disana."

__ADS_1


"Memang kenapa kalau saya mentraktir teman - teman saya disana? Itu fasilitas publik. Siapa yang berduit, dia bisa membayar semuanya." Tiffany berbicara sambil mencondongkan tubuhnya ke arah detektif Shawn. Belahan da-danya sungguh menggoda, detektif Shawn berusaha keras menatap mata gadis itu dan mencoba untuk terus membuat matanya untuk tetap fokus disana.


"Tapi beberapa teman - teman anda melakupan pele-cehan disana dan mereka mengakui kalau semua atas permintaan anda."


"Saya mengenal dan mengundang mereka kesana. Tapi kelakuan mereka disana bukan tanggung jawab saya."


Toni mendengus melihat kelakuan Tiffany yang murahan, dia bersyukur mengalami kecelakaan dan bertemu Eliana hingga dirinya memutuskan membatalkan pernikahannya.


Waktu terus berjalan, pembicaraan Tiffany dan penyidik yang berbelit - belit membuat Toni gelisah. Dia tak punya banyak waktu untuk menunggu Tiffany mengakui perbuatannya. Wanita itu sepertinya sengaja mengulur - ulur waktu untuk menunggu pengacaranya datang.


"Kesaksian Bryan dan Tiffany bertolak belakang." keluh Alex yang juga hadir disana sebagai saksi. Wajahnya sama lelahnya dengan Toni, tapi dia tak mau meninggalkan saudaranya. Toni butuh support. Dan dia sekali lagi telah melakukan kebodohan hingga menjerumuskan Toni dan Eliana.


Toni menghembuskan napasnya dan bertanya pada inspektur polisi yang sedang berdiri di sebelahnya. "Bisakah saya menemuinya sebentar?"


Inspektur itu mengangguk. "Waktu anda hanya lima menit, Sir."


"Oke, thank you Sir."


Saat Toni masuk ruangan, Tiffany langsung menghambur kepadanya. "Honey!" panggilnya dengan air mata berderai, berharap air matanya bisa meluluhkan hati Toni.


Toni melepaskan pegangan Tiffany di pinggangnya. Dia mundur selangkah dan menjaga jarak. "Duduk!" perintahnya.


"Honey, please... Ini tidak seperti yang mereka ceritakan padamu. Aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu."


Toni menatap tajam kepada Tiffany dan memberi kode untuk duduk. "Kalau begitu jelaskan semuanya kepada penyidik."


Dada Tiffany naik turun karena emosi, tapi mau tak mau diturutinya juga perintah Toni. Terlihat jelas kalau pria dihadapannya tak bisa lagi dibantah.


"Nona Tiffany Wilson." panggil Toni, suaranya tenang dan dalam. Dia menggeser kursi di hadapan Tiffany dan duduk disana. "Aku tidak akan mencabut laporan soal kejahatan ini sampai anda membuka mulut. Dan Bryan akan bersaksi untuk memberatkanmu."


"Apa?!"


Bersambung ya....


Note:


1. Protein bar : camilan dari bahan bernutrisi seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan yang sudah dikeringkan. Selain itu, sejumlah produsen juga menambahkan yogurt, susu, dan putih telur ke dalam produk mereka.


Di Indo yang hampir meniru dan bisa di dapat di Indomaret yaitu Soy Joy Bar.


2. Clipboard : papan klip yang dipakai untuk menuliama


3. Calm down \= tenang

__ADS_1


__ADS_2