
Eliana terkantuk - kantuk menunggu Alex yang belum juga pulang. Sementara Toni sedang membaca tulisan di tabletnya, barusan John mengirim email berisi data dan jadwal kegiatan yang harus dilakukan oleh Toni begitu kembali dari honeymoon.
John juga mengirimkan email berisi permintaan kepada Toni untuk menjadi narasumber dalam sebuah acara televisi terkenal. Toni harus menimbang - nimbang dan menonton tayangan mereka sebelum memutuskan.
"Kamu tidur saja. Setelah kamu tidur, aku akan turun dan menunggu Alex dibawah." Toni menghentikan aktivitasnya saat melihat dari sudut matanya kalau Eliana berkali - kali menguap.
Sekali lagi Eliana menguap, dia merangkulkan lengannya di leher Toni yang sedang duduk di sampingnya di sofa kamar. "Tapi jangan marah - marah sama Alex kalau dia datang. Ya? Trus jangan lupa ajak dia ikutan diving di great barrier."
Toni menoleh dan mengecup pipi Eliana. "Okay.... " Kemudian dia tersenyum dan menarik leher istrinya supaya bisa mencium bibirnya.
Sejenak mereka bermesraan, sampai Eliana menyudahi duluan karena khawatir Toni malah meminta lebih. Malam ini dia ingin tidur nyenyak bukannya melakukan hal lain. Sudah cukup dia menunaikan tugasnya hari ini.
"Good night." bisiknya sambil mengusap rahang Toni.
"Sleep tight." balas Toni.
Dia memandangi punggung Eliana yang berjalan menuju tempat tidur dan begitu kepalanya menempel di bantal, Eliana langsung terlelap. Tak sampai lima menit, bunyi napas teratur sudah terdengar.
Perlahan Toni bangkit sambil membawa tabletnya, dia mendekat ke tempat tidur dan merapikan selimut Eliana. Mengecup kepalanya dan segera turun ke bawah. Takut kalau - kalau ketukan pintu akan membangunkan istrinya yang baru saja terlelap.
Di lantai satu, Toni kembali fokus pada pekerjaannya. Tanpa sadar dia juga sudah menonton banyak tayangan interview dari stasiun TV yang mengajaknya menjadi narasumber.
"Heeeeggh... "
Toni menggeliat, menarik kedua tangannya tinggi - tinggi. Melemaskan ototnya yang terlalu lama duduk dalam posisi yang sama. Matanya melirik jam yang menempel di dinding. Sebentar lagi tengah malam tapi Alex belum juga pulang.
Mungkin berikutnya, Toni akan memberi Alex kunci cadangan saja jadi dirinya tak perlu menunggu seperti ini. Untuk kali ini, Toni tak masalah karena dia ingin menanyakan sesuatu kepada Alex.
Toni menimbang - nimbang, apakah akan menelpon Alex atau tidak. Rasanya sungguh aneh menelepon seorang pria dewasa untuk cepat pulang ke rumah, meski pun dia itu adalah adiknya.
Atau sebaiknya dia mengunci pintu dan membiarkan Alex tidur diluar? Ah, lagipula Alex punya uang. Dia bisa saja pergi lagi dan menginap di hotel dekat daerah sini. Membayar hotel bukan masalah besar untuk Alex.
Ah, tapi dia adalah seorang pria dewasa, suami dan penerus Peterson Group. Tidak seharusnya dia bersikap kekanak - kanakan.
Setelah dipikir - pikir lagi, selama pernikahannya berjalan lancar, semua masalah akan bisa diatasi dengan baik. Semua masalah selalu memiliki sudut pandang masing - masing, jadi yang perlu dilakukannya adalah berpikir lebih bijaksana dari segala perspektif.
Toni berdiri dan berjalan ke pintu utama untuk memeriksa sekali lagi keadaan dan dia akan menunggu sebentar hingga tengah malam. Andaikata Alex belum juga pulang, maka dia akan menutup pintu dan masuk. Baru saja Toni hendak membuka pintu utama, Alex sudah berdiri di ambang pintu dan menyapanya. "Hey, Toni!" sapanya sambil melambaikan tangan.
Ekspresi Toni langsung berubah tak suka begitu menyadari Alex sedang mabuk. "Masuk!" perintahnya sambil membuka pintu lebih lebar.
Alex terkekeh dan melangkah masuk.
__ADS_1
Toni mengernyitkan hidungnya mencium bau alkohol dari tubuh Alex. Dia menutup pintu dan berjalan melewati Alex yang sedang melepas jaketnya. "Sudah makan?" Tanyanya sambil lalu.
Alex mengangguk. "Dinner bareng Livia tadi, trus ke club." jawabnya sambil menggantung jaketnya di gantungan dekat pintu.
Hhh... , Alex benar - benar menguji kesabarannya. Baru saja dia bertekat untuk berbaik hati, sekarang adinya itu sudah pulang dalam kondisi mabuk.
Toni masuk ke dalam dapur untuk mengambil minum, dia bisa merasakan kalau Alex mengikutinya dengan langkah terseok - seok.
"Minum." Toni menuangkan segelas air dan menaruhnya di atas meja.
Alex duduk di kursi dan meminum airnya. Dia menghabiskannya dalam sekali tegukan. Perjalanan hari ini cukup panjang dan melelahkan, tanpa sadar membuatnya kelelahan dan haus.
"Eliana sudah tidur?" tanyanya pada Toni yang sedang membuka kulkas.
Toni mengeluarkan meat pie dan sausage sangers yang sengaja disisihkan oleh Eliana untuk makan malam Alex. Sebenarnya tadi Toni sudah memberitahu Eliana, kemungkinan besar Alex sudah makan malam bersama Livia. Tapi Eliana berkeras menyuruhnya berhenti makan dan menyisihkan beberapa potong untuk Alex. Akhirnya Toni menahan diri untuk tidak menghabiskan makanan yang lezat itu.
Tanpa banyak bicara, Toni meletakkan makanan itu ke dalam microwave dan mulai memanaskannya.
Alex memandangnya terharu, dari dulu selalu begitu. Toni selalu terlihat membencinya, tapi dia juga orang yang selalu mengurusnya. Perasaan bersalah meliputi hati Alex, lagi - lagi dia merepotkan kakaknya. Seharusnya malam ini Toni tidur sambil memeluk istrinya, bukan menunggu dia pulang dan malah menyiapkan makan malam untuknya.
"Maafkan aku, Toni."
"Maafkan aku sudah mengganggu kalian."
Alis Toni bertautan, dia menunggu kalimat Alex selanjutnya.
"Tadi aku mendengar kalian ribut dan aku memutuskan untuk... --"
"Besok kami berencana untuk diving dan naik kapal pesiar."
"Ha?" Alex mendongak, kaget karena Toni memotong kalimatnya.
"Besok kami akan ke Great Barrier. Apa kamu mau ikut? Kamu boleh mengajak Livia sekalian."
Alex memandang Toni bingung.
"Eliana pasti akan senang bertemu dengan Livia, mereka berteman baik sekarang. Dan aku yakin, dia tidak akan senang kalau aku terus - terusan memusuhimu. Jadi, aku putuskan untuk mencoba berdamai denganmu."
Otak Alex belum ON sepenuhnya karena efek alkohol sehingga sedikit lambat dalam memproses informasi. Tapi hati kecilnya bisa merasakan niat baik Toni padanya.
Setelah berbincang bersama Livia, Alex sudah memutuskan untuk berbicara pada Toni. Dia tidak akan kabur lagi. Lebih baik minta maaf, dirinya bukan pengecut. Meski pun semua atas perintah Grandpa.
__ADS_1
Tapi kenyataannya, Toni selalu selangkah di depannya. Dia malah mengajaknya untuk pergi bersama. Tentu saja Alex jadi gelagapan. Dia tak pernah menyangka kalau Toni akan menurunkan gengsinya dan menunjukkan sikap bersahabat. "Eh... iya. Oke. Livia dan aku akan join." jawabnya.
Toni mengangguk. Dia berbalik ke microwave yang berdenting, menandakan bahwa alat itu sudah selesai melaksanakan tugasnya menghangatkan makanan.
Dengan hati - hati, Toni mengeluarkan makanan satu demi satu. Harum sosis dan keju bercampur di udara menggugah selera makan Alex. Dia memandangi makanan - makanan di hadapannya. Meat pie, sausage sangers dan chicken parmigiana. Air liur Alex hampir menetes melihat penampilan sosis lokal yang padat dan berwarna kecoklatan.
"Eliana melarangku memakan semuanya saat makan malam tadi. Dia khawatir kamu belum makan saat pulang kesini, jadi dia menyisakan ini untukmu." Toni menunjuk dua potong sausage sanger di piring dan dua makanan lainnya. "Tapi kalau kamu sudah makan, aku yang akan menghabiskannya sekarang."
Lho?
"Eeh... , eh... , tunggu!" Alex menahan tangan Toni yang hendak meraih sausage sangers. "Bagi dong, ternyata aku lapar lagi. Kamu satu dan aku satu. Sharing is caring." ucap Alex dengan wajah memelas.
Sosis Australia ini adalah makanan favoritnya, mana bisa dia melewatkannya begitu saja. Sebenarnya dia juga mau makan keduanya, tapi tak enak hati pada Toni yang sudah menunggunya hingga tengah malam.
Toni menghela napas. "Ya udah deh. Lainnya boleh kamu habisin. Jangan lupa cuci piring."
Alex nyengir. "Nanti aku yang cucikan."
Kedua laki - laki itu duduk di meja makan, menghabiskan tiga macam makanan khas Australia. Percakapan pelan terdengar di dapur yang hangat, sementara kettle berisi air hangat sudah mulai beruap, siap untuk menyeduh teh chamomile.
"Apa ada yang mau kamu ceritakan?" tanya Toni setelah suasana di antara mereka sudah lebih cair.
"Banyak."
"Ya?"
"So much to tell. Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
(Banyak yang harus diceritakan.)
Toni tersenyum, dia menyandarkan punggung ke kursinya sambil menyelonjorkan kakinye ke bawah meja. Terlihat lebih relax dan menghakimi.
Mendapati perlakuan Toni yang santai seolah tak pernah terjadi masalah apa pun diantara mereka, Alex menghembuskan napas lega.
Baiklah, kalau Alex sulit memulai maka Toni yang akan mengawali dengan pertanyaan. "Kenapa Grandpa menyuruhmu kesini?"
Akhirnya pertanyaan yang sempat tertunda itu, terlontar juga dari mulut Toni. Dia penasaran apa alasan utama Grandpa sampai tega - teganya 'mengganggu' honeymoon Toni dan Eliana.
Alex menarik napasnya dalam - dalam dan memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan yang membuat Toni membelalakkan matanya. "Kamu tau kalau Tiffany kabur ke Australia?"
Bersambung ya....
__ADS_1