
Peristiwa traumatis tak bisa hilang begitu saja di hati orang yang terluka. Eliana masih memiliki luka dan bekasnya pun akan tetap ada hingga kapan pun. Namun dia memutuskan untuk berdamai dengan keadaan dan menganggap semuanya selesai.
Dia merasa beruntung, setidaknya ada Toni yang akan selalu bersamanya. Dan juga orang yang tulus menyayanginya seperti Grandpa Peterson.
"Grandpa... " sapa Eliana begitu masuk ke rumah utama. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menginjakkan kaki dan bertemu dengan orang tua yang disayanginya itu.
Setelah session nice quickie mereka, Toni dan Eliana sarapan sambil menunggu pelayan mengantarkan perlengkapan Eliana. Kemudian mereka segera menemui Grandpa yang terus bertanya - tanya soal Eliana.
Tuan Peterson menghampiri Eliana dengan kursi rodanya. Beliau merentangkan tangan menyambut wanita yang sudah menjadi cucu menantunya. "Eliana!"
Eliana menghambur dan memeluk beliau dengan posisi berlutut supaya tinggi mereka bisa sejajar.
Orang tua itu menepuk - nepuk bahu Eliana seolah ingin memberi kekuatan dan berkata bahwa dia akan aman. Sekuat tenaga Eliana menahan tangis, ingatannya kembali ke malam itu.
"Tidak apa - apa, Eliana. Sudah selesai, semuanya baik - baik saja."
"Grandpa... tau?" tanya Eliana pelan.
Tuan Peterson mengangguk sedih, matanya sayu. "Alex memberitahuku semalam."
Toni berdiri tegak tanpa ekspresi apa pun, dia hanya mengamati interaksi kakek dan istrinya. Mereka terlihat saling menyayangi.
Eliana menarik napas dalam - dalam.
"Tak apa, Eliana. Yang penting nyawamu selamat. Bisa kembali ke rumah ini lagi." Grandpa menangkup kedua tangan Eliana dengan tangannya. Kemudian dia melirik Toni dengan tatapan menghakimi. "Aku mau kalian tinggal disini saja bersamaku karena aku tak tenang kalau kamu jauh dariku, Eliana."
Sedikit banyak Tuan Peterson menyalahkan Toni atas kecerobohannya. Dan juga kebiasaan buruk Toni dari dulu, tak suka pergi dengan banyak pengawal. Sekarang Toni menuai akibatnya!
Toni menundukkan kepala, rasa bersalah kembali muncul karena sikap Grandpa-nya. Tapi Grandpa benar, lebih baik Eliana tinggal di rumah utama toh saat Toni kerja bisa dipastikan kalai dia akan berkunjung dan menemani Grandpa.
__ADS_1
Eliana mengangguk dan mengusap matanya basah. Toni mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Eliana yang sedang berlutut di depan kursi roda Grandpa.
Tuan Peterson menepuk bahu Eliana, memberi kode kepada Eliana untuk membawanya masuk ke ruang kerja. "Aku punya kejutan untukmu." ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
Eliana menurut dan Toni mengekor di belakang mereka. Eliana terkejut saat Tuan Peterson memberinya amplop tebal berisi beberapa dokumen, visa, pasport, jadwal penerbangan, itinerary, list akomodasi dan lain sebagainya.
"Apa ini?" tanya Eliana bingung.
"Hadiah dariku untuk perjalanan honeymoon kalian. Aku sudah mengatur semuanya untuk kalian. Semoga kamu menyukainya, Eliana." jawab Grandpa sambil tersenyum bangga. Dia berharap liburan bisa menghapus kenangan buruk Eliana.
Eliana membelalakkan matanya ke arah Toni, seakan tak percaya. "Kita mau liburan?"
"Yes." Toni mengangguk dan mengulum senyum. "Bukankah sudah aku bilang kalau kita akan jalan - jalan?"
"Wow! Wow! Australia?" seru Eliana sambil membaca pamflet yang ada disana.
Toni dan Grandpa berpandangan, mereka ikut bahagia melihat antusias Eliana.
Wajah Eliana yang bahagia dan girang begitu cute, hingga refleks Toni mendekat dan mengecup pipi Eliana. "Kamu bisa berenang bersama hiu dan paus. Selain itu kamu juga melihat terumbu karang."
"O'ya? Kamu pernah kesana?" Tanya Eliana. Dia lupa kalau Toni adalah CEO Peterson Group yang sering bepergian keluar negeri.
Toni mengangguk. "Aku tahu kamu pasti akan menyukainya. You love sea. And you love me too, right?" goda Toni sambil mengerlingkan mata.
Eliana tertawa, dia meloncat ke pelukan Toni. "Thank you, Toni."
Dengan senang hati, Toni menangkap Eliana. Dia mendekatkan hidung mereka dan mencium Eliana lembut. Toni menarik pinggang Eliana semakin mendekat.
Tuan Peterson membelalakkan mata melihat adegan romantis di hadapannya. Astaga! Kepalanya seketika terasa berdenyut. Pasangan yang sedang mabuk cinta ini benar - benar keterlaluan!
__ADS_1
Alih - alih mengucapkan terima kasih padanya selaku pemberi hadiah vacation, Eliana malah memeluk Toni dan berterima kasih kepadanya. Dan lihat saja! Kelakuan cucunya juga sama buruknya ,dengan tak tahu malu berciuman di depan kakeknya. Tuan Peterson mendengus kesal.
"EHEM!" suara deheman keras dilanjutkan dengan hardikan, "APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?"
Woah! Ya Tuhan!
Apa yang telah mereka lakukan?
Eliana langsung mendorong Toni dan melepaskan pelukannya. Wajahnya merah padam.
"Bagus sekali kamu berterima kasih pada cucuku dan bukannya kepadaku, hah?" sergah Tuan Peterson kesal.
Eliana terjengit, mendadak dia sadar kalau lupa mengucapkan terima kasih.
"Uhm... maaf, Grandpa." Eliana meringis, menahan malu dan kesal terhadap dirinya sendiri yang begitu mudah terbawa suasana.
"Dan kamu, Toni!" Tuan Peterson menunjuk cucunya dengan jari telunjuknya. "Jaga Eliana-ku di sana. Jangan sampai terjadi apa - apa disana!"
'Eliana-ku!' dengus Toni dalam hati.
"Mana mungkin tak terjadi apa - apa pada Eliana, Grandpa. Kami kesana mau honeymoon, bukan berdiam diri, sudah pasti akan terjadi sesuatu." protes Toni, kesal. Kakeknya ini kenapa juga ikut - ikutan posesif terhadap istrinya. Tangan Toni merangkul pinggang Eliana posesif dan menariknya mendekat.
Heh?
Eliana dan Tuan Peterson menoleh kepada Toni dengan dua alasan yang berbeda. Memelototi Toni yang memasang ekspresi tanpa dosa. Eliana tak habis pikir, kenapa pikiran Toni lagi - lagi kearah sana, sedangkan Tuan Peterson tak menyangka Toni akan menjawabnya seperti itu. Padahal dia hanya ingin memastikan keselamatan Eliana.
Bersambung ya....
Note :
__ADS_1
1. Itinerary : rencana perjalanan yang disusun ketika kamu hendak pergi berlibur.
2. Vacation : liburan