My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 77


__ADS_3

Note : Ada revisi dan tambahan di Bab 76 ya, Readers karena kemarin belum memenuhi syarat jumlah kata minimum update.


Buat yang belum baca, Let's go back to Bab 76.


Sorry and Thank you 🙏


"Hi, Mrs. Peterson. I'm Detective Shawn from Lakewood Police Station."


Eliana mengangguk, dia menerima uluran tangan dari seorang polisi yang berpakaian preman. Lelaki, bertubuh tinggi besar dan gagah, yang memakai kemeja dan celana jeans warna gelap serta sepatu boots. Sebuah rompi hitam khas polisi dan pistol yang terselip di kantong, menunjukkan beliau adalah salah satu aparat keamanan.


Detective Shawn duduk di seberang meja dan menatap lurus pada Eliana. Dalam sekejap senyumnya lenyap dan berubah menjadi tatapan tajam khas penyelidik. Mode bekerjanya sudah aktif sekarang. Eliana jadi tegang, dia menegakkan punggung dan bersiap dengan apa pun yang akan ditanyakan oleh detektif itu.


Hari ini dia harus menceritakan apa pun yang dia ingat kepada polisi.


Karena tidak diijinkan untuk mendampingi Eliana, Toni terpaksa menunggu di ruangan lain. Tadi dia sudah mewanti - wanti Eliana untuk menjawab semuanya dengan jujur dan apa adanya. Eliana juga berhak menolak pertanyaan yang dirasa memberatkan psikisnya. Tidak perlu menjawab kalau memang Eliana tak mau.


*


"Nyonya Wilson terus memohon padaku untuk mencabut tuntutanku pada Tiffany, Eliana. Dan kali ini polisi ingin mengkonfirmasi orang - orang yang meracunimu." ucap Toni tadi di perjalanan.


Eliana baru menyadari kalau orang yang mengantar mereka dan menyopir di kursi sopir kali ini bukan John. Tapi seorang laki - laki dengan kacamata berframe tipis dan berambut cepak. Tanpa senyum dan terlihat begitu serius.


"Kemana John?" bisik Eliana, tak bisa menutupi rasa herannya. Dia belum melihat Joh sejak pulang dari rumah sakit, matanya melirik orang yang sedang menyopir di depan.


Mendengar pertanyaan Eliana, ekspresi Toni berubah kecut. Dengan terbata dia menjawab, "Dia... dipecat."


"Heh? Dipecat?" bisik Eliana terkejut.


Toni memalingkan wajah ke jendela, tak berani membalas tatapan Eliana yang seolah menyalahkan dirinya. "Dia ceroboh dan tak menjalankan tugasnya dengan baik. Jadi... uhm... yeah, aku terpaksa memecatnya."


Eliana tertegun, dia menarik lengannya dari lengan Toni. Dan melayangkan tatapan tak setuju' ke arah suaminya. Sementara yang dipelototi, hanya pura - pura tak melihat Eliana.


*


"Apa saja yang anda ingat tentang malam itu?" tanya Detektif Shawn, membuat Eliana kembali membuka memori buruknya.


"Ehhhmm... " Eliana menggigit bibirnya. Benar apa yang dikatakan oleh Toni tadi, menjawab pertanyaan penyidik sama saja membuka luka yang baru saja di obati. Kalau boleh jujur, Eliana tidak ingin menjawab.


"Katakan apa pun yang anda ingat mengenai kejadian di malam itu, saya membutuhkan kronologisnya." pinta Detektif Shawn. Dia mencondongkan tubuhnya diatas meja dengan kedua telapak tangannya bertautan. Matanya memandang serius pada Eliana, siap untuk mendengar apa pun yang akan keluar dari mulut perempuan muda ini.


Eliana berdehem, melancarkan tenggorokannya dan mulai bercerita....


Dia ingat saat Toni berpamitan untuk menemui Bryan di sebuah tempat. Dan katanya hendak mengurus sesuatu disana yang berkaitan dengan Alex.


"Anda tahu kenapa Mr. Anthony bersikeras untuk pergi menemui Mr. Alex, adiknya?"

__ADS_1


"Ya. Karena dia takut Alex kembali terjerumus kasus penggelapan. Dulu dia pernah ditipu oleh Bryan."


"Lalu?"


Eliana kemudian bercerita bagaimana teman - teman Oscar datang, kemudian dia pusing dan memilih kembali ke cabana. Selanjutnya beberapa orang pria datang dan menemaninya disana.


"Anda ingat siapa saja nama mereka?"


Eliana termangu. "Nama siapa? Saya lupa siapa saja yang ada disana, terlalu banyak orang untuk diingat satu per satu."


"Anda berinteraksi dengan siapa saja?" Detektif Shawn mengubah pertanyaannya.


O'ya! Eliana ingat kalau dia ngobrol bersama Dokter Livia dan seorang temannya bernama Emma. Kemudian mereka turun untuk joget. Tapi dia merasa pusing dan kembali lebih dahulu ke cabana.


"Ehm... , selain dengan mereka, ada lagi beberapa pria namanya Frans. Tapi aku lupa wajahnya. Dan yang lain... " Eliana mencoba mengingat - ingat.


"Bagaimana dengan mereka? Apa Frans yang kau sebut - sebut ada di antara foto - foto ini?"


Eliana memperhatikan foto - foto yang bertebaran di meja. Ada puluhan foto beberapa orang pria dengan pose tampak depan dan samping yang biasa diambil oleh pihak kepolisian untuk proses identifikasi kriminal.


"Ini dia. Frans." Eliana menunjuk sebuah foto seoranh pria dengan wajah babak belur dan bengkak. Tapi dia masih bisa mengenalinya.


Detektif Shawn menyingkirkan foto Frans, kemudian bertanya lagi. "Bagaimana dengan yang lainnya?"


"All right." Detektif Shawn mengumpulkan foto yang telah di-identifikasi berdasarkan keterangan Eliana dan semua cocok. "Bagaimana kejadiannya?"


Eliana menarik napas dalam - dalam, ini adalah bagian paling tidak menyenangkan. Menceritakan kembali apa yang dialaminya malam itu.


*


Sementara di luar ruangan, Toni sedang berbicara dengan seorang pengacara keluarga Peterson. Pengacara itu berkata kalau seorang paparazzi mengirim email yang berisi foto - foto saat Toni sedang berada di rumah sakit dan chandelier club.


"Berapa?" tanya Toni dengan ekspresi tak suka. Dia tahu apa maksud paparazzi itu mengirimkan email kepada pengacaranya.


"Seratus ribu dollar." jawab pengacara. Saya sudah berusaha nego tapi sepertinya dia sudah sounding ke sana sini.


"Berikan saja." jawab Toni kesal.


Sekali lagi dia harus menutupi borok Alex. Andaikata kasusnya dan Eliana tersiar ke media pun, pihak Tiffany-lah yang lebih banyak dirugikan karena dia yang lebih dahulu mempunyai affair. Tapi yang menjadi masalah adalah Alex ada di dalam list pria - pria Tiffany.


Toni hanya mengkhawatirkan kesehatan Grandpa-nya kalau sampai masalah Alex ter-blow up ke media. Apalagi beliau sudah pasti marah besar terhadap Alex yang dianggap pengkhianat.


Ponsel Toni bergetar di saku celananya, nama Grandpa tertera di layar.


"Saya terima dulu panggilan ini, Pak." pamitnya sambil berjalan menjauh, mencari tempat yang lebih sepi supaya leluasa berbicara.

__ADS_1


"Ya?"


Suara Grandpa terdengar. "Bagaimana urusan kalian? Apa sudah beres?"


"Eliana sedang dimintai keterangan." jawab Toni tanpa menjelaskan kalau dia sedang bersama pengacara mereka.


"Gimana hubungan partnership kita dengan Wilson?" Tanya Tuan Peterson.


Toni memejamkan matanya dan memijit - mijit dahinya."


"Sementara masih bagus, Grandpa. Tapi kita harus memutuskannya secepatnya."


"Apa kamu bisa mengatasinya sendiri tanpa John?"


Oh!


Sepertinya tujuan utama Grandpa menelponnya adalah John. Dia belum mengatakan apa pun soal John kepada beliau.


"Ehm... Aku pikirkan setelah pulang dari sini, Grandpa."


"Tidak, Toni. Kamu jangan gegabah. Aku sudah memerintah John untuk mengurus semua urusan kita dengan Wilson. Aku tak mau kamu memecatnya. Dia akan bekerja sama dengan pengacara dan Alex juga akan mengurus perusahaan sementara kalian pergi."


"Apa sebaiknya aku menunda perjalanan ini untuk membantu kalian?" Toni menawarkan diri untuk membantu.


"Tidak perlu. Eliana membutuhkan liburan untuk melupakan hal yang menyakitkan itu."


Toni mengangguk. "Ya, Grandpa. Terima kasih pengertiannya."


"Bersabarlah, kita akan menyelesaikan semuanya secara diam - diam. Sementara biarkan Tiffany di dalam sana sebagai efek jera. John akan mengurusnya setelah kalian berangkat." Perintah Tuan Peterson. Dia sudah menyusun rencana bersama John, dan sebentar lagi adalah waktu eksekusinya.


"Iya, Grandpa."


Pintu ruangan Detektif Shawn terbuka, Eliana keluar bersama detektif itu. Toni segera menyudahi percakapannya dengan Grandpa. Kemudian dia segera menghampiri. "Done?"


Detektif Shawn mengangguk. "Terima kasih untuk kerja samanya, Mr and Mrs. Peterson.


Toni menjabat tangan detektif itu dengan hangat. "Thank you, Sir. Andaikata anda memerlukan kami lagi, anda harus membuat appointment dulu. karena kemungkinan kami sedang dalam perjalanan."


"Selamat bersenang - senang di Australia, Sir." Detektif Shawn menepuk bahu Toni, dia sudah mendapat cerita dari pengacara keluarga Peterson bahwa Toni dan Eliana akan segera melakukan perjalanan honeymoon ke Austrlia. Dan pengacara itu yang akan menjadi penyambung lidah Detektif dan Toni.


Toni mengangguk dan merangkul Eliana keluar dari kantor polisi. "Pertama, John akan mengurus masalah ini saat aku tak ada di tempat."


"Jadi kamu tak jadi memecatnya?" tanya Eliana heran. Toni benar - benar aneh, kalau memang dia memanggilnya lagi, kenapa dia harus memecatnya kemarin?


Melihat reaksi Eliana, Toni terkekeh dan melanjutkan kalimat pertama tadi. "Kedua, just relax. Let's enjoy our love in Australia." ucap Toni sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


__ADS_2