
"Lepaskan aku, Mr. Anthony." lirih Eliana hampir tak terdengar.
"NEVER!" Toni menggeleng, dia mengunci Eliana dalam pelukannya. Firasatnya berkata Eliana akan pergi meninggalkan dirinya.
Eliana bisa merasakan ketegangan tubuh Toni, bahunya juga bergetar. Toni sama sekali tak malu untuk menangis di hadapan Eliana.
"Maafkan, aku tapi aku tak bisa bersamamu. Aku tak berhak atas apapun, karena kamu itu milik wanita bernama Tiffany." Hati Eliana terasa berat saat mengucapkan kata - katanya.
"Kamu salah! I'm yours." Pelukan Toni semakin erat, seakan ingin melebur bersama Eliana dan tak pernah lepas lagi. "Please, stay with me. Forever."
Mata Eliana mulai terasa panas, perlahan dia mencoba menyingkirkan tangan Toni dari tubuhnya. Berusaha untuk melepaskan diri tanpa menyakiti hati Toni. Pria itu sedang rapuh.
"NO! I WANT YOU IN MY LIFE!" teriak Toni, hingga urat - urat lehernya tercipta.
Eliana berjengit kaget, otomatis melirik ke pintu kamarnya yang tertutup. Teriakan Toni menggema di ruangan besar ini, dirinya tak tahu apakah kamarnya soundproof atau tidak.
"Meski aku tak mengingatmu, saat kamu tak ada di dekatku. Hati dan pikiranku terus mencarimu. Dan saat aku berhasil bertemu denganmu,... aku merasa hidup kembali." Air mata mengalir deras dari kedua mata Toni.
Eliana berdoa semoga ini hanya efek emosional sesaat seorang pasien amnesia, dimana mereka kadang kala menangis karena perasaan mereka yang sering tak menentu.
"I LOVE YOU, ELIANA! I LOVE YOU! ALWAYS WILL." Toni kembali berteriak, mengeluarkan senjata terakhirnya. Perasaannya pada Eliana terasa menggebu, begitu kontradiktif dengan kenyataan bahwa dia tak bisa lepas dari pernikahannya dengan Tiffany.
Sekarang anak panah itu berbalik arah, menembak Eliana tepat di jantung. Tubuhnya bergetar, lututnya lemas. Dia tak sanggup berdiri.
Toni ikut roboh, mereka duduk bersimpuh di karpet. Kedua tangan Toni memegang Eliana. Dengan penuh air mata, telapak tangan Eliana menangkup pipi Toni. Dia tak bisa berkata - kata, hanya sanggup menangis.
"Please, Eliana. Please... " pinta Toni memelas.
***
"Benar ada yang menyusup kan Pak? Apa perlu saya dobrak pintunya?" Tanya seorang security kepada John sambil menunjuk pintu kamar Eliana yang tertutup. Mereka bisa mendengar samar - samar ada suara - suara orang berbicara di dalam sana. Kamar yang seharusnya hanya berisi satu orang yaitu perawat Tuan Peterson.
John yang berdiri tepat di depan pintu, bisa menebak siapa yang ada di dalam bersama Eliana. Dia tersenyum tipis. "Kalian bisa kembali ke pos jaga. Aku bisa mengatasinya sendiri."
__ADS_1
Para security menatap John heran, tidak biasanya asisten tuannya itu membiarkan sembarang orang masuk ke dalam rumah utama.
"Tenang saja. Aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuan besar." John mengibaskan tangannya, menyuruh orang - orang itu pergi.
Kepala security tak bisa berkata - kata lagi, mana mampu dia melawan tangan kanan boss mereka. Dia dan anak buahnya segera meninggalkan John untuk kembali ke pos dan berjaga.
John menghembuskan napas lega. Tadi dia mendapat laporan dari security kalau seseorang tertangkap kamera sedang mengendap - endap dan melompat naik ke balkon di lantai dua. Kemudian masuk ke salah satu kamar disana.
Setelah mengamati, John mengenali sosok berpakaian gelap tersebut, dan sesuai dugaannya penyelinap itu masuk ke kamar Eliana.
Koridor lantai dua kini hanya ada dirinya, suasana benar - benar sepi. Tuan Peterson beristirahat di kamarnya dan para pelayan sudah kembali ke rumah belakang. Lampu - lampu yang terang sudah mulai diganti dengan yang lebih redup.
Seharusnya sekarang sudah waktunya dia beristirahat, tapi John masih disini. Di depan pintu, menimbang apa yang harus dilakukannya. Tuan besar melarang Toni dan Alex masuk rumah besar, tapi si tak pernah patuh berhasil menyelinap masuk.
"NEVER!"
John terlonjak kaget saat suara Toni terdengar keras sampai menembus daun pintu.
Fiuh, untung saja para security sudah pergi, kalau tidak... penjelasan apa yang harus dia katakan pada mereka soal teriakan Toni? Mereka juga tak mungkin menerobos masuk ke kamar Eliana. Atau nyawanya akan melayang di tangan tuan mudanya.
"NO! I WANT YOU IN MY LIFE!"
Woah!
Pernyataan cintakah? Malam - malam seperti ini? Mata John terbelalak lebar, tak pernah melihat Tuan Mudanya seromantis ini. Menembus penjagaan ketat dan melanggar perintah Grandpa-nya demi menemui wanita yang dicintainya.
"I LOVE YOU, ELIANA! I LOVE YOU! WILL ALWAYS."
Heh?
Suara yang didengarnya kini sarat dengan emosi, dan lebih terdengar seperti teriakan frustasi dan putus asa. Apa yang terjadi di dalam? Tangan John mengepal, menggenggam erat kunci cadangan yang dipersiapkannya tadi. Hanya untuk berjaga - jaga mana tahu diperlukan.
John mencoba menghubungkan apa yang di dengarnya dengan percakapannya bersama Toni beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"John, aku merasa kalau aku melupakan seseorang." Toni menghela napasnya. "Siapa itu John?"
'Hmm... '
"Jangan sebut nama Tiffany." potong Toni saat John hendak membuka mulut. "Aku melupakan seorang wanita, yang jelas dia bukan Tiffany."
Tatapan Toni kosong dan menerawang seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Perasaan iba dan bersalah mendera John. Nama Eliana sudah ada di ujung lidahnya, tapi lidahnya kelu.
"Maafkan saya, Tuan. Yang menjadi beban pikiran kami, Tuan besar dan saya, adalah Nona Tiffany, hubungan anda dan keluarga Wilson serta pengaruhnya dengan masa depan perusahaan."
"Aargh, lalu perasaan apa yang ada di dalam hatiku ini? Aku begitu ingin bertemu dengan wanita itu... CK! .... aku lupa siapa namanya.... " Keluh Toni frustasi, menjambak rambutnya.
John berbalik badan, berdiri memunggungi pintu kamar Eliana, dahinya berkerut, satu tangannya menopang dagu dan tangan lainnya menyangga tangan satunya. Pikirannya dipenuhi tanda tanya, bagaimana bisa Tuan mudanya tak tertarik sedikit pun hal - hal yang berhubunga dengan Nona Tiffany?
Berbeda sekali dengan Eliana, di tengah ingatannya yang sering timbul tenggelam, hati Tuan Mudanya terus mencari - cari wanita itu. Ada yang salah dengan Tiffany dan Tuan Anthony. Tapi apa?
A poor story.
(Sebuah cerita yang menyedihkan.)
Hubungan mereka jadi kompleks di saat sang pria menetapkan pilihan hatinya namun tak bisa lepas dari masa lalu. Adakah cara untuk membantu Tuan mudanya untuk keluar dari masalah ini? Tuan Peterson pun kebingungan harus memutuskan apa.
Hhhh...
John benar - benar penasaran sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Merasa tak berdaya. Dia mengacak - acak rambutnya sendiri, dan meninggalkan kamar Eliana. Malam ini lebih baik dia beristirahat, besok akan ada masalah sendiri yaitu menghadapi Tuan Peterson karena dia membiarkan Toni melanggar peraturan.
Bersambung ya...
Note :
Soundproof \= kedap suara
__ADS_1
Kontradiktif \= berlawanan