My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?


__ADS_3

"Hey, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Alex heran, pandangannya tertuju pada nampan di tangan Eliana. Mereka bertemu saat Eliana hendak keluar dari rumah utama, sedangkan Alex baru saja mau masuk ke ruang makan.


"Mau ke kamar Grandpa?" Alex mencoba menebak.


Eliana memutar bola matanya. Alex meringis, bodohnya dia. Tak mungkin Eliana mau ke Grandpa-nya, arah jalan Eliana berlawanan dengan kamar Grandpa.


"Cepat masuk, Alex. Semua orang sudah siap untuk breakfast di ruang makan." Eliana tak menjawab, dia malah menyuruh Alex masuk.


"Semua? Siapa? Lalu kenapa kamu malah kesini?" Alex memberondong Eliana dengan pertanyaan. Keningnya berkerut karena heran. Seumur - umur mereka terbiasa makan sendiri - sendiri, setidaknya kalau Grandpa tidak mengundangnya maka dia akan makan di mansionnya sendiri.


Terus terang kebiasaan makan bersama di rumah utama adalah kebiasaan baru baginya. Apalagi sebabnya? Yes. Tak lain dan tak bukan adalah karena Eliana.


"Grandpa, John, Toni dan... calon istrinya." Lidah Eliana terasa kelu saat mengucapkan calon istri.


"Serius? Tiff ada disini?" Alex membelalakkan mata seakan tak percaya.


Eliana mengangguk.


Heh? Astaga! Apa yang dilakukan manusia satu itu disini? Kenapa baru menampakkan diri sekarang. Ah, ya ampun. Bisa - bisa suasana kembali kacau kalau dirinya bertemu Tiff dan Toni di saat yang bersamaan. Dia sedang tak ingin mencari masalah dengan Toni.


"Hmm... , kalau begitu kamu breakfast bersamaku saja." ucap Alex.


Tanpa permisi dia mengambil alih nampan di tangan Eliana, dan memberikan pada seorang pelayan yang ada di dekat situ.


"Tolong tambah makanan dan minumannya. Porsi dua orang, lalu antarkan ke gazebo dekat danau." perintah Alex, sambil menyeret Eliana pergi ke gazebo.


Eliana menarik napas, pelan dan dalam. Dia berdiri sambil memeluk kedua lengannya sendiri. Kakinya sedikit goyah saat dia berdiri bersandar di tiang gazebo. Gerbang mawar, salah satu spot favorit-nya di rumah Peterson, terlihat jelas dari Gazebo. Dan juga bukit di belakang danau buatan yang berlatarkan pepohonan hijau.


Dari tempatnya berdiri semua nampak indah, sama seperti perasaannya pada Toni. Terasa begitu indah dan menyenangkan. Tapi apakah dia akan egois dengan memaksakan perasaannya pada Toni? Ehm, ralat Mr. Anthony.

__ADS_1


"Hey, hey. Apa yang kamu pikirkan?"


Sebuah telapak tangan bergoyang - goyang, berada tepat di depan wajah Eliana, merusak suasana sendu di dalam hati Eliana.


'Haizzz... , Alex.'


Eliana mendengus untuk menutupi rasa malunya karena ketahuan melamun. "Aku suka pemandangan di tempat ini. Sangat indah sekali."


"Ah'ya kau benar. Tentu saja semua akan tampak indah karena kamu sedang bersamaku." sahut Alex cepat.


Eliana melotot kesal.


Alex membalasnya dengan memasang wajah jenaka dan dua jarinya membentuk huruf V. Wajah tampan itu masih ada bekas luka di sudut bibir dan lebam di pelipis kanannya.


"Dari pada melamun, lebih baik makan! Kamu tak berniat untuk melewatkan makan pagimu kan?" ujar Alex lagi sambil menyodorkan piring berisi sandwich.


"Thanks." jawab Eliana singkat, tak menanggapi candaan Alex. Dia menggigit kecil ujung sandwich buatan Toni, rasanya masih sama seperti yang Toni buat di apartment. Lezat.


Eliana menghabiskan makanannya sambil mengulum senyum melihat tingkah Alex yang lebih kekanakan dari pada Toni. Laki - laki ini bermaksud menghiburnya karena Toni sedang kedatangan 'tamu'.


"Kenapa kamu tak makan bersama mereka saja?" tanya Eliana. Perutnya terasa kenyang, dan perasaannya lebih enak sekarang.


"Aku berbaik hati. Who knows you need a shoulder to cry on." jawab Alex sambil terkekeh. Dia menepuk bahunya yang lebar sambil nyengir.


(Siapa tahu kamu membutuhkan bahu untuk menangis.)


"Ish, manis sekali mulutmu. Sayangnya aku tak mudah dirayu." cibir Eliana.


"Apakah benar - benar tak ada kesempatan untukku, Eli?" Alex membungkuk, mengambil toples berisi makanan ikan yang ada di lantai dek gazebo. "Kamu bisa memberi makan ikan - ikan itu, dan mereka akan datang mendekat." Dia mengambil telapak tangan Eliana dan menuangkan beberapa sendok makanan ikan ke atasnya.

__ADS_1


"Dari awal kamu sudah tahu kemana hatiku tertuju. Awalnya aku pikir ini hanya sebuah rasa kemanusiaan. Hingga tanpa aku sadari perasaan simpati itu berubah menjadi sayang dan... cinta." Eliana melempar makanan ikan itu ke air ke danau buatan. Benar saja ikan - ikan itu datang bergerombol dan berebut saat Eliana melempar makanan itu ke air.


Alex tertawa kecil. "Baiklah Eli, lupakan kata - kataku sebelum ini. Aku memang menyukaimu tapi rasanya aku memang sudah kalah dari awal." Alex tertawa kecil, dia ikut melempar makanan ikan ke danau.


"Tak masalah kamu menyukaiku. Itu hak-mu. Hanya saja memang fokusku saat ini hanya kepada Toni. Dia sudah menguasai pikiran dan perasaanku." Eliana menuang sisa makanan ikan yang ada di telapak tangannya. Menepukkan kedua tangannya yang sudah satu sama lain, untuk membersihkan sisa - sisa remahan makanan ikan yang menempel di telapak tangannya.


Alex tersenyum. "Tapi aku tak bisa menjauh darimu, Eli. Aku tidak akan meninggalkanmu. I'll be your best friend forever."


"Wow.... so sweet. Aku terharu." sahut Eliana sambil tertawa. Perasaannya terasa lebih ringan sekarang.


"Aku harap Toni tak menyakitimu, Eli." ucap Alex sungguh - sungguh.


"Dia terlalu baik untuk menyakitiku, Al. Seharusnya aku berpikir seribu kali sebelum jatuh cinta pada pria amnesia. Sekarang aku membuatnya teejepit dalam situasi sulit seperti ini." sesal Eliana. Dia duduk di bangku panjang berlapis busa empuk.


Alex duduk di sebelah Eliana. "Memangnya kamu bisa memilih kepada siapa kamu jatuh cinta?" Dia tertawa sumbang. Menertawakan Eliana dan dirinya sendiri yang terlanjur masuk dalam kisah cinta yang kompleks.


"Apa kamu tahu? Saat ini aku merasa telah merusak hubungan orang lain. Aku tak menyesal jatuh cinta pada Toni, tapi aku menyesal telah jatuh cinta pada calon suami orang." Nada suara Eliana terdengar sedih.


"Kamu tidak bersalah, Eli."


"Ah, kau hanya menghiburku, Alex. Anyway, thanks for your ears to listen. And the time to share."


(Terima kasih bersedia mendengarkan. Dan waktu untuk sharingnya.)


"Aku benci mengatakan ini. Dengarkan aku baik - baik! Suatu hari sampaikan pesanku ini pada kakak-ku." Alex memutar duduknya menghadap Eliana dan menatapnya dalam - dalam. "Satu - satunya cara untuk membatalkan pernikahan mereka adalah menemukan kesalahan Tiffany."


"Ha? Maksudmu kamu ingin Tiff dan kakakmu bertengkar?"


Alex terbahak dan berkata, "Kamu terlalu baik Eliana, itulah sebabnya kami semua jatuh cinta padamu. Jangan terlalu memikirkan Tiff."

__ADS_1


"CK! Kamu ini." sahut Eliana gemas. Dia tak mengerti maksud pembicaraan Alex.


Bersambung ya....


__ADS_2