
Kedatangan mereka sudah disambut oleh orang - orang Tuan Peterson. Mereka menjemput Toni dan Eliana dari airport, kemudian langsung membawa pasangan itu di sebuah rumah di kawasan exclusive.
"Rumah siapa ini, Toni?" tanya Eliana saat mobil memasuki pelataran sebuah rumah mewah.
"Rumah kita." Jawab Toni santai. Dia membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya. "Ayo."
"Maksudmu ini rumahmu?"
"Rumah kita, Sayang. Apa kamu lupa kalau milikku adalah milikmu juga?"
"Oh... "
Eliana keluar mobil dengan ekspresi takjub. Oke, dia dari awal merasa kalau Toni bukanlah buronan, penjahat atau pun gelandangan seperti yang orang - orang bicarakan. Dan dia juga sudah tahu kalau Toni adalah salah seorang pemilik saham di Peterson Group. Dan sangat benar sekali, suaminya adalah orang kaya.
Tapi Toni punya rumah di luar negeri? Ya ampun, memikirkannya saja Eliana tidak pernah.
"Beneran ini rumah milikmu?" Tanya Eliana tak percaya.
Toni tertawa. Dia merangkul bahu Eliana dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Hey, ini rumahmu juga, Sayang." sekali lagi Toni meralat kalimat Eliana. "Aku pernah membeli beberapa property pribadi di beberapa negara."
Ha?
"Untuk apa?"
"Dulu aku suka sekali bepergian dan tinggal berlama - lama di tempat - tempat yang aku sukai dan memilih kerja remote. Lalu aku membeli beberapa rumah di kota - kota favorite-ku."
"Kalau di luar negeri, kamu tinggal sama siapa?"
"Sendiri. Dan aku termasuk orang yang pilih - pilih makanan, jadi aku lebih suka memasak makananku sendiri. Sesuai selera dan aku tahu bagaimana prosesnya, apakah higienis atau tidak."
__ADS_1
"Oh, kirain... " gumam Eliana. Matanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.
Rumah ini di design menyesuaikan dengan kebutuhan Toni yang bekerja offshore, dimana penghuninya harus jauh dari rumah selama satu atau dua bulan. Design-nya sengaja dibuat supaya penghuninya merasa relax dan dapat melupakan sejenak pekerjaannya saat dirumah.
Ruang tamunya dirancang dengan langit - langit yang tinggi hingga ruangan terasa luas dan terang. Apalagi dengan penggunaan warna putih di dinding yang kontras dengan lantai hitam ruangan. Tidak ketinggalan dinding batu bata dengan warna alami, menjadikan ruangan ini terasa khas.
"Kenapa, hm?" tanya Toni, merasa heran dengan pertanyaan Eliana.
"Ruangan ini bagus sekali dan terawat. Selama kamu tak ada siapa yang merawatnya?"
"Ada orang yang membersihkannya secara teratur."
"Siapa?"
Toni mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
Ha?
"Kenapa kamu penasaran sekali?" Toni mengulum senyum, sepertinya dia sudah bisa membaca arah pikiran Eliana.
Eliana melengos. Dia duduk di sofa berwarna beige di ruang TV. "Ya, aku kan tidak tahu banyak soal masa lalumu. Dan kamu pun tidak mengingatnya kalau tidak ditanya." keluh Eliana.
Tawa Toni bergema. "Kenapa baru sekarang kamu penasaran dengan masa laluku?" Eliana bahkan dulu berani menanggung resiko dipecat demi orang asing yang tak diketahui asal usulnya.
Pipi Eliana bersemu merah. Iya juga. Kenapa baru sekarang dia ingin tahu dulu Toni pernah bersama siapa saja selain dengan Tiffany. Eliana ingat bagaimana Emma bercerita kalau dulu wanita berebut menarik perhatian Toni. Dan yang paling dekat sudah jelas Tiffany karena orang tua mereka cukup dekat.
"Aku tak pernah mengajak wanita mana pun ke rumahku kecuali kamu, Eliana. Kalau itu yang menjadi beban pikiranmu."
"O'ya?"
__ADS_1
"Hm-hm." Toni mengecup dahi Eliana, kemudian duduk di sebelahnya. "Yang aku ingat adalah saat tahu Tiffany berkhianat, perasaanku terhadapnya lebih kepadah sebuah rasa marah. Dan itu lebih karena harga diri, bukan karena tersakiti. Mungkin aku menyayanginya atau mencintainya, entah disebut apa perasaanku padanya. Tapi yang jelas, aku lebih berat memilih pekerjaanku dari pada dia. Berbeda denganmu, Eliana. Aku selalu merindukanmu."
Eliana memperhatikan raut wajah Toni saat dia berbicara, tidak nampak sedikit pun tanda dia berbohong.
"Maaf." ucap Eliana pelan.
Toni melingkarkan tangannya ke pinggang Eliana, bibirnya kembali mengecup bahu istrinya. "Tidak apa. Kita ini pasangan, tanyakan saja apa yang ada didalam pikiranmu. Kita harus menjalani hubungan ini dengan kejujuran."
Ah... , siapa yang imun dengan kalimat manis dan sentuhan lembut seorang Anthony Peterson? Perlakuannya selalu berhasil membuai Eliana hingga meleleh. Tanpa sadar, Eliana mendesah saat Toni memeluknya makin erat dan mencium lehernya dengan lembut.
Toni berbisik. "I wanna kiss you... "
"Ha?"
"Yes. I want all, not just the lips."
WOAH! Tubuh Eliana seketika menegang.
"Kenapa, sayang? This is the honeymoon." goda Toni.
Bersambung ya....
Note :
kerja remote : kerja tapi tidak stay di kantor
__ADS_1