
"Kamu sih marah - marah terus, jadinya aku lupa ngomong kalau Alex mau menjemput Livia di airport." Eliana menyalahkan Toni.
Toni menahan senyum, "Sepertinya dia mendengar kita berdebat... "
"Apa?"
Toni menghampiri Eliana dan kedua lengannya menarik pinggang istrinya mendekat padanya. "Maaf, aku sudah marah - marah tidak jelas." Kemudian Toni menunduk dan berbisik. "Sebenarnya bagus, itu artinya dia tahu diri. Bukankah tidak sopan kalau mencampuri urusan orang lain? Semoga setelah ini, dia memutuskan untuk tinggal di hotel atau pindah ke villa atau terserahlah... "
Ha?
"Kamu kok gitu sih sama saudara sendiri? Masih banyak kamar disini! Biarkan saja mereka tidur disini." Eliana mencubit lengan Toni saking kesalnya lalu buru - buru melepaskan pelukan Toni.
Tapi tak semudah itu Toni melepaskannya, dia langsung mempererat pelukannya dan kembali berbisik. "Memangnya kamu tidak takut kalau session berdua kita jadi berkurang gara - gara mereka disini? Kita kan jadi tidak bebas, takut dilihat orang. Takut tak sengaja kedengaran oleh orang lain."
OH! Jadi ini masalah sebenarnya? Toni hanya frustasi karena takut tidak bisa menyalurkan keinginannya kepada istrinya gara - gara ada tamu di rumah mereka.
Eliana mendongak, memandang suaminya. "Mumpung sedang berdua saja. Do you want me?" Eliana bermurah hati menawarkan dirinya sendiri.
Tidak usah menunggu tawaran kedua, Toni langsung mengangguk dan tersenyum. "I would love to."
Tidak ada yang lebih menyenangkan hati Eliana selain bisa membahagiakan suami yang ngambek. Harapan Eliana, semoga setelah mendapatkan 'keinginannya', Toni mau menerima Alex dengan tangan.
Biar bagaimana pun hubungan persaudaraan Toni dan Alex juga penting.
Eliana menyandarkan kepalanya di dada Toni, mereka berendam di bak jacuzzi yang menggelegak menciptakan gelembung di permukaan air yang hangat.
Setelah percakapan yang cukup membuat tekanan darah mereka naik, Eliana dan Toni memutuskan untuk mengendorkan urat syaraf dengan bermesraan dan berendam di jacuzzi.
Toni melirik Eliana yang duduk bersandar di depannya, sesaat kemudian tangan istrinya itu mengarahkannya untuk menyentuh dadanya.
"Eliana... " panggilnya setengah berbisik.
Eliana tersenyum menggoda dan memiringkan kepalanya. "You can touch me." balas Eliana berbisik.
Wow!
Dengan senang hati, Toni menuruti keinginan istrinya. Di dalam air yang hangat, tangan Toni mulai bergerilya menyentuh bagian - bagian favoritnya. Kepala Eliana rebah di lekukan bahu Toni saat suaminya semakin intense menyentuhnya di sana sini. Dia menoleh dan mencium Toni dalam.
Bulu Toni meremang merasakan bibir Eliana yang terasa semakin menggodanya. Toni tak tahan lagi, dia merengkuh pinggang Eliana dengan satu tangan dan menci-umnya. Sementara tangan satunya tak bisa berhenti menyentuh Eliana.
Eliana mulai mende-sah. Suara yang di tunggu - tunggu oleh Toni. Napas mereka mulai memberat, Toni menarik Eliana keluar dari jacuzzi kemudian dia membungkuk.
__ADS_1
"Let's finish our business, Sayang."
(Mari kita selesaikan urusan kita.)
Satu jam kemudian,
Toni dan Eliana selesai mandi dan berpakaian dengan kaos lengan panjang. Pipi mereka kemerahan karena terlalu lama berada di ruangan berpenghangat. Ditambah dengan kegiatan yang membakar kalori dan menciptakan hormon oksitosin hingga tubuh mereka terasa lebih relax dan segar.
Senyum tercetak di wajah mereka saat Toni memeluk dan mencium kening Eliana sebagai penutup kegiatan mereka.
Eliana benar - benar memanjakan Toni. Setelah mengeringkan rambut Toni dengan handuk, dan menyiapkan pakaian Toni, Eliana bertanya. "Aku mau turun sekarang, kamu mau makan apa?"
"Aku suka apa pun yang kamu siapkan." ucap Toni sambil mengecup bibir Eliana sekilas sebelum dia memakai pakaiannya.
Eliana mengelus rahang Toni yang ditumbuhi cambang yang mulai memanjang, dia paling suka menyentuh Toni di bagian ini. Apalagi sambil menikmati kecupan - kecupan manis dari suaminya. Dia tersenyum dan berbalik, keluar kamar dan turun ke dapur.
Ini sudah waktunya makan malam, dia harus mengecek makanan apa yang dikirim oleh orang - orang yang biasa dipekerjakan untuk mengurus rumah ini. Saat Eliana sampai di dapur, Adelaide sudah selesai menyiapkan makan malam untuk mereka dan bersiap - siap untuk pergi.
"Hai, what do you bring for our dinner?" tanya Elianna pada wanita berkebangsaan Australia itu.
(Apa yang kamu bawa untuk makan malam kami?)
Adelaide memakai sarung tangan dan meletakkan piring keramik berisi bolu spons berbentuk persegi yang dilapisi saus cokelat dan digulingkan di atas kelapa parut hingga menutupi seluruh permukaannya. "Ini namanya Lamington. Ditengahnya ada selai atau krim." ucapnya dengan aksen Australia yang kental. "Anda bisa menikmatinya bersama teh atau kopi hangat."
Adelaide menggangguk. "Ini meat pie, isinya daging cincang, jamur dan keju. Biasanya dimakan bersama dengan kentang tumbuk dan gravy."
Eliana mengangguk, dalam pikirannya pie biasanya merupakan makanan manis berisikan buah, kacang atau susu.
Tapi setiap daerah mempunyai makanan khas masing - masing yang biasa mereka banggakan. Mungkin saja ada kemiripan, tapi tetap saja ada yang membedakan dan menjadi ciri khas suatu daerah.
Adeliaide bergerak lincah ke sudut dapur dan membawa piring besar berisi beberapa sausage sangers yang sering juga disebut dengan sausage rolls berupa sosis yang dibungkus roti lalu ditambah irisan bawang bombay dan saus.
"Ah, terima kasih. Banyak sekali makanannya, Adelaide."
"Masih ada lagi." Ternyata Adelaide belum selesai. "Anda belum sah ke Australia kalau belum memakan semua makanan ini." ucap Adelaide lagi.
Dia bergerak cepat menaruh makanan demi makanan ke atas meja. "Chicken Parmigiana." Daging ayam yang dibalut tepung roti lalu disiram saus tomat dan diberi lelehan keju parmesan diatasnya.
Makanan dengan keju yang dilelehkan diatasnya adalah favorit Toni. Eliana membayangkan Toni yang akan makan dengan lahap menikmati hidangan dari Adelaide. Sedangkan Alex sangat menyukai sosis, apalagi sosis khas Australia. Produksi sosis mereka padat isi, yang kalau dipanggang kulit luarnya akan terasa krispi, dan daging dalamnya lembut dan juicy di mulut.
"Hebat sekali, benar - benar Master Chef."
__ADS_1
Pipi Adelaide memerah mendengar pujian dari Nyonya rumah yang ramah ini. Dia menunduk dan bergumam, "Anda terlalu memuji, Nyonya."
Dia melepaskan sarung tangannya, "Silahkan dinikmati makanannya bersama Mr. Peterson." pamitnya sebelum pulang.
Langkah kaki terdengar turun dari tangga, Toni tersenyum dengan wajah sumringah. "Eliana!" panggilnya dengan suara keras karena terlalu bersemangat.
Eliana menoleh dan Adelaide buru - buru mengambil tasnya dan menunduk lalu bergumam. "Selamat malam." sebelum menyelinap melalui pintu belakang. Perempuan itu pemalu jika berhadapan dengan pria, dia selalu menghindari bertemu dengan Toni saat dia dipanggil untuk datang.
Baginya urusan rumah tangga, ada di tangan Nyonya rumah sehingga dia selalu bicara dengan Eliana.
"Good Night, Adelaide." Eliana melambai pada Adelaide yang menutup pintu belakang.
"Iya, Toni? Apa kamu mau makan sekarang?" sapa Eliana.
Perhatian Toni langsung teralihkan pada makanan yang harumnya begitu menggoda. Dia mencomot sausage sanger dan langsung mengunyahnya dengan nikmat. "Baiklah besok kita akan ke Great Barrier Reef."
"Great barrier reef?" Eliana tampak bersemangat.
"Ya, kita akan berjalan - jalan di bawah laut, diving."
"Enaknya kita ngapain disana ya?" tanyanya sambil menarik kursi makan dan duduk.
Toni melakukan gerakan yang sama. Mereka duduk berhadapan. "Kamu bisa bertemu dengan paus minke, menikmati laut diatas kapal pesiar atau melihat dasar laut dengan kapal selam mini. Banyak yang bisa kita lakukan disana."
Eliana memotong chicken parmigiana dengan pisau sambil bertanya. "Bagaimana dengan Alex?"
Tangan Toni yang sedang meraih meat pie terhenti, dia melirik Eliana sejenak dan berpikir. Kemudian dia memutuskan, "Well, he can join kalau dia mau."
"Serius?" tanya Eliana tak percaya.
Toni mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Asalkan dia juga mengajak Livia bersamanya dan kamu janji tidak akan membuatku cemburu lagi."
Note:
Hormon oksitosin : sering disebut dengan hormon cinta karena berkaitan dengan perasaan, kasih sayang, cinta dan emosi yang baik.
Gravy : saus kental berbahan dasar kaldu.
__ADS_1
Gambar - gambar makanannya bisa search di google ya, karena kalau gambarnya mesti cek copyright takut lama lolos review