My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 68 -- A Nightmare


__ADS_3

Police station satu jam kemudian,


"No, Mama. Aku tidak akan pernah minta maaf pada j@l@ng itu. Dia yang mengambil Anthony dariku. Dia pantas mendapatkan semuanya itu." Tiffany menolak permintaan Mamanya untuk


Nyonya Wilson sakit kepala, beliau mencubit lengan anak kesayangannya. "Sudahlah, turuti saja dulu. Yang penting kamu keluar dari sini. Mengalah bukan berarti kalah kan?" bisik Nyonya Wilson pada anaknya yang keras kepala.


Tiffany cemberut, matanya melotot ke Mamanya. Bekas cubitan Mamanya terasa panas di kulit. Dia tahu kalau Mamanya sudah berusaha keras untuk membujuk Toni menemuinya dan mencabut tuntutan. Tapi Tiffany terlalu tinggi hati, dia gengsi untuk mengakui kesalahannya.


"Aku tak mau memutus hubungan apa pun dengannya. Kerjasama kita tetap berlangsung, asistenku yang akan mengurus semuanya. Aku masih ingin menikah dengannya."


Toni melirik jam tangannya, dia sudah berjanji pada Eliana akan kembali dalam dua jam. Dan sekarang dia mendapatkan penolakan dari Tiffany. Benar - benar membuang waktu! Eliana lebih membutuhkan dirinya saat ini.


"Berarti kita tidak mendapatkan kesepakatan kan?" tanya Toni untuk memastikan sekali lagi sebelum pergi.


"No way! Jangan harap." geram Tiffany.


"Tiff... " Nyonya Wilson mencoba membujuk.


"Kenapa aku harus mengalah, Ma? Aku toh tidak salah apa - apa. Aku tahu kalau dia menikahi J@l@ng itu dan sekarang dia mau melempar kesalahannya padaku."


Argh!! Rasanya ada yang menyiram bara di hati Toni dengan bensin. Dia sudah cukup berbaik hati mau bernegosiasi dengan mereka. Kalau saja dia tidak ingat akan janjinya kepada Mommy untuk menjaga Tiffany seumur hidup, sudah pasti Tiffany akan habis.


Tapi Toni berjanji pada dirinya sendiri, ini adalah yang terakhir. Janjinya pada Mommy dia anggap sudah lunas. Dan semuanya, karena kelakuan Tiffany sendiri.


"Apa kamu delusional, Hah? Lupa dengan apa yang kamu lakukan pada Eliana?" Toni mengepalkan tangannya. "Dan juga, kepadaku? Bagaimana dengan Bryan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri tubuh kalian yang polos!" Mendadak saja Toni teringat sepotong adegan Bryan dan Tiffany tanpa busana, sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Tapi kan yang penting dia tidak apa - apa sekarang. Kondisiku jauh lebih buruk darinya." Keluh Tiffany, tetap keukeuh pada pendiriannya.


Toni menatap Ibu dan anak itu bergantian. Percuma. Sudah tidak ada lagi negosiasi.


"Jadi kita benar - benar tidak sepakat kan?" Toni bertanya untuk memastikan sekali lagi. Masih berbaik hati untuk memberi kesempatan.


"Perlu kamu ketahui, Nona Tiffany dan juga Nyonya Wilson." Toni sengaja menyebut Nona dan Nyonya kepada mereka untuk menunjukkan jarak. "Negosiasi tadi adalah kemurahan hatiku. Dengan atau tanpa kesepakatan, aku tetap menyatakan kalau saya Anthony Peterson tidak ada hubungannya lagi dengan Tiffany Wilson. Mengenai pemutusa kerja sama dan lain - lain, prosesnya akan dimulai besok."


Toni memandang tajam pada Tiffany. Mantan calon istrinya itu sebenarnya gentar, tapi dia pura - pura tegar dan berani menantang Toni yang berapi - api.


Kedua wanita dari keluarga Wilson itu bergidik ngeri, mereka sudah membangunkan singa yang sedang tidur. Dan singa itu kini dalam posisi siap menerkam, menelan siapa pun.


"Mama... " Rengek Tiffany, seperti biasa senjata terakhirnya adalah merengek.


Nyonya Wilson tersenyum lemah, dia mencoba mengambil hati pria di hadapannya. Sepengetahuannya, meski terkesan kaku namun Toni selalu menuruti amanat Laura. "Anthony, apa kamu mau Mommy-mu bersedih melihat hubunganmu dan Tiffany rusak?"


"Bukan aku yang merusak tapi dia." Toni menunjuk Tiffany dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Nyonya Wilson memandang Tiffany dengan tatapan putus asa.


"Yah, aku tahu konsep ini tak akan masuk di pikiran kalian. Kalian tak pernah peduli hubungan baik antara sesama manusia. Yang ada di pikiran kalian adalah reputasi, uang, kedudukan, kekuasaan. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya." Toni mengangkat tangannya, menyerah. Dia disini karena mempertimbangkan hubungan baik antara Peterson dan Wilson yang sudah seperti kerabat dekat.


"I'm done with The Wilson."


Toni berbalik meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.


*


Semua hal terasa begitu aneh bagi Eliana, mulai dari sikap Toni yang cenderung canggung dan tertutup, bagaimana Toni terlihat jelas kalau dia sedang berbohong. Kemudian Toni yang seperti menghindari dirinya. Dia memilih berhenti di jalan dan pergi ke suatu tempat dari pada pulang bersamanya ke mansion.


Dan yang menjengkelkan, otak Eliana tak bisa bekerja sama dengan baik. Seperti ada sesuatu yang telah dia lewatkan, tapi entah apa itu.


Alex menceritakan garis besar kejadian dan bagaimana kemarahan Toni kepada mereka hingga mereka tak boleh menemui Eliana lagi. Dokter Livia yang dianggap lalai dan Alex yang dituduh ceroboh hingga John yang ikut terkecoh.


Mereka bahkan belum memberitahu Grandpa karena takut beliau shock. Padahal beliau juga sudah berkali - kali menanyakan Eliana yang tak kunjung pulang sejak berpamitan akan pergi ke makan malam bersama Oscar. Toni hanya mengatakan pada Grandpa kalau mereka menginap di suatu tempat dan akan pulang ke rumah segera.


Bersama Alex dan Dokter Livia, Eliana seolah menyusun kepingan puzzle. Begitu semua tersusun rapi dan menjadi satu gambar yang utuh, Eliana hanya bisa termangu.


Apa ini alasan Toni bersikap sangat berbeda?


"Maafkan aku, Eliana. Seandainya aku tidak ikut - ikut mabuk, tak akan ada peristiwa itu. Demi Tuhan, aku sangat menyesal." Air mata Dokter Livia kembali bercucuran, dia bersimpuh diatas karpet, tangannya diletakkan diatas lutut Eliana yang duduk di sofa.


Kedua tangan Eliana memeluk dirinya sendiri, merasakan rasa jijik yang kian menyelimuti dirinya. Ah, dia sekarang ingat wajah - wajah menyeringai para b@jing@n itu. Kulitnya masih bisa merasakan sentuhan demi sentuhan mereka. Eliana bergidik. It's a nightmare.


"Eliana... "


Eliana memejamkan matanya kuat - kuat sambil menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan bayangan buruk yang terus melintas. Tangannya semakin erat memeluk tubuhnya yang mulai bergetar.


'Ya Tuhan, dirinya hampir saja menjadi korban pelecehan s-e-k-s-u-a-l. Dan astaga! Itu terjadi di malam pengantinnya. What a disaster!'


Dirinya hampir saja kehilangan keper-a-wan-annnya ditangan para lelaki busuk itu. Susah payah dia menjaga hartanya yang paling berharga untuk suaminya kelak, di malam spesial mereka.


Alex melirik ke Dokter Livia dengan sorot mata bingung. "Eli... " Panggilnya, berusaha mengembalikan Eliana ke alam nyata.


Dokter Livia tersentak. Astaga! Sekali lagi dirinya melakukan kesalahan besar. Wanita dihadapannya shock, karena cerita Alex dan dirinya. Oh, shame on her. Dia yang terbiasa menangani pasien, sekarang justru kembali menjerumuskan Eliana hanya karena terlalu sedih. Benar - benar tidak profesional.


(Betapa memalukannya dia.)


Tangan dokter Livia ikut gemetar, dia tahu kalau saat ini kata maaf saja tidak akan cukup untuk mengobati trauma Eliana.


"Permintaan maaf anda tidak saya terima Dokter Livia."

__ADS_1


Mereka menoleh dan mendapati Toni datang dengan ekspresi garang, siap menelan siapa pun. Dia berjalan menghampiri mereka dengan langkah lebar - lebar.


Dokter Livia pucat pasi, dia tahu karirnya berakhir hari ini juga.


"Toni." Alex melompat berdiri dan mencegat langkah Toni. "Aku tahu ini bukan hal yang mudah. Kita semua kalut. Setidaknya biarkan kami meminta maaf kepada Eliana."


Mendadak Toni muak dengan kata maaf, andai saja dengan kata maaf semua bisa diputar ulang. Bahkan ratusan ribu kali pun dirinya meminta maaf pada Eliana, semua terasa sia - sia.


"Get out of us." Suara Toni terdengar dingin dan tanpa perasaan.


"Tapi Toni, Eliana butuh support."


"PERGI!" Toni menepis tangan Alex dari bahunya. "Biarkan kami sendiri."


"Toni --"


"Eliana butuh istirahat. Jangan ganggu kami!" Toni menggertakkan giginya dan berbisik. "Kamu... kalian... sudah menghancurkan usahaku. Aku berusaha keras supaya polisi tak menemui Eliana dan menginterogasinya. Dan kalian malah membocorkan semuanya. Oh, s-h-i-t. Kalian mempersulit posisiku."


"Toni... " Alex menelan ludah, wajahnya benar - benar memelas. "Sumpah, kami tak ada maksud--"


"Alex, sebaiknya kamu ke rumah utama dan menemanu Grandpa. Jangan tampakkan wajahmu lagi dihadapanku. Enough is enough." Toni terus memotong kalimat Alex sebelum adiknya itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia tak ingin mendengar alasan apa pun dari Alex.


"Tapi Toni---"


"Please, understand us. Kami butuh waktu untuk memahami semua ini."


(Tolong pengertiannya.)


Bersambung ya....


Note :


1. Delusional : tidak bisa membedakan khayalan dan kenyataan, menganggap apa yang dialami, dilihat, atau didengarnya benar-benar terjadi dan meyakinkan orang lain bahwa hal tersebut adalah fakta.


2. The Wilson : keluarga Wilson


Penggunaan kata the di depan nama keluarga bisa diartikan keluarga....


3. Nightmare : Mimpi buruk


4. Disaster : bencana


5. Get out of us : tinggalkan kami

__ADS_1


__ADS_2