
Kerja keras John dan tim-nya boleh dibilang sangat rapi. Tanpa persetujuan Eliana, semua persiapan pernikahan sudah dilakukan dengan baik. That is what money's for.
(Itulah gunanya uang.)
John menelepon beberapa orang dan dalam sekejap, sebuah cottage mewah dan event organizer telah siap dengan berbagai konsep pernikahan private. Gaun - gaun pengantin langsung terkirim dan orang yang siap membantu fitting langsung datang ke rumah Peterson.
Make Up Artist siap dengam segala aksesories dan pernak perniknya, apalagi Eliana tak punya permintaan macam - macam. Dia tipe wanita sederhana dan patuh. Bagi Eliana yang terpenting adalah bagaiman perjalanan pernikahan itu sendiri. Bukan pesta atau pun perayaannya yang hanya berlangsung beberapa jam.
Dokter Nathan di daulat untuk menjadi saksi pernikahan mereka dengan perjanjian untuk merahasiakan pernikahan Eliana sampai waktu yang ditentukan. Dan dia langsung bersedia meluangkan waktunya, Toni memaklumi semua yang dilakukan Dokter Nathan kepada Eliana. Toh beliau juga yang pada akhirnya memberi info kepada Grandpa-nya.
John juga mengundang owner coffee shop dan beberapa orang pelayan yang dekat dengannya di coffee shop, semua dengan perjanjian tertulis untuk menutup mulut.
John tetap menyaring para undangan, semuanya adalah kerabat dekat dan orang - orang kepercayaan yang selama ini bekerja sama dengan Toni, termasuk para pemegang saham dan investor.
Setelah tahu skandal Tiffany, mereka tak berkeberatan dengan pilihan Toni. Hanya saja, tak ada yang berani memblow up berita itu. Biar bagaimana pun, Alex juga seorang Peterson. Entahlah, biar saja kasus ini dipikirkan kemudian.
Dan sesuai dugaan, tak satu pun keluarga Wilson yang diundang. Biarlah mereka tahu yang paling terakhir, karena pihak Peterson juga sedang menyiapkan peluru untuk menahan serangan mereka. Tuan James Peterson tak mau bisnisnya goncang karena pernikahan Eliana dan Toni. Semua sedang bekerja di pos masing - masing.
Tuan Peterson bersama John menunggu disana sekaligus untuk memastikan tak ada yang lagi yang kurang. Beliau ingin terlibat dalam pernikahan cucunya. Wajah puas dan senyum terus terukir di wajahnya, beliau memandangi tempat pernikahan cucunya, yang bisa dibilang sempurna karena hanya disiapkan dalam waktu tujuh puluh dua jam.
Sebuah limousine menjemput Eliana dan Toni. Dokter Livia yang selalu bersikap profesional, turut hadir sebagai bridemaid, dia membantu Eliana mengatasi kegugupannya. Alex diam - diam melirik Eliana yang terlihat begitu berbeda hari ini.
"Kenapa? Apa kamu masih mengaguminya?" tanya Toni. Tangannya meraih tangan Eliana yang sejak tadi tidak bisa diam.
"As always dan forever." Jawab Alex sambil mengedipkan sebelah mata kepada Eliana, dia sengaja menggoda Eliana untuk membuat Toni kesal.
(Seperti biasa dan selamanya.)
__ADS_1
Toni mencebik kesal, lalu segera membawa Eliana masuk ke dalam limo. Dan segera sopir menjalankan mobil itu, meluncur membawa empat orang di dalamnya menuju ke cottage yang akan menjadi tempat meresmikan pernikahan Toni dan Eliana.
"You are gorgeous." bisik Toni saat mereka dalam perjalanan. Eliana mengulum senyum dan memalingkan wajah ke luar jendela. Rasanya seperti mau pingsan, jantungnya berdegup tak karuan.
Lokasi pernikahan Eliana dan Toni terletak di sebuah daerah tepi pelabuhan yang exclusive di Lake Wood. Toni memilih sebuah cottage megah berarsitektur Italia, dengan luas lebih dari tiga ribu lima ratus meter persegi dengan delapan kamar dan empat kamar mandi.
Daya tarik cottage ini adalah taman yang luas dengan beberapa gazebo untuk para tamu bersantai, kolam renang air laut outdoor lengkap dengan ombak - ombak buatan, gudang anggur bawah tanah, rumah tamu, lapangan hijau dan juga boathouse, dimana para tamu bisa menggunakan boat kapan saja mereka mau.
Sampai di lokasi mereka disambut oleh beberapa orang dari event organizer, dan membawanya Toni dan Eliana ke taman yang menghadap ke arah pelabuhan Lake Wood.
"Ya Tuhan.... " Eliana menahan napasnya saat melihat pemandangan indah yang menjadi latar belakang acara pernikahannya.
"Aku akan mengatur waktu untuk mengadakan pesta pernikahan kita." ucap Toni sambil tersenyum, tangannya mengelus punggung Eliana lembut. "Mau pesta tujuh hari tujuh malam, atau berapa lama pun yang kamu mau tak apa. Asalkan hari ini kita menikah."
Eliana tersenyum. "Tak perlu berlebihan Toni, begini saja sudah cukup."
Toni dan Eliana berdiri berhadapan di depan pendeta. Disaksikan oleh Tuan Peterson, John, Dokter Livia, Alex dan semua orang yang diundang, pasangan itu mengucapkan janji setia mereka.
Mempelai pria memegang tangan mempelai wanita, mereka berpandangan dengan tatapan haru. Toni menatap wajah cantik Eliana dan mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang keluar dari bibir cantik itu.
"Saya, Eliana Gracia, berjanji di hadapan Tuhan untuk mengambil Anthony Peterson, menjadi suami saya, pasangan hidup dan satu - satunya cinta di dalam hidupku, untuk memiliki dan memelihara engkau mulai hari ini dan seterusnya, melayani pada saat terbaik atau terburuk, suka dan duka, pada waktu kaya atau miskin, pada waktu sehat atau sakit, untuk mengasihi, menghormati dan menghargai engkau, sampai kematian memisahkan kita berdua. Inilah sumpah atau janji setia saya yang tulus."
Eliana mengerjapkan mata, menahan haru yang membuncah di dada. Matanya menghangat saat mendengar Toni mengucapkan janjinya.
"Saya, Anthony Peterson, berjanji di hadapan Tuhan, untuk mengambil Eliana Gracia sebagai istri, pasangan hidupku, kekasih, satu - satunya ibu dari anak - anakku. Aku akan tetap setia, mengasihi engkau di saat berkelimpahan mau pun kekurangan, bahagia atau pun sedih, rela berkorban dan tak akan pernah meninggalkan engkau. Saya berjanji akan merawat dan melindungimu dengan sepenuh hati mulai hari ini hingga maut memisahkan kita. Inilah sumpah setia yang keluar dari hati saya yang paling dalam."
Pendeta mempersilahkan Toni untuk menyibakkan veil tipis yang dikenakan oleh Eliana di kepalanya. Sesaat mereka berpandangan, hingga Dokter Livia menyodorkan kotak cincin pernikahan kepada Toni.
__ADS_1
Sebuah cincin emas putih dari Cartier yang baru sampai beberapa jam yang lalu, tersemat diantara beludru halus berwarna merah. Toni mengambil cincin emas putih model kontemporer yang dihiasi dengan deretan berlian kecil - kecil melingkar, yang bermakna everlasting (selamanya). Dia menyelipkannya di jari manis Eliana. Cantik dan pas!
Eliana tersenyum, memandang kilauan yang dipantulkan berlian di cincinnya. Dia mengambil cincin mempelai pria dengan model lebih sederhana. Cincin emas putih dengan grafir segitiga untuk memberi kesan gagah dan seorang pemimpin.
Finally, they are husband and wife.
"You may kiss the bride."
Toni mencium pengantinnya dengan penuh cinta, Eliana bisa merasakan bibir Toni yang tersenyum saat bibir mereka saling menempel.
It takes only seven minutes to be officially husband and wife. Unforgetable seven minutes in life.
(Butuh tujuh menit untuk resmi menjadi sepasang suami istri. Tujuh menit yang tak terlupakan dalam hidup.)
Bersambung ya....
Note :
Gorgeous : cantik luar biasa sampai terlihat menakjubkan.
Mempelai : pengantin
Veil : kerudung
Cartier : produsen perhiasan ternama di Perancis
__ADS_1