
Kemana perginya Eliana dan Toni? Kenapa mereka tak muncul - muncul?
Alex mengecek jam tangannya, dia harus pergi sekarang karena pesawat yang membawa Livia akan segera tiba. Dan Alex jelas tidak mau membuat wanita itu menunggu terlalu lama di airport.
"Kami masih seminggu lagi disini. Apa kamu tidak merindukannya?" tanya Eliana.
Alex tersenyum malu - malu, tangannya menggaruk tengkuknya. "Sebenarnya dia akan menyusulku dan datang sore ini."
"Lho? Kenapa tidak datang bersama?"
"Ck! Sudah kubilang, Grandpa kalau sudah punya keinginan artinya HARUS! Benar - benar menyusahkan orang." dengus Alex kesal.
"Begitu aku pulang dari kantor, semua perlengkapanku sudah siap di mobil dan sopir langsung membawaku ke airport. Untung saja aku sempat mampir ke tempat prakteknya. Dan dia mau memberiku waktu sebentar sebelum jadwal pasien berikutnya." lanjut Alex kemudian.
Eliana tertawa. "Kalau begitu jangan sampai terlambat menjemputnya."
"Bagaimana kalau kita menjemputnya? Dia pasti senang bertemu denganmu." tanya Alex.
Eliana berpikir sejenak. "Ya udah. Aku akan mengajak Toni untuk pergi bersama kita." ujar Eliana, bangkit dari duduknya. Dia cukup sadar diri untuk tidak pergi berdua saja dengan Alex tanpa Toni.
"Aku rapikan barang - barangku dulu di kamar. Nanti kita ketemu lagi di ruang tamu." seru Alex. Dia melompat dari bangku taman dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang - barang dan membawanya ke kamar tamu.
Tidak butuh waktu lama bagi Alex untuk merapikan barangnya yang hanya sedikit. Dia juga sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lupa menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Rambutnya yang dipotong model disconnected undercut sudah tertata rapi, sekarang gayanya sudah mirip dengan David Beckam saat menghadiri pernikahan putra pertamanya yang bernama Brooklyn.
Setelah yakin dengan penampilannya, Alex berjalan menyusuri koridor rumah menuju ruang kerja Toni. Tangannya yang sudah siap mengetuk pintu, berhenti di udara saat mendengar suara Toni dari dalam.
"Aku masih sanggup menyewa dua puluh atau lima puluh bodyguard untukmu, Eliana. Asal bukan laki - laki yang pernah menyukai kamu!"
Kaki Alex berhenti di depan pintu kayu ruang kerja Toni yang tidak kedap suara. Suara percakapan di dalam sana terdengar hingga keluar, apalagi volume suara Toni meninggi.
"Apa kamu cemburu Toni?" suara lembut Eliana membalas pernyataan Toni.
Beberapa detik tak ada suara, hingga Toni menjawab pertanyaan Eliana. "Aku tidak cemburu, hanya memastikan segala sesuatu berjalan pada di jalurnya."
Alex mengerutkan kening, dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke pintu, penasaran dengan percakapan suami istri itu. Dia memang merasa sikap Toni dingin kepadanya tapi dia mencoba positif thinking kalau dari dulu sikap Toni seperti itu terhadap dirinya.
Dan, Alex sama sekali tak menyangka kalau kedatangannya bisa berbuntut pertengkaran pasangan yang baru menikah itu. Lebih tepatnya, Toni marah kepada Eliana. Mereka tidak bertengkar hebat karena Eliana terlalu sabar saat menghadapi kemarahan Toni.
Alex membayangkan andaikata yang menikah dengan Toni adalah Tiffany, bisa dipastikan sudah terjadi perang besar di dalam sana.
"Iya, Sayang. Kamu tidak cemburu, tapi insecure. Kamu hanya merasa tidak tenang saat aku bersama Alex. Dan kamu juga khawatir kalau aku merasa lebih nyaman saat bersama Alex, yang juga memperlakukan aku dengan baik." sahut Eliana dengan suara yang tenang dan kalem.
__ADS_1
Alex tersentak dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Eliana. "A-apa?"
Spontan Alex mundur.
Waduh! Waduh! Kabur! Kabur!
Lebih baik dia tidak mendengar kelanjutan drama rumah tangga berjudul kisah di balik pintu kayu ruang kerja Toni.
Alex segera berbalik badan dan berjingkat - jingkat meninggalkan pintu ruang kerja Toni. Biar nanti dia mengirimkan pesan atau menelepon Toni saat sudah di airport atau entahlah, biar dia pikirkan nanti. Yang penting sekarang dia tak mau terlibat dalam masalah Toni dan Eliana.
"Hhhh... !" Alex menghembuskan napas begitu tiba di pintu depan. Dia mengeluarkan ponselnya dan memesan taxi yang akan dipakainya untuk menjemput Livia.
Sepertinya niat baik Grandpa dan dirinya justru membuat Toni salah paham. Lebih baik untuk sementara waktu, dia menyingkir dari Eliana agar tidak terjadi kekisruhan dalam rumah tangga kakaknya itu. Alex juga tak mau membuat Toni marah - marah kepada Eliana karena 'insecure'.
Begitu taxi datang, dia langsung masuk dan kabur meninggalkan medan perang.
Sementara itu, di ruang kerja Toni suhu udara masih belum turun. Toni berdiri berhadapan dengan Eliana, masing - masing dengan ekspresi yang berbeda. Toni dengan tatapannya yang tajam siap dan Eliana yang balas menatap Toni dengan sorot mata penuh maklum.
"Apa katamu tadi?" tanya Toni sekali lagi kepada istrinya. Matanya menyipit, emosinya tak juga surut.
Eliana menghela napas, mungkin seperti inilah sifat Toni yang asli. Kalau sudah marah, sulit dikendalikan. Tapi tak apa, Eliana yakin bisa mengatasi masalah ini. Masalah utamanya hanya satu, yaitu cemburu tapi Toni tak mau mengakui.
"Kamu pikir aku insecure?" Toni kembali mengulang pertanyaannya. "Jadi kamu anggap aku insecure hanya karena anak ceroboh itu?"
Eliana memejamkan mata sejenak dan menarik napas, memikirkan kata - kata yang tepat supaya bisa menjawab pertanyaan Toni, yang terdengar seperti laki - laki yang terluka harga dirinya.
"Maaf, Toni... " akhirnya Eliana memilih untuk meminta maaf demi memenangkan hati Toni.
"Maaf?" tanya Toni, dia menahan amarah yang mendidih di dalam hatinya.
Eliana mengangguk. "Iya. Aku tidak sengaja, tadi aku tak berpikir panjang... "
Toni menghembuskan napas. "Tapi yang keluar dari mulutmu itu yang sebenarnya Eliana, kamu tak pernah berbohong." Toni menyentuh bibir Eliana dengan ujung jarinya. "Apa itu benar - benar yang ada di dalam pikiranmu?"
Perlahan, Eliana mengangguk. Sorot matanya sedih menatap ke mata Toni.
Hati Toni bergetar mendapati tatapan Eliana yang sedemikian rupa. Dia menurunkan volume suaranya. "Apa kamu pikir Alex bisa memperlakukanmu lebih baik dari pada aku?" Bola mata Toni mencari jawaban di manik mata istrinya.
Eliana menelan ludah. Jelas tidak mungkin. Toni selalu memperlakukannya begitu istimewa. Bahkan di saat Toni marah seperti ini pun, Eliana tak mau menukarnya dengan lelaki mana pun. Alex memang menyenangkan sebagai teman baik, saudara dan sahabat. Tapi tidak lebih.
Toni tidak ada duanya, suaminya ini tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun.
__ADS_1
"Maaf, Toni... " Sekali lagi Eliana meminta maaf dan berkata dengan hati - hati. "Aku hanya tidak suka melihatmu memasang wajah dingin setiap kali ada Alex atau saat aku berbicara dengannya."
Toni mendengus. "Kalau sudah tahu aku tak suka melihat kalian berduaan, kenapa kamu tidak menjauh saja darinya?"
"Aku mana bisa menjauh, Toni? Dia adikmu, saudaraku juga."
"Itu karena kamu selalu menuruti permintaan Grandpa. Dan akhirnya kita yang canggung! Lihat saja, sekarang kita malah bertengkar."
"Grandpa berniat baik, Toni. Kamu tanya dulu kenapa harus mengirim Alex? Lagipula apa salahnya berbaik - baik dengan saudara sendiri?"
"Kamu bisa bersaudara dengan siapa pun asalkan jangan dengan Alex."
'Astaga!'
Eliana mengeluh dalam hati, laki - laki di hadapannya ini benar - benar sudah tak mau mendengar kata - katanya. Cemburu buta!
"All right! All right!" Eliana mengangkat tangan tanda menyerah. "Aku akan tinggal di dalam kamar saja, tidak kemana - mana dan tidak perlu bertemu dengan siapa pun. Biar saja aku berjamur dan menua di dalam kamar. CASE CLOSED!"
Toni terjengit saat mendengar dua kata terakhir diucapkan Eliana dengan nada tinggi. Pertama kali dalam hidupnya mendengar Eliana berteriak kesal. Apa dirinya benar - benar keterlaluan?
Tau - tau Eliana sudah berjalan keluar dengan langkah - langkah cepat. Dia membuka pintu ruang kerja dengan kekuatan penuh dan kembali menutupnya sekuat tenaga.
BLAM!!
Toni terlonjak kaget, seperti orang baru bangun dari mimpi buruk. Dia bisa merasakan kekesalan Eliana kepada dirinya. Dan di antara kekesalannya tadi, Eliana masih tetap berkata akan mematuhi perintah Toni sebagai suaminya.
Hati Toni tersentuh, dia jadi merasa tak enak hati. Buru - buru dikejarnya Eliana yang sedang kesal. Ternyata Eliana berhenti di ruang tamu dan melihat sekelilingnya.
Toni bertanya. "Ada apa?"
"Sepertinya Alex sudah pergi duluan, dia tidak menunggu kita."
"Ha? Memangnya mau kemana?"
"Kamu sih marah - marah terus, jadinya aku lupa ngomong kalau Alex mau menjemput Livia di airport." sahut Eliana, menyalahkan Toni.
Toni menahan senyum, "Sepertinya dia mendengar kita berdebat... "
"Apa?"
Bersambung ya....
__ADS_1