My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 81


__ADS_3

Sore itu, mereka memilih untuk beristirahat di rumah setelah beberapa hari bepergian.


"Aku tak tahu setelah ini kita akan pergi kemana." keluh Eliana sambil memandangi brosur tempat - tempat wisata dan tangannya asyik menscroll ponselnya untuk melihat review tempat - tempat tersebut.


Sementara Toni yang sedang asyik menonton sepak bola menoleh sekilas kepadanya. "Jangan khawatir, kamu bisa pergi ke semua tempat itu. Tentukan dulu yang mana yang akan kamu kunjungi pertama kali."


Eliana mencebik, justru dari tadi itu dia bingung mana yang lebih dahulu akan dia jelajahi. Berpetualang di laut atau tempat - tempat romantis. Dia suka keduanya.


Toni tertawa pelan melihat wajah Eliana yang menggemaskan. Dia menarik Eliana mendekat dan memeluknya. "Kamu tentukan saja tempat favoritmu dulu. Laut? Taman? Atau apa? Baru tentukan tujuan tempat wisatanya."


Hmm...


Eliana terlihat berpikir sejenak. "Kalau begitu, kita kesini saja." Eliana menunjukkan ponsel dan hasil pencarian di media sosialnya yang menunjukkan gambar - gambar laut dam pemandangan indak di dalam laut dengan terumbu karang yang cantik. Dan juga video orang - orang yang sudah pernah berkunjung kesana.


"Kelihatannya seru banget." sahut Toni. Pandangannya kembali teralih ke layar TV, pertandingan sepak bola sedang seru - serunya. Dia tak mau ketinggalan acara. "Oke, besok kita kesana." tambahnya lagi sambil lalu.


Eliana memutar bola matanya, mungkin ini kebiasaan laki - laki kalau sudah melihat sesuatu yang menarik minatnya. Dia tak bisa membagi perhatian kepada dua hal secara bersamaan.


"Kalau begitu aku bersiap untuk besok saja." Eliana memutuskan untuk meninggalkan Toni setelah sebelumnya mencubit pinggangnya karena kesal.


"Aw! Sorry, lagi seru nih." ucap Toni sambil nyengir.


"Tidak apa - apa. Kalau sudah selesai, carilah aku dikamar." Eliana tersenyum dan melambaikan tangannya kemudian meninggalkan Toni menuju kamarnya.


*


"Jadi suamimu malah nonton bola dan kamu dikamar sendiri?"


Eliana berguling di atas tempat tidurnya yang lebar. Dia terlentang memandang langit - langit kamar. Baru saja dia mau mulai berberes, eh Dokter Livia sudah menelponnya.

__ADS_1


Sejak kejadian nahas itu, Dokter Livia tak pernah absen menghubungi Eliana. Dia merasa bersalah dan setidaknya ingin melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya. Dan Eliana sendiri semakin lama merasa semakin nyaman berteman dengan Dokter Livia.


"Kami baik - baik saja." jawab Eliana lalu menceritakan kunjungan mereka melihat Quokka.


"Serius?" tanya Dokter Livia.


"Maksudmu?"


"Aku khawatir saja, mood Anthony masih buruk karena kami dan takutnya hal itu akan berpengaruh dengan aktivitas ranjang kalian."


Eliana membelalak. "Hey, kamu pikir Toni akan seperti itu?"


"Siapa tahu?" balas Dokter Livia seenaknya.


Hari ini dia sedang dalam mode pertemanan dengan Eliana, dan mereka bukan pasien dengan dokter. Jadi dia bebas berkata apa pun.


"Kamu yakin?" Suara Dokter Livia terdengar kagum pada Toni tapi juga khawatir pada Eliana. "Jangan sampai kamu menyesal."


Eliana terdiam. "Maksudmu Toni masih muda dan dia seharusnya butuh lebih?"


"Nah! Itu tau."


"Trus kamu khawatir dia cari di tempat lain?"


"Hm, bisa jadi sih... " Komentar Livia malah membuat Eliana semakin was - was. Begini ini kalau curhat dan yang menasehati malah bikin orang kepikiran.


Rasa takut mulai merambati Eliana, dimulai dari ujung kaki, merayap naik hingga masuk ke dalam jantungnya. "Aaargh! Liv! Aku harus bagaimana?" seru Eliana tiba - tiba.


Dia khawatir Toni yang tampan, baik dan kaya itu akan berpaling darinya. Bukankah banyak wanita yang pasti siap menggantikannya?

__ADS_1


Yang ditanya justru tertawa terbahak - bahak dan berseru, "Haduuuh... , aku cuma bercanda. Serius amat, Buk!" ucap Dokter Livia di sela - sela tawanya.


Eliana mendengus. "Jadi kamu menelponku hanya untuk iseng? Aku tutup nih." sergah Eliana berpura - pura marah


"Eits... sorry, sorry. Jangan ditutup dulu. Aku mau nanya." sahut Dokter Livia cepat. Masih terdengar sisa - sisa tawa dari seberang sana.


"Nanya apa?"


"Apa Anthony masih marah kepada kami?" tanya Dokter Livia, nada suaranya terdengar hati - hati.


"Hm... , dia sudah tidak apa - apa, Liv. Waktu itu mungkin hanya luapan kemarahan sesaat."


"Kamu yakin?" Tanya Dokter Livia lagi.


"Iya. Dia tak pernah terlihat marah lagi selama kami disini."


"Hhh... bicara padamu sama sekali tidak menolong, Eliana."


"Ha? Maksudmu?"


"Sudahlah, aku tidak jadi bertanya." dengus Dokter Livia kesal. "Suamimu itu terlanjur jatuh cinta padamu. Tak mungkin dia marah di depanmu."


"Iya juga sih... "


Kedua wanita itu sama - sama terdiam. Livia diam karena misinya menelpon belum tercapai, sedangkan Eliana terdiam karena ternyata diam - diam hatinya senang saat mendengar pengakuan dari orang lain bahwa Toni sudah jatuh cinta padanya.


Benar apa kaya Livia, tak pernah sekali pun Toni bersikap kasar kepadanya.


Bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2