
Kini Mitha sudah memasuki ruang bersalin, dengan sabar Andrea terus mengelus punggung Mitha. Setiap kali kontraksi Mitha selalu meringis kesakitan membuat Andrea tidak tega melihatnya.
"Sayang kamu harus kuat, aku beneran gak tega lihat kamu seperti ini" lirih Andrea dengan suara serak
"Bantu aku dengan do'a yang, aku pasti baik-baik saja. Kamu jangan khawatir" pinta Mitha.
"Aku pasti akan mendo'akanmu dan anak-anak kita agar lahir selamat dan sehat"
Terlihat perawat datang untuk memeriksa kondisi Mitha
"Bagaimana Nona? mulasnya apakah sudah sering?" tanya Perawat
"Iya Mbak" jawab Mitha
"Saya check dulu ya!" ujar Perawat. "Ini sudah pembukaan 8, sebentar saya panggilkan dokter dulu" lanjutnya
Perawat itu pun kembali dengan dokter Sheila, dokter kandungan Mitha.
"Bagaimana dek? Apa merasa sudah seperti ingin buang air besar?" tanya dr. Sheila
"Iya Dok, sepertinya aku ingin BAB" jawab Mitha
"Ayo yang aku antar ke toilet" ajak Andrea
Dokter Sheila hanya mengulas senyum, bagaimana tidak Mitha mau melahirkan dikira mau buang hajat.
Dokter pun mengintruksikan agar Mitha selalu membuka matanya saat mengeden dan melihat ke arah perutnya.
Mitha sekuat tenaga mengeluarkan tenaga yang tersisa hingga saat yang ketiga kalinya barulah bayi pertamanya lahir yang berjenis kelamin laki-laki dan berselang 5 menit lahir kembali bayi perempuan yang sangat cantik.
Andrea tak hentinya bersyukur atas kelahiran dua malaikat kecil di hidupnya sampai buliran air mata lolos begitu saja membasahi pipinya.
"Terima kasih sayang untuk perjuanganmu melahirkan malaikat kecil kita" lirih Andrea dengan terus mengecup kening Mitha.
Andrea pun mengadzani si kembar bergantian. Mitha hanya tersenyum bahagia malihat binar kebahagian di mata suaminya. Hingga keadaan merenggut paksa kesadaran Mitha untuk memejamkan matanya. Mitha tak sadarkan diri setelah dia memeluk kedua malaikat kecilnya.
Mitha mengalami pendarahan yang hebat sehingga dia membutuhkan transfusi darah O-, sedangkan rumah sakit tidak memiliki stok karena sedikitnya orang yang bergolongan darah O-
Beruntungnya Zyan memiliki golongan darah yang sama sehingga dengan suka rela dia mendonorkan darahnya untuk Mitha. Namun darah yang dibutuhkan oleh Mitha masih kurang karena Zyan hanya bisa mendonorkan 2 kantung darah.
Bu Sinta yang mendengar kabar tentang kelahiran cucunya datang tergopoh-gopoh ke rumah sakit.
Saat melihat Andrea sedang duduk berdua dengan Zyan di depan kamar ICU, Bu Sinta pun segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Mitha Nak?" tanya Bu Sinta
__ADS_1
"Masih belum sadar Bu" jawab Andrea seraya mencium punggung tangan Bu Sinta.
"Bu, apa golongan darah ibu O-? Mitha sangat membutuhkan golongan darah itu." ucap Andrea sendu
"Golongan darah ibu O+ nak, mungkin ayahnya Mitha yang bergolongan darah O-" sahut Bu Sinta.
"Sinta" terdengar suara berat itu memanggil nama Bu Sinta hingga Bu Sinta pun diam mematung
"Papa" panggil Zyan
"Zyan, kenapa papa telepon tidak kamu angkat?" tanya Tuan Zein papanya Zyan. Namun tatapan matanya tidak lepas dari Bu Sinta.
Bu Sinta yang melihat kedatangan Tuan Zein menjadi gugup. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, kalaupun Bu Sinta melihat Tuan Zein pasti dia selalu menghindarinya.
"Maaf Pah, aku mengundurkan keberangkatan ke LA. Mitha butuh transfusi darah dan kebetulan darahku sama dengan darah Mitha" terang Zyan
"Apa dia bergolongan darah O-?" tanya Tuan Zein
"Iya pah, bukankah papa juga golongan darahnya sama denganku? Mitha masih butuh 3 kantung darah, apa papa bisa membantu?" tanya Zyan
"Aku pasti akan menolongnya" tegas Tuan Zein
Bu Sinta menutup matanya sejenak menetralkan degup jantungnya yang sedari tadi berdetak tidak karuan.
Sedang Andrea sedari tadi tidak fokus dengan apa yang terjadi. Pikirannya kalut memikirkan Istri dan anak-anaknya.
Zyan langsung membawa papanya untuk menemui dokter. Setelah terlebih dahulu Tuan Zein diperiksa kondisinya dan kecocokan darahnya, kini Tuan Zein pun terbaring untuk diambil darahnya.
"Rey, tolong ambil sample darahku dan darah Mitha. Aku ingin melakukan test DNA. Tolong kamu rahasiakan semua ini dari siapapun" perintah Tuan Zein pada dokter Reyhan.
"Baik Tuan!" sahut dr. Reyhan
"Berapa kantong lagi yang dibutuhkan oleh Mitha?" tanya Tuan Zein
"Tiga kantong darah lagi Tuan" jawab dr. Reyhan
"Ambillah 3 kantong darah dariku" suruh Tuan Zyan
"Tapi Tuan itu berbahaya untuk anda" sanggah dr. Reyhan
"Aku akan baik-baik saja. Jangan membantahku Rey!"
Dokter Reyhan pun dengan terpaksa menurutin keinginan Tuan Zein meski sebenarnya beresiko karena batas donor itu hanya 2 kantong darah.
***
__ADS_1
Masa kritis Mitha telah terlewati, kini dia sudah dipindahkan ke ruang inap khusus pemilik rumah sakit dan keluarga. Andrea tak hentinya mengucapkan syukur karena kondisi Mitha kini berangsur membaik.
Bu Sinta dengan setia menunggu putri dan kedua cucunya karena ruang perawatan Mitha dan bayi kembarnya disatukan.
Sedangkan Zyan dan Aryana bergantian menemani Andrea di rumah sakit.
Seminggu sudah Mitha berada di ruang perawatan. Kini kondisinya sudah semakin membaik, baby twins juga tumbuh dengan sehat. Apalagi Mitha memberikannya ASI eksklusif.
"Sayang aku senang kamu sudah membaik, seminggu kemarin aku sangat takut karena kamu malah tidur terus" beber Andrea
"Maaf membuatmu cemas" ucap Mitha
"Jangan nakutin aku lagi yang, aku gak akan sanggup tanpa kamu" lirih Andrea
Mitha menangkup kedua pipi Andrea dengan tangannya.
"Aku baik-baik saja kan? Semua karena do'amu yang telah Allah kabulkan." ucap Mitha
Andrea menciumi telapak tangan Mitha yang tadi menangkup pipinya.
"Aku selalu berdo'a agar selalu hidup bersamamu baik di kehidupan sekarang ataupun kehidupan nanti" ucap Andrea tulus
Mitha langsung memeluk Andrea, rasa haru menyeruak hatinya. Cinta yang dulu dia anggap sebagai cinta sepihak. Namun ternyata cinta itu adalah cinta sejatinya.
"Aku juga hanya ingin bersamamu oneng kesayanganku" ucap Mitha
Andrea langsung melepaskan pelukannya dan menjembil pipi Mitha
"Masih bilang oneng sama suami setampan ini hemm. Dasar oon kesayangku" kekeh Andrea
Ceklek
Terlihat pintu ada yang membuka dari luar, Bu Sinta masuk dengan di belakangnya Tuan Zein. Ada raut cemas di wajah Bu Sinta berbeda dengan Tuan Zein yang menampilkan wajah bahagia.
"Nak boleh papa memelukmu" pinta Tuan Zein dengan mata penuh pengharapan membuat Mitha dan Andrea mengeryit heran. Sejak kapan Tuan Zein menjadi papanya Mitha.
"Maaf Tuan! Saya tidak mengijinkan orang lain memeluk istri saya" Tolak Andrea
Tuan Zein tidak menghiraukan apa yang Andrea katakan, dia terus menghampiri Mitha dan ingin memeluknya.
"Nak, terima kasih sudah hidup dengan baik. Papa menyayangimu"
...*****...
...Dukung Author dengan like comment vote rate dan masukin ke favorite ya!...
__ADS_1