
Tuan besar Lee tak bergeming, dia terus menelisik gadis yang ada disamping cucunya.
Semua yang hadir disitu diminta untuk pindah ke halaman belakang rumah oleh mama Erika.
"Sudah?" tanya tuan Lee datar
Andrea mengeryit tak mengerti apa maksud dari kakeknya.
"Sudah apa? dan kenapa kakek datang kesini?
"Sudah kamu bermesraan dengannya?" tanya tuan Lee, "apa perlu alasan untukku mengunjungi cucu kandungku" sambung tuan Lee
"Udahlah kek gak perlu basa basi , aku tau maksud kakek kesini bawa gadis itu. Tapi perlu kakek tahu aku Andrea Nata Wiratama tidak akan mau menjadi penerusmu kalau kakek mengusik istriku" seru Andrea sambil merangkul bahu Mitha erat.
Meski sebenarnya ada rasa takut dihatinya tapi Andrea selalu menghalaunya karena dia tidak mau sumber kebahagiannya dirampas orang lain.
Deg
Mama Erika, papa Jae Sung merasa kaget dengan keberanian Andrea menentang kakeknya yang mereka tahu tuan besar Lee tidak suka keputusannya dibantah. Seorang pengusaha sukses yang kejam di dunia bisnis selalu membabat habis lawannya yang curang.
"Bedebah! kau berani menentangku?"
"Aku tidak menentang kakek, aku hanya tidak mau kakek mengaturku harus dengan siapa aku menikah"
"Lihat putramu Jae Sung! apa kamu tidak bisa mendidiknya dengan baik hingga dia selalu menentangku" seru tuan Lee marah
"Yang, jangan begitu ma kakek gak baik" ucap Mitha pelan dengan mengelus tangan Andrea untuk menenangkan.
"Maafkan aku ayah, Andrea masih muda jadi jiwanya masih labil. Sebaiknya kita membicarakan soal perjodohan itu setelah Andrea siap" ucap papa Jae Sung mencoba menengahi.
"Baiklah, kamu urus dan didik putramu Jae. Jangan mengecewakanku."
"Iya ayah, sebaiknya kita kembali ke mansion agar ayah bisa beristirahat disana. Udara malam kurang baik untuk kesehatan ayah"
Tanpa bicara lagi tuan besar Lee pergi dengan diikuti papa Jae dibelakangnya.
Mama Erika langsung mendekati Andrea dan Mitha yang sedang mematung melihat kepergian tuan besar Lee.
"Tha, jangan takut ya! sampai kapanpun kamu akan tetap jadi menantu mama satu-satunya. Titip putra mama ya!" ucap mama Erika
"Iya mah"
"De jangan terlalu terus terang menentang kakekmu, itu tidak baik untuk kita" ucap mama Erika sebelum pergi, "mama nyusul papa dulu," sambungnya lalu bergegas pergi menyusul papa Jae Sung.
Seperginya mama Erika, Andrea masih mematung di tempatnya.
"Yang" Andrea masih tak bergeming
__ADS_1
"Ndre" ucap Mitha sekali lagi sambil menepuk tangan Andrea pelan.
"Eh iya yang, kita tidur aja yuk!" ajak Andrea pada Mitha.
***
Hari terus berlalu dan waktu pun begitu cepat berganti, ujian nasional pun kini tinggal sebulan lagi. Andrea dan Mitha sudah kembali tinggal di apartement karena setiap hari mereka selalu ada kelas tambahan sehingga pulang sekolah selalu sore hari.
"Yang nanti pulang sekolah aku gak bisa jemput ya! Om bens nyuruh ke kantornya." ucap Andrea setelah mereka menghabiskan sarapannya.
"Oh iya ga papa nanti aku bisa pulang sendiri"
"Udah yuk berangkat!" ajak Andrea sambil merangkul Mitha untuk berjalan bersama.
Sesampainya di sekolah terlihat sudah banyak siswa yang datang.
"Aku turun ya yang, hati-hati di jalan" ucap Mitha yang sudah kembali ceria lagi
"Eits tunggu dulu, masa mas ojeg gantengnya belum dapat bayaran" sahut Andrea menahan tangan Mitha yang hendak keluar.
"Hehehe kelupaan"
Cup
Mitha langsung mencium pipi Andrea
"Kurang yang, sebelahnya belum, disini belum disini juga belum" sahut Andrea sambil menunjuk pipi sebelahnya yang belum dicium, bibir dan juga keningnya.
Cup cup cup
Namun saat dibagian bibir Andrea menahannya sebentar untuk menikmati candunya.
"Rasanya masih tetap manis yang, malah semakin sering semakin manis" ucap Andrea setelah melepaskan pagutannya.
"Ikh masih pagi udah gombal aja, udah akh aku turun dulu ya mau belajar" sahut Mitha sambil mengambil tangan kanan Andrea lalu menciumnya dan Andrea pun langsung mencium kening Mitha.
"Ya Tuhan aku hanya ingin bersamanya sampai kapanpun entah didunia ataupun didunia lainnya"(batin Andrea) sambil menatap punggung Mitha yang semakin menjauh.
Setelah bayangan Mitha sudah tak terlihat lagi, Andrea pun melajukan mobilnya menuju ke sekolahnya.
Sesampainya di parkiran, Andrea bertemu dengan Aryana yang sama-sama baru datang.
"Yana, lo pegang dulu ya semua urusan counter,buat beberapa hari kedepan kayaknya gue bakal sibuk di kantor om Bens" ucap Andrea saat mereka berjalan beriringan
"Wokeh bos, tapi ada kerjaan apa disana?"
"Biasalah ada orang iseng obok-obok situs perusahaan, orang-orang om bens kewalahan jadinya minta tolong ke gue"
__ADS_1
"Good luck bro, jangan lupa pulang karena ada Mitha yang nungguin lo di rumah"
"Tentu bro, sehari gak ketemu dia rasanya gue lemes. Akh jadi nyesel deh"
"Nyesel kenapa?" tanya Aryana penasaran
"Gue nyesel kenapa gak dari dulu gue kawinin Mitha" seru Andrea, "akhhh gue kangen ma dia Ar, pengen pelukin dia terus" sambung Andrea sambil memeluk Aryana
Plak
Aryana langsung menggeplak kepala Andrea pelan.
"Eling woy eling mangka eling" seru Aryana pake logat sunda
"Lu mah, kepala berharga gue main geplak aja. Gue bilangin mama tahu rasa lo" ancam Andrea pada Aryana.
"Jangan dong bro, ntar gue bantuin deh kerjaan lo asal jangan bilang ke mamih ya" rayu Aryana. Sebenarnya bukan karena Aryana takut sama mama Erika tapi dia merasa malu karena selama ini mama Erika begitu baik pada keluarganya apalagi setelah papanya Aryana meninggal karena kecelakaan, mama Erika banyak membantu keluarganya bahkan tidak membedakannya dengan Andrea.
"Nah ini yang gue suka dari lo, tanpa diminta pun lo selalu bantuin gue." sahut Andrea sambil merangkul Aryana. Dan Aryana hanya tersenyum simpul.
"Apa yang gue lakukan belum seberapa dengan apa yang lo dan mama lo lakukan buat gue."(batin Aryana)
***
Sudah seminggu Andrea tiap hari pulang larut malam karena sepulang sekolah dia harus ke kantor pak Bens bahkan terkadang dia pulang dini hari namun permasalahan yang terjadi di Mahardika group belum selesai juga.
Sudah seminggu pula Andrea dan Mitha bertemu hanya diwaktu pagi saat sarapan sebelum berangkat sekolah.
"Yang jaga kesehatan ya, sudah seminggu ini kamu pulang dini hari terus" ucap Mitha setelah menghabiskan sarapannya.
"Iya sayang, berangkat yuk!" ucap Andrea lalu menarik tangan Mitha untuk mengikutinya.
Sesampainya disekolah, Andrea langsung pamit untuk ke sekolahnya karena dia belum mengerjakan tugas.
Mitha hanya menatap kepergian Andrea dengan tatapan sendu.
Kangen Rindu kehilangan atau apalah itu yang Mitha rasakan saat ini, biasanya mereka selalu bersama tapi kini waktu Andrea seakan terkuras oleh urusannya sendiri.
"Maaf nona, tuan saya ingin membicarakan sesuatu dengan nona" ucap pria berjas hitam
"Anda siapa? aku tidak mau!" sahut Mitha hendak beranjak pergi karena takut.
"Sebentar nona, tuan menunggu anda dimobil" sahut pria itu sambil menunjuk mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah
Saat Mitha melihat siapa yang ada didalam mobil, barulah dia mengikuti pria itu.
...*****...
__ADS_1
...Happy reading...
...Jangan lupa like comment vote gift dan di favorite ya!...